
Tiga hari setelah Adrian sembuh dari sakitnya, Pagi ini Devan dan Lovi kembali membawa Adrian juga Andrean ke rumah sakit untuk memastikan kondisi keduanya cukup baik untuk berlibur. Dan Devan juga perlu memastikan kondisi kandungan Istrinya, kemudian mendapat surat izin untuk melakukan penerbangan.
Setelah dari rumah sakit, Mereka langsung pergi menuju bandara dimana Raihan, Senata, dan Rena sudah menanti kedatangan mereka.
Raut riang Adrian tak pernah lepas dari wajahnya. Rasanya ingin berlari saja karena terlalu senang. Sudah beberapa bulan tidak berlibur, dan sekarang Ia kembali diberi kesempatan oleh Devan. Masalah perizinan dari pihak sekolah, sudah diurus sepenuhnya oleh Devan.
"Jangan lupa bawa oleh-oleh ya. Tapi jangan es krim," pesan Rena yang membuat cucu bungsunya tertawa. Siapapun sudah tahu kalau es krim adalah makanan kesukaan untuk kedua anak kembar itu, terutama Adrian yang sangat fanatik.
"Memang kenapa kalau Adrian bawa es krim? Oh iya, nanti sudah mencair ya?"
"Itu tahu jawabannya," Rena memiting gemas wajah tampan itu. Rasanya berat sekali berpisah dengan mereka. Mengingat hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama.
Dan mulai saat ini hingga dua minggu ke depan, mereka hanya berkomunikasi melalui ponsel.
__ADS_1
Senata menunduk kemudian berujar lirih pada cucu sulungnya, "Hati-hati di sana. Jangan lupa dengan Grandma. Nanti terlalu asik bermain sampai lupa kalau di sini Grandma merindukan kalian." Andrean mengusap wajah neneknya dengan lembut. Ia tersenyum, walau sangat tipis.
"Aku selalu ingat dengan siapapun yang ada di sini. Grandma tidak perlu khawatir," ujarnya menenangkan. Rena dan Raihan yang mendengarnya pun terharu. Saat ini mereka sedang sibuk bercengkrama sebelum akhirnya berpisah, sementara Devan mengantar Lovi ke toilet dan juga membelikan Andrean roti.
"Kemarin Grandpa bertemu dengan Adrina di kantor kakeknya. Katanya, hati-hati dan jangan lupa membawa boneka untuk dia," Raihan tersenyum saat mengingat ucapan gadis kecil yang beberapa kali bertemu dengan cucunya itu.
Adrian dan Andrean memang semakin dekat dengan putri dari Jino dan Sheva itu. Karena rumah mereka tidak terlalu jauh hanya berbeda blok. Dan Raihan dengar juga dari Syarief sebagai ayah Jino, Putra dan menantunya itu akan memboyong Adrina ke rumah baru mereka yang bersebrangan dengan milik Devan. Sehingga tak lama lagi Devan bisa lebih mudah bertemu dengan sahabat lamanya tanpa perlu menunggu waktu luang.
"Banyak sekali?" Lovi menautkan alisnya saat Devan meraih roti hingga memenuhi wadah yang dibawanya. Mereka sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk dimakan selama perjalanan nanti. Jadi menurut Lovi tidak perlu sebanyak itu. Dan lagi hanya Andrean yang menginginkannya.
"Tidak apa, Lov. Ini tidak mahal,"
Lovi memutar bola matanya jengah. Lalu Ia mengembalikan sebagian roti yang diambil Devan tanpa memedulikan tatapan protes suaminya.
__ADS_1
"Buat anak kita. Nanti kurang bagaimana?"
"Anakmu bukan gajah. Makanan yang dibawa juga sudah banyak," tegasnya yang akhirnya membuat Devan mengangguk pasrah. Devan takut anaknya kekurangan. Andrean juga jarang sekali meminta sesuatu. Jadi ini adalah momen yang langka.
"Kamu selalu boros. Kenapa hobi sekali menghabiskan uang?"
"Aku kaya, jadi tidak ada salahnya,"
Lovi berdecak geram. Kalau saja melempar kepala Devan dengan lemari kaca yang digunakan untuk memajang roti, tidak berdosa dan memalukan, maka sudah Ia lakukan sedari tadi.
--------
SELAMAT MALAM. ADRIAN DTG LG NIH. JGN LUPA TINGGALKAN JEJAK KL MAU DIBAWAIN OLEH-OLEH🤣TERIMA KASIH YAAA BWT YG UDH LIKE, KOMEN, VOTE, BINTANG 5, KOMEN. MAKASIH JG UNTK YG BACA TP NGUMPET AWOKWOK.
__ADS_1