
Siang ini Devan menyelinap masuk ke ruangan Lovi. Anaknya tengah terlelap bersama dengan Vanilla dan Jane yang menjaga mereka.
Devan berjalan pelan mendekati perempuan bertubuh kecil yang tengah memunggunginya. Semoga Lovi tidak tidur. Devan merindukan suara perempuan itu.
Ketika mendekatkan kursi ke bangsal, pergerakannya didengar oleh Lovi. Perempuan itu berbalik dan wajah Devan yang sudah lebih segar daripada kemarin langsung menyambutnya.
"Sudah lebih baik, Lov?"
Devan menggenggam jemari Lovi sementara tangannya yang lain terangkat untuk memberi usapan di kepala Lovi.
"Kamu sudah makan?"
Bukannya menjawab pertanyaan Devan, Ia malah mengajukan pertanyaan juga untuk lelaki itu.
Devan mengangguk masih dengan senyuman hangatnya.
"Sudah, maaf tadi aku tidak bisa menyuapimu karena anak kita baru saja tertidur,"
Lovi tidak masalah dengan hal itu. Ia bukan anak kecil yang butuh pendamping selama dua puluh empat jam. Berbeda dengan anak-anaknya yang akan merengek bila tidak ada siapapun di sampingnya.
Lovi ingin sekali mengusap wajah tampan itu. Namun Ia sungkan. Lagi-lagi karena status mereka yang sudah berubah. Pelukan kemarin saja masih membuat Lovi berpikir sampai sekarang 'kenapa bisa selancang itu?'
"Mereka bagaimana kondisinya? Sudah lebih baik bukan?"
"Adrian sudah beberapa kali muntah hingga siang ini. Andrean justru hanya dua kali,"
__ADS_1
Lovi mengigit bibir bawahnya. Seharusnya Ia berada di samping mereka. Bukan malah berbaring di sini hingga kurang mengetahui kondisi anaknya jika bukan dari Senata dan Rena yang sesekali bergantian untuk berkunjung ke ruangan mereka.
"Kamu tidak mual-mual?"
"Tidak, kamu tidak perlu memikirkan aku. Kondisimu juga harus diutamakan. Kamu harus selalu mendampingi mereka menggantikan Aku,"
Devan mengecup jemari Lovi. Dengan mata saling menatap, kecanggungan masih dimenangkan oleh Lovi. Sementara Devan biasa saja.
"Kamu tidak memberi tahuku kalau ada anak kita di sini,"
Kini Devan memberi sentuhan di perut rata Lovi. Di sana anaknya akan tumbuh sampai sembilan bulan ke depan. Mereka akan berbagi darah dan segalanya. Devan tak bisa menjabarkan kebahagiaan itu dengan kata-kata. Memang benar, dibalik setiap kesedihan terselip kebahagiaan yang bahkan tidak terduga sebelumnya. Siapa yang menyangka kalau mereka akan kembali dianugrahi malaikat kecil.
"Aku juga tidak tahu. Aku memang sering mual belakangan ini. Tapi aku pikir kalau itu terjadi karena aku sering terlambat makan,"
Devan memicing pada Lovi. Jadi selama ini Lovi mengabaikan tubuhnya sendiri? Itu terjadi pasti karena Lovi sibuk bekerja dan tak ada lagi yang akan membentaknya kalau terlambat makan. Biasanya Devan yang melakukan itu.
"Ya, aku mengerti."
Lovinya yang penurut sudah kembali. Dan Devan senang melihatnya. Ingin sekali mengecup bibir yang biasa melakukan penolakan itu. Namun kalau Ia melakukannya sekarang, pasti Lovi yang menyebalkan akan kembali lagi. Bisa-bisa tangannya yang bebas menampar wajah Devan.
"Mama kemana?"
"Sedang mengambil pakaianku sebentar,"
"Kenapa tidak Serry saja yang melakukannya?"
__ADS_1
"Mamaku dan Mamamu tidak seperti kamu yang suka perintah-perintah padahal bisa dilakukan sendiri. Mama Rena tadi juga mengambil pakaianmu ke mansion,"
"Ya, anak-anak kita jadi lebih manja padaku. Selalu minta dipeluk. Kalau aromaku tidak enak, kasihan mereka,"
Devan melempar kelakarnya hingga tertawa. Lovi menggeleng dengan senyum tipis. Aroma tubuh Devan tidak enak? Ah tidak mungkin. Bahkan saat ini Lovi sangat ingin memeluknya juga seperti yang dilakukan si kembar itu. Aroma maskulin khas Devan memang selalu menjadi daya tarik orang-orang disekelilingnya. Sayang, hanya Lovi dan anak-anaknya yang boleh menikmati ketenangan dari aroma tubuh kekar milik lelaki itu.
Keheningan terjadi selama beberapa menit. Lovi berkutat dengan lamunannya sementara Devan sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu.
"Kita akan menikah lagi. Aku akan mengulangi janji itu. Karena pernikahan kita yang sebelumnya, dilakukan terpaksa. Sekarang tidak, aku benar-benar mencintaimu,"
Lovi memandang lurus pada Devan yang baru saja mengatakan itu. Ia berusaha mencari kesungguhan dari manik mantan suaminya.
Lovi tidak menyangka kalau Devan akan membahas ini sekarang. Mereka akan menikah kembali? Devan akan mengucapkan janji pernikahan untuk yang kedua kalinya karena pernikahan mereka yang sebelumnya tidak terjadi atas nama cinta melainkan untuk mengurangi rasa malu Devan dan keluarganya karena Elea yang koma. Kali ini Lovi tidak menjadi pengantin pengganti?
Memutuskan perkara hati memerlukan waktu untuk dipikirkan secara matang. Lovi harus memastikan apakah Devan bisa dijadikan sebagai pendamping hidupnya lagi? apakah lelaki itu tidak akan mengulangi kesalahannya?
"Aku beri kamu waktu untuk memikirkan semuanya. Kalau kamu sudah siap untuk kembali menjalani kehidupan bersamaku, kamu hanya perlu mengatakannya padaku. Dan aku sangat bahagia kalau kita bisa kembali bersatu,"
Devan tersenyum hangat. Ia tidak akan menjadi sosok egois lagi. Pernikahannya retak karena Ia yang terlalu dominan dan arogan sebagai kepala keluarga. Kali ini Devan tidak akan memutuskan semuanya secara sepihak.
Devan bangkit untuk menyematkan kecupan di kening Lovi dan juga perutnya.
"Daddy pergi ke dulu. Maaf belum bisa menemanimu lebih lama,"
------
__ADS_1
Uwuww kira-kira Lop-Lop mau ga ya?? hmmm.... gk penasaran kn? DILARANG PENASARAN KALAU BELUM VOTE & KOMEN. DILARANG NAGIH UP BAGI YG BLM FOLLOW AKU INI. HOHOHOHO😈😈