
Perbincangan Andrean dengan orang-orang itu selesai. Semuanya sudah keluar dari kafe terkecuali Andrean. Sengaja lelaki itu masih duduk di tempatnya sedari tadi guna memperhatikan sang adik yang belum selesai mengerjakan tugas.
Auristella menyadari kalau kesibukan kakaknya telah berakhir dan saat Ini Ia seperti seorang narapidana yang ditatap begitu tajam oleh Andrean hingga membuat jantungnya berdentum tidak karuan. Aura Andrean memang berbeda sekali dengan Adrian. Kalau Adrian, Ia tidak ada takut dan segannya. Tapi kalau dengan Andrean, justru kebalikannya.
"Sudah selesai. File nya nanti dikumpulkan jadi satu dokumen ya,"
"Aku yang akan menggabungkan file dari kalian. Segera kirimkan sebelum jam sembilan malam,"
"Okay, Rist." jawab teman-teman Auristella.
Mereka semua membereskan laptop dan alat-alat tulis lalu beranjak keluar dari kafe usai saling berpamitan.
Ryn pulang paling akhir. Ia meninggalkan sebuah kalimat di telinga Auristella sebelum benar-benar meninggalkan kafe.
"Titip salam untuk kak Adrian ya. Untuk kak Andrean juga, jangan lupa."
Auristella hanya memutar bola matanya lalu mengusir Ryn. Temannya itu tertawa sebelum melangkah keluar.
Auristella menghampiri kakaknya yang duduk dengan tenang. Melihat Auristella berjalan ke arahnya, Andrean beralih meneguk orange juice nya yang tinggal sedikit.
"Ean, kamu menunggu aku atau masih ada pekerjaan lagi?"
Andrean meletakkan gelas nya ke meja, kemudian menggeleng pada Auristella.
"Kita pulang bersama,"
"YESS," Seru Auristella dengan perasaan senang.
"Tadinya aku mau meminta Adrian untuk jemput aku,"
Auristella segera merangkul lengan kakak sulungnya lalu mereka berjalan ke area parkir kafe yang luas itu.
"Aku memperhatikanmu dari tadi,"
"Ya, aku tahu. Ada apa memang nya?"
"Sejak kapan kamu sedekat itu dengan teman lelaki?"
"Huh? maksudmu?" Auristella berhenti sejenak melangkah. Andrean berdecak kemudian menarik lengan adiknya agar kembali berjalan mendekati mobil.
"Aku dan teman ku yang laki-laki biasa saja. Memang menurutmu sedekat itu?"
"Kamu tidak sadar dengan perlakuannya tadi? atau memang tidak mau tahu?"
"Aku tidak tahu apapun, Ean. Maksud mu apa sih? bicara langsung pada intinya, jangan berbelit. Aku tidak pandai menafsirkan kalimat singkatmu. Kamu tahu itu 'kan?"
"Bahas di rumah,"
******
Hingga malam datang, Andrean tidak kunjung membahas apa yang Ia lihat di kafe pada siang hari. Dan setelah pagi, keluarga mereka sarapan bersama, seperti biasanya. Saat itulah Andrean mengangkat topik pembicaraan yang sudah dinantikan oleh Auristella.
"Dia yang duduk tepat di sampingmu siapa namanya?" tanya Andrean dengan suara tenang. Pertanyaan itu membuat Adrian dan kedua orangtua mereka menoleh pada Andrean, bertanya-tanya.
"Sedang bicara apa, Ean?" tanya Lovi pada anak sulungnya.
"Namanya Oscar," jawab Auristella atas pertanyaan Andrean.
__ADS_1
"Siapa Oscar? kekasihmu? jangan coba-coba ya, Auris. Aku saja belum punya, kamu sudah mau menyaingi aku? huh! tidak akan aku biarkan," Adrian langsung ikut campur.
"Sebenarnya kamu itu tidak mau aku memiliki kekasih karena ingin melindungiku atau karena tidak ingin tersaingi?" cibir Auristella seraya melirik tajam kakak keduanya.
"Dua-duanya," dengan ringan Adrian menjawab.
"Dia manis sekali memperlakukan mu," ucap Andrean dengan tenang.
"Siapa-siapa?" tanya Adrian dengan penasaran berkadar tinggi.
Lovi dan Devan fokus menatap putri mereka setelah mendengar ucapan Andrean. Auristella bingung menjawabnya bagaimana. Selama ini Oscar dan dirinya berteman normal saja. Ia juga tidak menyadari kalau Oscar memperlakukannya dengan manis.
"Oscar," jawab Andrean atas pertanyaan adik keduanya.
Adrian mencubit pipi Auristella yang sedang mengunyah sarapan. Auristella berteriak kesakitan. Beginilah suasana setiap berkumpul, selalu ada perdebatan.
Devan berdehem tegas hingga suara-suara berisik yang ditimbulkan Adrian dan Auristella senyap seketika.
"Bisa dilanjut makannya. Jangan berdebat, ini masih pagi. Malu sama matahari yang baru timbul,"
********
"Aku tinggal berapa scene lagi?"
"Dua, Ad."
"Okay, aku makan sebentar. Kalau sudah waktunya aku take, datangi aku di sana ya,"
Salah satu kru yang bertugas dalam pembuatan mini series Adrian kali ini mengangguk setelah Adrian bicara seperti itu.
Adrian makan di sebuah kursi, yang berdampingan dengan kursi untuk pemeran lainnya. Ia mulai membuka bekal makanan yang disiapkan oleh Mommy nya seperti biasa.
"Makan punyamu, Mommy juga menyiapkan untukmu 'kan?"
