My Cruel Husband

My Cruel Husband
Yang ditunggu akhirnya datang


__ADS_3

Hanya sekitar dua jam saja robot super besar milik Adrian datang. Dan kebetulan Jhico serta istrinya sudah pulang ke apartemen.


Seolah lupa dengan acara merajuknya tadi, Adrian melompat-lompat senang ketika barang yang diinginkannya sampai di mansion.


Saat diangkut, Auristella juga ikut menyaksikan sama seperti Lovi dan Andrean. Auristella nampak ketakutan ketika melihat robot milik kakaknya itu. Bahkan Ia mengeratkan pelukannya di leher Lovi.


"Letakkan di dalam kamar anakku saja," titah Lovi pada dua orang laki-laki yang mengantar. Adrian menyanggahnya, "Jangan. Di sini saja,"


Adrian menunjuk koridor yang ada di depan kamarnya. Robot itu tidak akan masuk ke dalam ruangan apapun. Adrian akan menjadikannya pajangan yang bisa dilihat oleh semua orang.


Lovi membayangkan bila malam hari pasti akan sangat menyeramkan ketika melintas di dekat kamar anaknya lalu menoleh sedikit akan ada robot besar yang berdiri di koridor.


"Jangan, Adrian! nanti Auris ketakutan,"


"Mommy juga," sambungnya dalam hati. Kalau Auristella sudah bisa berjalan pasti koridor itu akan menjadi salah satu tempat favoritnya. Dan ketika melihat itu, Ia pasti takut. Tidak bisa dibayangkan akan sehisteris apa anak itu bila Ia sedang asik berjalan lalu menemukan benda yang terlihat aneh.


"Auris tidak pernah ke sana. Dia bermain di ruang main terus,"


"Kalau dia sudah bisa berjalan, ya suka-suka dia mau kemana,"


Dua lelaki yang sudah keberatan memegang robot besar jadi bingung menyaksikan perdebatan antara Ibu dan anak itu.


Kenapa masalah posisi tidak dibahas sejak tadi saja? Sehingga ketika mereka datang tidak ada lagi yang mempermasalahkan hal seperti ini. Mereka keberatan hey!


"Di kamar anakku. Tolong dengarkan aku," ujar Lovi dengan tegas


"Karena aku yang punya anak," sambungnya saat Ia melihat Adrian dan kedua lelaki itu saling melirik. Adrian mengeluarkan tatapan tajamnya tapi berhubung Lovi sudah mengatakan bahwa Ia yang berhak karena Adrian anaknya, jadi mereka lebih memilih untuk menuruti perkataan Lovi.


Adrian kalah, Ia berdecak seraya mengacak rambutnya. Auristella menggerakkan tubuhnya dalam gendongan Lovi, mengajak Mommy-nya pergi dari sana.


Dalam hatinya mungkin bicara "Mommy nyaman sekali berada di dekat benda besar ini. Seharusnya biarkan saja Adrian mau bawa itu kemana,"


Auristella tidak tahu kalau Lovi sedang membuat Ia terhindar dari rasa takut. Sehingga Ia cerewet dalam hal ini. Ia sendiri juga takut jadi Adrian tidak boleh sembarangan meletakkan robot barunya itu.


********


Lovi masuk ke dalam kamar. Tadi Devan sempat meminta Lovi agar memberi tahunya jika robot yang menjadi bahan perdebatan itu sudah sampai.


Rupanya Devan terlelap. Auristella merengek ingin turun dari gendongan Lovi. Setelah Lovi menuruti, rupanya anak itu ingin membangunkan Daddy-nya.

__ADS_1


"Ssstt. jangan diganggu. Biarkan Daddy tidur,"


Terlambat, Auristella sudah menggigit hidung Devan sehingga Devan meringis dan membuka matanya.


Devan yang gemas sekaligus kesal tidurnya diganggu langsung menjadikan Auristella berbaring di ranjang dan Ia bangkit dari posisi tidurnya untuk menggelitiki perut Auristella mengunakan kepalanya.


