My Cruel Husband

My Cruel Husband
Maafkan aku, Sayang


__ADS_3

"Lepaskan aku, Sial*n!!"


Berry dan Senata tertawa keras melihat Lovi yang memberontak. Terlihat lucu di mata mereka. Disana Lovi sedang berjuang mempertahankan harga dirinya. Dengan perut menonjol, Ia tak gentar melumpuhkan dua lelaki yang akan menguasai tubuhnya.


"Terlihat semakin seksi,"


Lovi meludahi lelaki yang berbicara menjijikan itu. Hal tersebut dianggap sebagai penghinaan oleh mereka.


Lovi mengarahkan kakinya ke arah perut salah satu Lelaki yang bersiap untuk melecehkannya. Lovi tidak bisa diam ketika kakinya ditarik untuk mendekat. Tenggorokannya sudah sakit karena terlalu sering berteriak dan itu sangat menyakitkan. Lovi harus melawan ditengah kondisinya yang tidak memungkinkan. Perutnya kosong, dan rasa haus pun melandanya.


"Sial*n kau, ******!!"


Lovi menatap tajam Lelaki yang baru saja di tendangnya. Mata Lelaki itu seolah menebar kebencian. Lovi membuatnya naik darah di tengah gairah yang berkobar.


Lovi menerjang wajah mereka yang akan mempermalukannya. Namun kekuatan mereka jauh lebih besar. Tak ada yang ingin kalah dengan perlawanan Lovi.


"Brengs*k!! Aku tidak sudi!" teriak Lovi saat bajunya di robek hingga bagian atas tubuhnya hampir terlihat sempurna.


'Tuhan, tolong aku. Lindungi anakku, aku mohon,' batinnya memohon. Tidak ada yang Lovi harapkan saat ini selain kebesaran Tuhan bersedia membantunya. Devan, Lovi ingin lelaki itu yang ada di sampingnya saat ini. Menghapus air mata dan semua ketakutannya.


Bibir Lovi berdarah. Pakaiannya terkoyak menyedihkan. Sementara Senata dan Berry hanya menjadi penonton kegiatan yang mereka anggap menyenangkan itu.


"Kasihan sekali nasib anakmu," ujar Berry menoleh pada Senata yang fokus melihat kesakitan anaknya.


"Aku butuh uang. Dan dia pantas mendapatkan itu. Dia bisa menikmati hidupnya yang serba kecukupan karena suaminya. Sementara aku? hidup dalam kesulitan,"


"Come here, Baby! "


Lovi bergidik saat mendengarnya. Mual saat Lelaki itu berkata dengan nada seraknya pertanda Ia sudah berada di puncak nafsu.


"Bodoh!! sial*n kau bajing*n!!" maki Lovi ketika alas kakinya di lepas.

__ADS_1


Lovi merasa bahwa kedua lelaki itu memang bodoh. Tidak ada Lelaki yang ingin menyentuh wanita hamil. Entah apa yang di berikan Berry kepada mereka sehingga dengan patuh mendengarkan apapun perkataan Berry. Bahkan ketika wanita kejam itu ingin keduanya membuka kaus pendek yang menjadi satu-satunya pelindung tubuh Lovi saat ini.


"Aku membencimu, Berry!!" geram Lovi dengan tubuh yang sudah mulai lemah namun amarah di matanya belum juga padam. Berry sangat kejam dalam menyakitinya. Padahal dulu, Lovi adalah salah satu dari sumber penghasilannya. Lovi hanya menyentuh tanpa menyerahkan mahkotanya namun banyak lelaki yang dengan suka rela memberikan sebagian dari harta mereka sebagai bayaran untuk Lovi.


Berry tertawa kemudian menggeram,


"Tidak ada yang akan membantumu, ******!! Suamimu kemana? apa dia lupa kalau memiliki Istri menyedihkan seperti kamu? Dia tidak ada di sampingmu bukan?"


Kenyataan itu membuat hatinya tersayat menyakitkan. Lovi dibuat membeku dengan tatapan kosongnya. Ia memikirkan semua kalimat yang keluar dari mulut Berry. Dimana Devan? Apa Lelaki itu benar-benar tidak peduli padanya? Hubungan mereka semakin baik membuat Lovi lupa akan hidup yang harus di jalaninya setelah bayi itu lahir. Lovi sudah merasakan kebahagiaan yang luar biasa selama Devan di sisinya. Devan selalu tahu apapun yang mengganggu pikirannya. Lovi semakin mencintai lelaki itu. Akhir-akhir ini Devan bukan lagi seorang Lelaki yang di kenal Lovi saat awal perjumpaan mereka. Devan merubah semua hal buruk dalam dirinya hanya untuk Lovi.


