My Cruel Husband

My Cruel Husband
Teman Jane saat mengerjakan tugas


__ADS_3

Pancake mulai dimasak. Vanilla senang sekali saat adonan jadi, artinya sebentar lagi Ia sudah bisa menikmati pancake.


"Harusnya kamu larang Jhico. Agar dia tidak makan itu,"


"Dia mau, Ma."


"Errrghhh!" Rena jadi gemas sendiri mendengar ucapan polos Vanilla. Tentu saja Jhico mau karena sudah takdirnya punya istri tidak bisa masak. Lagipula kalau tidak dimakan, nanti Vanilla tersinggung.


Tinggal tunggu matang. Vanilla dan Rena duduk diam. Vanilla memain-mainkan sendok di tangannya seraya bertopang dagu.


Suara dari perut Vanilla membuat Rena menoleh lalu tertawa. "Kamu lapar, Van?" Vanilla langsung mengangguk malu.


Ia mengusap perutnya yang mulai terlihat membesar itu. Yang di dalam sana sudah minta makan, jadi harus Ia turuti.


"Ma, ada udon tidak?"


"Ada, kamu mau?"


"Mau, Ma. Aku buat sendiri saja,"


"Kenapa tidak mau Mama yang buatkan?"


"Aku mau buat yang pedas,"


"Jangan pedas-pedas! tidak boleh, Vanilla."


"Kalau Mama yang buat pasti tidak akan dituruti,"


Vanilla sangat menginginkan makanan yang pedas-pedas sekarang dan nanti akan ditemani dengan pancake. Perpaduan yang lengkap.


Rena menyiapkan bahan-bahannya. Karena kalau mengandalkan Vanilla, dia tidak tahu apa-apa. Selama ini anak nya itu tinggal makan, tidak pernah ikut campur dalam urusan masak memasak.


Mobil Richard baru saja tiba di mansion. Lelaki itu menoleh ke samping dimana calon istrinya terlelap.


Ia menyentuh lengan Jane agar bangun. Jane sepertinya kelelahan sekali padahal mereka hanya ke butik dan makan saja Usai membicarakan pertemuan tidak sengaja dengan Jhico tadi, tidak lama Jane tertidur.


"Jane, sudah sampai. Keluar dari mobilku, Jane."


"Engghh iya," Jane melenguh dan hanya mengatakan 'iya' tapi bukannya bangun, Ia malah membelakangi Richard yang duduk di kemudi. Gadis itu juga melipat kedua kakinya, posisi Jane seperti bayi yang meringkuk di dalam perut Ibunya.


"Jane, ayo cepat keluar. Aku tidak bisa lama-lama di sini,"


"Iya,"


"Ah kamu 'iya' terus tapi tidak bangun-bangun. Aku bawa ke rumahku saja ya? aku culik kamu,"


Richard menarik ujung hidung Jane dan akhirnya membuat Jane terbangun. Jane menatap kekasihnya dengan tajam.


"Kamu tidak masuk dulu?"


"Tidak, tadi ada pekerjaan yang belum aku selesaikan."


"Okay, hati-hati,"


Richard merangkum wajah Jane dan ingin mengecup bibir Jane tapi Jane menolak dengan menutup mulutnya sehingga yang Richard kecup adalah punggung tangannya.


"Bye, aku masuk ya."


Jane keluar dari mobil meninggalkan Richard yang menggeram kesal. Padahal bibirnya sudah siap beraksi, tapi malah dihindari.


Ricahard membuka jendela mobil usai Jane keluar. Jane melambai setelah matanya mengerling.


Kekasihnya pergi, Jane masuk ke dalam mansion. Ia melihat Auristella baru turun bersama dengan Serry.


Wajah Auristella terlihat seperti baru bangun tidur. Jane mengulurkan tangan ingin menggendong, tapi Auristella malah membelakangi Jane untuk mempererat pegangannya di leher Serry.


"Oh tidak mau Aunty gandong? benar ya? Okay, kalau begitu."


"Auris baru bangun, Serry?"


"Iya, Nona."


"Sepi sekali mansion ini. Seperti tidak ada kehidupan,"


Jane berbicara sendiri lalu beranjak ke kamarnya untuk berganti baju dan sibuk dengan tugas kampus yang belum selesai.


"Astaga, itu terlihat pedas sekali," komentar Rena saat melihat udon yang dibuat Vanilla. Dari warnanya saja sudah bisa membuat orang berkeringat.


