My Cruel Husband

My Cruel Husband
Auristella tumbang


__ADS_3

"Ayo pulang bersama. Rumah kita berdekatan tapi tidak pernah pulang bersama,"


"Sebentar, aku tunggu driver dulu lalu aku minta izin pada nya,"


Adrian mengangguk, karena kebetulan driver nya juga belum datang sama seperti driver Adrina. Adrian menoleh pada kakaknya yang sibuk dengan buku.


"Aiishh si kutu buku ini masih saja sibuk membaca. Kita akan pulang sebentar lagi, Andrean. Masukkan bukumu,"


"Ada masalah apa antara kamu dengan buku milikku?" tanya Andrean dengan datar namun mata nya sinis sekali melirik Adrian.


"Aku bukan kutu buku," lanjutnya membantah.


"Tapi kamu suka sekali membaca buku,"


Andrean memilih diam dan kembali membaca ulasan pelajaran yang dia peroleh hari ini selama belajar di sekolah.


"Nah itu dia mobilmu datang," seru Adrian seraya menunjuk mobil Adrina yang berwarna putih.


Adrina segera bangkit dan ketika mobil berhenti, Ia masuk ke dalam setelah pintu dibuka oleh drivernya.


"Aku pulang dengan Adrian boleh tidak? ikuti aku dari belakang,"


"Adrian tetangga Nona itu?"


"Iya, benar sekali."


"Okay, aku ikuti dari belakang. Dimana mobilnya?"


"Belum datang, sebentar lagi mungkin."


Driver Adrina mengangguk. Adrina tidak pernah minta pulang bersama temannya selama ini. Sehingga ketika Ia meminta sekarang, akan Ia turuti.


Tak lama Adrina keluar dari mobilnya, mobil Adrian datang. Kemudian Adrian mengajak Adrina masuk.


Andrean belum menyadari kalau Ia sudah dijemput. "Andrean, hey! ayo pulang. Kamu sibuk membaca terus sih," seru Adrian pada sang kakak. Andrean segera mengalihkan fokus. Kemudian Ia bangkit meraih tas nya yang ada di kursi sebelahnya lalu dia berjalan menuju mobil.


Adrian melambai pada salah satu guru yang menjaga anak-anak yang menunggu di luar ruang tunggu. Ketiga anak itu ingin cepat-cepat melihat mobil yang menjemput mereka katanya sehingga mereka keluar dari ruang tunggu dan memilih untuk menunggu di dekat pos keamanan.


Andrean duduk di depan, sementara Adrian dan Adrina di belakangnya. Terjadi keheningan selama perjalanan. Sehingga Reno sang driver mengajak mereka bicara.


"Bagaimana sekolah hari ini?"


"Berjalan lancar," Adrina yang menjawab.


"Tidak berbuat sesuatu yang membuat guru kesal?"


"Tentu saja tidak," jawab Adrian dengan percaya diri. Semakin besar, Adrian jarang sekali membuat gurunya kesal. Tapi kalau di rumah, Ia masih suka membuat Auristella kesal.


*****


"Dimana Mommy?"


"Ke rumah sakit membawa adikmu,"

__ADS_1


"Auris sakit lagi?"


"Dia demam lagi dan mual sejak beberapa jam yang lalu,"


Andrean dan Adrian lekas memasuki kamar mereka masing-masing setelah mendengar penjelasan nenek nya.


Mereka tidak tahu kalau adiknya sakit lagi. Padahal setelah pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu dia sudah baik-baik saja. Auristella langsung aktif lagi seperti biasa, mungkin tubuhnya belum siap untuk itu. Sehingga kondisinya kembali melemah.


Sesaat setelah bicara dengan kedua cucunya, Senata mendapat telepon dari putrinya yang mengatakan bahwa Auristella harus mendapat perawatan di rumah sakit karena penyakit tifus.


"Astaga, dia pernah mengalami itu juga dulu. Benar tidak, Lov?"


"Iya, Ma." jawab Lovi lesu. Seingat Lovi memang pernah. Dan sekarang Auristella mengalaminya lagi.


"Aku harus menunggu Auris di rumah sakit, tidak bisa pulang dulu,"


"Iya, nanti akan ada yang mengantar keperluan kalian. Devan sudah dikabari?"


"Sudah, Ma."


Lovi mengakhiri teleponnya. Beruntung Ia cepat membawa Auristella ke sini sebelum kondisi anak itu semakin parah.


Setelah sarapan, Auristella mulai demam. Ia minumi obat, tidak mempan. Setelah Auristella tidur dan makan, Ia minumi obat lagi, masih juga belum menyembuhkan. Tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya, Lovi segera membawa Auristella ke rumah sakit.


******


"Kenapa, Boss?"


"Aku harus pulang. Pekerjaanku sudah selesai juga,"


"Kalau seandainya besok aku tidak bisa bekerja, akan aku kabari."


"Memang kenapa Boss bicara begitu?"


"Auris sakit,"


"Astaga, semoga cepat sembuh,"


"Ya, terima kasih. Aku pergi dulu, Dashinta."


"Ya, Boss."


