My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tak lagi mencintai


__ADS_3

Aku tau kalian penasaran sm scene Devan&Elea di kantor Devan, jd untk episode ini akn nyambung sm ep sblmnya. Adegan gak aku lompat kyk ep" sblmnya. Ngerti kan? kl ngerti, cekidot😂😂


***********


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Devan dengan datar. Matanya menghunus Elea yang kini terkekeh.


'Perempuan sialan!' makian itu tak pernah berhenti diucapkan Devan dalam batinnya.


Elea duduk di sofa dengan gaun yang sedikit tersingkap pada bagian paha. Saat ini Devan tidak memiliki perasaan apapun pada Elea, jadi apapun yang dilakukan Elea -termasuk menjual tubuhnya di hadapan Devan- Ia tidak peduli.


Devan duduk di kursinya dengan tenang. Meluapkan emosi pada perempuan gila itu tidaklah berguna. Karena hal tersebut akan menguras tenaga Devan untuk perempuan yang sampai mati akan Ia benci.


"Aku mendengar kabar tidak menyenangkan beberapa bulan lalu," ujar Elea dengan raut sedihnya yang dibuat-buat. Devan sangat ingin meludahi gadis itu lalu melemparmya dari lantai atas gedung ini, namun sayangnya Ia masih memilih otak. Berurusan dengan hukum akan menyulitkan semua langkahnya walaupun Ia bisa menyumpal mulut mereka dengan uang.


Damn !


Devan tahu kalau dibalik sorot menyedihkan gadis itu ada tawa bahagia diatas penderitaan Andrean dan Adrian. Devan menggeram dengan hati yang kian terluka.


"Istrimu ditembak, benar begitu?"


Devan memukul meja kerjanya hingga mengundang tawa menggelegar Elea. Devan tidak habis pikir bagaimana bisa Ia mencintai perempuan itu Dulu ? Gadis yang pernah disebutnya sebagai malaikat, kini berubah menjadi sosok menyeramkan. Bahkan melebihi Devan yang sejatinya adalah penjahat sesungguhnya. Devan akan membunuh orang dengan alasan yang jelas. Sementara perempuan dihadapannya ini dengan ringan melakukannya tanpa rasa bersalah sedikitpun yang mengiringi perbuatannya tersebut.


"Aku hebat bukan? bisa mengetahuinya," ucap Elea dengan angkuh. Senyum miringnya membuat gigi Devan kian bergemulutuk.


"JELAS KAMU MENGETAHUINYA, KARENA KAMU PELAKUNYA, SIALAN!!"


teriakan Devan menggema di seluruh sudut ruangannya. Elea tertawa bahagia merasa berhasil memancing Devan untuk lebih berani menunjukkan kemarahannya.

__ADS_1


Perlu kalian ketahui, Devan bukan takut. Reputasi lah yang menjadi beban pikiran Devan saat ini. Ia tidak ingin membuat kekecauan di perusahaannya walaupun gairah untuk membunuh sudah ada sejak kedatangan Elea.


"Akhirnya kamu berteriak, sayang. Aku bosan mendengar suara putus asamu. Ayolah, jangan berlarut dalam kesedihan,"


Elea berjalan ke arah Devan yang langsung di lempari lelaki itu dengan laptop. Namun Elea dengan sigap menghindar.


Elea marah ketika Devan melakukan itu. Ia menatap tajam ke arah Devan.


"Kamu ingin membunuhku dengan laptop itu?"


Devan tersenyum miring. Rupanya gadis itu cerdas. Tanpa perlu Ia jelaskan, Elea sudah tahu niatnya.


"Ya, karena kamu juga hampir membunuh istriku,"


"Bukan hampir , Babe. Tapi sudah terbunuh,"


"Jaga ucapanmu sialan!!" desisnya dan kali ini rambut Elea yang menjadi target kemarahan Devan. Ia tidak peduli dengan rengekan kesakitan dari gadis itu. Yang jelas, Devan tidak akan pernah berbaik hati dengan orang yang telah mengganggu hidupnya.


"Lepaskan aku!" seru Elea dan berhasil melepaskan cengkraman Devan di rambutnya.


"Bukan aku yang melakukannya, tapi ayahku. Perlu kuingatkan?"


"Ya, dan kalian akan mati bersama. Aku yang akan membunuh kalian,"


Elea berusaha tidak takut dengan ancaman itu. Seolah yakin kalau Devan tidak akan melakukan hal keji tersebut.


"Tunggu saja waktunya,"

__ADS_1


Diam-diam Elea menelan ludanya kelu. Namun sebisa mungkin memperlihatkan gestur santai di depan Devan.


"Aku heran denganmu. Kenapa begitu cepat mencintai ****** itu? dia bukanlah orang yang tepat, Devan!!"


Devan menggeram marah layaknya singa jantan yang siap untuk menerjang.


"Lalu menurutmu siapa yang pantas? hm? kamu?"


Devan tertawa dengan aura bak iblis. Guyonan apa yang sedang dikeluarkan gadis itu? terasa sangat menggelikan di telinga Devan.


"Kamu tahu jawabannya," dengan percaya diri Elea menunjukkan eksistensinya untuk Devan miliki. Devan merasa kesulitan untuk menghentikan tawanya.


Sebelum Devan melakukan hal lain yang lebih mengerikan, Elea berjalan untuk kembali duduk di atas sofa. Menghindari tatapan Devan yang kembali menakutkan. Dulu, Devan tidak pernah menyakitinya.


Ternyata benar, Devan telah mengkhianati cintanya demi Lovi. Lelaki itu tidak mencintainya lagi dan kenyataan itu membuat Elea sangat marah. Devan hanya miliknya.


"Kamu akan merasakan hal yang lebih menyakitkan kalau kamu tetap mencintai perempuan itu," ucap Elea dengan santai. Ia memilin rambut pirangnya.


"Lakukan saja, ******!! aku yakin kamu akan menyerah dengan sendirinya karena kekuatan cintaku dan Lovi sangatlah besar,"


"Cinta? kalian saling mencintai?" tanya Elea dengan remeh.


Devan berhasil mengendalikan napasnya yang memburu. Ia kembali ke meja kerjanya untuk meneguk air minum yang ada di sana. Gadis gila itu memperhatikan Devan.


'Sial! dia terlihat seksi dan semakin tampan,'


"Kalau kamu mencintainya, seharusnya kamu tidak lagi menerima keberadaanku di sini,"

__ADS_1


************


__ADS_2