My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pindah rumah


__ADS_3

Setelah kembali dari Rumah sakit, Lovi membawa anak-anaknya untuk tinggal sementara di rumah Senata, Ibunya.


Senata yang memintanya untuk tinggal bersama. Lovi sangat bersyukur ketika mendapat penawaran tersebut. Mereka tidak mungkin kembali ke rumah Devan ataupun mansion keluarganya.


Terdengar sangat tidak tahu diri kalau Lovi masih menuntut keluarga Devan untuk menopang kehidupannya.


Lovi belum bisa memastikan sampai kapan Ia akan bertahan di rumah sederhana milik Senata. Lovi akan mencari pekerjaan dan hasilnya untuk membeli perumahan kecil yang bisa menjadi tempat berteduh dirinya dengan sang anak.


Ia hanya bisa berharap Tuhan mempermudah segalanya.


"Terimakasih, Ma."


Senata tersenyum hangat. Ia keluar dari kamar yang akan menjadi tempat tinggal putri dan juga cucunya.


"Mommy, dia benar-benar Grandma kita juga?" tanya si sulung yang sejak tadi masih sulit percaya dengan kenyataan yang baru diketahuinya. Ia kira hanya Rena yang menjadi Grandma untuknya.


"Panggil saja Grandma Sena," saran Lovi yang tak ingin membuat anaknya semakin bingung.


Adrian masih menatap suasana ruangan dengan pandangan mengerinyit. Ia merasa asing ketika tinggal di rumah sederhana milik Senata.


"Kamarnya tidak luas seperti kamarku di rumah ya, Mommy?"


Lovi mengusap puncak kepala putranya. Ia tidak bisa memungkiri kalau mereka pasti akan melayangkan protes ketika diboyong untuk tinggal di sini. Terutama Adrian yang begitu lekat dengan fasilitas memadai sama seperti kehidupan Devan.


"Daddy juga tinggal di sini?"


Lagi-lagi Daddy. Devan selalu masuk dalam pembicaraan kedua anaknya. Mereka seolah tidak pernah melupakan kehadiran Devan. Mereka terlihat begitu merindukan sosok ayah. Apakah Devan merasakan hal yang sama? apakah Ia selalu mengingat anaknya?


"Mungkin Daddy akan datang sesekali saja. Tidak bisa setiap saat,"


Lovi berharap seperti itu nantinya. Devan Ia izinkan untuk bertemu dengan anak-anaknya. Biar bagaimana pun Devan mempunyai hak atas anaknya. Andrean dan Adrian juga perlu kasih sayang dari Devan walaupun mereka tidak lagi tinggal di bawah atap yang sama.


"Telepon Daddy, Mommy! suruh datang ke sini. Daddy harus tahu tempat tinggal kita yang baru. Cepat, Mommy!" dengan semangat menggebu Adrian meminta Lovi untuk memenuhi keinginannya.


"Daddy sedang bekerja, Sayang."


Memang benar seperti itu kenyataannya. Lovi masih ingat betul jam kerja suaminya. Menjelang siang seperti ini biasanya pekerjaan Devan sangat menumpuk.


Untuk saat ini Adrian akan menjadi anak yang pembangkang. Ia tidak bisa lagi menerima alasan Lovi yang selalu menolak jika Ia meminta Lovi untuk menghubungi Devan. Tetapi giliran menghubungi Rena, Lovi tidak pernah absen. Karena Rena yang menginginkan setiap kabar dari apa yang dilakukan cucunya.


Lovi mengeluarkan ponselnya dengan ragu. Adrian yang melihat itu langsung menarik benda tipis tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana aku mencari nama Daddy? aku belum terlalu bisa membaca, Mommy."


Andrean tertawa mendengar gerutuan adiknya. Siapa yang menyuruh Adrian untuk menarik paksa ponsel Mommynya?


"Mommy saja yang mencari nama Daddy,"


"Aku saja, Mommy tunjukkan padaku!"


