
Auristella masih menertawakan neneknya itu. Mau tak mau Rena pun ikut tertawa. Auristella sepertinya puas sekali menjahili sang nenek.
"Mandi sudah selesai, setelah itu kamu sarapan ya,"
Auristella tidak mau menyelesaikan mandinya. Bahkan saat tubuhnya yang penuh busa dibilas, Ia marah.
Tapi Rena memberi pengertian, "Jangan lama-lama mandinya. Nanti bisa sakit. Mommy juga sudah menunggu di bawah," setelah bicara begitu, Auristella mau digendong keluar dari kamar mandi.
Rena mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu dibaringkannya anak itu di tempat khusus untuknya memakai baju.
Seraya dipakaikan baju oleh Rena, Auristella memainkan sisir miliknya. Ia memegang sisir dan diarahkan ke atas kepala. Hal itu membuat Rena menggeleng dengan senyum gelinya.
"Kamu tahu cara pakainya? Coba sisir rambutmu sendiri,"
Saat posisi sisirnya terbalik, Rena membenarkan dan anak itu mengangguk seolah Ia paham.
"Sisir yang benar, sampai rambutmu tertata rapi," Rena sengaja mengajaknya bicara sejak tadi. Karena biasanya Auristella mudah sekali merasa bosan. Apalagi kalau sedang dipakaikan baju. Pasti tidak akan lama bertahan dalam posisinya. Ia akan pindah dengan cara berguling-guling.
Setelah selesai dipakaikan kaus kaki karena musim dingin belum usai, Rena mengalihkan tatapannya pada Auristella yang ternyata sudah selesai menyisir dan sekarang malah memasukan bandana ke dalam mulut.
"Tidak boleh sembarangan memasukkan barang ke dalam mulut. Itu kebiasaan yang buruk, Auris."
Rena segera menyempurnakan penampilan cucunya dengan bandana berwarna biru pastel yang senada dengan bajunya pagi ini.
Entah kapan Ia selesai menyisir tahu-tahu sudah sibuk dengan yang lain. Cucunya sudah tampil cantik dan harum, Ia segera membawa anak itu ke lantai bawah untuk mengajaknya sarapan dan bermain.
"Sekarang kita lihat Daddy dan Mommy sedang apa," bisik Rena di telinga Auristella. Mereka menuju taman, tempat kesukaan Lovi namun sudah sangat jarang dikunjungi dan diurusnya semenjak memiliki tiga anak. Dulu saat masih hamil, bahkan di awal pernikahannya bersama Devan, Lovi sering menghabiskan banyak waktu di sana untuk merenung, memikirkan masa depan pernikahannya yang Ia pikir tidak akan bahagia. Tetapi Tuhan berkata lain. Ia sangat bahagia sekarang.
Lovi tengah tertawa bersama Devan. Entah apa yang mereka bicarakan. Auristella menunjuk Mommy dan Daddy nya mungkin ingin bergabung, tapi Rena segera membawanya masuk ke ruang makan.
"Makan dulu, nanti boleh bermain dengan Mommy dan Daddy. Okay?"
Seperti biasa, makanan Auristella sudah disiapkan oleh Lovi. Terletak di atas meja makan, terpisah sendiri dan dalam kondisi tertutup sama seperti yang lainnya.
"Ayo, makan. Grandma suapi ya,"
Ia segera membuka mulut saat satu sendok rice cereal dan sayur-sayuran yang telah dihaluskan tiba di depan mulutnya.
"Enak?"
Auristella sibuk mengunyah. Sepertinya dia sudah lapar oleh sebab itu menerima saja saat Rena membawanya ke ruang makan. Biasanya kalau sudah melihat Lovi, Ia akan makan bersama Mommy-nya itu. Tapi kali ini sepertinya Ia memberikan kesempatan untuk Devan menikmati waktu pagi berdua bersama Lovi.
"Percaya tidak kalau yang masak ini Grandma?"
