My Cruel Husband

My Cruel Husband
Acara tukar cincin


__ADS_3

Anonim : Lovi, ini nomorku, Arnold.


Lovi melihat ada pemberitahuan pesan masuk. Tapi tidak langsung dibukanya. Mata Lovi beralih melirik Devan yang tengah bercanda dengan Auristella.


Tangan Lovi bergerak untuk membuka pesan tersebut. Ia membulatkan mata saat tahu bahwa pengirim pesan tersebut adalah Arnold. Laki-laki yang harus Ia jauhkan, seperti apa yang diminta oleh Devan.


"Mmm,"


Auristella menunjuk Lovi tapi Lovi tidak sadar. Devan menatap istrinya yang tengah fokus dengan ponsel. Auristella memanggil, Lovi sampai tidak sadar.


"My Lov, kamu sedang sibuk apa dengan ponsel itu? Auris memanggilmu,"


Lovi tersentak dan cepat-cepat meletakkan ponselnya di nakas. "Oh iya, kenapa?"


Gugupnya Lovi membuat Devan memicingkan mata. Keningnya berkerut curiga. Tidak biasanya Lovi seperti ini. Terlihat sekali sedang menutupi sesuatu.


"Kamu sedang apa? kenapa kaget begitu ketika aku berbicara?"


"Tidak, kenapa Auris memanggilku?"


"Hanya memanggil, tapi kamu sibuk sendiri."


"Maaf, aku sedang melihat review klien atas hasil karyaku,"


"Oh..." Devan mengangguk berusaha percaya. Tidak mungkin juga Lovi berbohong. Lovi tidak pernah tertangkap melakukan kebohongan.


Arnold semakin berani menunjukkan jati dirinya di hadapan Lovi. Bahkan Ia menggunakan nomor pribadi nya untuk mengirim pesan untuk Lovi, bukan nomor telepon yang gelap.


*****


"OH MY GOD BESOK AKU TUNANGAN,"


"KADO JANGAN LUPA YAA!"


Jane dan semua sepupunya melakukan video call bersama. Ada Vanilla dan Devan juga yang bergabung.


Begitu tersambung, Jane langsung berseru seperti itu hingga mengundang dengusan sebal dari Zio yang sampai saat ini masih single.


"Biasa saja! tidak usah berlebihan begitu,"


"Aduh kasihan yang single. Iri saja melihat kebahagiaan orang,"


"Hih? untuk apa iri? aku yakin sebentar lagi jodohku datang,"


"Ya--iya, semoga. Aku doakan tidak putus lagi ya!"


"Jadi bagaimana persiapanmu, Jane?"


"Sudah siap sembilan puluh sembilan koma sembilan persen. Tinggal pelaksanaan nya saja. Kalian sudah siap juga belum?"


"Siap apa?" tanya Vanilla yang tampak sedang berbaring di head board tempat tidurnya bersama Jhico.


"Siap kado dan dress code."


"Sudah, aku beri kado untuk kamu camilan-camilan yang kupunya saja ya? kamu suka mengemil sama dengan aku. Iya 'kan?"


"Lebih baik tidak usah, Van. Memalukan sekali istrimu itu, Jhico."


Jhico terkekeh mendengar ucapan Jane. Ia menepuk lembut kepala Vanilla yang tentu saja hanya berkelakar pada sepupunya itu.


"Kalau Richard sudah siap belum?"


"Harus sudah siap lah. Aku saja siap, masa dia tidak."


"Ingat pesanku ya, Jane." kata Jhon pada sepupunya yang sebentar lagi akan menikah itu.


"Ingat apa?"


"Jangan bar-bar lagi setelah punya suami. Ya semoga suamimu sabar seperti Jhico dalam menghadapi istrinya yang---"


"Hey hey! maksudmu apa bicara begitu?"


"Ck! ibu hamil sensitif sekali," Jhon menggeleng pelan saat ucapannya disela oleh Vanilla yang kini menampilkan raut angkuh nya.


"Tidak ada yang terlupakan lagi kan, Jane?" tanya Vanilla seraya menahan tawa. Ia kembali teringat dengan kejadian dua hari lalu dimana Jane lupa menyiapkan busana yang akan Ia kenakan di hari tunangannya bersama Richard.


