
Devan harus kembali ke mansion untuk mengantar Lovi menjalani pemeriksaan rutin usai kecelakaan kemarin.
Setelah selesai, Ia harus bekerja lagi. "Obatmu jangan lupa diminum," pesannya begitu mobil sampai di mansion.
Devan mengecup kening Lovi, "Aku bekerja lagi ya?" tangan Devan terangkat untuk mengusap kepala istrinya.
Lovi turun dan melambai sebelum mobil suaminya tidak terlihat lagi di pelupuk mata. Auristella yang ada dalam gendongan Senata segera meminta dipeluk. Setiap Lovi habis pergi, Ia selalu seperti itu.
"Bersih-bersih dulu, Lovi."
"Iya, Ma."
Lovi masuk ke dalam kamar. Untuk mencuci tangan dan kakinya lalu meminum obat karena kalau sudah bersama Auristella, Ia akan lupa dengan semuanya.
*******
Adrian keluar dari lapangan setelah pertandingan sesi pertama berakhir. Ia harus menghilangkan rasa haus terlebih dahulu sebelum pertandingan kembali dilanjutkan.
Hari ini Adrian dan Andrean mengikuti lomba antar kelas. Semuanya harus berpartisipasi sesuai dengan bakat.
Tetapi hanya dua ekstrakurikuler yang mengadakan lomba. Sepak bola dan juga balet. Andrean dan Adrian paling senang mengikuti kegiatan seperti ini. Mommy dan Daddy mereka tidak ada yang tahu. Semoga menang lalu mereka bisa mempersembahkan trofi untuk Lovi dan Devan. Kalau tidak menang, lalu kedua orangtua mereka sudah tahu tentang lomba ini, pasti akan kecewa walaupun tidak mengatakannya secara langsung. Oleh sebab itu keduanya sepakat untuk mengikuti lomba diam-diam. Kalau menang, mereka akan sangat bahagia tetapi kalau kalah pun tidak masalah dan tidak ada yang kecewa selain diri mereka sendiri.
"Kenapa dia menatapku sinis seperti itu? kalah dan menang adalah hal biasa,"
Andrean menoleh saat Adrina yang duduk di sampingnya mencibir ke arah anak perempuan seusia mereka yang berbeda kelas dengan Adrian, Andrean, dan teman-temanya.
"Siapa yang kamu bicarakan?"
"Syakira, coba kamu lihat sendiri!"
Adrian mendekatkan telinganya, mencuri dengar pembicaraan sang Kaka dan Adrina. Mereka terlihat serius sehingga Adrian menjadi penasaran.
"Ada apa? aku ingin tahu juga,"
"Tidak, bukan urusan kamu,"
Alis Adrian menukik ke atas. "Ya sudah, tidak perlu berputar begitu matanya. Nanti tidak bisa berhenti, baru tahu rasa," sindirnya yang kesal melihat Adrina memutar bola mata ke arahnya, memberi tahu bahwa Ia enggan untuk menanggapi Adrian.
__ADS_1
Thalia dan Revin mendekati ketiga temannya. Thalia baru saja mengganti pakaian baletnya sementara Revin baru selesai mengambil makanan di tasnya.
"Cepat sekali sudah ganti baju? tidak nyaman ya?"
"Iya, pakaian harus dikenakan sesuai dengan kondisi. Kalau sedang balet pakai baju untuk balet. Kalau sudah selesai, ya berganti baju."
"Kamu membicarakan aku yang masih mengenakan baju balet ya? apa urusannya dengan kamu?" Adrina tiba-tiba saja berbicara seperti itu. Matanya melirik Thalia dengan tajam. Sepertinya Ia terlalu sensitif.
"Aku hanya menjawab pertanyaan Adrian. Tidak menyinggung siapapun,"
Thalia memang tidak berniat untuk membuat siapapun sakit hati apalagi temannya sendiri. Tidak disangka kalau temannya akan menangkap maksud kalimat itu dengan sudut pandang berbeda.
