
Sebelum mengucap janji, Richard menyanyikan lagu marry your daughter yang dipopulerkan oleh Brian McKnight.
Very soon I'm hoping that I...
Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day that I die,
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
Jane bersama ayahnya berjalan menuju altar pernikahan. Jane tidak menyangka Richard akan bernyanyi. Ia tidak tahu bahwa ada konsep seperti ini dalam pernikahannya.
When she walks down the aisle
Richard tersenyum tipis pada calon istrinya. Jane begitu cantik hari ini. Ia bahkan tidak henti terpana begitu melihat Jane keluar dari tempatnya dan menggenggam tangan sang ayah menuju altar.
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter...
Richard begitu mendalami lagunya hingga selesai. Ia yang selama ini dingin tetapi begitu menyayangi Jane, tidak terasa menahan tangis. Hatinya begitu berbunga hari ini karena akan menikahi seorang perempuan yang begitu memahami Ia di setiap saatnya.
Air mata haru turun seiring diserahkan nya tangan Jane oleh sang Ayah, Michelle kepada Richard, lelaki yang saat ini akan menjadi suami Jane.
Mereka mengucap janji di hadapan Tuhan dan banyaknya tamu undangan untuk selalu bersama disetiap saat. Setelah itu, veil Jane dibuka oleh Richard. Richard mengecup istrinya sebagai awal sebelum menempuh kehidupan baru mereka.
Semua orang bertepuk tangan dan berseru mengucapkan selamat. Jane sudah menjadi milik Richard untuk saat ini dan semoga sampai nanti. Cinta mereka telah dipersatukan atas nama Tuhan. Mereka telah berjanji untuk sehidup semati dihadapan Tuhan dan juga semua orang.
Vanilla sampai terisak melihat sepupunya yang kini sudah berjalan berdampingan keluar dari altar pernikahan menuju kumpulan tamu undangan.
Jhico langsung memeluk Vanilla. Mengusap bahu sang istri yang dia tahu sangat kehilangan. Biarpun Jane tetap menjadi sepupunya, tapi setelah memiliki suami pasti ada perubahan. Sama seperti dirinya yang setelah memiliki suami tak bisa lagi sebebas dulu hang out dengan Jane. Biar bagaimana pun status mereka sudah sama-sama berubah dan telah memiliki tanggung jawab masing-masing.
"Jangan menangis, ini hari bahagia. Di sana Jane tersenyum,"
"Dia juga sahabat untukku,"
"Ya, aku tahu. Tapi kalau kamu menangis, orang bisa salah duga. Karena kamu yang paling terisak sejak tadi,"
Sebenarnya Jhico menahan tawa sejak tadi. Seperti biasa, mood Vanilla begitu cepat berubah. Sebelum pergi ke tempat acara, Ia sempat kesal dengan Jane yang berangkat lebih dulu padahal Ia ingin mendampingi Jane dari awal persiapan. Lalu sekarang, Ia menangis tersedu-sedu.
"Kamu berisik, bisa diam tidak?"
"Astaga, Vanilla. Aku hanya---"
Vanilla melepas pelukan suaminya lalu Ia mendekati Jane. Ia memeluk sepupunya itu lalu mencubit bahu Jane dengan gemas.
"Akhirnya kamu menikah juga,"
"Kamu menangis ya?"
Vanilla menyentuh kelopak matanya sendiri kemudian Ia menggeleng tidak mengaku. "Tidak, untuk apa aku menangis?"
"Halah jangan bohong. Cairan dari hidung mu tidak bisa diajak kompromi itu,"
"Sia*an," maki Vanilla seraya memukul bahu Jane yang kini terbahak. Vanilla menyentuh hidung sendiri.
"Hidung ku bersih. Tidak usah mengarang kamu!" cibirnya setelah memastikan tidak ada apapun dihidungnya yang kecil itu.
Jhico memilih untuk menghampiri Richard untuk memberikan ucapan 'selamat' secara langsung.