"Tidak ada, aku yakin."


"Persiapkan diri untuk malam pertama, Jane."


Devira yang juga belum memiliki pasangan menggoda Jane hingga Jane memaki. "Gila! baru tunangan, Sinting!"


"Pasti sudah tidak sabar itu," kata Akra


"Iya, di hatinya pasti sudah menantikan momen itu," sahut Nindya istri dari Akra.


"Devan, diam saja kau. Bicara!"


"Aku pusing mendengar kalian bicara. Tidak mengerti juga apa yang kalian bicarakan,"


"Yaaa ampun sinting!" Zio memaki sepupu yang kerap menjadi musuhnya itu.


"Dimana Auris?" tanya Sandra anak dari Akra dan Nindya.


"Sudah tidur. Ini lihat,"


Devan mengarahkan kamera nya pada Auristella yang berbaring di samping dirinya.


"Adrian dan Andrean?"


"Hallo! aduh ada yang mencari ku juga akhirnya,"


Adrian memunculkan kepalanya di kamera seraya melambai. Ia memberi kiss jauh juga untuk Sandra dan yang lainnya.


"Sedang apa kamu?"


"Main game,"


"Pantas diam,"


Adrian sudah sibuk lagi dengan kegiatannya. Ia tidak mendengar lagi ucapan sepupunya itu.


"Besok jangan ada yang terlambat ya! buat yang masih single, jangan lupa pasang alarm,"

__ADS_1


"Iya, aku sudah pasang alarm! dan jangan bawa-bawa status bisa tidak?!" sentak Devira yang membuat Jane terkekeh geli.


"Jane, kamu sebentar lagi menikah. Hati-hati kalau ingin mengejek orang,"


"Aduh ada yang terbawa perasaan sepertinya,"


"Oh Sayangku. Jangan merajuk begitu," Vanilla meledek Zio yang terlihat membela Devira karena mereka sesama single.


"Tidak usah sayangku-sayangku! kamu sudah punya kesayangan,"


"HAHAHAHA. Kau kenapa sih, Zio?"


"Kado juga jangan lupa ya!"


"Kau seperti Adrian saja. Kado terus yang dipikirkan," Devan berdecak malas mendengar 'kado' terus.


Adrian yang namanya disebut langsung menoleh. "Adrian tidak begitu, Dad."


"Kata siapa? kamu sama seperti Aunty Jane. Yang ada di pikiran hanya kado, kado, dan kado,"


"Hitung-hitung kado itu pengganti modal nikahku,"


"Memang kamu ikut memodalkan pernikahan?


"Iyalah! kau pikir hanya Richard? Gila saja kalau aku benar seperti itu. Aku juga masih punya harga diri, Jhon!"


Jane menggeram pada Jhon yang bicara semaunya. Itu pernikahan mereka, tidak mungkin Ia membiarkan Richard sendiri yang membiayai semuanya.


"Ya sudah, supaya besok kita bisa bangun pagi, lebih baik sekarang kita tidur."


"Aku sih percaya diri bisa bangun pagi. Karena ada wanita ini," ujar Devan seraya memperlihatkan Lovi yang entah sejak kapan sudah bergabung bersama Auristella dan Ia hampir memejamkan mata tapi karena Devan menyentuh lengannya, Ia kembali membuka mata.


"Yang sudah berkeluarga pasti percaya diri. Lalu bagaimana dengan yang belum?"


"Aissh! aku sudah setting alarm. Aku sudah mengatakannya tadi. Tenang saja,"


Zio sampai menunjukkan ponsel nya yang sudah disetting alarm nya. "Sudah 'kan? biarpun aku single, tetap ada yang bangunkan nanti."


"Okay, sekian perbincangan kita malam ini. Semoga besok kita semua sehat dan bisa hadir di acaraku ya,"


"Semoga. Bye!" sahut yang lainnya setelah Jane berujar seperti itu.


"Ayo-ayo tidur. Besok mau ada party. Dilarang main game lagi. Tidak bisa ada kesempatan sedikit, kamu langsung ambil iPad ya, Adrian? memang sudah Daddy beri izin?"


"Hehehehe,"


Ia segera meletakkan iPad nya di nakas lalu mengangkat kedua tangannya. "Aku tidur sekarang," ujar anak itu seraya membaringkan tubuhnya.


