My Cruel Husband

My Cruel Husband
2


__ADS_3

TAHAN TAHAN TAHAN... BACA YG BENER YAKπŸ˜‚πŸ˜‚ JGN SAMPE ADA YG KELEWAT!!!!


VOTE, COMMENT, POIN &FOLLOW JGN LUPAAA!!!


**************


- FLASHBACK ON -


Lovi menjalani kehamilannya kali ini jauh lebih santai. Mualnya pun tidak separah ketika mengandung Andrean dan juga adiknya.


Rasa manjanya dengan Devan juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan dulu. Ia sangat jarang meminta perhatian lebih dari suaminya. Mungkin karena saat ini Lovi lebih sering menjalani kesehariannya seorang diri karena Devan disibukkan dengan pembangunan cabang perusahaan di tengah menurunnya grafik pemasukan perusahaan pusat secara mendadak.


Devan selalu pulang malam seperti halnya saat ini. Ia memasuki rumah ketika Lovi sudah tertidur di sofa karena menanti kepulangannya. Devan menyadari kalau belakangan ini komunikasi antara dirinya dengan Lovi semakin berkurang. Namun masalah hati, Lovi tetap menjadi pemiliknya.


Devan yakin kalau Istrinya bisa mengerti kondisinya saat ini. Lovi adalah wanita yang bisa menilai sendiri betapa Devan mencintai perempuan itu walaupun perhatian yang dicurahkan tidak sebanyak dulu.


Lovi lebih aktif dalam memastikan kondisi suaminya. Ia akan menghubungi Devan lebih dulu untuk mengetahui apakah bekal yang dibawa Devan sudah habis dimakan atau belum. Lovi tidak ingin suaminya jatuh sakit. Lovi masih membutuhkan lelaki itu. Calon anak mereka pun menginginkan Daddynya tetap sehat.


"Lov, kamu tidak perlu menungguku sampai tertidur seperti ini," bisiknya seraya menyentuh lengan Lovi.


Lovi melenguh dalam tidurnya dan malah membelakangi suaminya. Devan tersenyum, sepertinya Lovi begitu dilanda rasa kantuk.


Devan memutuskan untuk membawa Istrinya dalam gandongan. Ia berjalan dengan hati-hati mengingat bukan hanya satu orang yang sedang berada dalam genggaman tangannya.


Setelah meletakkan Lovi dengan lembut di atas ranjang, Devan keluar dari kamarnya dan memasuki kamar putra-putranya untuk memberi kecupan hangat. Ia hanya mampu melakukan itu ketika mereka tertidur. Karena setiap Devan pergi untuk bekerja, mereka belum terbangun. Dan ketika Devan pulang dari kantornya, mereka sudah masuk ke alam mimpinya.


Devan melepas jeratan tangan Andrean di lehernya. Terkadang memang seperti itu. Di dalam tidur pun mereka begitu dekat dengan Devan.


"Selamat tidur, sayang. maafkan Daddy, ya."


**********


Ketika keluar dari kamar anaknya, Devan kebetulan bertemu dengan Netta.


"Tuan, ingin makan malam? Nona Lovi tadi sudah masak untuk Tuan,"


Devan menggeleng dan Ia teringat akan sesuatu yang hari ini lupa Ia tanyakan pada Lovi.


"Istriku sudah makan, bukan? apa dia merasa kesulitan hari ini?"


Netta tersenyum. Ia yakin kalau setiap manusia yang dianggap buruk, memang tidak selamanya begitu. Ia perhatikan belakangan ini hubungan Tuan dan Nonanya sedikit dingin. Tapi ternyata Devan masih peduli.


"Tadi ingin makan bersama Tuan katanya.Tapi setelah saya paksa, akhirnya Nona mau makan lebih dulu. Saya hanya khawatir dengan Nona dan bayinya, Tuan. Tidak ada maksud lain ketika memaksa Nona seperti itu,"


"Paksa saja kalau memang untuk kebaikannya,"


**********


"Kamu bicara dengan siapa di luar?"


