My Cruel Husband

My Cruel Husband
Extra part 7


__ADS_3

"Kamu kenapa sih membela dia?! aku tidak suka dia memanggil kamu dengan sebutan itu,"


Adrian tersenyum miring mendengar ucapan adiknya kemudian Ia menjawil dagu Auristella.


"Bukan aku yang menyuruh dia untuk memanggil aku begitu. Jangan marah padaku,"


"TAPI KAMU MEMBELANYA!"


"Astaga,"


Adrian sampai tidak jadi menjalankan mobil karena suara Auristella yang menggelegar sangat memekakkan telinga. Ia menatap Auristella dengan tajam.


"Jangan berteriak, Auris. Kamu tidak sopan,"


Auristella mengendalikan kesalnya agar tidak meledak lagi. Ia benar-benar tidak terima saat Adrina memanggil kakaknya seperti itu dan Adrian membela Adrina.


*****


Sore menjemput, Devan bersiap keluar dari kantornya untuk mendatangi butik istrinya yang hari ini sedang banyak pekerjaan sehingga belum bisa pulang lebih cepat darinya, seperti biasa.


Lelaki dewasa beranak tiga itu keluar dari ruangannya dengan langkah pasti. Karyawannya juga akan pulang. Mereka nampak menyapa Devan dan mengatakan hati-hati. Devan hanya menanggapi dengan anggukan dan senyum kecil.


Hari-harinya seperti ini saja. Mungkin menurut sebagian orang monoton. Tapi bagi Devan masa tuanya semakin hari semakin bahagia. Sudah di anugerahi anak-anak yang berprestasi, istri yang begitu pengertian, yang selalu menemani masa-masa sulitnya.


Devan masuk ke dalam mobil. Ada telepon masuk dari istrinya yang langsung Ia jawab.


"Jadi jemput aku di sini?" tanya Lovi di seberang sana.


"Jadi, My Lov."


"Okay, aku tunggu. Hati-hati ya,"


"Ya, sayangku. Bye," terdengar dengusan dari Lovi yang membuat Devan tersenyum. Lovi terkadang risih dengan panggilan-panggilan manis darinya untuk Lovi. Kata Lovi "Kamu sudah tua, tidak usah begitu! tidak cocok lagi tahu?!"


Devan mengerinyit kesal saat Lovi bicara seperti itu. Usia tidak menjadi penghalang untuk nya memperlakukan istri dengan sangat baik dan mesra salah satunya dengan panggilan seperti itu.


*****


Andrean tengah meeting mengenai pembaruan aplikasi belajar berbasis online buatannya. Ia selalu menghadirkan pembaruan-pembaruan dan juga perbaikan agar tidak kalah bersaing dengan aplikasi lainnya.


Menjadi founder sekaligus owner tidak membuat pendidikan Andrean terabaikan. Bahkan setelah sarjana beberapa bulan lagi, Ia akan melanjutkan study yang lebih tinggi lagi agar ilmu yang dia dapat semakin banyak dan bisa Ia pakai dalam kehidupannya.


"Selesai, terimakasih atas kerja sama nya," tutup Andrean sebelum menutup laptopnya dan keluar dari ruangan.

__ADS_1


Andrean diam di ruang kerjanya untuk beberapa menit sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah.


Kewajiban dengan pekerjaan sudah selesai, sekarang waktunya untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.


Andrean meminta tolong pada maid untuk dibuatkan kopi hangat setelah itu Ia membawa mug berisi kopi ke kamarnya. Ia mulai berkutat dengan laptopnya ditemani dengan kopi favoritnya.


Sampai malam datang, lelaki yang menjadi anak sulung Devan dan Lovi itu duduk di depan laptopnya. Mata nya terus menatap fokus tugas yang sedang Ia kerjakan.


Bunyi pintu kamarnya terbuka saja tidak membuat Ia beralih. "Ean, Mommy dan Daddy kenapa belum pulang ya?"


"Telepon saja," jawab Andrean tidak menoleh sama sekali pada lawan bicaranya.


"Sudah, tapi belum dijawab,"


"Ya sudah, nanti aku telepon. Barangkali dijawab,"


"Aaaa Ean! aku sedang bicara padamu. Kenapa kamu sibuk sendiri?"


Auristella duduk di tepi ranjang kakak sulungnya, Ia menatap punggung kakaknya yang masih saja sibuk sendiri.


Auristella sedang memakai masker di wajahnya. Ia bosan menonton televisi sembari menunggu kedua orangtuanya pulang. Jadi Ia memutuskan untuk memakai masker wajah setelah itu mendatangi kamar Andrean.


"Tugasku belum selesai, Auris." jawab Andrean seraya meraih ponsel yang sedari tadi Ia nonaktifkan di samping laptopnya. Ia sengaja menonaktifkan ponsel agar fokusnya tidak pada ponsel melainkan pada kewajiban dari kampusnya yaitu menyelesaikan tugas.


