My Cruel Husband

My Cruel Husband
Minta perhatian yang lebih


__ADS_3

Setelah kira-kira Auristella sudah lelap tertidur, Lovi memasuki kamar kedua anaknya untuk memindahkan Auristella ke kamarnya dan Devan.


"Aku saja yang ke sana, Lov." ujar Devan menahan Lovi yang sudah turun dari ranjang.


"Aku mau lihat sweet-nya mereka,"


Devan pun demikian. Akhirnya Ia mengikuti langkah Lovi. Kedua anaknya sudah tertidur, saling berpelukan dan itu manis sekali. Pemandangan yang membuat hati Devan dan Lovi terasa sejuk ketika melihatnya.


Berbeda dengan kedua kakaknya yang sudah terlelap menjemput mimpi, Adrian malah bermain robot. Sepertinya Ia belum mengantuk. Beruntungnya kali ini Ia mengerti kalau Auristella dan Andrean tidak bisa lagi diganggu. Kalau Ia kembali mengganggu, bisa hancur dunia ini oleh kemarahan Devan. Anak itu tidak lagi mengeraskan suara robot besarnya.


Adrian terkejut saat melihat Mommy dan Daddy-nya memasuki kamar. "Kamu belum tidur?" Lovi sudah tahu sebenarnya. Ia bisa melihat anaknya itu dari kamera cctv.


"Belum mengantuk,"


"Kalau dibawa bermain memang tidak akan datang rasa kantuk itu. Seharusnya kamu pejamkan saja matamu,"


"Itu namanya dipaksakan. Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik, Dad."


Devan memutar bola matanya malas. Ia kembali ke kamarnya sementara Lovi masih bersama Adrian.


"Tidur, jangan main lagi."


"Belum mau tidur, Mom. Mengerti?"


"Diberi tahu malah seperti itu. Besok kamu sekolah. Kalau tidur terlalu malam, pasti di sekolah mengantuk. Mommy tidak mau mendapat laporan itu ya,"


"Adrian tidak pernah mengantuk di sekolah. Kalau mau ya di rumah, jangan di sekolah."


"Bagus! tapi kamu harus tetap tidur walaupun di sekolah tidak pernah mengantuk,"


Lovi berbicara seraya menimang anak perempuannya. "Mommy tidur dulu ya?" pamitnya sebelum pergi dari kamar Adrian dan Andrean.


"Temani Adrian sebentar, Mom. Usap-usap punggung Adrian,"


"Okay, tapi Mommy letakkan Auris di kamar dulu bersama Daddy. Nanti Mommy ke sini lagi,"


Daripada anaknya tidak tidur sampai tengah malam. Lebih baik Ia mengorbankan waktu istirahatnya untuk mengusap punggung Adrian agar anaknya itu cepat tertidur.


"Kenapa mau ke sana lagi?" Devan mengerinyit bingung saat Auristella diletakkan di sampingnya dan Lovi bukannya ikut berbaring malah mau ke kamar kedua anaknya lagi.


"Mau menidurkan Adrian dulu."


"Astaga, dia sudah besar, Lov. Andrean saja sudah bisa tidur sendiri tanpa dimanja dulu sebelum tidur,"


"Biarkan saja. Aku juga tidak ada kegiatan lain, Auris sudah tidur. Tidak masalah memanjakan anak. Lagipula dia harus sekolah, aku takut Adrian sulit dibanguni kalau tidurnya terlalu malam,"

__ADS_1


Akhirnya Devan yang menjaga anak perempuannya. Sementara Lovi bersama Adrian. Mereka berbagi tugas malam ini. Sampai Adrian benar-benar bisa meninggalkan robotnya dan memejamkan mata.


********


"Hati-hati ya, Daddy. Semangat bekerja,"


"Ya, terima kasih, Sayang. Kalian juga hati-hati, belajar yang rajin dan jadi anak baik,"


Seperti biasa, pesan itu selalu diucapkan Devan saat mengantar anaknya ke sekolah. Usai mengecup kening kedua putranya, Ia beranjak ke kantor untuk melaksanakan kewajibannya yang lain.


Adrian kurang begitu semangat hari ini karena masih mengantuk. Semalam Ia tetap saja tidur tengah malam sampai Lovi hampir menyerah untuk membuat Ia mengantuk. Punggungnya sudah diusap-usap oleh Lovi, dibacakan dongeng, dinyanyikan juga, tetapi Adrian sulit sekali terlelap.


Revin, Thalia, dan Adrina menyambut kedatangan sahabat mereka dengan semangat. "Kalian bawa bekal apa hari ini?" memang hal itu yang hampir setiap hari mereka bahas begitu sampai di sekolah.


Adrian menenggelamkan kepalanya di antara lipatan tangannya yang Ia letakkan di atas meja. "Adrian, ditanya malah tidur,"


"Diam! aku masih kesal dengan kamu ya!"


"Memang kenapa?" tanya Adrina tak mengerti.