"Yang jelas bukan dengan Elea,"


Lovi mengerinyit ketika nama itu keluar dari mulut suaminya. Devan terlihat begitu santai ketika membawa nama Elea dalam interaksi mereka. Tidak tahukah Devan kalau kadar sensitif Lovi di kehamilan ketiganya ini meningkat tajam?


Devan tidak pernah lagi membahas orang di masa lalunya. Lalu sekarang dia melakukannya secara tiba-tiba. Apakah Devan merindukan sosok itu?


Lovi melihat suaminya tersenyum hingga matanya menyipit.


"Aku boleh mengatakan sesuatu padamu?"


Devan tertarik untuk mendengar kalimat selanjutnya dari sang Istri. Oleh sebab itu Ia mendekati Lovi yang masih bertahan dalam posisi berbaringnya.


"Aku tidak suka..."


"Sebentar, Sayang!" Devan menatap ponselnya yang menyala. Di sana Ia melihat panggilan Raihan.


"Papa menghubungiku. Kamu bisa berbicara nanti,"


Sebelum keluar dari kamar, Lelaki itu mengusap wajah Istrinya yang langsung terlihat murung. Lovi ingin jujur pada suaminya kalau Ia tidak menyukai nama Elea disebut oleh Devan. Katakanlah dia berlebihan, namun batinnya sebagai Istri tentunya menolak perempuan asing singgah di pikiran suaminya.

__ADS_1


"Ada apa?"


Devan menjawab panggilan Raihan dengan cepat. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan pintu kamarnya sudah tertutup kembali.


"Kamu bisa melalukan rencanamu sekarang. Glen baru saja keluar dari rumah sakit,"


Devan mengerinyit dalam lalu menipiskan bibir atasnya.


"Urusan pekerjaanku masih banyak, Pa. Bagaimana caranya aku bisa leluasa membunuh dia? Papa ada saran?"


"Ada, bunuh saja putri semata wayangnya. Maka Ia pun akan mati begitu mendengar kabar menyedihkan itu,"


Devan bisa mendengar tawa Raihan di seberang sana. Ia tersenyum tipis, ternyata jiwa pembunuh masih terselip dalam diri Raihan walaupun lelaki tua itu sudah meninggalkannya cukup lama.


"Kenapa diam? keberatan dengan saran Papa? takut kehilangan dia? kalau memang ya, maka kamu benar-benar bodoh!"


Lovi merasa kalau Devan terlalu lama berada dalam sambungan telepon. Akhirnya Ia menyusul ke luar. Perempuan itu membuka pintu kamar sangat pelan agar tidak mengganggu Devan yang terdengar sangat serius ketika berbicara.


"Elea bukan apa-apa bagiku. Tapi aku rasa, masih ada cara lain untuk menghabisi pria tua bajing*n itu,"


Lovi mengerinyit ketika lagi-lagi bibir Devan menyebut nama mantan kekasihnya. Lalu pria bajing*n yang dimaksudnya siapa? Ada apa sebenarnya?


"Seharusnya kamu membunuh keduanya. Karena bukan hanya Glen yang bersalah dalam hal ini. Glen mencelakai Lovi karena membela anaknya yang salah,"


Lovi masih berdiri di belakang Devan. Ia sangat penasaran dengan hal yang sedang dibicarakan Raihan dan Devan. Kenapa punggung Devan terlihat menegang seperti ini?


"Tapi, Pa...."


"Sudahlah Devan! kamu tidak perlu berdebat dengan Papa hanya untuk membela gadis itu. Kamu akan menyakiti Lovi bila salah dalam mengambil tindakan. Ingatlah Lovi saat koma, ingat juga anak-anakmu yang harus kehilangan kasih sayang dari Ibu mereka sementara waktu. Setelah kamu mengingat semuanya, maka ambillah keputusan terbaik. Kalau kamu tanya manakah yang terbaik, maka menurut Papa yang terbaik adalah, dua orang sial*n itu harus sama-sama diberi pelajaran,"


"Devan..."