Auristella cepat menggeleng dan melihat itu tawa Rena meledak. "Tidak percaya? Atau kamu hanya asal menjawab?"
Auristella menggeleng kembali dan sedetik kemudian mengangguk. Sepertinya Ia mengerjai neneknya lagi.
"Ah Grandma bingung yang mana jawabanmu,"
"Wah Auris sudah bangun ternyata,"
Senata menyapa cucunya. Ia baru saja melakukan yoga di tepi kolam renang sejak tadi.
"Siapa yang memandikan kamu? Grandma Rena ya?"
"Menangis sebelum mandi?" Tanya Senata pada Rena. Rena langsung menggeleng. "Pagi ini dia tidak buat drama. Tadi sempat tidak mau selesai mandi, tapi akhirnya mau juga setelah dibujuk,"
Senata mengusap kepalanya seraya memuji, "Pintar." Tapi Auristella segera menghindar, tak ingin kepalanya dipegang seraya melirik sinis ke arah Senata.
"Tadi Ia sudah menyisir rambutnya sendiri, Grandma. Makanya jangan disentuh," Rena memberikan pengertian pada Senata yang bingung dengan sikap cucunya. Galak sekali dia melirik Senata tadi.
"Tanda-tanda kalau sudah besar nanti rambut adalah hal yang utama baginya,"
"Ya, itu benar. Kecilnya saja sudah begini, apalagi besarnya ya,"
Senata ikut duduk di dekat Auristella dan Rena. Ia memperhatikan Auristella yang makan dengan lahap.
"Sepertinya dia suka dengan ini,"
"Iya, dan karena sudah lapar juga jadi semangat makannya,"
"Lovi masih bersama Devan ya?"
Senata bangkit untuk melihat putri dan menantunya. "Masih, sedang tertawa bersama tadi. Auris melihatnya tapi saat Ia mau ke sana, Aku larang. Biarkan saja Mommy dan Daddy nya merajut kasih ala-ala sepasang kekasih,"
Senata pergi ke sana sebentar hanya untuk memperhatikan dari jauh. Benar, mereka sibuk berbincang berdua. Akhirnya Senata kembali lagi ke meja makan.
"Mommy lupa punya anak sepertinya, Auris."
Ia meledek cucunya yang pagi ini kalah dari Devan dalam merebut perhatian Lovi.
"Tidak apa ya, Sayang. Sekali-sekali mengalah pada Daddy," sahut Rena yang membuat Auristella menoleh padanya. Ia hanya menatap dalam diam. Lalu tak lama merengek.
"Sudah kenyang?"
Rengekannya semakin kencang dan Rena bingung begitupun Senata. "Sepertinya dia tidak mau diledek seperti itu," kata Senata yang bisa melihat raut kesal Auristella.
"Oh, ya sudah. Maaf-maaf, Grandma tidak bicara lagi kalau begitu,"
**
Hari ini Jino sengaja pulang siang untuk mengajak istrinya menjenguk Devan.
"Kita jenguk di mansion?"
"Iya, Sayang. Kalau dia ada di rumahnya, kita tinggal jalan lima langkah juga sampai. Kita 'kan sudah menjadi tetangga. Tapi saat ini keluarga kecil Devan sedang berada di mansion orangtua Devan,"
"Aku kira Devan di rumah sakit,"
"Sepertinya tidak. Makanya kita datang dulu ke mansion, kalau memang ternyata dia dirawat di rumah sakit, kita langsung ke sana nanti,"
mereka masuk ke dalam mobil untuk menjemput Adrina lalu mereka segera pergi ke mansion.
**
"Devan, memang benar kamu takut memeluk aku?"
Devan menatap istrinya dengan aneh. Ia baru saja menceritakan mantan-mantan kekasihnya dulu atas permintaan Lovi, dan sekarang tiba-tiba saja Lovi mengajukan pertanyaan yang tidak ada korelasi nya sama sekali dengan pembahasan tadi.
