My Cruel Husband

My Cruel Husband
Akibat melawan orangtua


__ADS_3

"Aunty Jane kemana sih? dari dulu sampai sekarang suka sekali pergi-pergi tanpa izin. Ini sudah menjelang malam, kalau di luar sana ada yang jahat padanya bagaimana?"


Setelah Richard pergi, Adrian masih saja merasa cemas dengan Jane. Ia berharap Jane baik-baik saja dan lain kali bisa izin dulu sebelum pergi. Saat belum bersuami dulu, Ia juga sering sekali seperti ini sampai terkadang kakek nya marah. Tapi Jane tidak pernah jera.


"Aunty Jane baik-baik saja. Grandma yakin,"


Rena mengusap kepala Adrian dengan lembut. Anak itu tidak tahu kalau yang sering Jane lakukan ketika belum pulang sampai malam itu adalah, dia berkunjung ke kelab malam, berfoya-foya bersama teman-temannya. Jelas saja Raihan marah. Raihan sudah khawatir sekali, dia malah sibuk di kelab. Jane sama seperti Vanilla dulu. Biar diberi tahu dengan sangat tegas sekalipun tidak berpengaruh apa-apa terhadapnya. Harus ada kemauan dari diri sendiri dulu baru orang lain bisa membantu untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu.


Kelab sudah menjadi tempat tinggal kedua untuknya dan Vanilla. Tapi setelah Vanilla tidak lagi gemar ke sana, awalnya Jane sempat merasa ada yang kurang. Tapi Ia tak bisa melakukan apapun karena Vanilla sudah memilih untuk menyudahi kegiatan yang pernah disukainya itu.


"Aunty Jane benar-benar anak nakal tidak bisa diberi tahu. Huh!"


Adrian menemani Rena menonton televisi. Ia bermain game di ponsel neneknya sementara Rena sedang serius menyaksikan drama Korea kesukaan nya.


Hampir dua jam mereka hanya duduk sampai akhirnya Adrian bosan. Terdengar langkah kaki yang mendekati mereka membuat Adrian menoleh.


"Adrian, kamu disuruh tidur malah turun ke bawah. Daddy tunggu sejak tadi, tidak juga datang. Masuk kamar sekarang!"


Devan turun ke bawah karena anaknya itu kabur ketika disuruh tidur. "Ini 'kan belum malam, Dad."


"Sudah jam delapan,"


"Tapi aku sedang menemani Grandma menonton,"


Devan menggeleng pelan. Ada saja alasan nya karena tidak ingin tidur. Tanpa ditemani Adrian, Rena tetap bisa menonton. Lagipula sepertinya kehadiran Adrian tidak berpengaruh apapun karena Rena serius menonton.


"Cepat tidur, Adrian!" titah Devan dan akan menggendong anaknya itu tapi Adrian berlari menghindar ke arah kolam renang yang tidak jauh dari ruang menonton.


Devan melangkah cepat menyusul anak itu. "Jangan lari-lari, nanti kamu tercebur ke kolam. Ini sudah malam, masuk ke dalam kolam renang bukan pilihan yang baik,"


"Aku belum mau tidur!"


"Ya sudah, jangan berlari di sana. Masuk ke dalam,"


"Tapi jangan suruh aku tidur,"


"Ya,"


"Jangan gendong aku ke kamar juga!"


"Ya, Adrian."


"Awas saja kalau Daddy bohong,"


Adrian berlari ingin masuk ke dalam tapi kakinya terpeleset karena lantai di tepi kolam licin hingga tubuhnya benar-benar masuk ke dalam kolam renang. Mata Devan membulat. Secepat kilat Ia mendekati tepi kolam.


"Tadi Daddy bilang apa? jangan berlari di sini 'kan?"


Adrian tidak menjawab. Ia berenang mendekati tepi kolam. Saat Devan akan masuk ke dalam kolam, Adrian melarang. Katanya "Adrian bisa naik sendiri,"


Saat sudah berhasil naik dibantu oleh Devan, Ia menggigil kedinginan. Devan segera menggendong anak itu.

__ADS_1


"Adrian membuat aku cemas," geram Devan dalam hati. Kalau sudah kejadian seperti ini, Devan rasanya gemas sekali karena sebelumnya Adrian tidak mendengar ucapannya. Dilarang berlari, tetap saja dia berlari. Kalau sudah kedinginan seperti ini, dirinya yang dibuat khawatir. Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Adrian bisa renang. Tapi Devan memikirkan kondisi tubuh anaknya setelah ini, pasti Ia akan merasa kedinginan.


"Aduh dingin," ujar Adrian dengan suara bergetar nya. Rena menoleh saat mereka lewat di belakangnya dan berjalan menuju tangga.


"Astaga kenapa Adrian basah begitu badannya?"


"Tercebur di kolam renang,"


"Astaga, Adrian. Cepat-cepat bawa dia, Devan! kamu kalau jalan yang cepat!"


Devan berdecak dalam hati. Malah dia yang kena sembur amarah Rena. Jalan nya masih dianggap kurang cepat. Padahal kurang cepat apalagi dia sampai-sampai rasanya ingin jatuh karena berjalan cepat ditengah rasa panik.


Setelah sampai di dalam kamar, rupanya Lovi belum tidur karena menunggu anak dan suaminya yang tidak juga masuk ke dalam kamar.


"Adrian kenapa basah begitu badannya?"


"Jatuh ke kolam renang,"


Devan cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi membawa Adrian. Ia segera membasuh tubuh anaknya dengan air hangat. Lalu membalut Adrian dengan bathrobe.


Ia tidak ingin Adrian berlama-lama terkena air. Anak itu masih menggigil biarpun sudah menyentuh air hangat.


