My Cruel Husband

My Cruel Husband
Devan malu ?


__ADS_3

Devan berjalan di koridor Rumah sakit setelah turun dari kendaraan mewahnya. Setiap mata di sana menatap kagum Lelaki tampan yang di balut dengan pakaian kerja mahalnya.


Pagi tadi Devan meninggalkan Lovi yang masih tertidur untuk pergi ke kantornya guna menghadiri pertemuan penting dengan para Relasinya. Meninggalkan kecupan hangatnya di kening perempuan itu, Devan memantapkan hatinya untuk meningglkan Lovi sementara waktu.


Manik legamnya bertemu tatap Dengan Ferro yang duduk bersama para body guard yang di perintahkannya untuk menjaga Lovi dari luar.


"Tuan," Sambut mereka seraya bangkit dari posisinya.


"Bagaimana keadaannya? Tidak ada sesuatu buruk yang terjadi bukan?" Ferro mengangkat sudut bibirnya saat melihat Devan yang terlihat panik sendiri. Apa Devan baru saja mengkhawatirkan keadaan istrinya?


"Dokter ingin berbicara padamu,"


"Kapan aku bisa menemuinya?"


"Malam nanti ketika Nona Lovi kembali di periksa,"


Puas dengan penjelasan Ferro, tanpa mengatakan apapun Devan masuk ke dalam ruangan besar itu. Matanya melihat sosok Lovi yang sedang membaca buku dengan tangan yang masih di infus.


Tingkah Lovi belakangan ini benar-benar menyebalkan. Sesuatu yang dilarang Devan malah dilakukannya secara terang-terangan.


Lovi susah payah ingin meletakkan buku tebal itu di nakas sebelah bangsalnya. Itu buku milik Rumah sakit yang sebenarnya tidak penting untuk di baca namun karena Lovi terlalu bosan menyendiri tanpa adanya kegiatan yang dia lakukan, maka Ia memutuskan untuk membuka buku yang mengandung banyak hal tentang kesehatan itu.


Melihat tangan Lovi yang kesulitan mencapai nakas, Devan langsung mengambil alih buku tersebut kemudian menjauhkannya dari jangkauan perempuan penggila buku itu.


Melihat suaminya yang berjalan menjauh menuju sofa seraya memegang buku yang tadi dibacanya, membuat Lovi bingung.


"Letakkan di sini saja,Tuan. Aku ingin membacanya lagi nanti,"


"Mana ada manusia sepertimu? Sedang dalam kondisi sakit namun tetap membaca," gerutu Lelaki itu kemudian meletakkannya di dalam laci meja yang berhadapan dengan sofa tempatnya biasa beristirahat semenjak keadaan Lovi membaik.


"Tuan..." Lovi yang hendak protes langsung menutup rapat mulutnya ketika melihat Devan berbalik dengan mata tajam seolah tak ingin dibantah.


"Kamu membaca itu karena bosan, bukan?"


Tanpa berpikir, Perempuan dengan balutan baju biru itu langsung mengangguk.


"Ya, aku tidak bisa melakukan apapun sekarang," Gumamnya.


Lovi yang sebelumnya menunduk tak berani menatap Suaminya kini mengangkat wajah saat dilihatnya Lelaki itu berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil kursi roda dan kembali di dekat Lovi.


"Sore hari ini kamu ingin kemana?"


Lovi mengerinyit bingung dengan pertanyaan Devan. Keningnya berkerut dalam, sebelum bertanya,


"Aku tidak ingin pergi kemanapun, Tuan."


Jawaban Lovi tentu saja membuat Devan terkekeh dalam hati. Ia menatap istrinya dengan dalam.


"Yakin?" Senyum miring hadir di wajahnya saat melihat keraguan yang tergambar jelas dari mata istrinya itu.


Lovi mengangguk dengan yakin. Ia hanya perlu beristirahat. Bila ada Devan Ia tidak akan merasa kebosanan berbeda dengan tadi. Sampai akhirnya Ia menghabiskan waktunya untuk membaca buku lalu melalaikan waktu istirahat siangnya.


"Tapi aku yang bosan berada di sini,"


Tanpa aba-aba Lelaki tampan itu meraih istrinya dalam gendongan kemudian di turunkan dengan penuh hati-hati di atas kursi roda.

__ADS_1


"Tuan, Aku tidak ingin kemanapun. Aku hanya ingin beristirahat," Lovi mengangkat kepalanya agar dapat menatap Devan yang menunduk di atas kepalanya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk membaca buku? Seharusnya tadi kamu beristirahat bukannya membaca buku hingga berjam-jam,"


Devan mulai mendorong kursi roda Lovi. Menghentikan perdebatn yang ada. Ia khawatir tidak bisa mengendalikan emosinya yang akan menyakiti Lovi kembali.


Lonceng cafe berdenting menandakan ada tamu yang masuk. Beberapa mata menatap ke arah Devan yang membawa istrinya masuk ke dalam cafe Rumah sakit itu.


Suasana yang cukup ramai membuat Lovi tidak nyaman. Apalagi melihat tatapan-tatapan itu yang seolah menilainya rendah.


Devan masih mencari tempat yang kosong untuk mereka. Ia mendorong pelan wajah Lovi yang membalas tatapan di sekelilingnya dengan sedih.


"Untuk apa melihat mereka?" Ujar Devan seraya mendengus. Bingung dengan kebiasaan perempuan yang selalu menyakiti dirinya sendiri dengan memasukkan segala bentuk sikap orang lain ke dalam hati.


Fokus Devan teralihkan pada kursi yang kosong di dekat jendela. Di sana keadaannya tidak terlalu ramai dan mengganggu.