"Maksudmu bagaimana, Lov? Aku memeluk mantan kekasihku sampai pagi saja berani, masa memeluk istriku sendiri takut? Kamu bicara apa sih?"
Lovi tampak santai saat Devan membahas kenangan-kenangan manis bersama semua mantan kekasihnya. Hal itulah yang membuat Devan tak segan sama sekali menyelipkan candaan yang berkaitan dengan mereka semua.
"Karena aku kurus. Kamu takut memeluk aku?"
"Huh?" Seperti orang bodoh, Devan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia semakin tidak mengerti.
Lovi masih kepikiran dengan ucapan Rena kemarin. Kalau memang benar Devan takut memeluk dia yang kurus, maka ia akan segera melakukan program menggemukkan badan.
"Takut meremukkan tubuhku,"
"Aku takut memeluk kamu yang kurus karena tidak mau badanmu remuk. Begitu maksudmu?"
Lovi bertanya sepenggal-penggal. Bagaimana dia bisa mengerti dengan cepat?
"Iya, benar."
Devan sontak saja tertawa. Adakah pembahasan yang lebih penting dari itu? Kenapa Lovi jadi berpikir ke sana? Padahal Devan tidak merasakan takut sama sekali. Tidakkah Lovi merasakan kalau Devan sudah memeluk, maka Ia akan melakukannya dengan sangat erat.
"Kamu kenapa berpikir seperti itu?"
"Karena kata Mama, Aku terlalu kurus,"
__ADS_1
"Memang iya,"
"Jadi kamu tidak mau memeluk aku lagi?"
"Kata siapa?"
"Habisnya kamu---"
Devan segera meraih kepala Lovi untuk Ia peluk erat-erat. Gigi Devan bergemelutuk karena gemas dengan istrinya itu.
"Apa? Aku belum menjawab apapun,"
"Jadi, tidak takut? Aku tidak harus menambah berat badan 'kan?"
"Aku tidak takut. Tapi kalau masalah menambah berat badan, aku sangat setuju. Kamu memang terlalu kurus, Lov,"
"Aku takut terlalu gemuk, nanti kamu lirik yang lain,"
Devan meraup bibir istrinya dengan jari. "Memang bisa? Kalau bisa, sudah aku lakukan dari dulu. Lebih baik aku cari perempuan yang pintar menghabiskan uang suaminya, jangan terlalu hemat seperti kamu,"
Kali ini Lovi merasa hatinya panas. Tidak seperti saat membahas mantan kekasih Devan.
Saat Lovi akan pergi dari sisinya, Devan segera menarik tangan Lovi hingga Lovi jatuh di atas pangkuannya.
"Makanya boros, Sayang. Makanlah yang banyak, rajin perawatan, belanja ini dan itu, supaya aku juga senang. Kamu kalau kurus begini membuat orang beranggapan kalau aku tidak bisa buat kamu bahagia,"
"Dimana-mana laki-laki mencari istri yang tidak banyak pengeluaran. Kamu malah sebaliknya. Aneh!"
"Jujur, Aku memang tidak suka melihat kamu kurus. Kamu kurus karena apa? Pasti karena kurang makan, kurang istirahat, dan kurang bisa membahagiakan diri sendiri. Aku bukannya tidak menerima kamu yang seperti ini, tapi aku juga tidak tega melihat tubuhmu yang semakin hari semakin habis, Lov. Tidak ada lemak sama sekali,"
"ADA!" Bantah Lovi dengan garangnya. Ia melotot tajam tidak terima ketika dikatakan tidak ada lemak.
"Dimana? Di sini?"
Saat Devan menyentuh bagian belakang tubuhnya, Lovi segera bangkit lalu mencubit kencang hidung suaminya.
"Tangan dan mata sama-sama liar. Barusan pegang apa kamu?!"