Karakter yang melekat pada anak bungsunya ini benar-benar hasil turunan dari Devan. Sikap keras kepalanya semakin menjadi ketika usianya hampir mencapai empat tahun. Sikap angkuh Adrian pun selalu berhasil membuat Lovi geleng kepala.


Seperti halnya tadi. Adrian mengatakan dengan jelas kalau rumah Neneknya yang bernama Senata itu tidak seluas miliknya. Mulut kecilnya itu bisa dengan mudah menyampaikan sesuatu yang seharusnya disimpan saja dalam hati. Karena mungkin akan menyakiti orang yang mendengarnya. Beruntung, Senata tidak mendengar ucapan cucunya tadi. Kalaupun mendengar, Senata pasti akan maklum.


"Yang itu,"


"Ada apa ini di samping nama Daddy? ada gambar hatinya ya, Mommy? ini hatinya berwarna merah, bukan?"


Lovi terhenyak beberapa saat. Ia salah tingkah menyadari kalau anaknya ini sudah mengerti dengan yang namanya emoticon walaupun Ia menyebutnya sebagai 'gambar'.


"Tolong beritahu aku kalau salah, Mommy. Karena aku masih sulit membedakan warna,"


Lovi yang terdiam membuat Adrian berpikir kalau ucapannya tadi salah. Anak bungsu itu tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Lovi yang melihat kebingungan anaknya pun tersenyum.


Adrian tersenyum antusias. Lovi selama ini terlalu fokus pada tekatnya yang ingin membuat anaknya pintar membaca di usianya yang sebentar lagi empat tahun. Pelajaran menghafal warna sangat jarang di berikan Lovi kepada anak-anaknya. Ia sadar kalau didikannya masih jauh dari kata sempurna. Tetapi paling tidak, mereka sudah mengenal huruf dan angka dengan baik walaupun dalam hal membaca masih Andrean yang lebih menguasai.


Adrian menekan nama Devan di layar ponsel Lovi. Matanya menatap fokus pada apa yang ada digenggamannya. Andrean pun sangat menantikan jawaban dari Devan di seberang sana.


Pada deringan terakhir, panggilan pun dijawab oleh Devan. Namun Devan tidak mengeluarkan suaranya Karena Ia pikir yang menghubunginya saat ini adalah Lovi. Lelaki itu masih merasa canggung dan juga emosi ketika mengingat nama Lovi yang masih keras kepala mengajukan gugatan perceraian walaupun surat tertulis itu sudah berkali-kali dirobeknya.


"DADDY! INI AKU ADRIAN,"


Lovi memejamkan matanya terkejut. Suara Adrian benar-benar nyaring. Bukan hanya Lovi, Daddynya pun sampai menjauhkan ponsel dari telinga ketika mendengar suara anak bungsunya yang begitu keras.


"DADDY! DADDY MENDENGARKU?!"


"ADRIAN! TELINGAKU RUSAK NANTI!"


Mereka adalah kembar yang saling melengkapi. Tak cukup Adrian yang hampir merusak telinga, rupanya sang kakakpun ingin mengikuti jejak adiknya.


"Ya, Sayang. Daddy mendengarmu," jawab Devan dengan lembut. Lovi yang berada sangat dekat dengan ponselnya pun bisa mendengar jelas suara suaminya.

__ADS_1


Adrian langsung tersenyum bahagia. Akhirnya Ia bisa kembali berbicara dengan Devan.


"Daddy, kami pindah rumah. Tidak bisa bersama Daddy lagi," nada suaranya berubah murung. Andrean menatap adiknya yang kini menatap sedih layar ponsel Lovi seolah di sana ada wajah Devan sehingga Ia bisa mengadu pada Daddynya itu.


Devan mengerinyit sesaat. Ia berdehem untuk menetralkan suara kagetnya. Ia yakin kalau saat ini Lovi tengah berada di dekat anak-anaknya, perempuan itu pasti mendengar suaranya.


