My Cruel Husband

My Cruel Husband
Devan memiliki penyakit?


__ADS_3

"Lalu ayam yang sudah hampir matang itu ingin dibuang?"


Kalau Rena menjawab'ya' maka Jane tak segan-segan mengatakan wanita itu terlalu berlebihan.


"Kamu yang makan!"


Devan dan Vanilla tersenyum puas. Vanilla menyentuh lengan Jane yang berdiri di belakang Rena.


Ketika Jane berbalik, Vanilla menjulurkan lidahnya dengan kurang ajar.


Senata baru kembali dari gudang penyimpanan bahan makanan pokok. Di tangannya ada tray telur. Ia memasuki area dapur dan langsung mendengar Rena yang sedang melampiaskan kekesalannya dengan kalimat panjang lebar.


"Ada apa?" Tanya Senata. Ia meletakkan telur-telur itu di dekat sink kitchen untuk dicucinya.


"Biasa, punya dua anak gadis tidak ada yang bisa diandalkan,"


Senata tersenyum . Ia tahu betul anak-anak seusia Vanilla dan Jane. Dulu, Lovi pun begitu. Namun Ia tidak begitu parah malasnya. Hingga sedikit-sedikit perempuan itu bisa mempelajari hal baru yang dilihatnya dari Senata. Kalau mereka diminta membuat teh saja pasti menolak. Bagaimana bisa diandalkan untuk memasak?


"Sudah sampai mana persiapan untuk pernikahanmu?"


Vanilla berusaha mengalihkan pembicaraan Mamanya. Kalau bahas ini, pasti Rena akan berhenti berbicara panjang lebar.


"Apa? Lovi saja belum menyetujui permintaanku. Apa yang harus aku siapkan?"

__ADS_1


Netta dan Serry keluar dari area dapur saat mendengar kedua anak kembar berseru memanggil mereka dari kamar.


Devan tidak menghampiri. Dipikirnya mereka hanya membutuhkan kedua pengasuhnya.


"Lovi sudah tahu penyakitmu?" Kali ini Jane angkat bicara. Dengan santainya dia berbicara seperti itu hingga semua yang ada di sana mendelik padanya.


"Jane, kecilkan--"


"Devan..."


Semuanya membeku saat mendengar suara lembut seseorang di luar dapur. Tak berani menoleh rasanya. Karena mereka baru saja membahas masalah yang sensitif. Bagaimana kalau...


Kalau Lovi mendengar ucapan Jane tadi?


Shit!


Devan berusaha menenangkan dirinya sendiri selama beberapa detik. Kemudian berbalik dan tersenyum pada Lovi yang kini menatap bingung pada mereka.


"Menolehnya bisa kompak begitu?" Ia terkekeh merasa lucu saat Senata, Rena, Devan, Vanilla, dan Jane berhasil mengendalikan diri mereka dalam waktu yang bersamaan. Mereka kompak menoleh pada detik yang seakan direncanakan sebelumnya.


Devan berdehem untuk mengilangkan rasa pahit yang tadi sempat memenuhi tenggorokannya.


"Kenapa kamu turun? Butuh sesuatu?"

__ADS_1


Lovi berusaha tersenyum. Niatnya untuk meminta teh langsung sirna. Dia mendengar 'penyakit' sebagai topik pembicaraan mereka sebelum kehadirannya.


Penyakit Devan?


Apa itu?


Apakah Jane hanya berguyon saja mengingat Ia sangat jarang untuk serius dalam hal apapun. Namun setitik perasaan aneh memenuhi sudut hatinya yang berusaha untuk tak peduli. Ia penasaran, perlu tahu, namun Devan terlihat sangat menghindar.


Devan membawanya untuk duduk di ruang makan lalu berbicara dengan hangat seperti biasanya. Mungkin Lovi memang harus percaya dan yakin kalau apa yang didengarnya tadi bukanlah sesuatu yang serius dan patut untuk mengganggu pikirannya.


"Kamu mau makan?"


Lovi menelan ludahnya gugup saat diperhatikan dengan intens oleh Devan. Devan sedang menelisik wajah Lovi. Ia harus memastikan sendiri bahwa Lovi tidak mendengar apapun tadi. Devan bisa menilai raut Lovi.


Namun Lovi dengan gesit mengusir segala sesuatu yang membuat otaknya berkelana sejak tadi. Lovi tersenyum dan Devan bisa menghela napas lega. Ia yakin telinga Lovi tidak cukup tajam untuk mendengar hal itu.


"Aku ingin teh hangat. Mualku datang lagi, seperti biasa,"


Devan mengangguk kemudian mengecup singkat kening Lovi. Seraya berharap 'Semoga aku sedang beruntung sekarang. Aku harap kamu tidak mendapatkan fakta apapun tadi'


Lovi merasa jantungnya akan jatuh ke lantai saat ini juga. Berlebihan memang. Namun Devan berhasil membuat irama di dalam sana tak lagi beraturan. Saling sahut menyahut menyoraki Lovi yang masih bisa merona ketika diperlakukan semanis ini oleh masa lalunya.


------

__ADS_1


HELAAWW PAN-PAN & LOP-LOP DATANG LAGII. LIKE, VOTE, KOMEN, RATE YUKK.


TERIMA KASIH YAAA ~


__ADS_2