"Pegang sesuatu yang seharusnya besar seperti perempuan kebanyakan, tapi kalau milikmu entah kenapa kecil sekali,"
"DEVAN!" Lovi berteriak marah. Ia memukul Devan membabi buta. Sementara Devan tak bisa menahan tawanya. Perutnya sampai nyeri karena terlalu kencang tertawa.
"Hanya itu yang bisa aku sabotase, Lov. Kalau yang di atas masih punya Auris,"
***
Adrian dan Andrean diajak oleh pulang bersama oleh Jino dan Sheva. Tapi keduanya menolak, karena mereka akan pulang bersama bodyguard.
"Takut Uncle culik?" Tanya Jino dengan senyum gelinya. Mereka sontak menggeleng dengan perasaan tidak enak. "Bukan begitu, Uncle. Kalau kami pulang bersama Uncle, mereka semua kasihan tidak ada teman pulang," jawab Adrian menunjuk bodyguard nya.
"Baiklah, ayo kita ke mansion kalian sekarang."
"Kita benar-benar mau datang ke mansion mereka, Dad?" Tanya Adrina sebelum memasuki mobilnya. Jino mengangguk, "Iya. Masa Daddy bohong?"
"Yeaay main-main ke rumah orang,"
Sheva menatap anaknya yang tampak senang sekali mau berkunjung ke tempat tinggal Andrean dan adiknya.
"Bukan mau main. Kita datang untuk menjenguk Uncle Devan,"
"Tapi 'kan bisa main sebentar,"
"Tidak boleh, kalau orang lagi sakit itu kita harus prihatin bukan malah senang-senang,"
******
Auristella dibawa masuk ke dalam kamar setelah makan siang bersama Lovi karena waktunya dia istirahat. Sedari tadi Ia sudah puas bermain dan mengganggu Lovi yang tengah bekerja menyelesaikan gaun milik klien nya.
Lovi segera mengusap punggung anaknya agar Ia cepat terlelap dan bukan malah mengganggu Devan.
Saat pintu kamar terbuka, Auristella dan Lovi sontak menoleh. Senata memunculkan kepalanya dari sela pintu yang terbuka sedikit.
"Lovi..."
"Kenapa, Ma?"
"Ada Jino dan istrinya di bawah. Mereka mau menjenguk Devan,"
Lovi terkejut karena tidak tahu mereka bisa mengetahui kabar Devan dari mana. Devan sakit tidak pernah membuat pengumuman.
"Auris, mau ikut Mommy tidak?"
Auristella tidak menjawab dan malah menaiki perut Devan yang tidur terlentang. Akhirnya Lovi membawa serta anak itu untuk menghampiri tamu yang datang. Daripada Ia mengganggu Devan tidur dan tidak ada yang menjaganya di atas ranjang, lebih baik Ia bertemu dengan sahabat Daddy-nya.
"Wow si cantik sudah semakin besar ya,"
Sheva berseru senang saat melihat Auristella. Ia segera mengulurkan tangannya ingin menggendong dan Auristella tidak menolak.
"Cepat sekali besarnya. Semakin cantik lagi,"
Sementara Sheva menyapa Auristella, Lovi juga melakukan hal yang sama pada Adrina yang sedang memainkan vas bunga di atas meja.
"Andrean mau kemana?" tanya Adrina saat melihat kakak sulung Adrian naik ke lantai atas.
"Ganti baju di kamar,"
"Adrina bagaimana sekolahnya?"
"Lancar, Aunty Lovi. Nilai tes kemarin juga baik semua,"
"Hebat! sudah cantik, pintar lagi,"
Lovi memangku Adrina seraya memainkan kumpulan rambut Adrina yang diikat menjadi satu.
"Devan sedang istirahat, Lovi?"
"Iya, Jino. Aku bangunkan dulu ya,"
"Jangan-jangan. Kami datang untuk tahu kondisinya saja,"
"Sudah semakin membaik,"
"Sakit apa dia?"