"Pindah kemana?" Walau terdengar acuh, namun ada rasa penasaran yang menggunung dibalik pertanyaan itu.


"Kata Mommy, ini rumah Grandma Sena. Oh ya, kami mempunyai dua Grandma, Daddy." si sulung akhirnya ikut berbicara. Devan tersenyum ketika telinganya bisa mendengar suara kedua anaknya yang sepertinya sedang bahagia itu. Devan bersyukur kalau mereka baik-baik saja. Ia berharap selamanya akan begitu.


"Baik-baik di sana. Jangan nakal, ya."


Adrian langsung meletakkan tangan kanannya di pelipis seolah hormat pada ayahnya. Ia melakukan hal yang menggemaskan itu tidak di hadapan Devan. Kalau Devan melihat tingkah anaknya itu, maka Ia tak akan segan mengecup semua permukaan wajah Adrian karena terlalu gemas.


"Daddy, Sehat? jangan terlalu lelah bekerja, Daddy!"


Devan dan Lovi terharu mendengar kalimat Andrean. Anak itu benar-benar sudah mengerti betapa pentingnya perhatian untuk orangtua.


"Kalau kalian baik-baik saja, Daddy pun begitu. Jangan terlalu lelah bermain, harus makan yang teratur, dengarkan apapun yang dikatakan Mommy. Mengerti, Sayang?" Devan mengatakan itu seraya menahan tangisnya. Hati yang keras itu terluka. Ia begitu mencintai keluarga kecilnya.


Devan hanya mampu memberi nasihat untuk mereka melalui sambungan telepon. Karena untuk saat ini kondisinya belum juga membaik. Devan tidak ingin anaknya ketakutan melihat dia yang bisa saja berubah menyeramkan secara tiba-tiba. Risiko Devan menyakiti oranglain sangat besar apalagi yang membuat Ia stres adalah kedua anak dan Istrinya. Ia merasa tertekan ketika mereka meninggalkan Devan. Ia takut halusinasinya menuntut pembalasan untuk Lovi dan anaknya setelah mereka meninggalkan luka yang begitu dalam di hati Devan.


Lovi merasa senang ketika Devan masih menghargainya sebagai Ibu dari kedua anaknya. Devan meminta mereka untuk menjadi anak yang baik.


"Daddy tidak ingin datang ke sini?"


Semakin teriris rasanya. Luka itu semakin jelas terasa. Begitu pedih ketika suara lirih Adrian terdengar sangat berharap akan kedatangannya.


"Daddy akan datang. Tapi entah kapan,"


Lelaki itu tidak bisa berjanji terlalu manis. Ia tidak ingin menyakiti hati pangeran-pangeran kecilnya.


"Adrian mau peluk Daddy. Tapi tidak bisa,"


Lovi mengusap bulir air mata yang sudah membasahi wajahnya tanpa Ia sadari. Kenapa mereka harus berakhir seperti ini? sama-sama tersakiti dan tak bisa saling mengobati.


"Memang boleh kalau Daddy datang ke sana lalu memeluk kalian?" Devan sengaja bertanya seperti itu. Ingin tahu bagaimana reaksi Andrean dan Adrian serta Lovi yang Ia yakin masih bertahan mendengarkan suaranya.


Adrian menoleh ke arah Lovi seolah meminta jawaban. Tentu saja Lovi mengizinkan. Mereka juga anak-anak Devan. Perpisahannya dengan Devan boleh saja terjadi. Namun hubungan tali darah antara Devan dan anak-anaknya akan terus berlaku sampai kapanpun.


"Daddy cepat datang ke sini ya. Adrian ingin tinggal bersama Daddy lagi,"

__ADS_1


*********


TYPO BERTEBARAN TIDAXXX? PASTI IYA! IYA KAN?!πŸ˜‚ ORANG AKU NGETIKNYA SAMBIL TERKANTUK-KANTUKπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2