Ia lupa di acara ulang tahun Mommy-nya semalam Ia mengerjai Adrian sampai diajak pulang oleh Devan.


"Kamu lupa semalam aku dimarahi Daddy karena kamu buat drama?"


"Semalam ada acara apa?" Thalia yang sangat penasaran mengajukan pertanyaannya. Adrina belum cerita apapun sejak tadi.


Revin menyambar, "Aku tidak diundang?"


"Lupa," dengan ringan Adrina menjawab. Revin yang sudah terang-terangan dilupakan hanya bisa mendengus.


"Tapi kalau mengundnag Adrian tidak lupa ya?"


"Jelas saja, Orangtua aku dan Adrian juga bersahabat. Jadi Daddy-ku mengundang keluarganya Adrian,"


"Santai saja jawabnya. Ini masih pagi, tidak perlu menunjukkan urat di leher," ujar Revin menengahi Adrina dan Thalia.


Adrina kesal saja saat Thalia bicara seperti itu. Kalau berhubungan dengan Adrian, pasti selalu berdebat. Daddy-nya yang mengundang Devan jadi apa yang salah? Dan kebetulan Adrina juga senang kalau Adrian bisa hadir.


*******


Lovi sedang dipercantik oleh make up artist saat Auristella tertidur. Hari ini Ia akan menghadiri sebuah pagelaran fashion show yang diadakan oleh salah satu brand yang menjadikan design hasil karya Lovi sebagai salah satu karya yang ditampilkan. Banyak juga pemilik butik sekaligus perancang yang hadir di sana. Ini untuk pertama kalinya Lovi ikut berpartisipasi.


"Aduh, dia bergerak, Lovi." Jane menjaga Auristella agar tidak terbangun. Sejak Lovi mulai sering datang lagi ke butik, terhitung tiga hari yang lalu, Auristella jadi lebih rewel. Lovi duga itu adalah sindrom yang biasanya memang terjadi ketika anak ingin tumbuh gigi.


Ditinggal sebentar oleh Lovi, dia akan menangis. Saat Lovi berhasil membuatnya tertidur dengan cara digendong, Lovi berencana untuk meletakkannya di ranjang tapi ia malah terbangun dan menangis, tubuhnya juga demam.

__ADS_1


Lovi menenangkan anaknya sejenak. Dengan cara ditepuk-tepuk. Semoga kali ini berhasil mengelabui Auristella bahwa yang memangkunya bukanlah dirinya melainkan Jane.


Jane sampai menahan napas sebentar ketika Auristella melenguh dalam tidur seraya mengusap matanya. Jangan sampai dia terbangun karena Lovi belum siap sama sekali. Make up pun baru setengah.


Setelah Auristella kembali tenang, Lovi kembali dirias. "Yang simple saja ya. Biar tidak terlalu lama," pesan Lovi yang mengundang tawa kecil Delta, make up artist yang sedang mempercantik dirinya.


"Kamu memang selalu meminta yang simple, Lovi,"


"Iya, namanya juga Ibu beranak tiga. Jadi apapun harus serba simple,"


Usai didandani, Lovi segera mengenakan dress-nya. Ia keluar dari walk in closet dengan penampilan yang luar biasa anggun. Jane terpana dibuatnya.


"Devan pernah melakukan kebaikan apa ya sampai dia beruntung sekali memiliki kamu?" Jane mengeluarkan suara pelannya takut Auristella terganggu.


"Terima kasih atas pujiannya,"


"Selamat bersenang-senang ya,"


"Tidak bisa pasti. Hanya sebentar saja aku di sana yang terpenting menampakkan wajah. Aku berharap Auris bangun setelah aku pulang,"


"Rasanya tidak mungkin,"


Raut Lovi sedih seketika. Ia membayangkan anaknya nanti pasti menangis karena tidak ada Ia disampingnya.


"Aku minta tolong jaga Auris sebentar ya." ujar Lovi pada Jane dan perawat-perawat Auristella.


"Iya, tenang saja. Nikmati harimu di sana," Jane tersenyum hangat.


"Terima kasih, "


Terkadang Lovi terharu dengan semua peran serta keluarga Devan dalam membantunya. Mereka rela mengorbankan waktu serta tenaga untuk ikut serta dalam menjaga kehidupan putra dan putrinya. Mereka memang sempat menjadi orang yang begitu kejam padanya di masa lalu tetapi semuanya telah berubah.


******


"Hallo, Lov?"


"Ya, ada apa?"


"Kamu sudah berangkat?"


"Sudah, Devan."


"Bagaimana dengan Auris? dia menangis pasti ya?"


"Dia tidur, aku bersyukur sekali."

__ADS_1


"Okay, hati-hati ya, Lov."


Walaupun hanya percakapan singkat tapi Devan merasa tenang setelah tahu kabar terbaru dari anak perempuannya yang Ia ketahui tengah kurang sehat dan istrinya yang hari ini akan menghadiri sebuah acara.


__ADS_2