"Keracunan di kantornya kemarin,"
"Karena makan di luar ya? memang begitu kebiasaannya sejak dulu,"
"Kebetulan kemarin aku bawakan bekal,"
"Lalu kenapa bisa keracunan?"
"Dia minum kopi yang dibuatkan pegawainya,"
"Oh aku mengerti,"
Lovi terlihat tidak bisa berbicara banyak. Karena suaminya juga belum melihat langsung bukti yang mendukung.
"Mulai ada tikus pengganggu lagi di keluarga kalian?"
Lovi terkekeh dengan tenggorokan yang terasa kelat. "Aku rasa Iya, tapi Devan mengatakan sebaliknya. Dia tenang-tenang saja jadi aku anggap memang tidak ada,"
Lovi, Sheva, dan Jino banyak berbincang sementara Auristella yang berada di pangkuan Lovi mulai sibuk bermain dengan Adrina. Gadis kecil yang sering bertengkar dengan Adrian itu mengajak Auristella bercanda juga hingga Auristella terkekeh geli.
__ADS_1
Adrian yang merasa tak diacuhkan akhirnya naik ke lantai atas untuk mengganti seragam dan juga membangunkan Daddy-nya. Padahal tadi dia dengar sendiri ucapan Jino agar Devan tidak perlu dibangunkan, dan biarkan dia istirahat.
Andrean membuka pintu yang menghubungkan balkon dengan kamarnya untuk mendapatkan angin segar sebentar, dan Ia terkejut saat menemukan boneka yang tergeletak di balkon dengan kondisi yang berdarah-darah persis seperti kejadian beberapa waktu lalu dimana robot Adrian dipatah-patahi dan diberikan darah.
Andrean melemparnya ke sembarang arah. Rahang anak itu mengeras dengan tatapan tajamnya. Ia mengerti kalau saat ini, Ia dan keluarganya dalam bahaya.
"Tidak tertarik sama sekali dengan cara yang murahan seperti ini," desisnya lalu mendekati pagar balkon. Di bawah sana penjaga bertugas dengan baik. Lalu bagaimana bisa orang jahat itu bertindak lagi? dia kembali datang ke kamarnya dan Adrian hanya untuk meletakkan boneka itu.
Ia segera berjalan ke kamar Devan. Daddy-nya itu sudah bangun karena Adrian. Andrean duduk di dekat Devan dan menatap wajah Devan dengan sorot dingin seperti biasa.
"Dad, ada boneka berdarah di balkon kamarku,"
"Huh?" nyawa Devan belum terkumpul seluruhnya. Sehingga apa yang dibicarakan Andrean belum bisa Ia dengarkan dengan fokus.
Adrian menyahuti, "Seperti robot berdarah kemarin?"
Andrean mengangguk singkat. Devan sudah mengatakan padanya dan Adrian bila ada apa-apa, segera melapor pada Devan.
Mata Devan sudah terbuka sempurna. Ia juga sudah sadar sepenuhnya. Devan segera membalas tatapan Andrean.
Tanpa banyak bicara, Devan segera beranjak ke kamar kedua anaknya dengan langkah pasti dan tegas. Andrean dan Adrian segera turun. Adrian tidak mau melihat hal itu karena sekujur tubuhnya akan merinding.
Devan tidak menemukan apapun di dalam kamar sang anak. Lalu Ia berjalan ke balkon. Dia melihat boneka itu sudah berada di ujung dekat pagar balkon.
Gigi Devan bergemelutuk. Ia menggeram marah. Kenapa anaknya lagi yang menjadi incaran. Ia baru saja keracunan dan Devan yakin Arnold menjadi penyebabnya. Sekarang Ia kembali beraksi meneror anak-anaknya.
Ia turun untuk menemui Jino dan istrinya, baru setelah itu Ia akan mengusut semuanya. Penjagaan ternyata masih kurang ketat, buktinya ada orang yang bisa masuk ke balkon kamar Adrean dan Adrian.