Devan gesit sekali mengurus anaknya. Lovi hanya memperhatikan tatkala Devan membawa anaknya keluar dari kamar mandi dan mendudukkan Adrian di ranjang.


Lovi segera memeluk anaknya sementara Devan mengganti baju. Karena baju tidur yang dia pakai ikut basah setelah menggendong Adrian.


"Kenapa bisa jatuh sih? kamu bermain di sana? atau bagaimana?"


"Aku disuruh tidur oleh Daddy tapi aku tidak mau. Aku berlari ke arah kolam renang, jadi terjatuh,"


"Itulah akibatnya kalau tidak mendengar apa kata orangtua. Kamu sudah sering diberi teguran begitu oleh Tuhan, tapi tidak pernah jera."


"Daddy hanya ingin kamu istirahat, tapi kenapa malah menghindar? akhirnya terjatuh 'kan?"


Devan sudah selesai berganti baju. Ia berdiri di dekat ranjang seraya bertolak pinggang. Lelaki itu menghembuskan napas kasar.


"Aku panik, Ya Tuhan."


Tawa Lovi pecah. Ia tertawa kencang sesaat saja karena baru sadar kalau Auristella sudah tertidur.


"Aku sudah memberi tahu dia agar tidak lari di sekitar kolam. Dia masih melakukannya, Lov. Anakmu memang sulit diberi tahu hal yang baik. Keras kepala sekali dia,"


"Aku membayangkan menjadi kamu tadi. Satu sisi kamu pasti ingin tertawa, tapi di lain sisi kamu khawatir."


"Tidak, aku tidak memikirkan tawa lagi, Lov. Aku benar-benar cemas. Ini sudah malam, dia tercebur ke kolam. Aku yakin sekali dia akan kedinginan. Ternyata benar dia menggigil begitu keluar dari kolam,"


"Mommy kenapa malah tertawa sih? jahat sekali. Daddy saja tidak tertawa," Adrian memarahi Lovi yang masih tertawa seraya menutup mulutnya dengan tangan agar tidak mengganggu Auristella.


"Habisnya lucu,"


"Tidak lucu! anaknya jatuh malah dibilang lucu. Mommy jahat!"

__ADS_1


Adrian segera berjalan keluar dari kamar orangtuanya, memutuskan untuk tidur di kamarnya sendiri. Kakaknya juga sudah berada di kamar sepertinya. Karena dia tidak ada di atas ranjang bersama Auristella dan Lovi.


Devan menggunakan dagunya untuk menunjuk punggung Adrian yang sudah menjauh tanpa menutup pintu kamar Devan dan Lovi.


"Anakmu merajuk, Lov."


"Anak kamu juga,"


"Keras kepala seperti kamu,"


"Memang kamu tidak keras kepala?"


Devan segera berbaring di atas Lovi tapi Ia menopang tubuh atletisnya sendiri dengan tangannya.


Devan berbisik di telinga Lovi seraya menekan bagian bawah tubuhnya hingga membuat Lovi tersentak. Ia mendorong Devan agar menyingkir.


"Kamu tahu 'kan yang keras dari aku itu apa?"


cup


Devan mengecup bibir Lovi, Ia menuntut Lovi untuk membuka mulutnya agar Ia bisa mengeksplor mulut Lovi dalam-dalam. Lovi dibuat melenguh oleh laki-laki itu.


Lovi masih berusaha menyingkirkan Devan dari atas tubuhnya. Pintu kamar mereka belum tertutup. Sepertinya Devan lupa.


"Dev--arghh," ucapan Lovi terhenti karena tiba-tiba saja Devan turun mengecup lehernya.


"Devan, pintu belum--"


"Oh s**t aku lupa," geram Devan seraya menyandarkan kepalanya di ceruk leher Lovi.


Plakk


Lovi memukul lengan suaminya. "Cepat tutup! tunggu apa lagi?" Lovi kesal karena Devan mengatakan lupa tapi bukannya cepat-cepat ditutup, dia malah memeluk Lovi mesra seperti itu. Bahaya sekali kalau ada yang melihat.


"Kamu tidak sabaran sekali sih. Okay, aku tutup sekarang. Kamu siap-siap ya,"


Devan bangkit untuk menutup pintu. Lovi sempat menendang tulang kering suaminya, tidak kencang tapi cukup menyakitkan. Ia kira tidak kena sasaran, tapi ternyata tidak sesuai dugaannya. Devan meringis dan Ia menatap Lovi dengan tajam.


Devan berjalan ke arah pintu. Setelah menutup dan mengunci nya, Ia kembali lagi mendekati Lovi.


"Kamu sudah membuat aku meringis kesakitan tadi. Sekarang aku yang akan membuat kamu mendes--- arrghh!"


"Lov, sakit."


Lengan Devan dicubit oleh Lovi saat Devan akan menindih Lovi lagi. "Jaga bicaramu ya. Jangan macam-macam! ada Auris di sini,"


"Biasanya juga seperti itu sampai akhirnya anak ke empat hadir. Kamu lupa atau bagaimana?"


Rona merah di pipi Lovi hadir dan itu membuat gejolak dalam diri Devan semakin besar. Lovi terlihat begitu menggemaskan sekaligus menggoda di mata Devan.


"Errgh Devan!" Lovi mengerang kesal. Ia paling tidak bisa mendengar Devan membicarakan hal-hal seperti itu. Dari telinga sampai pipi nya terasa panas.

__ADS_1


----


Maap di cut😂 ampun bang jago aku ga jago bikin scene begindang wkwk. Dah lama ya Dep ga ho-a-ho-e sama Lop-lop 🤣


__ADS_2