
Devan bukan tidak ingat lusa hari apa. Lovi bertanya seperti itu karena lusa merupakan hari jadi pernikahan mereka yang ke enam tahun. Walaupun sempat bercerai, Devan dan Lovi tidak pernah menganggap perpisahan itu ada setelah sepakat untuk kembali bersatu.
Devan sengaja pura-pura melupakan, tetapi Ia sudah mempersiapkan semuanya agar perayaan di hari Minggu itu berkesan, seperti biasa di setiap tahunnya.
Devan sudah memastikan semuanya siap. Perayaan itu akan dilangsungkan di sebuah hotel. Dengan kapasitas orang yang cukup banyak. Selain mengundang rekan kerja dan keluarga besarnya, Devan juga turut serta mengundang anak-anak panti yang selama ini Ia bantu.
Lovi mengejutkan Devan yang baru saja menyelesaikan pembicaraannya dengan seseorang di telepon.
"Kenapa telepon di sini? tidak biasanya,"
Karena Devan memilih rooftop kamar untuk berbincang, itu sedikit aneh di mata Lovi.
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin mencari udara segar,"
"Sudah malam, masuk."
"Nanti, Lov. Aku masih nyaman di sini,"
"Ya, sudah. Aku temani,"
"Aku tidak keberatan," sikap tubuhnya juga terlihat sekali mendukung Lovi agar berada di dekatnya saat ini. Lelaki itu segera meraih pinggang ramping istrinya agar duduk di atas pangkuannya.
"Anak-anak sudah tidur?"
"Sudah, Auris baru saja tidur setelah mengganggu kakak-kakaknya yang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpi," Devan terkekeh lalu mengecup ceruk leher Lovi. Ia berdecak saat Lovi menghindar, tidak ingin Ia mengulangi perbuatan manisnya.
"Aku tidak suka. Geli, Devan."
"Padahal aku tidak melakukan apapun,"
"Kamu menciumku,"
"Apa yang salah?"
"Tapi jangan di sana, geli."
"Ya sudah, di sini saja."
Cup
Cup
Bibir Devan memberi kecupan di tempat yang berbeda yaitu kedua pipi istrinya. "Aku selalu rindu dengan momen-momen seperti ini, Lov. Sekarang semakin sulit berdua dengan kamu. Selalu ada saja yang mengganggu,"
"Semua pasangan yang sudah memiliki anak, aku rasa juga mengalami hal yang sama. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak,"
"Ya, tapi aku tetap bahagia. Kamu selalu punya cara untuk membuat aku tidak kesal kalau tidak jadi--"
"Arghh sakit, Lov."
Lovi bangkit dari pangkuan Devan dan menarik pipi suaminya dengan gemas.
"Tidak jadi apa?!"
"Tidak jadi membuat adik untuk Auris. Setiap tangis Auris mengganggu, aku pasti kesal. Tapi kalau sudah kamu bujuk, pasti hilang kesalnya. Dengan cara paling ampuh kamu buat suasana hati aku baik lagi,"
Beberapa kali Auristella menggagalkan rencana orangtuanya untuk mengarungi dunia mereka berdua. Devan pasti menggerutu kesal tetapi setelah Lovi menenangkan Auristella, Lovi selalu membujuknya agar tidak kesal lagi. Anak kecil kalau mau menangis tidak pandang waktu.
__ADS_1
"Tidak ada adik untuk Auris. Kita sudah sepakat untuk itu,"
"Kalau ternyata yang kita lakukan itu berhasil menghasilkan anak bagaimana?"
"Devan! sudah, jangan bicarakan itu lagi."
Devan terkekeh puas. Melihat rona merah di wajah istrinya, Ia bahagia sekali karena merasa berhasil menggoda Lovi yang tidak pernah suka membahas hal-hal seperti itu.
"Sini, aku masih mau memangku kamu,"
"Jangan bicara itu lagi--"
"Iya, tidak, Lov."
Devan membuat Lovi kembali duduk di pangkuannya. Posisi yang sangat disukai Devan karena terlihat seperti dialah sosok yang akan selalu mengayomi dan melindungi Lovi.
"Devan, kamu tidak lupa akan sesuatu?"
Devan menyembunyikan senyumnya. Lovi mulai membahas lagi hari jadi pernikahan mereka yang pura-pura Ia lupakan.
"Tidak, memang aku melupakan apa?"
"Aku tidak tahu! aku bertanya," cibir Lovi yang sudah benar-benar kesal.
"Setelah enam tahun menikah, kali ini dia melupakan tanggal pernikahan? Astaga, aku jadi berpikir yang macam-macam."
Lovi khawatir suaminya sudah tidak peduli lagi dengan hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan mereka.
*******
"Kenapa tasku ada banyak sampah?!"
"Tapi kamu sedari tadi ada di sini, Adrian!"
Adrina mengeluarkan kepalan-kepalan kertas dan sampah bekas memperuncing pensil dari tasnya.
"Kita makan bersama tadi. Aku selalu bersama kamu. Jadi bukan aku yang melakukannya,"
"Bohong! kamu jahil, Adrian. Aku yakin sekali kalau kamu pelakunya,"
"Apa-apaan?! seenak hati menuduh orang tanpa bukti,"
Adrian dan Andrean memang tengah duduk di depan meja Adrina sementara pemilik meja baru saja dari toilet.