"Aduh kenapa boss besar sakit?"
Devan terkekeh setelah mendengar sapaan dari sahabatnya. Mereka saling memeluk bahu sebentar setelah itu Devan duduk di samping Lovi.
"Kenapa bangun?"
Dagu Devan terarah pada Adrian yang sudah sibuk bermain dengan Adrina. Seperti biasa, siapapun yang datang pasti Adrian akan mengeluarkan seluruh mainan yang ia punya.
"Oh dibangunkan anak lelaki bungsu," ujar Jino.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Devan pada Jino.
"Ya begitulah. Kau sendiri? sepertinya sedang ada tikus pengganggu dalam hidupmu ya?"
"Ah tidak. Gangguan-gangguan kecil Itu sudah biasa," ujarnya seraya tertawa kecil. Devan tidak ingin membahas itu di depan istrinya. Nanti Ia akan penasaran dan lanjut bertanya setelah Jino dan Sheva pulang.
"Adrina, tadi Daddy katakan jangan bermain. Sekarang kenapa malah berman? Ini yang sakit sudah datang, tidak mau memberi semangat untuk sembuh?"
Jino memanggil putri semata wayangnya. Adrina segera melepas robot kecil yang ada di tangannya lalu segera berlari menghampiri Devan.
"Semoga cepat sembuh ya, Uncle. Semangat! Uncle pasti bisa melawan cacing itu,"
"Cacing? Daddy ku tidak cacingan, Adrina!"
"Cacing itu diibaratkan penyakitnya, hey! pahami kalimatku dengan baik. Tolong ya!"
Perdebatan kembali dimulai. Tadi sangat akrab, bermain bersama tanpa adanya adu mulut.
Kedua orangtua mereka tertawa melihat mereka saling melempar tatapan tajam. Adrian tidak terima ada kata 'cacing' di kalimat Adrina untuk Daddy-nya. Dan Adrina yang keras kepala mempertahankan pendapat bahwa kata 'cacing' itu bukan berarti Devan terkena penyakit cacingan seperti yang dikatakan Adrian tadi.
"Jangan sering bertengkar. Nanti jodoh,"
Sheva mendorong lengan suaminya dengan siku seraya menatap tajam. Mulut Jino ada-ada saja kalau bicara.
"Apa itu jodoh? seperti Mommy dan Daddy?"
Devan tersenyum geli mendegar pertanyaan Adrina yang polos. Wajahnya benar-benar menggemaskan ketika bertanya penasaran seperti itu.
"Tidak boleh memikirkan jodoh. Belajar dulu yang benar," ujar Sheva mengalihkan.
"Sudah, Mom. Nilaiku bagus-bagus. Nilai Adrian menurun. Rasakan! makanya rajin belajar jangan main terus,"
"Berisik kamu mulut kembang api. Bukan aku saja yang nilainya turun, Andrean juga."
Merasa namanya disebut, Andrean yang sedang menemani Auristella bermain pun menoleh pada adiknya.
"Jangan begitu, seharusnya termotivasi mendengar nilainya Adrina yang tidak turun dan malah meningkat," ucap Lovi.
Adrian mengangguk dan terseyum manis menatap Adrina. Ia menunduk sebentar seraya berkata, "Terima kasih motivator, atas motivasi nya,"
****
Dengan Auristella dalam gendongan, Devan menghampiri tempat berkumpulnya para pengawal di mansion. Usai Jino dan keluarga kecilnya pulang, Ia segera mengusut perkara tadi.
"Kalian tidak tahu kalau ada yang berani memasuki mansion lagi?"
"Kami baru mengetahuinya setelah dia berhasil kabur, Tuan. Maafkan kami,"
"Bekerja yang benar! dia kembali meneror anakku dengan cara yang murahan,"
Auristella terkejut saat Devan membentak semua lelaki berbadan besar yang ada di hadapannya. Auristella menatap Devan dengan serius.