"Devan, lihat robotnya Adrian!" Devan sudah terlanjur bangun, jadi Lovi lanjutkan saja niatnya masuk ke kamar tadi.


"Oh, sudah datang?"


Lovi tiba-tiba saja tertawa. Devan mengerinyit bingung dan Ia semakin penasaran dengan barang baru milik anaknya itu.


"Kamu lihat sendiri. Aku dan Auris takut melihatnya. Entah kalau kamu. Mungkin kamu suka, sama seperti Adrian."


Tanpa menunggu waktu lama, Devan melompat dari ranjang. Beruntung Auristella sudah dipeluk oleh Lovi yang baru saja berbaring sehingga Ia tidak terpental ke atas. Devan terlalu semangat.


Devan membuka pelan pintu kamar anaknya. Dan Ia langsung tersentak begitu melihat robot super besar milik Adrian yang menghadap ke pintu tetapi posisinya berada di ujung ruang kamar.


"Astaga, sebesar itu?" Devan terperangah. "Seperti di museum saja," gumamnya lagi. Devan menahan tawa seraya menggeleng pelan. Ia dibuat terkejut tatkala pinggangnya ditepuk dari belakang oleh Adrian.


"Daddy mau apa? mencuri robotku ya?"


Adrian mendengus. Kenapa semua orang tidak suka dengan robotnya? berbeda sekali dengan dirinya yang begitu menyayangi robot itu bahkan ada niat untuk menambah koleksi. Masalah letak, bisa dipikirkan nanti.


"Kamu meletakkannya di situ agar tidak ada hantu yang masuk atau bagaimana? kamu pikir hantu takut dengan robot itu?" Devan meledek anaknya. Rasa kesal masih ada jadi saatnya untuk dilampiaskan dengan cara membuat Adrian kesal juga.


"Hantu tidak akan takut. Yang takut berarti dia hantu. Tadi Daddy takut 'kan?"


Devan membulatkan matanya. "Lelaki setampan Daddy kamu bilang hantu? ada yang aneh dengan kamu, Adrian." ujar Devan heran. Perlu diingat, Ia tidak takut, hanya terkejut saja ketika melihat kamar langsung disambut oleh benda yang besar itu.


"Daddy keluar saja. Jangan di sini. Nanti kalau robotku takut melihat Daddy, bisa gawat,"


Niat hati Ingin membuat Adrian marah dengan mengejek robotnya, kenapa malah dia yang dibuat kesal lagi?


"Arrgh Adrian! dia benar anakku atau bukan sih?!" batin Devan yang sudah terlalu geram sampai pura-pura lupa bahwa dirinya yang membuat Lovi takluk hingga akhirnya terciptalah Adrian dan Andrean.


Adrian mendorong tubuh Devan agar menjauh dari pintu kamarnya. Devan menatap tidak terima tangan kecil yang tidak sopan itu.


"Berani sekali mengusir anak pemilik mansion ini," ujarnya dengan tajam. Adrian tidak peduli, Ia menutup pintu dan tak mendengarkan cibiran Daddy-nya.

__ADS_1


*******


"Auris, lihat robot Adrian lagi mau?"


Lovi menggoda anaknya seraya menunggu Devan kembali lagi ke kamar. Auristella menggeleng enggan.


"Memang kenapa? biasanya kamu suka dengan sesuatu yang aneh juga sama seperti kakakmu yang nomor dua itu,"


"Nanti Mommy belikan yang sama seperti itu. Mau ya?" tambah Lovi lagi yang membuat Auristella semakin tegas menggeleng.


"Oh tidak mau kalau hanya satu? ya sudah, nanti Mommy belikan dua,"


"MOMMY!" Auristella berseru marah. Wajahnya memerah dan menatap Lovi dengan pandangan tajamnya yang persis sekali dengan Devan bila sudah dibuat kesal atau ditantang.