"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga selalu kuat menghadapi berbagai terpaan,"
Richard mengangguk dengan senyum tipisnya. "Thanks, aku doakan kau dan Vanilla juga begitu."
"Kuat-kuat menghadapi perempuan ya," pesan Jhico seraya tertawa kecil.
"Seperti kau ya? kuat sekali menghadapi Vanilla yang aku tahu tidak beda jauh dengan Jane. Sama-sama menyebalkan,"
Mereka berdua tertawa. "Hati-hati saat bicara begitu. Kalau Jane mendengar, kau bisa tidur di luar, Richard."
"Ah dia tidak akan berani mengusir aku,"
Richard bisa berbaur dengan Jhico yang sangat jarang sekali bertemu dengannya. Ternyata Richard yang dingin bisa menyenangkan juga bila diajak berbincang. Dilihat dari tepis wajah Richard, awalnya Jhico yakin sekali kalau Richard adalah orang yang kaku. Tapi ketika bertemu dengan keluarga Jane khususnya keponakan Jane, Ia bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Tadi saja sebelum perhelatan akbar digelar, Richard masih sempat menenangkan Kayla yang menangis karena bertengkar dengan kakak lelakinya, Genta disebabkan oleh perkara bunga. Kayla ingin memetik salah satu bunga di altar pernikahan tapi dilarang oleh Genta. Akhirnya Ia menangis tersedu dan mengadu pada kedua orangtuanya, Jo dan Jhon.
Karena semua orang sedang cemas menuju acara, jadi Jo maupun Jhon sedikit menghiraukan anak mereka hingga Kayla kesal merasa tak diacuhkan. Richard lah yang berhasil menghentikan tangis anak itu.
"Uncle, aunty Vanilla dimana?"
Sandra mendatangi Jhico dan Richard untuk mencari tahu keberadaan Vanilla.
"Tadi bersama Aunty Jane,"
"Ya, tapi dimana?"
Jhico mengalihkan matanya ke segala penjuru. Ketika melihat sosok istrinya dan Jane, Ia segera memberi tahu pada Sandra yang baru saja bertanya padanya.
Sandra ingin minta bantuan pada Aunty nya untuk membuka kaleng soft drink yang baru saja Ia ambil di stand minuman.
Kalau meminta bantuan pada orangtuanya pasti akan dikembalikan, Ia tidak diizinkan minum.
"Aunty, tolong buka kalengnya. Aku mau minum ini,"
Jane menerima minuman itu seraya mengerinyit. "Anak kecil belum boleh minum ini. Kamu jangan cari penyakit lah,"
"Tapi aku mau coba. Sedikit saja, please."
__ADS_1
"Jangan, Sandra. Kamu minum yang lain saja,"
"Ah Aunty Jane. Lho, Aunty kenapa menangis?"
Sandra baru sadar kalau Jane dan Vanilla sama-sama terlihat habis menangis. Ia segera mengangkat tangannya untuk mengusap jejak air mata mereka.
"Mantan kekasih dari Uncle Richard datang," ungkap Vanilla yang membuat Jane memukul kepalanya dengan hand bag Vanilla sendiri.
"Oh, memang apa masalahnya?" tanya Sandra seraya menggaruk rambut panjangnya bingung.
"Hati nya panas,"
"Kenapa diundang?"
"Aunty tidak pernah mengundang. Pasti dia yang mengundang," dagu Jane mengarah pada Richard yang masih berbincang dengan Jhico.
"Mereka harus tetap akur, Aunty. Mereka pasti berteman. Tidak boleh kepanasan begitu. Seperti cacing saja,"
"Pokoknya aku harus bicara dengan Richard,"
Jane bangkit dan minuman Sandra dibawanya. Sandra berteriak memanggil, "Aunty, minuman ku jangan dibawa pergi."
Jane pura-pura tidak mendengar. Ia memang akan bicara dengan Richard tapi sekalian juga mengembalikan soft drink soda tersebut agar keponakannya tidak minum.
"Kalau Aunty Vanilla menangis karena apa?"