Devan langsung bergegas ke rumah sakit dimana anaknya mendapat perawatan. Ia tidak menyangka hari ini akan mendengar kabar buruk dari Lovi mengenai anaknya. Tadi pagi sebelum Ia tinggal kerja Auristella baik-baik saja. Bahkan mereka sarapan bersama.


"Apa yang salah darimu, Sayang? makan dan segalanya sudah diusahakan yang terbaik. tapi tetap saja penyakit sialan itu menghuni tubuhmu,"


Devan menggeram seraya memukul setir mobilnya dengan kencang. Ia kesal dengan penyakit yang sedang mengganggu anaknya namun tak bisa dielakkan setiap manusia pasti akan mengalami sakit.


"Aarghh maafkan aku, Tuhan. Seharusnya aku bersyukur karena banyak orang di luar sana yang memiliki penyakit lebih parah daripada Auris. Aku berdoa untuk kesembuhan Auris dan juga mereka semua," gumam Devan.


Devan merutuki kebodohannya yang telah bersikap layaknya tidak menerima apa yang telah Tuhan berikan. Penyakit merupakan cobaan yang harus dilalui. Mungkin setelah ini keluarga kecilnya khususnya Auristella akan mendapat anugrah yang besar tapi sebelumnya harus berhasil melewati cobaan yang telah diberikan.


*****

__ADS_1


"Grandma, kenapa mengeluarkan beberapa baju Mommy dan Daddy?"


"Auris harus dirawat di rumah sakit,"


"Ya Tuhan, kenapa lagi Auris?"


"Tifus," jawab Senata singkat seraya sibuk berkemas. Pakaian, selimut, dan lain-lainnya harus segera Ia siapkan untuk anak dan menantunya yang sedang menemani Auristella melawan penyakitnya.


"Aku pasti tidak boleh ke sana," ujar Adrian dengan pelan. Ia sedih, setiap kali ada keluarganya yang sakit pasti Ia tidak boleh menjenguk. Padahal maksud Devan dan Lovi bukan begitu. Membawa Ia dan Andrean ke rumah sakit bukanlah pilihan yang tepat karena di sana banyak sekali jenis-jenis penyakit sementara tubuh mereka masih rentang karena usia yang masih kecil. Lovi dan suaminya tidak ingin mereka sakit juga.


"Doakan saja untuk kesembuhan Auris. Auris hanya sebentar di sana, Grandma yakin."


*****


Auristella lesu karena mual nya belum juga hilang. Sejak tadi juga sering muntah padahal sudah diberikan obat. Demam nya sudah menurun setelah sebelumnya sangat tinggi.


"Istirahat, Sayang. Jangan menonton terus," ujar Devan. Saat Ia akan mematikan televisi, Auristella menangis. Begitu saja Ia menangis. Sakit menjadikan Auristella cengeng. Seperti biasa, itu merupakan hal yang wajar bahkan bukan untuk anak-anak saja. Orang dewasa pun terkadang seperti itu.


"Ya sudah, tidak dimatikan."


Devan menghembuskan napas pelan. Ia kembali meletakkan remote televisi lalu duduk di samping Auristella seraya mengusap kepala nya yang sudah ditumbuhi banyak rambut seiring bertambahnya usia.


Lovi sedang di kamar mandi untuk buang air kecil yang sedari tadi Ia tahan. Auristella tidak ingin berjauhan dengannya. Setelah diberi pengertian bahwa Lovi bisa saja buang air di celana kalau terus-terusan menahan, akhirnya Auristella mengizinkan Mommy nya ke kamar mandi.


"Kamu makan malam dulu, Lov. Itu makanan yang kamu inginkan sudah datang,"


"Ya,"


Lovi beralih menatap putrinya. "Mommy makan dulu boleh?"


Auristella mengangguk tanpa mengatakan apapun. Ia memastikan Lovi makan di dalam ruangannya dengan terus-terusan menatap Lovi yang kini duduk di sofa mengeluarkan makanan dari goodie bag.


"Dyyy..." Ia memanggil Devan hingga Devan menoleh. "Apa, Sayang?"


Auristella menunjuk Lovi. Dahi Devan mengerinyit tidak paham. "Dyyy..." rengek nya yang makin tidak membuat Devan bingung.


"Apa? Daddy tidak mengerti,"


Lovi menatap anak dan suaminya bergantian. Auristella kembali menunjuk Lovi lalu menatap mata Devan dengan dalam. Alis Lovi bertaut.


"Daddy sudah makan," ujar Lovi dengan asal, barangkali maksud Auristella adalah menyuruh Devan untuk makan bersama Lovi.


"Hmmm..." gumamnya lalu kembali fokus pada serial kartun yang sejak tadi menyita perhatiannya hingga sulit sekali disuruh tidur.


"Biasanya habis diberikan obat kamu tidur," gumam Devan seraya mengecup pelipis anaknya.


"Sebentar lagi dia tidur, Devan." rupanya Lovi mendengar suara suaminya hingga Ia menyahuti.


Devan menoleh saat istrinya bicara seperti itu. Lovi mengangguk yakin. Karena terlihat dari mata Auristella yang sudah mulai sayu.


 


Hellawww met malem. Siapa yg masih melek matanya? insom jg kek aku? atau lg begadang krn ngerjain tugas?

__ADS_1


Nillaku dan Addicted Up !


__ADS_2