"Kenapa jadi berdebat seperti ini? kita baru saja bekerja sama agar kelas kita menang, sekarang malah berdebat hal yang tidak penting,"
"Dia menyindir aku!"
"Aku tidak--"
"SUDAH HEY! KALAU ATASAN SUDAH MENGELUARKAN PERINTAH, DENGARKAN!"
Adrian merentangkan kedua tangannya saat Adrina mulai menunjuk Thalia. Jangan sampai Thalia ikut tersulut lalu mereka bertengkar. Tidak lucu kalau anak usia lima tahun bertengkar karena masalah baju.
"Aku calon boss. Sebentar lagi akan menggantikan Daddy,"
"Belum apa-apa sudah berkhayal terlalu tinggi. Kamu tidur saja masih suka bersembunyi di balik leher Mommy. Belum saatnya berpikir untuk menjadi atasan,"
"Adrina..."
Thalia memanggil temannya yang tadi marah-marah. Saat tangannya akan diraih, Ia menolak tegas.
"Aku minta maaf sudah membuat kamu kesal,"
*******
Lovi sedang memasak makan malam. Dan alat yang menjadi sumber pemberitahuan bahwa Auristella sedang menangis langsung menginterupsi kegiatan Lovi.
Ibu dari tiga anak itu segera datang ke kamar lalu membuat Auristella tenang. Biasanya bila seperti ini, Auristella baru saja mengalami mimpi buruk. Jadi tiba-tiba terbangun dan menangis.
__ADS_1
Matanya bahkan masih merah, pertanda bahwa sebenarnya Ia belum ingin membuka mata, masih mengantuk.
"Kenapa menangis? mimpi buruk ya?"
Lovi mengeluarkan Auristella dari dalam boks tempat tidur. Lalu menyusui anaknya itu agar kembali tertidur. Karena masakan Lovi belum selesai. Setelah anaknya sakit dan Ia mengetahui bahwa penyebabnya adalah bakteri, Lovi lebih kerja keras lagi dalam menjamin makanan anak-anaknya. Mulai dari rasa, kandungan, dan yang tidak kalah penting adalah kebersihannya.
Lovi menepuk-nepuk pelan punggung anaknya yang sudah selesai menyusu. Mata Auristella semakin sayu. Dan tak lama Ia kembali terlelap. Lovi senang bila anaknya sangat pengertian seperti ini.
Rena membuka pintu kamar lalu bertanya dengan sangat pelan, "Tadi Mama dengar dia menangis. Sudah tidur lagi?"
"Iya, Ma."
Lovi kembali meletakkan anaknya di dalam boks. Karena kalau ada di atas ranjangnya, Lovi khawatir Ia bisa terjatuh. Mengingat Auristella sudah bisa memasang berbagai gaya bila sedang tidur.
******
"Apa itu?"
"Sertifikat,"
"Sertifikat apa?"
Devan cepat-cepat meraih kertas yang dipegang Adrian. Lalu membaca kalimat yang tertera di sana dengan serius.
"Kapan lombanya? Kenapa Daddy tidak tahu?"
"Tadi. Trofi untuk sekolah, dan semua peserta yang menang mendapat sertifikat,"
"WOHOOO SELAMAT, SAYANG." Devan berseru. Beruntung mereka sudah ada di dalam mobil. Jadi tidak begitu memalukan.
"Sertifikat milikmu dimana?" tanya Devan pada Andrean.
"Dipegang Daddy juga. Coba lihat dibalik sertifikat Adrian,"
Devan segera melihatnya. Benar saja, ada dua sertifikat di tangannya dan Ia tidak menyadari itu karena terlalu bahagia.
Sekali lagi Ia memeluk kedua anaknya. Memberi mereka kecupan bertubi-tubi untuk menggambarkan betapa bangganya Devan pada mereka berdua yang berani berjuang diam-diam tetapi hasilnya luar biasa.
__ADS_1
"Kita harus rayakan ini. Mommy pasti bahagia mendengarnya,"
--------