"Iya, Boss."
"Ah kau jangan memanggil ku begitu,"
Tara terkekeh ketika Adrian lagi-lagi menolak dipanggil Boss oleh dirinya yang bekerja sebagai asisten Adrian, yang tugasnya menyiapkan semua keperluan Adrian untuk syuting dan bernyanyi.
Setiap ingin pergi syuting atau bernyanyi, Tara akan datang ke rumah Adrian lalu mereka berangkat bersama menuju lokasi.
Tara ikut makan bersama dengan artis nya. Adrian sudah lapar sekali sekarang. Oleh sebab itu setelah scene ke lima nya selesai, Ia segera makan.
"Makan, Rein." Adrian menawari lawan mainnya yang baru saja duduk di kursi sebelah Adrian.
"Iya, sudah tadi."
Rein duduk kemudian memainkan ponselnya. Sama seperti Adrian, Ia sedang istirahat sejenak sebelum take scene selanjutnya.
"Hai, Sayang."
"Ya, kenapa?"
"Nanti jemput aku ya?"
"Maaf, aku tidak bisa. Aku harus mengantar Mama periksa kesehatan nanti,"
__ADS_1
"Setelah menemani Mama cek kesehatan memang tidak bisa jemput aku?"
"Tidak,"
"Hmm... okay,"
"Bye,"
Rein berbincang melalui telepon tepat di samping Adrian. Ia mendengar seksama pembicaraan Rein dengan seseorang di seberang sana.
Rein menghela napas seraya menatap ponselnya. Ia sedang lelah, dan pikirannya kembali teralihkan pada kondisi hubungannya yang semakin renggang belakangan ini.
"Kenapa, Rein? lelah? tidur saja, nanti minta dibangunkan oleh asisten mu,"
Adrian ingin bertanya sebenarnya, tapi Ia rasa itu bukan kapasitasnya. Walaupun tujuannya bertanya hanya ingin menjadi wadah untuk Rein bercerita tanpa bermaksud untuk ikut campur.
"Menurutmu kalau laki-laki mulai tidak acuh pada perempuan, kekasihnya maksudku, itu wajar atau tidak?"
"Mungkin dia sedang ada masalah. Berpikir positif saja,"
"Ah aku bicara dengan laki-laki. Tentunya membela sesama,"
"Aku tidak begitu, Rein. Kalau memang laki-laki salah, aku tidak akan membela. Aku bicara seperti tadi karena aku tidak ingin membuat statement yang salah untuk laki-laki yang kamu bicarakan tadi. Aku juga belum kenal dia, jadi aku tidak bisa bicara banyak,"
Adrian membantah tudingan Rein bahwa Ia pasti membela sesama kaumnya. Adrian tidaklah seperti itu. Ia berusaha untuk menjadi teman yang bijaksana saja. Ia tidak ingin menjadi bumerang dalam hubungan Rein dan laki-laki itu.
Adrian hanya ingin Rein berpikir positif. Kalau memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi karena semakin banyak alasan untuk berpisah, maka sepenuhnya bukan karena ucapan Adrian.
*****
Untuk mengisi waktunya, Lovi kembali disibukkan dengan mengurus butik miliknya. Semua anak-anaknya sudah besar dan tidak lagi dua puluh empat jam bersamanya, hingga Lovi merasa bosan bila harus di rumah saja. Tidak seperti dulu yang datang hanya beberapa kali saja dalam seminggu, sekarang Lovi datang hampir setiap hari ke butik. Setelah semua keperluan suami dan anak-anaknya dipenuhi, Ia langsung berangkat ke butik.
Sebelum anak-anak dan suaminya pulang, Lovi sudah tiba di rumah. Begitu kesepakatan yang telah terjadi diantara dirinya dan sang suami. Devan membiarkan istrinya berkarir tapi tidak mengizinkan Lovi untuk lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai istri. Lovi pun sudah tahu akan hal itu. Ia tidak akan menyia-nyia kan waktu kebersamaan dengan anak dan suami hanya demi karir.
"MOMMY, AKU DATANG."
Anak perempuan yang sebentar lagi akan memasuki sekolah menengah atas, bernama Auristella itu memasuki ruangan Lovi seraya berseru menyapa Mommy nya yang tengah berkutat dengan pensil dan sketchbook nya.
"Hai, Sayang..."
Lovi menerima pelukan hangat sang putri. Kemudian mengecup puncak kepala gadis itu.
"Kamu sendiri ke sini?"
"Iya, dengan siapa lagi?"
"Oh Mommy kira dengan si Oscar yang kemarin disebut-sebut oleh Ean,"
Sesekali Lovi akan mencari tahu secara halus apakah yang dikhawatirkan Andrean memang sudah terjadi? apa anaknya mulai mengenal perasaan lebih dari nyaman sebagai teman?
"Mommy, sumpah aku tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan. Aku yakin tidak ada yang aneh dari aku dan Oscar. Kenapa kalian selalu membahas Oscar?"
Lovi terkekeh mendengar anaknya merengek. Auristella masih belum paham tentang hubungan lebih dari teman tapi kakaknya saja yang terlalu khawatir pada adiknya.
Setiap nama Oscar disebut, Auristella merasa kesal karena biasanya tidak ada nama laki-laki manapun yang disangkut pautkan dengannya. Auristella sedang menikmati masa remajanya tanpa memikirkan laki-laki dan Lovi sangat senang akan hal itu. Akan lebih baik kalau Auristella fokus dengan pendidikan terlebih dahulu.
--------
__ADS_1
Hellaw gayysss. Sepi nih dr kemaren. Lanjut gaaa? spam komen kuyy!