Lovi meledakkan tawanya. Rupanya Auristella benar-benar tidak mau berurusan dengan barang milik kakaknya itu. Ia sedikit bingung juga dengan Auristella. Walaupun mainannya serba feminin dan Ia sangat manja, tapi kalau hal-hal yang menantang, Auristella termasuk salah satu penggemarnya.


Saat dibawa ke tempat penangkaran ular oleh Devan dan Lovi untuk menikmati akhir pekan, Auristella begitu semangat. Bahkan Auristella berkali-kali ingin memegang hewan melata itu. Melihat Devan melingkarkan ular di lehernya, Auristella semakin penasaran. Akhirnya Lovi memarahi Devan agar tidak lagi seperti itu karena Auristella jadi menangis ketika tidak diizinkan untuk menyentuhnya. Reaksi Auristella sama seperti Adrian. Anak itu juga semangat ingin berkenalan dengan hewan melata. Tapi sayangnya untuk anak-anak hanya diperbolehkan untuk melihat tanpa menyentuh.


Mungkin karena Auristella masih kecil jadi Ia tidak tahu kalau hewan melata menggelikan untuk sebagian orang dan juga menakutkan. Entah setelah besar nanti apakah seperti itu juga reaksinya ketika suatu saat di jejali oleh Adrian yang super jahil. Sebagian besar perempuan takut dengan hewan-hewan seperti ular dan sejenisnya.


Awal-awal datang ke tempat penangkaran ia memang tampak takut. Tapi setelah tiga puluh menit berkeliling di sana lalu melihat banyak orang unjuk keberanian menyentuh ular, Ia jadi tertarik juga. Kedua orangtua dan kakak-kakaknya saja sampai bingung. Saat Adrian memberikan ular mainan, Auristella menjerit dan menangis ketakutan. Sementara dengan ular yang asli Ia malah berani.


Devan memasuki kamar dan melihat istrinya yang tertawa kecil menatap Auristella Ia bertanya, "Ada apa, Lov?"


"Auris mau dibelikan robot yang sama dengan Adrian," Lovi ingin tahu reaksi Auristella. Apakah Ia sudah mengerti dengan yang diucapkan Lovi.


"Ya Tuhan, kamu serius Auris?"


"No, Daddy!" jawabnya dengan artikulasi yang masih kurang jelas. Entah Ia hanya asal menjawab tapi kebetulan sesuai dengan pertanyaan, atau memang Auristella sudah pandai mengartikan ucapan orang lain, yang jelas jawaban itu membuat kedua orangtuanya kompak tertawa.


"Yang benar? nanti Daddy belikan yang banyak,"


Auristella merengek dan hampir menangis. Melihat itu Lovi langsung memeluknya. Tangis anak itu pecah saat kepalanya sudah tenggelam dalam peluk hangat Lovi. Devan terkekeh pelan di balik punggungnya. Lovi langsung mengisyaratkan Devan untuk berhenti tertawa walaupun perutnya sendiri juga masih terasa geli, belum puas terbahak.


Andrean yang sedari tadi terlelap di samping Lovi tampak melenguh terganggu dengan suara tangis adiknya. Devan segera menepuk-nepuk lembut punggungnya.


"Kenapa ya Adrian tidak seperti Andrean. Diam, tenang, tidak membuat aku stress. Kalau ketiga anakku seperti Andrean semua, bisa dipastikan hidupku sangat tenang,"


"Tapi tidak berwarna," imbuh Lovi yang disetujui juga oleh Devan.

__ADS_1


Kalau semua anaknya memiliki karakter seperti Andrean, pasti keseharian Devan kurang berwarna. Karena yang dihadapi hanya anak-anak dingin, cenderung tertutup, dan kurang bisa diajak bercanda. Walaupun Adrian menyebalkan, tetapi disaat-saat tertentu Adrian bisa sangat menghibur, begitupun dengan Auristella.


__ADS_2