"Andrean lagi-lagi tidur sendiri,"


"Kenapa? kamu merindukannya ya?"


"Tidak lah,"


"Giliran pisah mencari, saat berdekatan malah adu mulut terus,"


"Adu mulut karena dia cerewet,"


"Hey sadar diri. Yang cerewet itu kamu. Andrean---"


Devan menggeleng pelan. Ia segera menutup mulut Adrian agar tidak lagi bicara. Auristella dan Lovi sudah terlelap begitu nyaman. Auristella memeluk Mommy nya begitupun Lovi yang memberikan kehangatan untuk Auristella melalui dekapan penuh kasih sayang.


Seperti biasa. Boy dengan boy dan girl bersama girl. Devan memeluk putra keduanya seraya menepuk pelan punggung nya agar cepat tertidur.


*****


Jane, Rena dan Raihan, serta kedua orangtuanya sudah lebih dulu menuju tempat dilaksanakannya acara tukar cincin.


Jane mempersiapkan dirinya di tempat acara. "Kamu jadi pendiam begini. Gugup ya?"


"Ya, rasanya masih seperti mimpi," jawab Jane seraya tersenyum tipis pada Rena. Saat ini Jane tengah di make up dan hampir selesai.


Orangtua Jane memasuki ruangan. Sejak tadi mereka bertemu tapi belum ada komunikasi. Karena Jane kaku, begitupun mereka. Jane lebih banyak bicara dengan paman dan bibi nya yaitu Rena dan Raihan.


"Nanti tidak ada lagi putri kecil ayah,"


"Aku sudah tidak kecil, Yah."


"Tapi kamu selalu menjadi putri kecil, ayah, Jane."


Jane tersenyum pahit. Putri kecil, tapi jarang sekali diperhatikan. "Terima kasih untuk semuanya dan doakan agar aku bisa memiliki pernikahan yang kekal seperti kalian,"


Jane bangkit setelah make up nya selesai. Ia memeluk Ayah dan Mama nya. Biar sikap mereka kurang peduli terhadap Jane, tetap saja mereka adalah malaikat yang diturunkan Tuhan untuk menghadirkan Jane di dunia ini.


Jane tetap menyayangi mereka walaupun terkadang dibuat kesal karena mereka sibuk sendiri, sementara Ia merasa lebih disayang oleh Rena dan Raihan.


"Kamu belum benar-benar diserahkan, tapi Ayah sudah menangis terus sejak semalam,"


Jane melepas pelukan dan menghapus air mata ayahnya. Rena yang melihat kehangatan mereka dibuat terenyuh. Keakraban yang jarang sekali terjadi. Dan beruntungnya di saat-saat Jane akan melepas masa kesendirian, masih ada momen hangat yang bisa menjadi salah satu bagian dari memory manis di otak Jane mengenai orangtua nya.


"Jangan menangis. Ayah bahagia 'kan?"


"Bahagia, tapi sekeras apapun hati Ayah, tetap saja akan menangis kalau anak perempuannya akan dimiliki oleh orang lain,"


"Aku tetap jadi milik keluarga, milik kalian."


"Meskipun Ayah tidak pernah menunjukkan betapa sayangnya Ayah terhadapmu, tapi percayalah, Ayah selalu berharap semua yang terbaik untukmu,"


"Mama juga, Jane. Maafkan Mama yang belum bisa menjadi Ibu yang sempurna. Semakin menjauhimu saat kamu terpuruk, dan tidak peduli. Tapi namamu tetap menjadi bagian dari doa Mama selama ini,"


Jane pernah mengalami masalah kejiwaan dan kedua orangtuanya memang semakin menjauh terutama Mamanya. Ia seperti malu memiliki anak yang terganggu kejiwaannya.


*****


Joana, Ganadian, Aurora, dan rekan-rekan kerja Jane juga turut diundang. Bahkan bukan hanya Aurora, banyak juga model-model lain yang diundang. Karena pekerjaannya yang menjadi manager Vanilla membuat dirinya banyak memiliki relasi dengan para model.


Mereka semua berbaur menjadi satu. Bahkan Vanilla yang biasanya sangat sensitif terhadap Aurora, teman sesama model dan juga teman di masa lalu suaminya, saat ini nampak santai berbincang dengan Aurora.