Vanilla menambahkan saus pedas ke dalam mie Jepang buatannya itu. Rena menggeleng pelan. Ia akan mencoba udon tersebut tapi Vanilla melarangnya.


"Jangan, Ma. Mama tidak akan suka,"


"Mama suka pedas. Mama ingin tahu sepedas apa itu,"


Akhirnya Vanilla membiarkan Mamanya mencicipi. Baru kuahnya saja sudah membuat lidah Rena terbakar.


"Mama ini termasuk orang yang kuat pedas. Tapi kali ini benar-benar parah pedasnya,"


"Mama berlebihan. Aku tidak merasakan pedas sama sekali. Ini masih wajar,"


Vanilla duduk di pantry sementara Rena mulai menyajikan pancake. "Kalau masih kamu makan udon itu, Mama akan marah, Vanilla!'


"Buang!"


"Tidak, aku lapar, Ma."


"Banyak makanan lain,"


Vanilla mulai menyuap udon. Ia menggeleng pelan dengan raut wajah yang begitu menikmati udon.


"Luar biasa enaknya,"


Setelah meletakkan semua pancake di piring datar, Rena segera mendekati putrinya dan mengambil apa yang Vanilla makan itu.


"Makan yang lain. Ini tidak baik untuk kesehatanmu. Pedasnya keterlaluan,"


Vanilla menggeleng tidak mau. Dan Ia meminta Rena untuk mengembalikan mangkuk yang ada di tangannya.


"Mama beri tahu Jhico ya?"


"Beri tahu saja,"


"Oh menantang sekali anak ini,"


Vanilla melihat pergerakan Rena yang mengambil ponselnya dan Ia langsung panik. "Okay, aku makan yang lain. Jangan telepon dia,"


Rena mengangguk dan berjalan ke sink kitchen untuk membuang udon tapi lagi-lagi Vanilla menahan. "Aku minta sedikit, Ma. Sedikit saja, aku janji."


"Tidak boleh! kamu sudah mencicipinya tadi,"


"Baru satu suap,"


"Tidak boleh lebih dari satu suap. Yang tadi saja sudah cukup,"


"Ma, membuang makanan itu berdosa. Tuhan bisa marah nanti,"


"Kamu membahayakan kesehatan sendiri," gerutu Ibu dua anak itu dan tanpa menunggu waktu lama, Ia membuangnya. Vanilla menatap miris udon buatannya yang dibuang oleh sang Mama.


****


Lovi keluar dari tempat kerjanya. Ia mengetuk jendela mobil karena biasanya Reno menunggu di dalam mobil.


Lovi mengetuknya pelan agar Reno tidak terkejut. Ia yakin Reno pasti tertidur di dalam. Menunggu Lovi di dalam mobil lumayan lama pasti membuatnya bosan.


Reno tersentak dan langsung waspada. Ketika melihat sosok Lovi lah yang baru saja mengetuk jendela mobil, Ia menghela napas lega. Cepat-cepat Ia membuka pintu mobil dan mempersilahkan Lovi untuk masuk.


"Aduh maaf, Nona. Sudah terlalu lama menunggu ya, Nona?"


"Tidak, Reno. Aku baru selesai juga,"

__ADS_1


"Langsung pulang, Nona?"


"Kita ke sekolah anakku dulu. Mereka sudah pulang,"


"Baik, Nona."


Acha sudah menelponnya karena kedua anaknya sudah pulang dan ketika ingin diantar oleh pengawalnya, mereka tidak mau.


Lovi mengirimkan pesan untuk suaminya.


Aku saja yang menjemput Andrean dan Adrian. Aku baru saja pulang dari butik.


Tidak ada balasan, mungkin suaminya sedang sibuk. Kemudian Lovi memantau kedua anaknya melalui pengawal, memastikan mereka tetap menunggu di sekolah sampai Ia datang.


"Ms. sudah menghubungi Mommy?"


"Sudah, tunggu sebentar ya. Mommy kalian dalam perjalanan,"


"Terima kasih, Ms."


Acha mengangguk seraya tersenyum. Ia berlalu ke ruangannya. Sementara kedua anak itu tetap duduk di ruang tunggu bersama dua siswa yang belum dijemput juga tapi dari kelas lain.


"Itu anak baru ya?"


Adrian berbisik di telinga kakaknya. Andrean mengendikkan bahu sembari menjawab, "Tidak tahu."