"Tadi saat Aunty Jane diserahkan pada Uncle Richard, Aunty terharu,"
Sandra mengangguk kemudian Ia berlari mendekati Jane yang kini duduk berhadapan dengan Jhico dan Richard.
"Maksudmu mengundang Federin apa?" tanya Jane langsung tanpa aba-aba. Richard mengangkat satu alisnya.
"Terpaksa, dia menghubungi aku lalu menanyakan undangan. Ya sudah, aku berikan."
"Kenapa kamu tidak bicara dulu padaku? Ini 'kan pernikahan aku juga,"
"Jangan membesarkan masalah kecil, Sayang." tegas Richard dengan wajahnya datar menatap Jane.
"Siapa yang datang?" tanya Jhico penasaran. Sepertinya yang bernama Federin itu bermasalah sekali dengan Jane.
"Mantan kekasih dia yang masih genit itu,"
"Oh, baiklah aku pergi dulu."
Jhico mengajak Sandra untuk menjauh juga. Ia tahu hal yang saat ini dibicarakan oleh Richard dan Jane adalah masalah yang begitu sensitif dan bersifat pribadi untuk keduanya.
"Uncle, minuman aku dipegang Aunty Jane,"
"Ya sudah, kita ambil lagi minuman lain,"
Jhico menemani Sandra untuk mengambil minuman yang dia mau. Saat melihat Sandra meraih soda lagi, Jhico segera mengembalikan.
"Itu ada minuman rasa cokelat, strawberry, keju, dan lain-lain. Kenapa harus soda?"
Jhico menggeleng tegas. "Tidak boleh, itu kurang baik untuk kesehatanmu,"
"Ambil jus buah saja," imbuh Jhico.
"Itu sudah biasa aku minum,"
"Bagus kalau sudah terbiasa minum jus buah. Jangan coba-coba minuman seperti ini,"
"Tapi Adrian boleh tadi,"
"Siapa yang mengizinkan dia?"
"Tidak ada sepertinya,"
"Benar-benar Adrian ya,"
"Jadi, aku juga boleh 'kan, Uncle?"
"Tidak, Sayang. Dengarkan ucapan Uncle kali ini. Minum yang lain, Uncle saja tidak mau minum ini." ujar Jhico yang memang sangat protektif terhadap kesehatan.
Akhirnya Sandra memilih jus blueberry untuk diminumnya. Jhico menepuk pelan kepala anak itu. Ia senang kalau Sandra menurut.
Adrian terlihat mendatangi stand soda lagi. Sandra segera menunjuk sepupunya itu pada Jhico. Jhico segera menoleh. Jhico mendekati keponakan tampan nya itu. Lalu menepuk pelan tangan Adrian yang akan mengambil satu kaleng soda. Adrian menoleh dan tersenyum lebar. Ia seperti pencuri sekarang. Ia sadar tengah berbuat kesalahan oleh sebab itu terlihat takut.
"Jangan diberikan untuk anak kecil," ucap Jhico pada seseorang yang menjaga stand soft drink soda.
"Aku kira untuk orangtua mereka, Tuan." jawab lelaki penjaga stand. Ia tidak tahu kalau Sandra dan Adrian mengambil untuk diri mereka sendiri.
"Tidak boleh minum itu. Mommy mu tahu tidak?" tanya Jhico pada Adrian.
"Tidak,"
"Sudah berapa yang kamu habiskan?"
"Hanya dua,"
"Dua?"
Adrian mengangguk ringan. Ia menjawab jujur tapi membuat Jhico kesal. Ada kata 'hanya' seolah yang Ia minum setenggak.
"Ya sudah, kita duduk di sana saja, bersama Aunty Vanilla. Tunggu makanan datang,"
"Aku sudah mengambil makanan tadi. Dan aku ingin bertanya, sebenarnya konsep pernikahan ini apa sih? Makanan ada yang diantar, ada juga yang diambil sendiri. Aku tidak mengerti," Adrian mencibir seperti perempuan cerewet. Tinggal makan padahal, tapi ada saja bentuk protes nya.
