My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kebersamaan Grandpa dan cucu


__ADS_3

Kedua anaknya yang laki-laki mengatakan ingin melihat keberangkatan mereka. Tapi rupanya rasa kantuk tak bisa ditahan lagi. Mereka tertidur sebelum Lovi dan Devan pergi. Andrean dan Adrian mengikuti jejak adik bungsu mereka yang sudah terlelap jauh lebih dulu.


Akhirnya untuk berpamitan, Devan dan Lovi hanya bisa mencium mereka satu persatu. Tidak cukup sekali, mereka melakukan itu berulang kali. Karena beberapa hari ke depan akan merasa sangat rindu dengan ketiga malaikat kecil mereka.


"Mommy dan Daddy pergi ya, Sayang."


Rena dan Senata akan menjadi teman mereka tidur selama Lovi dan Devan tidak ada. Usai melepas sepasang suami istri itu pergi menuju bandara, Rena, Senata, dan Raihan kembali memasuki mansion untuk melanjutkan istirahat mereka. Devan dan Lovi sengaja mengambil jadwal penerbangan malam seperti ini karena harus puas memeluk dan mencium ketiga anak mereka sebelum rindu melanda.


******


"Grandpa, tidak bekerja?"


"Memang kenapa? tidak suka melihat Grandpa di sini?"


"Aduh Grandpa sensitif sekali. Aku hanya bertanya,"


Raihan yang tengah menikmati kopi paginya segera membawa Adrian ke atas pangkuan. Cucunya itu memperhatikan apa yang sedang Ia baca.


"Kalau Grandpa tidak bekerja, aku senang sekali. Karena sekarang mansion jadi sepi. Tidak ada Mommy dan Daddy," Adrian mulai mencurahkan isi hatinya. Semalaman Ia merasa kesal dan sedih pada Devan serta Lovi yang pergi tanpa membangunkan dirinya. Seharusnya Ia bisa melihat Mommy dan Daddy-nya pergi.


Raihan yang memberi pengertian padanya. Devan dan Lovi sengaja tidak membangunkan karena melihat Adrian yang tidur begitu pulas, kasihan kalau sampai terbangun. Yang terpenting mereka sudah tahu kalau Lovi dan Devan akan pergi.


"Biasanya memang seperti ini suasana mansion. Daddy dan Grandpa bekerja,"


"Ya, tapi entah kenapa rasanya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya,"


"Grandpa tidak bekerja?" Andrean ikut dalam pembicaraan. Ia bertanya sambil mengunyah pancake yang dibuat Senata.


"Maunya seperti itu?"


"Kalau boleh,"


"Boleh, apa yang tidak untuk cucu Grandpa?"

__ADS_1


"YEAAYY GRANDPA LIBUR,"


Raihan terkekeh melihat tingkah mereka berdua yang menggemaskan. Raihan pikir tidak ada salahnya menghilangkan kesedihan mereka dengan cara seperti ini. Lagipula Ia sangat jarang meninggalkan pekerjaan. Ini permintaan kedua cucunya jadi tidak ada masalah sama sekali. Mereka sedang menyesuaikan diri tanpa Devan dan Lovi jadi harus ditemani terlebih dahulu.


"Kita hanya diam saja di mansion? ingin pergi kemana?"


"Main!"


"Main?"


Andrean mencibir adiknya yang begitu cepat menjawab. Kalau ditanya seperti itu pasti jawabannya 'main'.


"Dimana?"


"Wahana,"


"Grandpa rasanya tidak sanggup membawa kalian ke sana. Pasti akan sangat Riuh bila sudah melihat wahana. Bisa-bisa Grandpa pingsan," Raihan menyampaikan rasa khawatirnya. Walaupun belum pernah membawa cucunya ke wahana bermain, tapi Raihan tahu betul konsekuensinya. Mereka akan sulit diatur. Kalau Ia masih muda, pasti tidak sulit untuk memenuhinya. Tapi Ia sudah renta, akan kesulitan dalam menghadapi kedua anak yang sangat aktif itu.


"Ayolah, Grandpa. Setelah itu kita ke panti,"


"Iya, aku baru sekali ke sana. Dan sekarang ingin lagi,"


"Ke panti saja ya?" sebenarnya Raihan akan memenuhi permintaan Adrian yang ingin bermain di wahana tapi Ia harus menggoda cucu keduanya dulu.


"Hanya ke panti?"


Raihan mengangguk seraya menahan senyumnya. Adrian sudah menekuk wajah sedemikian rupa dan itu terlihat sangat menggemaskan.


"Ya, sudah, Grandpa. Tidak perlu kalau Grandpa akan kelelahan di sana," putus Andrean dengan dewasa, tidak memaksa kehendak.


Adrian menghela napas pelan sebelum menjawab," Iya, Grandpa. Kita ke panti saja."


"Baiklah, kita ke wahana dan panti. Bagaimana?"

__ADS_1


"Benar?" tanya Adrian memastikan.


Raihan mengangguk dan langsung dipeluk oleh kedua cucunya. "Terima kasih, Grandpa."


*****


Benar dugaannya tadi. Ia dibuat kelelahan dalam menjaga kedua singa kecil itu. Mereka kesana kemari sesuka hati tanpa memikirkan kakeknya yang sudah kepayahan.


"Sudah, yang tadi terakhir."


"Sekali lagi, Grandpa. Masih ada wahana yang belum kita coba,"


Adrian menunjuk wahana yang bukan untuk anak seusianya. Andrean mengangguk setuju begitu adiknya mengeluarkan pendapat bahwa mainan itu sangat menyenangkan.


"Astaga, itu tidak boleh dicoba oleh anak kecil,"


"Boleh, Grandpa." jawabnya keras kepala.


"Coba aku tanya," Andrean mendekati salah seorang petugas yang menjadi penjaga di wahana tersebut. Raihan dan Adrian memperhatikan keberanian anak itu.


Tak lama Andrean kembali lagi. Ia menggeleng lemah pada adiknya. Raihan bersorak senang dalam hati.


"Grandpa sudah katakan kalau itu bukan untuk anak kecil. Ayo, kita ke panti."


Walaupun rasanya sudah sangat lelah tapi Raihan ingin menuntaskan keinginan cucu-cucunya untuk mengunjungi tempat itu. Mereka akan berbagi juga di sana. Raihan sudah menghubungi orang-orang suruhannya untuk menyiapkan segala sesuatu yang sekiranya diperlukan oleh penghuni panti.


Sementara kedua kakaknya bermain, Auristella ditinggal bersama kedua neneknya. Ia memperhatikan Rena yang sedang merawat kukunya seraya mengajak Ia berbicara, dan Senata yang tengah menikmati siaran televisi.


"Kamu diam saja. Tidak ada Kakakmu jadi kesepian ya?"


Auristella tersenyum seolah membenarkan ucapan Senata. Padahal sebenarnya Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan.


"Tidur saja ya? matamu sudah terlihat mengantuk,"

__ADS_1


Tanpa menjawab, Ia menjulurkan tangannya pada Senata. Anak itu sudah menyadari tidak ada Mommy-nya. Sehingga hanya pada nenek dan kakeknya Ia bisa manja. Beruntung Auristella tidak menyulitkan. Ia tidak pernah menangis saat Lovi dan Devan berbicara melalui telepon. Justru Auristella selalu tersenyum hangat seolah memberikan ketenangan pada kedua orangtuanya yang selalu cemas memikirkan ketiga anak mereka yang ditinggal.


------


__ADS_2