Devan langsung panik begitu mendengar suara lembut yang sangat dikenalinya berada tepat di belakang tubuhnya.


Devan langsung menoleh setelah memutus sambungan telepon secara sepihak. Rahangnya mengeras, matanya menatap Lovi dengan dingin.


"Apa yang kamu lakukan di sini? seharusnya kamu tidak perlu keluar dari kamar, Lovi!"


"Apa yang kamu tahu dari pembicaraanku tadi?"


Lovi langsung menggeleng cepat. Ia tidak mengetahui apapun. Seharusnya Devan tidak menginterogasinya seperti ini. Memangnya apa yang salah kalau dia tahu? bukankah mereka harus saling terbuka dalam segala hal?


"Tidak, aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan,"


Diam-diam Devan menghela napas lega. Kali ini Ia beruntung. Setidaknya Ia masih ada waktu untuk memikirkan ucapan Raihan sebelum Lovi mengetahui sosok dibalik kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.


Devan lupa kalau rumah tangga sepasang insan manusia banyak yang mengalami keretakan karena kurangnya sikap transparan dalam menjalani kehidupan bersama.


"Tidur, sekarang!" titah Devan setelah Ia berhasil menguasai dirinya sendiri. Semoga saja Lovi tidak menyadari rasa panik dan gugupnya.


"Temani aku, ya? kamu usap perutku supaya tidak mual,"


Tumben sekali Lovi manja dengan suaminya yang tampak begitu kelelahan.


Alis lelaki itu menukik lalu tanpa mengatakan apapun Ia memasuki kamarnya. Lovi dengan setia mengikuti sang suami. Ia mengerucut ketika melihat Devan yang akan mandi. Bukankah Ia ingin dimanja? sudah lama rasanya Lovi tidak merengek seperti itu pada Devan.


"Devan! kamu tidak mau menuruti keinginanku?"


Devan menghela napas pelan lalu menoleh pada Istrinya yang tengah merajuk.


"Aku mandi dulu, kamu sendiri yang mengatakan tidak suka dengan aroma tubuhku ketika belum mandi," lelaki itu menggerutu saat ingatannya terlempar pada kejadian tempo hari dimana Lovi memintanya untuk tidur di tempat yang berbeda karena Lovi tidak suka dengan aroma tubuhnya yang saat itu memang belum mandi usai bekerja seharian di kantor.


"Aku juga bingung. Biasanya aku sangat menyukai aroma tubuhmu yang belum mandi. Menurutku lebih manis, tapi kenapa sekarang malah merasa jijik ya?" Lovi bergumam seraya mengusap tengkuknya bingung.


Devan berdecak dan memutar bola matanya kesal.


"Sekarang kamu mengatakan jijik. Sebelumnya, kamu tidak pernah bisa jauh dariku walaupun aku belum membersihkan tubuhku setelah berolahraga,"


Devan tidak suka ketika Lovi menilainya bau secara tidak langsung.

__ADS_1


"Maaf, ini bukan keinginanku," cicit Livi dengan pelan. Kepala perempuan itu menunduk karena perasaan bersalah. Ia juga sangat ingin memeluk tubuh tegap itu ketika baru saja pulang bekerja, namun bayi dalam perutnya seolah menolak untuk itu.


"Kamu mualnya pun bukan pagi hari. Aneh, sayang."


Lovi menyetujui ucapan suaminya. Kehamilannya kali ini memang aneh. Tidak mual di pagi hari. Dalam sehari Ia hanya mual ketika Devan belum mandi sepulang bekerja.


"Pagi aku jarang mual. Padahal saat pagi kamu juga bau, ya?"


kalimat polos istrinya itu membuat Devan menggeram. Lovi belum selesai juga dengan penghinaannya. Tadi dia mengatakan Devan bau secara tersirat. Sekarang, dengan raut tanpa dosa, dia mengatakan secara jelas kalau suaminya beraroma kurang sedap.