Mungkin karena hari ini adalah hari yang bahagia jadi suasana hati mereka pun bahagia.


Tukar cincin sudah selesai. Foto bersama juga sudah selesai. Saatnya mereka menikmati santapan seraya berbincang hangat.


Jane yang tampil begitu anggun tidak henti menggendong keponakan cantiknya yang paling kecil, bernama Auristella. Anak itu juga tampil sangat menawan. Di kepalanya ada mahkota kecil. Selain Jane, Auristella juga menjadi pusat perhatian. Meskipun wajahnya sedari tadi jarang tersenyum mungkin karena merasa kurang nyaman di keramaian, tapi tetap saja orang merasa gemas dengan anak bungsu dari pasangan Devan dan Lovi itu.

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu, Joana. Sudah lihat 'kan acara Jane tadi? sudah semakin yakin?"


"Ishh, Vanilla jangan bicara begitu."


Vanilla terkekeh kecil melihat Joana yang selalu saja enggan membahas pernikahan.


"Kamu serius mau menikah, Joana?" tanya Ganadian. Vanilla menatap teman lelakinya itu dengan pandangan meledek.


"Penasaran sekali. Kamu belum dapat undangannya?"


"Memang sudah--"


"Belum!" Joana menatap Vanilla dengan tajam. Undangan apa yang mau disebar. Dia saja lagi berusaha keras untuk membatalkan. Sampai setiap malam Ia sulit tidur karena memikirkan nasibnya.


"Joana mau menikah dengan siapa?"


"Teman masa kecilnya,"


Vanilla seperti juru bicara Joana. Orang bertanya pada Joana, tapi dia yang sibuk menjawab.


Richard dengan teman-temannya. Sementara Jane juga sibuk dengan semua temannya. Mereka bagi tugas dalam menemani tamu.


"Aunty, Mommy mencari Auris sejak tadi. Ternyata dibawa ke sini,"


"Mommy sudah tahu kalau Auris bersama Aunty,"


"Iya, tapi jangan jauh-jauh! Aunty tidak boleh menculik adikku,"


"Siapa yang mau menculik? dasar, aneh!"


Ganadian gemas sekali dengan anak itu. Tanpa sungkan, Ia menepuk lembut kepala Adrian. "Bro, kenalan dulu." katanya pada Adrian seraya mengulurkan tangan kanan.


Adrian menerima uluran tangan itu. Lalu mereka berjabat tangan dengan gaya cool. "Adrian, Bro."


"Gayamu Adrian,"


Jhico tak bisa menahan tawanya saat Adrian sok akrab begitu dengan Ganadian. Seperti seumuran saja mereka.


"Ganadian,"


"Oh, temannya Aunty Jane?"


"Menurutmu?"


"Teman, karena diundang."


"Aunty, serahkan Auris pada Mommy,"


"Biar saja, Adrian. Dia tidak menangis," Vanilla melarang nya. Selagi dia tenang-tenang saja kenapa harus menyerahkannya pada Lovi? biar saja Lovi menikmati waktu tanpa adanya Auristella. Ia perhatikan sejak tadi, istri dari kakaknya itu selalu berusaha membuat mood Auristella membaik. Auristella jadi rewel dan cemberut terus sejak acara dimulai dan tamu mulai berdatangan. Padahal sebelum dimulai, Ia sangat antusias sekali. Apalagi saat dibawa ke depan cermin oleh Lovi, Ia terlihat sangat senang dengan penampilannya.


"Tapi Mommy mencarinya!"


"Huh baiklah, dimana Mommy mu?"


"Entah hilang kemana. Aunty cari sendiri saja,"


Jane bangkit dan tempatnya langsung diambil alih oleh Adrian. Anak itu sengaja menyuruh Jane pergi secara halus agar Ia bisa duduk bersama teman-teman Jane.


"Auris dimana, Lov?"


"Bersama dengan Jane tadi. Aku baru mencarinya ternyata mereka sedang berkumpul dengan rekan Jane. Auris terlihat nyaman, jadi aku biarkan saja dia bersama Jane dulu,"


Devan mengangguk. Lagi-lagi Ia merasa penasaran dengan Lovi yang fokus dengan ponsel nya. saat Ia mencuri pandang ke ponsel Lovi, istrinya itu nampak menghindar.