Mereka sama-sama belum tahu bagaimana rupa anak baru yang tadi pagi dibicarakan oleh Adrina dan Thalia.


"Hey, kamu anak baru ya? aku belum pernah melihatmu," Sapa Adrian hangat tapi sedikit arogan menurut Andrean hingga kakaknya itu menegur halus dengan cara mendorong lengan Adrian menggunakan siku nya.


"Iya, kenapa?"


Alis Adrian menukik saat dijawab ketus. Adrian mendengus kasar lalu melirik sinis. Mungkin anak itu merasa diganggu oleh Adrian. Ia sedang bermain bersama teman sekelasnya yang berjenis kelamin laki-laki juga.


"Arrghhh aku kalah cepat!"


"Berisik!" Adrian menyentak anak baru yang baru saja berseru riuh itu. Adrian dan dia saling tatap.


"Kamu yang berisik! ini tempat umum,"


"Tempat umum, tapi---"


Andrean memiting lengan adiknya agar diam. Adrian dan anak baru itu sepertinya memiliki perangai yang sama. Bila sudah berdebat pasti tidak akan berhenti kalau belum ditegur.


"Tidak boleh bertengkar. Kalian itu teman," kata teman si anak baru yang tidak diketahui juga namanya oleh Andrean dan Adrian.


"Kamu mau ikut bermain? ayo, sini. Jangan marah-marah saja,"


"Siapa yang mau bermain dengan kamu? huh!"


"Adrian, sudah! jangan berdebat bisa tidak?"


Andrean menarik daun telinga adiknya yang masih adu tatapan tajam dengan anak baru. Andrean paling tidak bisa mendengar orang ribut-ribut. Ia ingin hidupnya tenang dan damai. Tapi sayangnya, Ia memiliki adik yang selalu menciptakan keributan.


Beruntungnya Lovi datang. Andrean langsung menarik tangan adiknya untuk bangkit. Lovi menghampiri dan memeluk mereka.


"Ayo, kita pulang, Mom."


"Ayo, sudah lama menunggu?"


"Iya, lumayan."


Lovi beralih menatap kedua anak yang juga belum dijemput. "Kalian sedang menunggu jemputan juga?"


"Iya, Aunty."


"Rumahnya dimana? Aunty antar, ya?"


"Aku mau langsung pulang," ujar Adrian tegas. Itu adalah kalimat halus dari Adrian yang menandakan bahwa Ia tidak setuju dengan ucapan Lovi.


Adrian pergi saat Lovi menatanya tajam. Andrean masih berada di samping Lovi. "Ayo, pulang bersama aku." ajak Andrean pada mereka berdua.


"Tidak, terima kasih. Sebentar lagi kami dijemput," tolak anak yang baru saja berdebat dengan anak kedua Lovi.


"Tidak, Aunty. Terima kasih," kali ini temannya yang menolak. Akhirnya Lovi mengangguk. "Kami pulang dulu ya. Kalian tunggu di sini, jangan kemana-mana,"


"Iya, lagipula ada petugas sekolah yang menjaga di depan sana, Aunty."


Akhirnya Lovi pergi dari sana. Lovi menunduk singkat pada petugas yang selalu menjadi penjaga di dekat pintu masuk sekolah. Ia bertugas untuk menyaring orang-orang yang masuk ke dalam sekolah. Tidak boleh sembarang orang yang masuk. Sekalipun beralasan ingin menjemput siswa.


"Kamu kenapa bicara begitu tadi? tidak baik, Adrian. Kita harus saling membantu. Dan dia temanmu,"


Sampai di mobil, seperti biasa, setiap Adrian berlaku kurang baik, pasti akan ditegur oleh Lovi.


"Bukan teman. Aku tidak kenal," ujar Adrian malas sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Ia melepas lapisan luar seragamnya lalu bersandar nyaman. Lovi mengusap rambut anaknya. "Kenapa berkeringat? seperti habis ribut saja,"


"Memang habis ribut dia, Mom. Dengan anak yang tadi," Andrean memberi tahu Lovi karena adiknya tak ingin jujur.


"Saling menyakiti?"


"Tidak, Mom. Aku juga tahu kalau itu tidak boleh dilakukan," Adrian menyahuti dengan sebal. Ia hanya adu mulut saja tadi. Tidak sampai saling meninju.


"Lalu apa yang membuat kalian bertengkar?"