"Sayang, jangan merendahkanku lagi di depan anakku. Kalau aku bau, maka kamu tidak boleh memelukku!"


diancam begitu tentu saja Lovi panik. Ia tidak akan bisa tidur tanpa dekapan sang suami.


"Kamu wangi, Suamiku!"


Devan mengul*m senyumnya melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan.


"Tapi untuk saat ini, wangimu hilang." lanjutnya yang membuat Devan murung seketika. Tadi dia sudah senang ketika Lovi memujinya bahkan menyematkan panggilan 'suamiku'. Ah Lovi bisa manis dan menyebalkan dalam waktu yang bersamaan.


Devan yang bodoh mengendus aroma tubuhnya sendiri. Hanya untuk memastikan apakah Istrinya itu berbicara kenyataan?


"Aku wangi, dan selamanya begitu!" bantahnya setelah memastikan sendiri aroma tubuhnya. Lelaki tampan sepertinya tidak akan pernah bau ataupun terlihat jelek. Ia selalu tampil sempurna.


"Mandi! tidak perlu memuji diri sendiri,"


Lovi mendorong bahu suaminya agar segera masuk ke dalam kamar mandi. Mereka akan terus berdebat kalau tidak ada yang mengakhiri lebih dulu.


Devan memang sangat harum. Oleh karena itu perdebatan mereka hanya sesuatu yang sia-sia. Apa yang dikatakan Devan memang benar adanya, Lovi tidak akan nyaman dalam pelukan Devan kalau lelaki itu memiliki aroma tubuh yang kurang sedap.


"Sayang! mau membersihkan rambut di wajahku tidak?"


suara teriakan Devan dari dalam membuat Lovi menggeleng pelan. Lelaki itu benar-benar tidak tahu waktu. Sekarang sudah tengah malam, tapi dengan percaya dirinya dia berteriak seolah rumah itu tidak ada penghuninya lagi selain mereka. Apakah Devan melupakan anak-anaknya dan juga pelayan yang mungkin saja terganggu dengan suaranya?


Lovi membuka pintu lalu memasukkan sedikit kepalanya ke dalam kamar mandi untuk menegur suaminya itu.


"Tidak ada hal yang lebih penting selain membersihkan rambut wajahmu?" tanya perempuan itu dengan sinis.


Devan pura-pura berpikir. Matanya bergerak ke atas.


"Ada, ini sangat penting melebihi apapun,"


"Apa?"


"Puasi aku setelah mandi nanti, Hingga besok pagi!"


"APA?!"


Devan langsung menarik tangan Lovi hingga perempuan itu ikut masuk ke dalam ruangan yang dingin dan lembab itu.


Jemari Devan menempel di bibir Istrinya.


"Jangan berteriak seperti itu, Lovi. Bahkan aku belum memulainya. Apakah kamu tidak bisa bersabar sedikit? kalau begitu, kamu saja yang membersihkan tubuhku agar lebih cepat. Atau kamu mau melakukannya di kamar mandi? sepertinya menyenangkan, Sayang."


Devan menggoda Lovi dengan menaikkan sebelah alisnya. Ia mendekati wajah Lovi hingga dahi mereka saling bersentuhan. Tubuh Devan yang basah menjadikan Lovi sedikit meremang. Seperti tersengat aliran listrik, tiba-tiba saja Lovi juga mendambakan kedekatan yang lebih intim dengan suaminya.


"Dia akan baik-baik saja kalau aku menjenguknya sampai pagi?"


***************


**Uwuww panjang kali Ep iniπŸ˜‚ gumoh gumoh dah lu semua. Sapa suruh mnta lanjut meleee.


Readers: Kan situ yg nyuruh komen. Ya suka" w lah mo komen apaan. Komen lanjut kek, berenti kek, pokonya suka-suka w.


Daku: Yasyudalah Aku kasi tuh malah kepanjangan kannπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


INI MASIH PART FLASHBACK YAAAA. Di part depan kn Lovi ga hamil ya? kok skrg hamil si?


Penasaran?

__ADS_1


BACA AJA TEROSSSS SAMPE KELAAAARR**


__ADS_2