Lovi tidak ingin Devan membaca pesan peringatan yang Ia kirimkan kepada Arnold yang masih saja keras kepala menghubunginya terus-terusan.


Arnold : Memang kenapa aku tidak boleh mengobrol denganmu? kita sudah lama tidak bertemu. Apa ini karena suamimu?"


Lovi : Kamu terlalu sering menghubungiku. Aku sudah bersuami dan aku tidak ingin membuat suamiku salah paham. Aku harap kamu bisa mengerti ucapanku.


"Kamu berkirim pesan dengan siapa?" tanya Devan seraya menatap Lovi dengan mata memicing. Ia semakin curiga dengan Lovi yang sejak kemarin selalu menciptakan gelagat sepeti ini jika Ia mendapatinya tengah sibuk dengan ponsel.


"Jujur!" Devan menekan satu kata itu. Walaupun Ia tahu Lovi tidak pernah bohong, tapi entah kenapa untuk saat ini Ia merasa bahwa Lovi tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Aku jujur ya, Arnold menghubungiku lagi. Padahal aku sudah katakan, jangan terlalu dekat lagi denganku. Kita masih bisa mengobrol tapi---"


"Aku tidak mengizinkan kamu untuk mengobrol sedikitpun dengan dia, Lov."


"Tapi tidak mungkin aku memutuskan komunikasi begitu saja. Aku rasa tidak masalah kalau sekali-sekali, tidak sering."


"Tidak boleh sama sekali!" Devan berdesis tajam di telinga Lovi. Aura kejam nya mulai terlihat bak predator yang siap menerkam mangsa nya.


"Kamu bisa blokir nomornya dengan tanganmu sendiri 'kan? atau aku saja yang melakukannya? Kemarikan ponselmu!"


Lovi segera menyembunyikan benda tipis itu di belakang punggungnya. Ia merasa Devan sudah berlebihan. Ia tidak enak hati bila tiba-tiba memutus komunikasi, apalagi Arnold pernah dekat dengannya.


"Lov, aku bisa melakukan apapun agar kamu mau mendengarkan ucapanku,"


"Devan..." Lovi menggeleng seraya merengek. "Beri aku alasan kenapa kamu seperti ini pada Arnold?"


Devan diam tapi matanya menatap Lovi dengan tajam menusuk hingga Lovi terbungkam. Melihat tatapan Devan saat ini, Lovi jadi teringat masa lalunya. Devan sering menatapnya seperti itu lalu setelahnya Ia akan dibentak dan dilukai.


Lovi menghela napas seraya menggeleng pelan, Ia berusaha menghilangkan ingatan itu. Rasa takutnya masih sama seperti dulu, dimana Devan masih berwujud seperti iblis, bukan malaikat yang begitu menyayangi keluarga layaknya saat ini.


"Kamu tidak bisa beri aku alasan?"


Devan diam menghela bahunya tak acuh. "Okay, kamu menantangku,"


"Kamu mau melakukan apa? menyakiti Arnold ya?"


Senyum miring terbit di bibir Devan. Satu alisnya menukik tajam.


"Sekarang? tidak dulu. Entah nanti,"


"Devan kamu tidak boleh menjadi orang jahat lagi!"


"Dari dulu sampai sekarang aku tidak berubah, Lov. Aku hanya baik pada keluarga, kalau kamu mau tahu itu."


"Tidak! kamu baik pada semua orang, tidak seperti dulu." bantah Lovi.


"Aturannya tetap sama. Siapapun yang baik dan tidak cari masalah, maka aku akan memperlakukan mereka dengan baik. Begitupun sebaliknya,"


"Tapi Arnold tidak jahat!"

__ADS_1


"Iya, dia baik. Baik sekali, tapi kamu yakin tidak?" pertanyaan Devan membuat Lovi yang kali ini terdiam membeku. Bagaimana caranya meyakinkan diri sendiri dan juga Devan?


"Makanya aku perlu komunikasi dengan dia dan berteman lagi agar aku bisa menilai dia masih baik seperti dulu atau tidak. Tapi aku rasa, tidak ada yang berubah dari dia,"


__ADS_2