
Devan mengawali hari ini dengan memandikan kedua putranya. Setelah itu ia bersiap diri menuju kantor. Sebelumnya Ia sudah diperintahkan Rena untuk sarapan. Karena semenjak Lovi tidak ada disisinya, Devan selalu melewatkan sarapannya.
"Bagaimana perkembangan kasusnya?" tanya Rena di sela mulutnya yang bergerak untuk memperhalus dorayaki. Setiap pagi, nenek dua cucu itu selalu menyantap kue-kue yang manis ditemani dengan susu untuk kesehatan tulangnya. Ia jarang menjadikan makanan berat sebagai sarapannya.
"Aku bingung kenapa sulit sekali menangkap para ular sialan itu,"
Bukan Devan yang nenjawabnya melainkan Raihan. Tatapan pria paruh baya itu menghunus mata Devan yang kini terlihat membeku. Namun secepat kilat Devan menghapus gestur tudak nyaman itu.
"Aku masih berusaha mencarinya," ucap Devan pelan. Semuanya terasa sulit. Hatinya memberontak ketika mengatakan itu. Ia merasa telah memperlakukan Lovi tidak adil. Sampai saat ini nasib perempuan itu belum lah jelas. Ia masih berjuang untuk mempertahankan kehidupannya di dunia ini.
"Kalau sampai aku menemukan para pelaku itu, aku pastikan mereka akan mati di tanganku,"
Devan menelan ludahnya pahit. Rena dapat melihat dengan jelas bagaimana bergairahnya Raihan untuk memburu pelaku yang sudah mencelakai Lovi. Berbanding terbalik dengan Devan yang...
Entahlah, Rena merasakan ada yang berbeda dengan putranya.
__ADS_1
"Aku sudah kerahkan semua kekuasaanku untuk mengusut tuntas kasus ini. Namun belum ada jalan keluar sampai sekarang," ucap Raihan yang kini beralih pada Adrian dan Andrean.
Kedua putra kecil itu sibuk dengan cemilannya. Biskuit buah yang menjadi salah satu makanan favorit mereka.
Raihan tersenyum kecil melihat wajah kedua cucunya yang sudah berantakan padahal mereka sudah mandi.
Raihan tidak ingin kedua cucunya merasakan hal yang sama seperti Devan dan Livia. Ia pernah meninggalkan kedua anaknya dan itu karena kesalahannya sendiri yang mengkhianati cinta Rena. Tapi permasalahan sekarang berbeda. Lovi terpaksa meninggalkan kedua anaknya karena Ia sedang dalam masa kritis. Sampai saat ini saja Ia masih membenci dirinya sendiri yang pernah meninggalkan keluarga. Dan orang-orang brengsek yang telah mencelakai Lovi juga patut untuk dibenci. Karena mereka, Adrian dan Andrean harus menjalani masa yang sulit seperti ini.
'Kakek janji akan melakukan yang terbaik untuk kalian,' tekat Raihan pada dirinya sendiri.
Elea memasuki gedung perusahaan mantan kekasihnya. Ia tersenyum angkuh ketika para karyawan menatapnya segan. Mereka ingat siapa sosok gadis itu. Seseorang yang pernah menjadi prioritas Devan, pemilik perusaahn tersebut. Bahkan ketika Elea pingsan di kantornya, Devan dengan suka rela menggendong gadis itu. Raut khawatirnya begitu terlihat. Dari banyakanya kejadian yang mereka saksikan secara langsung, semua pekerja di sana sepemikiran bahwa, Elea adalah kekasih Devan walaupun Devan tidak pernah memperkenalkan gadis itu secara langsung pada karyawan-karyawannya.
"Devan di dalam, bukan?" tanya Elea pada sekretaris kedua Devan, Jeni.
Jeni tersenyum ramah kemudian mengangguk dengan sopan.
__ADS_1
"Ya, Nona. Silakan masuk,"
Elea tersenyum miring. Ia kira setelah kejadian beberapa waktu lalu, semuanya akan berubah. Namun nyatanya tidak. Semua orang masih memujanya.
Elea masuk tanpa mengetuk pintu. Kebetulan Ferro juga keluar dari ruangan Devan. Ferro terdiam beberapa saat dengan kerutan dikeningnya sebelum akhirnya memberi jalan pada Elea untuk masuk.
Ferro dibuat bimbang sekarang. Apakah dengan meninggalkan Devan bersama Elea adalah pilihan terbaik? Elea memasuki ruangan Devan dan ia kembali menoleh pada Ferro. Mata gadis itu tajam seolah mengusir Ferro dari sana.
Devan sedang mencuci tangannya di wastafel yang ada di dekat toilet ruangannya. Begitu berbalik, Ia dibuat terkejut dengan kehadiran masa lalunya. Setelah sekian lama mereka tidak pernah bertatap muka, kini Elea tersenyum di hadapannya.
Ferro memutuskan untuk keluar. Mungkin ada sesuatu yang penting sehingga Elea membutuhkan waktu untuk membicarakannya dengan Devan. Usai menutup pintu ruangan Devan, Ferro tak bisa lagi berpikir jernih. Rahangnya mengeras dengan tatapan khawatir sekaligus emosi. Dengan cepat Ia meraih ponselnya di saku untuk menghubungi seseorang.
"Tuan, orang yang menjadi fokus kita saat ini sedang bersama Tuan Devan,"
"Detektif ******** sialan! Dia tidak benar-benar peduli dengan istrinya,"
__ADS_1