"Tidak di jawab," gumamnya setelah memanggil tiga kali.


"Kemana mereka? aku khawatir, Ean." rengek Auristella. Andrean menoleh dan Ia hampir terjerembab ke lantai saat melihat wajah adiknya. Ia terkejut ketika berbalik malah disambut dengan wajah yang begitu putih seperti memakai cat dinding.


Auristella terbahak melihat kakaknya yang hampir terjatuh. Ia sampai memegangi perutnya dan menunjuk Andrean dengan tawa yang belum juga reda.


"Kalau maskeran di kamar, Auris. Kamu membuatku kaget saja,"


"Andrean--- Astaga, Auris! hih! aku kira hantu,"


Adrian yang baru memasuki kamar kakaknya pun merasa terkejut. Di waktu yang tidak berselang lama, Auristella berhasil membuat kedua kakaknya terkejut.


Tawa Auristella semakin menggelegar. "HAHAHAHA," Ia bahkan sampai lupa kalau sedang maskeran.


"Yah retak masker nya," ujar Adrian yang langsung membuat Auristella diam. Mulut yang tadi terbuka lebar karena tawa langsung tertutup dan suara tawanya lenyap seketika.


Auristella memegang wajahnya sendiri kemudian Ia berteriak kesal. "YAN, EAN! GARA-GARA KALIAN!"


Alis Andrean terangkat bingung. Ia tidak melakukan apapun tapi malah disalahkan. Padahal Auristella yang salah karena menertawakan kakak-kakaknya. Kalau Ia diam, tidak mungkin masker wajahnya rusak.

__ADS_1


Gantian, Adrian yang tertawa terpingkal-pingkal. Ia puas sekali melihat Auristella kesal. Ia merangkum wajah Auristella lalu dibolak-baliknya kanan kiri. Tawanya semakin tidak terkendali.


"HAHAHAH SEPERTI DINDING YANG RETAK KARENA DISERANG GEMPA BUMI,"


*****


Lovi melenguh setelah mendapat pelepasan entah untuk yang ke berapa kalinya.


Ia menyuruh Devan untuk bangkit dari atas tubuhnya. Mereka sudah hampir dua jam bergulat di atas ranjang sebuah hotel.


Entah setan darimana yang menghasut Devan agar membawa istrinya ke sebuah hotel. Saat di butik, Devan mulai mengecup Lovi dengan seduktif. Lovi mengatakan jangan melakukannya di butik, melainkan di rumah saja. Lovi kira suaminya benar-benar akan melakukan itu di rumah. Ternyata Devan malah membawanya ke sebuah hotel yang tidak jauh dari lokasi butiknya.


"Kita menginap di sini, Lov."


"Aku mau pulang!" tegas Lovi. Tempat ternyamannya adalah rumah, sebenarnya Deva pun seperti itu Tapi untuk kali ini Devan ingin mereka berdua menghabiskan waktu satu malam hanya berdua tanpa anak-anak mereka di sekitar mereka.


"Sudah jarang kita berdua seperi ini, Lov. Mereka sudah besar jadi tidak usah terlalu khawatir. Lagipula ada Grandma dan Grandpa mereka yang menjaga,"


Lovi menghembuskan napas, Ia tidak bisa membantah kalau suaminya sudah membujuk begitu lembut seperti ini.


Devan mengeluarkan ponsel dari saku celananya yang Ia lempar ke lantai tadi. Lalu Ia menghubungi Andrean selaku anak sulungnya untuk menyampaikan pesan agar Andrean dan kedua adiknya baik-baik di rumah bersama Lucas dan Senata.


"Hallo, Daddy dimana? dari tadi kami sudah menunggu. Daddy dan Mommy baik-baik saja 'kan?"


Devan dan Lovi tahu betul Andrean sedang khawatir. Walaupun suaranya datar seperti biasa, tapi khawatir itu tak bisa di sembunyikan.


Suara Adrian dan Auristella terdengar menyahuti ucapan Andrean juga.


"Daddy dan Mommy cepat pulang ya," ujar Auristella.


"Tidak biasanya belum sampai rumah sudah malam begini, Dad." tak lama, Adrian pun mengeluarkan suaranya.


Devan berdehem, mengendalikan napasnya yang masih tersengal usai melepas hasrat. Ia menatap Lovi sebentar sebelum menjawab, "Mommy dan Daddy tidak pulang malam ini. Kalian baik-baik ya."


"Kenapa begitu?"


"Daddy dan Mommy harus pulang,"


Protes dari Adrian dan Auristella langsung terdengar. Mereka bertiga kaget dan bingung dengan ucapan Devan.


Tapi Andrean berusaha untuk tidak penasaran dan mengajukan protes. Ia mencoba untuk memahami. Ia tahu, orangtuanya butuh waktu untuk mengenang masa-masa romantis di awal pernikahan.


 

__ADS_1


Hadeehh ank udh perjaka sama remaja tp msh ae geniddh si Devan😂😂


__ADS_2