"Tadi aku tanya dia baik-baik. Malah dijawab dengan gayanya yang arogan. Aku jadi kesal,"


"Kamu bertanya pada dia baik-baik? Mommy tidak percaya,"


Mengingat Adrian adalah anak yang jarang sekali bicara santai pada orang, wajar rasanya kalau Lovi tidak yakin.


"Ya sudah kalau tidak percaya pada anaknya sendiri. Nanti dosa,"


Tawa Lovi meledak setelah mendengar ucapan Adrian. " Mommy hanya bicara kenyataan yang selama ini terjadi. Kamu itu selalu tengil pada semua orang. Dan mungkin dia salah satu orang yang tidak suka dengan sikapmu,"


"Dia lebih tengil, lebih menyebalkan daripada aku. Mommy belum tahu saja,"


Lovi mengecup sudut mata anaknya yang sedang terpejam itu. "Ya sudah, tidak usah membahas dia lagi kalau menurutmu dia menyebalkan."


"Mommy baru pulang dari butik?" Andrean bertanya setelah lebih banyak diam sejak tadi.


"Iya, Sayang. Kenapa?"


"Kenapa bukan Daddy yang menjemput?"


"Kebetulan Mommy bisa menjemput kalian karena pekerjaan di butik juga sudah selesai. Jadi lebih baik Mommy yang jemput. Sepertinya Daddy sibuk, dan kalian bisa menunggu lebih lama lagi,"


"Bagaimana tes hariannya tadi?" lanjut Lovi.


"Lancar, aku dipuji oleh gurunya."


"Wow, apa katanya?"


"Pintar!"


"Dipuji begitu?"


"Iya, tanya Andrean kalau tidak percaya."


"Percaya, Sayang. Kalau Andrean bagaimana?"


"Lancar juga,"


"Aku belum tahu score nya berapa. Tapi setelah melihat hasil kerjaku, gurunya memuji,"


"Andrean dipuji juga?"


"Tidak,"

__ADS_1


"Kamu 'kan sudah biasa dipuji," sahut Adrian menunjuk kakaknya.


"Itu bukan pujian. Jadikan motivasi, Jangan besar kepala,"


"Iya, Kakak ku yang perhatian. Aku akan mendengarkan semua nasihat darimu. Terima kasih,"


Adrian berujar sangat formal seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk rasa 'terima kasih' atas sikap peduli Andrean yang telah memberinya nasihat.


*****


Tok


Tok


Tok


Serry mengetuk pintu kamar Vanilla karena sejak tadi Auristella menunjuk kamar Jane padahal mereka sedang bermain di Playground yang tak jauh dari kamar Jane.


"Auris ingin masuk, Nona."


"Iya, bawa masuk saja, Serry."


Pintu dibuka dari luar oleh Serry. Auristella berteriak untuk memanggil Jane yang terbaring di ranjang dengan laptop di hadapannya.


"Tadi tidak mau dengan Aunty. Sekarang menghampiri,"


"Nona dipanggil oleh Nona Vanilla,"


"Aku sedang mengerjakan tugas. Nanti aku akan turun,"


"Baik, Nona."


Serry turun ke bawah untuk menyampaikan ucapan Jane tadi. Agar Lovi tahu bahwa Jane ingin berada di kamar dulu menyelesaikan tugasnya.


"Auris, mau apa datang ke sini? jangan ganggu Aunty, ya."


Auristella duduk di samping wajah Jane yang menatap ke laptop. Tangan Jane melingkari perut anak itu.


Auristella diam sebentar melihat apa yang diketik Jane. Ia menggerakkan tangannya seperti Jane yang sedang sibuk menekan keyword.


Jane yang melihat perilaku anak itu terkekeh. "Kamu mau mengetik juga? dimana laptop mainan mu? seharusnya bawa ke sini biar kita bisa mengerjakan tugas bersama,"


Auristella diam memandang Jane yang sedang mengajaknya bicara. Jane menyalakan musik agar Auristella tidak bosan. Ia juga sudah mulai mengantuk karena sedari tadi hening.


"Kuat sampai berapa lama menemaniku di sini?"


Auristella menggelengkan kepalanya. Jane menggeram gemas hingga rasanya Ia ingin sekali menggigit pipi bulat Auristella.


"Sambil tiduran juga, biar sama seperti aku. Ayo, ke sini."


Jane melepaskan tangannya dari perut Auristella lalu Ia menepuk ruang di sampingnya agar Auristella berganti posisi.