"Buatkan aku Cappucino latte,"


Salah satu pelayan yang bertugas sore itu menunduk hormat pada pemilik Rumah sakit itu yang sedang berkunjung ke cafe bersama perempuan yang tidak dikenalinya.


Tatapannya beralih pada Lovi yang sedari tadi diam .


"Nona..."


Belum sempat gadis itu bertanya mengenai pesanan Lovi, Devan langsung menghentikan ucapannya.


"Istriku tidak boleh meminum itu,"


Devan mengatakannya seraya menatap dalam manik jernih Istrinya. Dan hal itu membuat pelayan tersenyum.


Lovi menatap punggung pelayan itu yang sudah menjauh. Mendengar kalimatnya membuat Lovi tersenyum getir. Tidak ada keharmonisan sedikitpun yang terjadi dalam pernikahannya. Devan terlalu pandai dalam menutupinya.


"Aku mencari kalian di ruangan Lovi tapi body guardmu mengatakan kalian sedang berjalan-jalan,"


Devan menoleh saat bahunya di tepuk seseorang dari belakang. Ia langsung mengisyaratkan Deni untuk bergabung dengannya dan Lovi yang sedari tadi hanya diselimuti dengan keterdiaman.


Lovi tersenyum saat Deni menyapanya. Sudah lama Ia tidak melihat lelaki itu.


"Bagaimana keadaanmu?"


Devan mematik rokoknya untuk dihisap kemudian menghembuskan asapnya ke udara.


"Sudah lebih baik, Tuan,"


Satu alis Devan menukik. Matanya melirik Deni yang tertawa ringan. Lovi terlihat lebih membuka dirinya pada orang lain daripada Devan.


"Jangan panggil aku Tuan. Aku bukan orang tua," ucap Deni.


Entah mengapa Devan merasa bahwa itu merupakan bentuk sindiran untuknya.


"Jadi maksudmu aku sudah tua?"


Deni tersenyum sinis pada sahabat karibnya itu.


"Menurutku itu panggilan untuk orang tua. Aku sedang tidak membicarakanmu. Tapi kalau kau sadar diri, itu bagus,"

__ADS_1


Geraham Devan beradu. Ia menatap Sahabatnya tajam. Deni merusak moodnya kali ini. Melihat Lovi yang terlihat bahagia dengan kedatangannya saja sudah membuat Devan berkeinginan untuk menendang lelaki itu sekarang juga.


"Lagipula aku bingung. Sejak kapan istri memanggil suaminya dengan sebutan Tuan. Aku rasa hanya kau saja yang membuat peraturan begitu,"


"Tidak salah kalau aku mengatakan Kau adalah orang gila," Lanjutnya lagi.


Devan kira dengan kehadiran Deni bisa menghilangkan suasana canggung yang menyelimuti dirinya dan Lovi. Namun ternyata adanya Deni di sini malah membuatnya mati kutu.


Pelayan datang menghidangkan dua gelas kopi dan susu di atas meja. Dengan senang hati Deni meminum susu tersebut lebih dulu daripada yang memesannya, Devan.


"Hei! Itu bukan punyamu, Sialan!"


Devan memaki kesal saat melihat minuman yang seharusnya milik Lovi kini hanya tinggal setengah gelas karena Deni yang menyesapnya dengan cepat.


Deni mengatupkan mulutnya dengan mata melirik Devan sebelum menjawab,


"Itu bukan minuman untukku?"


Dengan tanpa perasaan Suami Lovi mendorong kepala Deni lumayan keras. Ia terlalu kesal dengan kebiasaan Deni yang seperti itu. Mengambil makanan atau minuman siapa saja yang ada di dekatnya tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Akan aku pesan lagi," Ujar Devan pada Lovi dan Deni baru sadar kesalahannya sekarang. Pantas saja Devan semarah itu padanya.


"Jadi itu untukmu, Lovi?"


Deni bertanya dengan ekspresi seperti orang bodoh mengusap tengkuknya. Ia terseyum tidak nyaman pada Lovi.


"Tidak masalah. Aku juga tidak menyukai minuman itu untuk saat ini," Jawab Lovi menenangkan Deni yang tampak gelisah. Deni merasa bersalah pada Lovi.


Devan mengerinyit dalam. Tak mengerti dengan ucapan Lovi.


"Maksudmu? Kamu tidak menyukai susu?"


Lovi menggeleng pada suaminya. Kemudian menjelaskan sesuatu yang menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini agar Devan tidak salah paham.


"Aku akan mual bila meminumnya,"


Dalam diamnya Devan mencerna itu semua. Ia tidak mengetahui apapun tentang Lovi dan anaknya. Selama ini Ia hanya sibuk dengan dunianya sendiri, Elea dan pekerjaannya.


"Kenapa mual? Jangan-jangan kamu hamil, Lovi?"


Lovi memijat dahinya pelan. Lovi lupa kalau Deni belum mengetahui kabar itu. Mungkin juga Devan tidak ingin mengatakannya. Mengingat anak itu bukan keinginannya?


"Dia memang hamil,"


Mata Deni membulat dan langsung berseru dengan semangat,


"Kenapa kau tidak cerita padaku? Sengaja menutupinya karena kau malu?"


Lovi langsung menatap Suaminya untuk melihat reaksi yang akan di tunjukkan Devan. Pertanyaan Deni sangat mewakili dirinya saat ini.


Dengan tegas Devan menjawab pertanyaan yang mengusik batinnya itu.


"Bagaimana mungkin aku malu? Aku hanya ingin melindungi mereka,"


*************

__ADS_1


pnjg kan ep nya? sbgai prmintaan maaf aku krn gk up maren๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ jgn lupa dukungannyaaaa


__ADS_2