"Baik, Tuan."
"Di posko jangan sampai kosong!"
Auristella memeluk leher Devan yang uratnya terlihat, pertanda Ia benar-benar emosi sekarang. Rahang Daddy-nya juga Ia usap karena benar-benar kaku.
"Memang tidak pernah kosong, Tuan. Dan kami juga selalu berkeliling di sekitar mansion ini. Oleh sebab itu kami juga bingung kenapa dia bisa masuk,"
"Aku tidak mau tahu bagaimanapun caranya, semua keluargaku di sini harus aman,"
Devan kembali masuk ke dalam. Dan Auristella masih menatap ke belakang dimana semua penjaga mansion masih menatap kepergiannya dengan sang ayah. Beberapa dari mereka ada yang melambai ke arahnya bahkan ada yang memasang ekspresi yang lucu hingga Ia terkekeh geli.
Devan yang mendegar anaknya tiba-tiba tertawa segera mengalihkan matanya pada anak itu. Dan pandangannya mengarah pada sekumpulan penjaga di belakang mereka. Devan terseyum tipis menyadari itu. Ternyata Auristella tengah bercanda dengan penjaga dari jauh. Di balik garangnya mereka, rupanya semua penjaga yang sudah dianggap Devan seperti keluarga itu bisa juga membuat anaknya bahagia dengan tingkah mereka yang lucu. Ada yang melompat-lompat seolah ingin mengejar Auristella, ada juga yang menutup wajahnya lalu mengejutkan anaknya itu. Bahkan sekalipun baru dibentak, mereka terlihat tidak kesal sama sekali.
****
"Aku tidak berhasil masuk ke dalam. Hanya bisa mencapai balkon kamarnya,"
"Lalu apa yang kau lakukan?"
"Hanya membuat anaknya takut. Tidak melakukan hal lain,"
"Aku sudah katakan, jangan melakukan hal apapun dulu. Devan semakin gencar mencariku dan ingin merusak semua aset yang aku punya. Kemarin salah satu kafe milikku dirampok oleh sekumpulan orang. Dan anehnya tidak ada satupun pelaku yang berhasil ditangkap. Aku yakin mereka semua adalah bagian dari Devan,"
"Jadi artinya Tuan takut?"
Arnold berdecak geram. "Bukan takut, Bodoh! biarkan dia lengah dulu. Kalau aku terus-terusan mengganggunya bisa jadi bukan hanya kafe yang dia rampas,"
"Perusahaan Tuan mungkin,"
"Oleh sebab itu kita jangan terlalu sering beraksi. Sesekali biarkan dia bebas,"
Memang itu semua atas ide licik Devan. Ia tak mau mati-matian mencari Arnold. Cukup menghancurkan satu persatu apa yang dia punya. Devan yakin ada saatnya Arnold menunjukkan dirinya tanpa diminta dan bukan tidak mungkin juga Arnold menyerahkan nyawanya.
Hasil yang mereka rampas dari kafe milik Arnold tidak Devan pedulikan. Ia menyerahkan semuanya pada mereka yang bertugas. Entah ingin diapakan semua uang-uang itu, Devan tidak mau tahu. Sesuai perjanjian di awal, Devan hanya membayar mereka untuk membalas apa yang sudah Arnold lakukan pada keluarganya. Mengenai strategi saat beraksi dan hasil yang di dapat dari itu semua, Devan serahkan semuanya pada orang-orang suruhannya yang pintar itu.
Dan setelah ini, dapat dipastikan Devan kembali melakukan sesuatu terhadapnya. Karena Alvaro baru saja menyusup kembali ke dalam mansion untuk meneror anaknya.
--------
NILLAKU UP. SELAMAT MEMBACA. MAMPIR KE LAPAK VANILLA YAAA. TERIMA KASIH
__ADS_1