"Adrina, tadi kami baru saja dari perpustakaan sebentar membantu Ms, Acha untuk membawa buku. Jadi kami juga baru beberapa detik yang lalu duduk di sini," Andrean menjelaskan dengan tenang. Ia jarang sekali berbicara panjang lebar. Tetapi Ia harus membela adiknya yang memang tidak bersalah. Ia dan Adrian selalu bersama sejak jam istirahat. Makan bekal di kantin bersama Thalia, Revin, dan Adrina. Lalu mereka diminta oleh gurunya untuk membawa buku ke perpustakaan. Setelahnya, barulah mereka duduk di dekat kursi Adrina.
"Aku menyesal duduk di sini. Jadi dituduh yang tidak-tidak. Kalau tahu begini, lebih baik duduk di kursi sendiri saja," gerutu Adrian yang akan pindah tempat. Tetapi suara Adrina yang kembali melampiaskan kesalnya menghentikan langkah Adrian.
"Tanggung jawab, Adrian! buang ini!"
"Tidak mau! bukan aku yang melakukan itu. Kenapa harus tanggung jawab?!"
"Adrian!"
"Ada apa?" Thalia dan Revin yang melihat sahabat mereka bertengkar langsung mendekat.
"Dia menuduhku tanpa bukti,"
__ADS_1
"Adrina, apa masalahnya?"
"Lihat, banyak sampah di tasku,"
"Tapi bukan aku pelakunya. Aku memang jahil, tapi aku tahu kalau itu sudah keterlaluan. Aku tidak akan melakukannya,"
"Adrina, tinggal dibuang saja sampahnya. Jangan memperbesar masalah,"
"Nanti dia mengulanginya lagi kalau tidak dimarahi,"
"Terserah saja lah kalau kamu tidak percaya,"
"Adrian, buang saja sampahnya. Hitung-hitung membantu teman,"
Mendengar saran kakaknya, Adrian menatap tajam. Anak yang keras kepala dan gengsi itu menggeleng tegas.
"Aku tidak mau! kalau seperti itu caranya, sama saja secara tidak langsung aku mengakui bahwa aku yang melakukannya,"
"Tidak, agar Adrina tidak marah-marah lagi. Dan Tuhan akan senang dengan perbuatanmu, saling membantu itu penting,"
"Kenapa tidak kamu saja yang membuangnya?"
"Adrina kesalnya dengan kamu bukan aku,"
"Errgghh! baik, aku buang sekarang. Tapi ingat ya, bukan aku pelakunya! aku membuang ini karena aku baik hati padamu. Ingat itu!"
Dengan perasaan yang masih kesal, Ia membuang sampah-sampah itu di tempatnya. Adrian harus menyingkirkan gengsinya agar semua tetap baik-baik saja.
Setelah selesai berbuat kebaikan, Adrian kembali mendekati teman-temannya. Ia melirik Adrina dengan sinis.
"Aku perhatikan kamu tidak lagi menjadi teman baikku. Sedikit-sedikit marah, padahal sebelumnya tidak seperti itu,"
"Kamu yang memancing aku kesal,"
"Aku biasa saja. Aku memang seperti itu anaknya. Kamu pasti tahu,"
"Sejak ada Thalia kamu seperti itu pada Adrian. Itu menurutku ya. Maaf kalau ucapanku membuat kamu---"
"Tidak usah mengarang cerita, Revin! aku marah karena memang Adrian sendiri yang membuat aku kesal,"
"Sejak dulu Adrian memang menyebalkan. Kenapa sering marahnya baru akhir-akhir ini? dulu kamu selalu akrab dengan Adrian, jarang bertengkar. Karena kalian sama-sama tidak bisa diam, suka mengganggu orang dan sering membuat kesal. Jujur, aku juga merasa kalau kamu aneh,"
Adrina tidak menjawab Andrean. Suasana hatinya semakin buruk ketika Ia disudutkan. Memang ada yang berubah? Ia rasa tidak. Mereka saja yang terlalu berlebihan dalam menanggapi sikapnya pada Adrian.
Adrian mendekati Adrina yang sudah duduk di kursinya. Ia menyentuh bahu Adrina dengan pelan, takut membuat singa betina kecil itu marah lagi.
Adrian harus menyingkirkan gengsi dan egonya. Mereka sahabat, tidak seharusnya bertengkar seperti ini.
"Aku minta maaf karena sudah melakukan banyak kesalahan padamu. Bisakah kita seperti waktu itu lagi?"
Adrian berusaha mengerti posisi Adrina. Mungkin temannya itu sudah mulai bosan dengan segala tingkahnya. Jadi sebelum pertemanan mereka hancur, ada baiknya Adrian meminta maaf. Sejujurnya Adrian juga merasa kehilangan hangatnya sosok Adrina. Mereka masih dekat, berteman, tetapi seperti ada yang hilang. Sepertinya kemistri mereka yang perlahan terhapus. Adrian mengakui setelah bersahabat dengan Revin dan Thalia, Ia lebih sering bermain bersama mereka daripada Adrina. Apa mungkin itu yang membuat Adrina berubah? Ah Ia terlalu jahatkah sampai melupakan seseorang yang sudah lebih lama bersahabat dengannya?
Adrian memeluk bahu Adrina dari samping. "Adrina, maaf ya?" ujar Adrian lalu tangannya mengacak pelan rambut Adrina yang masih diam.
"Bagus adikku. Kamu berhasil menghilangkan ego," gumam Andrean tersenyum bangga melihat adiknya yang tanpa malu meminta maaf, tidak cukup sekali. Menggambarkan sosok Adrian selama ini yang tidak pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang Ia kehendaki.
"Ya, maafkan aku juga. Walaupun aku merasa tidak melakukan kesalahan,"
__ADS_1
Adrian menahan diri agar tidak mendengus. Ingin sekali berteriak di telinga Adrina 'Kamu banyak buat salah, Hey!'