My Cruel Husband

My Cruel Husband
Menikmati suasana romantis


__ADS_3

Devan dan Lovi terbangun menjelang malam. Devan menjauhi tubuh istrinya yang sedari tadi Ia dekap hangat.


Devan benar-benar menganggap bahwa ini adalah bulan madu mereka. Sehingga tidak kenal waktu Ia membuat Lovi mabuk kepayang akan sentuhannya.


"Terima kasih, Lov...." bisik Devan sebelum Ia mengecup bibir Lovi. Devan bangkit untuk membersihkan tubuhnya dari jejak percintaan tadi. Karena nanti malam Devan akan membawa Lovi untuk datang ke tower bridge.


Setelah Ia bersih, Lovi baru akan dibangunkan. Devan membiarkan istrinya untuk beristirahat sebentar.


********


"Aunty Jane, memang benar nanti malam Aunty Vanilla dan Uncle Jhico akan datang?"


"Kamu menguping ya? awas telingamu jadi panjang seperti gajah nanti,"


"Benar atau tidak? jawab itu saja jangan malah mendoakan telingaku menjadi panjang,"


"Hmmm... tidak tahu,"


Adrian tiba-tiba merengek dan mengayun lengan Jane yang tengah makan siang. Senata yang melihat sikap cucunya itu menegur, "Jangan mengganggu orang sedang makan, Adrian. Tidak sopan, kalau Aunty tersedak bagaimana?"


"Iya, maaf, Grandma." Ia menghentikannya. Adrian masih menatap Jane seolah meminta penjelasan atas pertanyaan yang tadi.


"Datang atau tidak? tadi aku dengar Aunty bicara tentang itu pada Grandma Rena,"


"Iya, Aunty Vanilla-mu yang cantik itu akan datang. Tapi hanya sebentar bukan untuk minta ditemani perawatan," sindir Jane yang sudah melihat tanda-tanda Adrian akan bersorak senang. Mungkin dipikirnya Vanilla akan menjadikan Ia sebagai teman ke klinik perawatan lalu setelahnya Ia akan bermain sepuasnya.

__ADS_1


"Lagi pula, Aunty tidak mungkin lagi minta ditemani oleh kamu. Sudah ada Uncle Jhico yang melakukan itu," Senata menahan tawa begitupun dengan Jane. Mereka berdua melihat ke arah Adrian yang menghentak kakinya kesal lalu berlari ke arah Auristella. Anak kedua dari Devan dan Lovi itu memeluk adiknya yang tengah menonton dari belakang. Lalu mencium kepalanya bertubi-tubi, sehingga Auristella merasa sangat terganggu.


"Jangan ganggu Auris, Sayang. Dia sedang tenang, kamu malah--"


"Aku mencium dan memeluk adikku sendiri memang tidak boleh?"


"Bukan tidak boleh, tapi aneh saja saat melihat kamu melakukan itu. Biasanya juga tidak pernah,"


Yang kerap dilakukan Adrian adalah membuat adiknya menangis setelah itu Ia pergi. Berbeda dengan tadi, Ia baru saja digoda oleh nenek dan Aunty-nya, setelah itu berlari memeluk adiknya dengan erat seolah minta dibela oleh Auristella.


*******


Devan dan Lovi benar-benar menikmati suasana malam di tower bridge. Lovi tidak ingin momen istimewanya lewat dari potretan kamera. Sehingga beberapa kali Ia meminta pada Devan untuk mengabadikan dirinya. Tak jarang juga Lovi meminta bantuan pada orang lain untuk memotret kebersamaannya bersama sang suami.



Setelah euforianya habis, Lovi sengaja menghubungi Senata agar bisa berbicara dengan ketiga anaknya.


Tidak membutuhkan waktu lama, panggilannya pun dijawab. Dan wajah yang Ia lihat pertama kali adalah Andrean.


"Hallo, Mommy."


"Hai, Sayang. Kalian sedang apa?"


"Aku menonton televisi, seperti biasa."

__ADS_1


"Kedua adikmu?" Devan ikut menghadirkan wajahnya. Ia tidak melihat keberadaan Adrian dan Auristella di dekat Andrean.


Adrian yang sedang berkutat dengan keretaThomas-nya langsung berlari mendekati sang kakak. Lalu Rena datang seraya menggendong Auristella yang baru saja mengganggunya menjahit.


"Ini mereka,"


"Mommy, aku rindu sekali," pekik Adrian. Dengan cepat Ia merebut ponsel dari tangan Andrean. Kakaknya itu hanya bisa menghela napas pelan.


Lovi dan Devan tersenyum melihat ketiga anaknya di sana. Auristella hanya bergumam, tapi senyumnya menggambarkan bahwa Ia senang bisa melihat kedua orangtuanya.


"Mommy dan Daddy dimana?"


Lovi mengarahkan kameranya ke sekeliling. Melihat Tower bridge, Adrian langsung berseru riuh.


"Bagus, bagus sekali tempatnya. Pasti Mommy sudah ratusan kali berfoto di sana,"


Devan menahan tawa setelah mendengar kalimat polos anaknya. Entah polos atau memang sengaja membuat Mommy-nya malu.


"Tentu saja, Mommy tidak akan puas berfoto di sini,"


"Aku mau juga," Adrian menekuk wajahnya. Auristella di sampingnya menatap Adrian. Anak perempuan itu tampak menenangkan Adrian dengan cara mengusap wajahnya.


Lovi dan Devan dibuat tersenyum haru di sana. Mereka senang melihat ketiga anaknya baik-baik saja, tidak bertengkar. Walaupun tidak tahu sebelum mereka menelpon tadi telah terjadi apa diantara Auristella dan Adrian.


"Selamat bersenang-senang, Mommy, Daddy. Cepat pulang ya, kami menunggu dengan setia," Andrean tersenyum tipis ketika mengatakannya. Sedingin apapun Andrean, bila sudah rindu, pasti akan tetap menjadi mellow juga. Apalagi ini rindu dengan orangtua.

__ADS_1


----------


__ADS_2