"Yang diambil sendiri itu buat dibawa pulang. Tapi bisa juga dimakan di sini,"
Adrian dan Sandra dibawa oleh Jhico mendekati Vanilla yang saat ini menenggelamkan kepalanya di sela lipatan tangan yang dia letakkan di atas meja.
__ADS_1
"Nilla, kamu sakit kepala?"
Vanilla mengangkat kepalanya dan mendapati Jhico bersama kedua keponakannya. "Tidak, kalian habis darimana sih? kamu, meninggalkan aku sendirian," tunjuk Vanilla pada Jhico seraya merengut.
"Mereka mau mengambil minuman yang tidak seharusnya untuk anak kecil,"
"Oh, soda atau alkohol?"
Jhico segera mendekatkan kepalanya pada Vanilla terkejut saat mendengar ada alkohol juga. Matanya mengerjap.
"Memang ada alkohol?"
"Ada, tadi aku minum."
Rahang Jhico mengeras seketika. Kalimat yang disampaikan Vanilla dengan santai barusan membuat Jhico benar-benar emosi. Vanilla terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun padahal apa yang Ia lakukan tadi adalah kebodohan yang sangat besar.
"Kamu tidak punya otak ya?" tanya Jhico berdesis di telinga Vanilla agar keponakan mereka tidak mendengar dan semarah apapun dia, tetap harus menjaga nada bicara agar tidak membuat Vanilla sedih.
"Hanya sedikit," jawab Vanilla seraya menyatukan ujung telunjuk dan ibu jarinya untuk memberi tahu jumlah minuman alkohol yang sudah diteguknya.
"Tapi---"
"Jhico, Vanilla, kalian sudah makan belum?"
"Ah--" Vanilla menoleh saat Papa nya mendatangi nya lalu bertanya. Ia mengangguk seraya menjawab, "Sudah, Pa."
"Jhico?"
Jhico mengangguk dua kali dan berusaha menampilkan senyuman pada Papa mertuanya ditengah rasa geram yang memenuhi hatinya saat ini.
"Kalian sudah juga?" Raihan menatap Sandra dan Adrian bergantian.
"Sudah, Grandpa. Aku banyak sekali makan nya,"
"Pintar, Sandra juga?"
"Iya, Grandpa."
"Grandpa mau duduk di sini saja,"
Jhico menghembuskan napas nya. Ia harus menahan emosi untuk sementara waktu. Mulutnya sudah gatal meminta penjelasan dari Vanilla tapi ada Raihan di sini. Kalau Raihan tahu permasalahan nya, mungkin Ia juga akan lebih marah lagi.
"Memang kenapa tidak bersama Grandma?"
"Grandma sibuk bincang sana-sini,"
Kalau sudah ada perkumpulan, Rena seperti Ibu-ibu kebanyakan. Sibuk bertukar cerita yang tidak ada habisnya. Sementara Raihan hanya kenal dengan beberapa tamu saja di sini.
****
"Ayah, mungkin satu bulan lagi aku dan keluarga kecilku akan pindah ke rumah kami. Kami tidak tinggal di mansion lagi. Aku mohon, Ayah ikut kami saja."
Devan bicara dengan Lucas sementara istri, anak, dan keponakannya menjadi pendengar yang baik.
"Tapi Ayah nyaman tinggal sendiri,"
"Aku tahu itu. Tapi aku ingin Ayah tinggal bersama kami. Agar kami bisa memantau ayah. Tinggal sendiri membuat Ayah bebas melakukan apapun tanpa memikirkan kondisi kesehatan ayah sendiri,"
Yang dimaksud Devan bebas adalah, Lucas kembali menambah pekerjaan padahal yang sebelumnya saja sudah cukup menguras energi.
Devan seperti anak kandung Lucas. Tidak ada keraguan sama sekali untuk meminta Lucas agar tinggal bersamanya demi bisa terus menghabiskan waktu bersama, memperhatikan lelaki tua itu agar kesehatannya terus terjaga.