Berry mengisyaratkan dua lelaki yang sudah menanggalkan bajunya untuk menghentikan penyiksaan sejenak. Wanita itu berjalan mendekati Lovi seraya bersedekap dada.


"Setelah melayani mereka, Kamu akan bebas Lovi," ucapnya penuh penekanan.


Seolah menjanjikan kebahagiaan yang pasti untuk Lovi. Namun Lovi tidak sebodoh itu. Berry tidak mungkin berhenti menggunakannya selama Lovi bisa di andalkan sebagai sumber untuk pundi rupiahnya.


"Pasrahkan saja hidupmu di tangan kami, Sayangku. Aku Ibumu, sudah seharusnya kamu patuh denganku,"


Lovi menjawabnya dengan lantang. Lovi sangat ingin membenci Senata namun ikatan batin menghalangi hadirnya kebencian itu.


BRAK


Semuanya menoleh saat pintu di paksa terbuka. Sesaat kemudian, bunyi peluru yang dilepaskan memenuhi ruang penyekapan Lovi. Dua Lelaki melakukan tugasnya dengan baik.


Lovi memejamkan matanya takut ketika melihat banyaknya pertumpahan darah. Lelaki yang menjadi pelaku dalam pelecehannya sudah terbujur kaku di lantai.


Lovi menutup telinganya tak ingin mendengar bunyi mengerikan itu. Untuk pertama kalinya Lovi menyaksikan kejadian yang mampu membuat kepalanya berputar.


Ketika melihat Ibunya akan menjadi korban selanjutnya, Lovi menjerit tidak mengizinkan para penembak itu membunuh Senata.


"Jangan lakukan itu pada Ibuku. Aku mohon,"

__ADS_1


Dengan bersimbah air mata, Lovi berusaha melindungi Ibunya. Lovi sangat menyayangi Senata. Ia tidak siap kehilangan Senata.


Sementara Senata berdiri dengan wajahnya yang datar. Ia tidak melindungi dirinya sendiri. Senata tahu kalau Lovi akan membelanya.


"Aku mohon...."


"Kamu bodoh, Lovi!!" Suara menggelegar menusuk telinga Lovi. Matanya menatap Devan yang memasuki ruangan dengan tatapan mematikan.


"Dia melukaimu," ucap Devan dengan geram. Namun melihat air mata Istrinya, Devan melakukan apa yang Lovi inginkan. Ia mengisyaratkan Pengawalnya yang ingin membunuh Senata untuk berhenti sejenak.


"Dia Ibuku, Tuan," jawab Lovi.


Devan merendahkan tubuhnya untuk merangkum wajah Lovi yang jauh dari kata baik-baik saja. Bibir dan wajahnya penuh dengan luka membuat Devan sangat mengutuk dirinya sendiri.


'Kamu tidak bisa melindunginya, Bodoh!'


"Dia bukan Ibumu!! Tidak ada Ibu yang tega menyakiti anaknya seperti ini. Lihat dirimu sekarang!!"


Terlalu khawatir menjadikan nada suara Devan sedikit meninggi. Lovi tidak takut karena Ia melihat hal lain di mata Lelaki itu. Lovi bisa merasakan dengan jelas kalau Devan membentaknya karena alasan yang dipahaminya.


Devan bangkit kemudian menatap pengawalnya dengan tajam.


"Kakinya saja kalau begitu. Supaya dia bisa merasakan sakit yang sama seperti Istriku,"


Semuanya menjalankan tugas dengan baik. Suara tembakan kembali menggema di setiap sudut ruangan. Mereka berhasil membuat Senata terjatuh dengan kaki yang mengenaskan.


Devan meraih tubuh Lovi dalam gendongannya. Kemudian membawa Lovi pergi dari tempat sialan itu. Detak jantungnya menggila ketika melihat keadaan Lovi yang sangat lemah dalam rengkuhannya. Ia mempercepat langkahnya untuk memastikan keadaan Lovi dan buah hati mereka.


"Maafkan aku, Sayang,"


***********

__ADS_1


Yuhuuu akyu dtg lg. mayan pnjg ep nya ya ga? jgn lupa voment (vote&comment) tencuuu


__ADS_2