Auristella tidak membantah. Ia membaringkan tubuh kecilnya di samping Jane dan merebahkan kepalanya di boneka yang menjadi tumpuan dagu Jane.


Seperti anak pada umumnya, Auristella akan merasa cepat bosan kalau tidak ada yang mengajaknya bermain.


Auristella terlungkup dan merangkak menuju sisi lain ranjang tanpa disadari oleh Jane. Aunty nya itu terlalu fokus dengan apa yang dia kerjakan walaupun Ia sangat ingin mengistirahatkan matanya.


BUGH


BUGH


"Astaga, apa itu?!" Jane bangkit dan menatap sumber suara gaduh yang terdengar. Ia baru sadar Auristella tidak ada lagi di sampingnya.


Ia kira Auristella terjatuh. Ternyata tidak, buku-buku nya yang jatuh menyentuh lantai.


Ia menghela napas lega seraya mengusap dadanya berulang kali. Dia bisa ditelan bulat-bulat oleh Devan kalau sampai Auristella terjatuh. Saat Adrian menolongnya mengambil topi di lautan saja, Devan marah. Apalagi bila Auristella jatuh di kamarnya karena tidak diawasi.


"Auris, apa yang kamu lakukan?"


"Errghh buat Aunty panik saja,"


Jane meraih Auristella agar kembali lagi ke tempatnya tadi, tapi Auristella menggeleng. Ia malah menunjuk buku-buku Jane di lantai.


"Iya, nanti Aunty ambilkan. Kamu kembali dulu ke sini,"


Ia tidak mematuhi apa yang dikatakan Jane. Jane menggeram kesal. Akhirnya Ia turun dari ranjang untuk mengambil buku yang berjatuhan.


"Jangan dibanting-banting buku Aunty. Itu isinya ilmu, Auris."


"Ndak,"


"Tidak apa maksudnya?"


"Ndak,"


"Kamu tidak membanting bukunya?"


"Ya,"


"Lalu kenapa jatuh?"


Auristella diam dan malah meraih buku yang sudah diambil Jane kemudian dia buka semua lembarannya.


"Kamu sengaja ya menjatuhkannya?"


"Ndak!"


"Lalu kenapa jatuh?" Jane sengaja membuat anak itu kesal dengan pertanyaan yang itu-itu saja.


"Ya,"


Jane menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia meringis bingung. "Kamu bicara apa sih? coba yang jelas kalau bicara. Jangan 'ndak' saja. Memang aku mengerti?"


Auristella mengangkat kepalanya untuk memberi tatapan tajam pada Jane. Alis Jane langsung menukik saat melihat garang nya anak bungsu Devan itu.


"Rajin-rajin belajar bicara makanya. Biar jangan 'ndak' dan 'ya' saja yang kamu tahu,"


Auristella menggertakan giginya kesal. Hal itu membuat Jane terkekeh geli. Auristella tampak emosi tapi Ia tak bisa mengungkapkannya.


"Saat belajar bicara di sekolah, pasti kamu tidur ya? ayo mengaku!"


"Ck!"


"Astaga, dia bisa berdecak?"


Mata Jane membulat dan memeriksa mulut Auristella yang barangkali sedang mengecap sesuatu. Ternyata tidak. Auristella memang baru saja berdecak. Tawa geli Jane kembali terdengar.


"Belajar darimana kamu berdecak begitu? ck! tidak boleh!"


Auristella menunjuk Jane. Jane juga berdecak jadi Auristella menunjuknya. Auristella sering mendengar kakak keduanya seperti itu saat sedang kesal. Auristella mengikuti apa yang dilakukan Adrian. Dan rupanya Jane yang menasihati juga suka berdecak.


"Apa? aku tidak berdecak," elak Jane dengan wajah tidak terima ditunjuk seperti itu oleh Auristella.


"Ck!"


"Ck!"


"Ck!"


Auristella sengaja mengulanginya beberapa kali hingga Jane kesal. Jelas-jelas Auristella mendengar Jane berdecak juga tapi dia tidak mengaku.


"Auris---"


"Ck!"


"Ck!"


"Heheehehe...." setelah puas membuat Jane kesal, Ia terkekeh geli lalu mengeluarkan lidahnya yang mungil itu seraya mengeluarkan suara, "Wleeee."

__ADS_1


*******


Ada yg punya ponakan kek Auris gk? kl ada, plis ceritain pengalaman pas kalian di jailin. Aku pengin tahu heheheh. Cuss ke kolom komen yaa :)


__ADS_2