"Iya, Grandpa. Tinggal bersama cucu itu menyenangkan. Aku harap, Grandpa mau tinggal bersama ku dan kedua adikku,"
"Aku saja sangat ingin tinggal bersama kakek dan nenekku. Tapi mereka tinggalnya jauh sekali," ujar Kayla dengan sedih. Melihat Andrean dan Adrian bisa tinggal bersama Raihan dan Rena, Ia menginginkan hal yang sama. Tapi sayang, kakek nenek dari ayah dan ibunya tinggal jauh dari rumahnya. Hanya mengunjungi Kayla dan Genta sesekali saja.
"Ya sudah, kalau ayah tidak mau---"
"Lovi!" sela Devan sebelum istrinya bicara lebih jauh. Lovi kesal juga dengan ayahnya. Mereka sudah memiliki niat baik tapi malah ditolak.
Tujuan Lucas menolak untuk tinggal bersama sejak dulu adalah, Ia tidak ingin mempersulit Devan dan Lovi. Lagipula Ia malu dengan putrinya. Dulu, Ia begitu jahat.
Andrean menatap Mommy nya dengan pandangan berbeda. Ia juga tidak suka sikap Lovi yang Ia perhatikan sejak tadi terlalu menghiraukan kakeknya. Malah sang ayah yang lebih banyak berkomunikasi dan membujuk. Sementara Lovi lebih banyak diam dan menjadi pendengar.
****
Pesta kali ini diisi dengan kebahagiaan yang luar biasa. "Aku tidak menyangka kamu bisa bernyanyi," Jane masih tidak percaya kalau Richard akan memberinya kejutan dengan menyanyikan lagu yang sering mereka dengarkan selama ini.
"Aku kira kamu hanya bisa marah-marah,"
"Aku marah, kalau kamu mengusik ketenangan ku dan kehidupan pribadiku. Tapi kalau kamu menjadi gadis baik, aku tidak akan pernah marah."
Jane sudah tahu bagaimana suaminya selama ini, tapi Ia masih saja penasaran sehingga Richard sering merasa terusik. Ia tahu Richard adalah seorang lelaki yang jahat, sama seperti Devan dulu. Tapi anehnya Ia tetap mencintai lelaki itu. Karena dia yakin, bukan hanya satu Lovi di dunia ini. Ia bisa menjadi Lovi yang lain, Lovi yang begitu sabar menghadapi suaminya, Lovi yang begitu tulus pada suaminya sekalipun Ia diperlakukan sedemikian kejam. Lovi adalah perempuan yang dulu menjadi musuh Jane karena telah merebut sepupu yang disukainya, Devan, tapi kini menjadi perempuan yang begitu diidolakan oleh Jane.
Federin mendatangi meja yang sedang ditempati oleh Jane dan Richard. Ia akan berpamitan pada pengantin sebelum pulang.
"Aku pulang dulu, Ri."
Jana memutar bola matanya diam-diam. Ia hanya pamit pada Richard padahal ada istrinya di sini.
"Sepertinya mata dia buta hanya padaku saja," geram Jane dalam hatinya. Ingin sekali menarik rambut pirang dan menampar pipi merah merona itu agar semakin merah lagi seperti tomat.
"Ya, terima kasih sudah datang,"
"Terima kasih juga sudah mengundangku,"
"Hmmm sebenarnya aku tidak ada niat mengundangmu," ujar Richard membuat Federin seperti tertampar. Ia sedikit tersinggung tapi berusaha tetap tersenyum. Karena kalau Ia terlihat murung akibat ucapan Richard, Jane akan senang.
"Kamu menelpon ku malam-malam lalu bertanya kapan pernikahanku digelar. Setelah aku jawab, kamu memaksa minta diundang," Richard mengungkap kembali hal apa yang melatar belakangi tindakannya yang mengundang Federin tanpa persetujuan Jane. Biar Jane juga tahu, agar Ia tidak menjelaskan dua kali nanti.
--------
__ADS_1
Say piweding bwt Si J & R ya shayy. Jgn lupa kadonya, titip ke aku aja. Ntar gk aku sampein kok🤣🤣