
Lovi berdecak kagum saat melihat pesawat pribadi Devan di depan sana yang siap untuk mengantar mereka pulang.
Sebentar lagi, Lovi akan kembali ke tempatnya mengabdi, mansion Devan. Ia akan berjumpa lagi dengan para pekerja mansion. Lovi akan berbagi cerita dengan teman-temannya itu mengenai liburan pertama dan terakhirnya sebagai istri Devan saat ini.
Lovi yakin ini terakhir kali Devan membawanya. Lovi membuat lelaki itu tidak nyaman dengan kehadirannya. Bahkan Lovi juga sempat membuat kesalahan dihari mereka sampai di Santorini.
"Bisa perhatikan langkahmu, Bodoh?"
Devan menggenggam jemari Lovi saat istrinya itu hampir terjatuh di undakan terakhir sebelum akhirnya memasuki pesawat.
Pramugari yang menyambut mereka tersenyum hangat. Memberikan Lovi pelayanan terbaik mengingat statusnya adalah pendamping hidup Devan.
Lovi mengerinyit saat lelaki itu ikut duduk di sampingnya tidak seperti keberangkat mereka tempo hari dimana Devan memilih untuk menghindari Lovi.
Melihat tatapan Lovi yang bingung, Devan berujar dengan ketusnya.
"Ada masalah aku duduk di sini?"
Lovi menelan ludahnya pelan. Devan tersinggung karenanya.
"Ini pesawatku,"
Ya, Lovi tentu saja mengetahui fakta itu.
"Maaf, Tuan,"
"Kamu mengusirku?"
Lovi langsung menggeleng panik. Ia tidak mempunyai hak untuk melakukan itu. Dapat menikmati fasilitas pesawat ini saja sudah membuat Lovi sangat bersyukur dan berterima kasih pada Devan. Tidak mungkin ia mengusir pemiliknya.
"Aku tidak akan melakukan itu,"
Devan tidak menjawab. Lelaki itu kini menyandarkan kepalanya dan menutup mata untuk menghilangkan sedikit penat dalam dirinya sebelum akhirnya kembali berkutat dengan segudang pekerjaan yang sudah menantinya di sana.
*********
Lovi membawa kopernya dan Devan, Ferro membawa segala perlengkapan lainnya. Sementara Devan sudah berjalan lebih dulu di depan Lovi memasuki mansionnya.
Begitu melihat senyuman manis kekasihnya, Devan kian mempercepat langkahnya dan langsung berhambur memeluk gadis yang masih setia ditemani kursi rodanya itu.
__ADS_1
"Aku rindu padamu," Ujar Elea begitu kepalanya masuk kedalam dekap hangat Devan.
Usai mengusap sebentar kepala Elea, Devan melepaskan pelukan itu lalu mengusap Wajah cantik gadisnya.
"Aku pun merindukanmu, Sayang,"
Lovi langsung memasuki mansion meninggalkan kemesraan sepasang kekasih itu. Melihat lembutnya sikap Devan pada Elea
membuat hatinya tersayat.
Kini Lovi yakin bahwa ia telah mencintai suaminya. Untuk pertama kalinya ia merasa Jatuh cinta. Dan lelaki yang berhasil menyentuh hatinya itu adalah Devan. Suami yang selama ini menyakiti batin dan fisiknya. Semakin ia ingin pergi dari hidup Devan, hatinya seolah berteriak tidak terima.
Rasa cinta itu yang perlahan meruntuhkan niat Lovi untuk menyerah pada pernikahan sialan ini. Dirinya terluka namun disaat yang bersamaan ia tidak ingin menjauhi kehidupan seorang Devan. Entah sejak kapan lelaki itu mulai mengisi tempat kosong yang terselubung di dalam hati Lovi. Yang jelas saat ini, Lovi akan berusaha kuat berdiri di atas penderitaan yang Devan berikan.
"Bagaimana liburanmu, Lovi?"
Lovi tersenyum saat Rena menyapanya dan ingin membantunya membawa koper besar di kedua tangannya itu.
"Ini berat, Nyonya. Biar aku saja,"
Rena memanggil Netta untuk membantu Lovi yang terlihat sangat kesulitan.
Pekerja yang paling dekat dengan Lovi itu langsung mengerti maksud Rena memanggilnya.
"Berikan padaku, Nona,"
Netta membawa koper Devan sementara Lovi berjalan di belakang dengan kopernya sendiri.
"Aku senang Nona cepat kembali,"
Lovi menyamakan langkahnya saat mereka sudah ada di koridor lantai atas menelusuri satu persatu ruangan di sana.
"Aku kesepian di sana tidak ada teman mengobrol,"
Netta tertawa saat Nona nya mengeluh. Mereka memang sangat dekat dan Netta pun merasakan hal yang sama ketika Lovi tidak ada di sampingnya. Mereka tidak bisa bersenda gurau seperti biasa.
"Taman pun merindukanmu, Nona. Sudah beberapa hari ini tidak di rawat olehmu," Canda Netta yang membuat Lovi tergelak.
"Apa yang Nona lakukan bersama Tuan?"
__ADS_1
Netta langsung membungkam mulutnya saat dirasa ia sudah salah berbicara. Ia mengutuk dirinya sendiri melihat Lovi yang gugup.
"Maaf, Nona. Maksudku..."
"Kami berbeda kamar,"
Ucapan Lovi membuat mulut Netta terbuka. Ia menatap Lovi tidak percaya. Bahkan sampai menghentikan langkahnya sejenak.
"Mengapa?"
Lovi menghela napas pelan dan mengangat bahunya tak ingin membahas.
"Maaf, Nona. Aku terlalu lancang bertanya seperti itu,"
Lovi tersenyum dan menggeleng. Ia mengerti akan hal itu. Netta memang sosok yang akan dengan mudah menyampaikan sesuatu yang mengganjal dihatinya tanpa berpikir lebih lama. Lovi sudah hafal dengan sifat perempuan yang lebih tua darinya itu.
"Tidak masalah. Aku tahu rasa penasaranmu sebesar apa," Ujar Lovi seraya terkekeh.
"Silakan beristirahat, Nona,"
Usai mengantar Istri Tuannya itu, Netta berjalan ke kamar Devan yang jauh dari sana untuk meletakkan koper Lelaki itu.
Saat sampai di depan kamar Devan yang tertutup, Netta mendengar Tuannya sedang berbicara di dalam kamar dengan seorang perempuan yang ia yakini adalah Elea.
"Kamu membuatku gemas. Bersiaplah, Sayang! sebentar lagi aku akan memakanmu," Ucapan Devan didengar jelas oleh Netta sebelum akhirnya teriakan Elea di dalam sana membuat Netta yakin bahwa telah terjadi sesuatu di antara keduanya.
"Devan, Kamu tidak melakukan ini pada siapapun, bukan?"
"Tentu saja tidak. Kamu yang pertama untukku,"
Netta mundur dan meletakkan koper itu di dinding. Menghela napas pelan saat membayangkan betapa sakitnya Lovi bila perempuan itu mengetahui apa yang dilakukan sepasang manusia itu di dalam sana.
Lovi yang sudah hancur lebur akan semakin tak berbentuk saat mendapati kenyataan pahit ini. Netta hampir menangis saat mengingat Lovi, sosok yang begitu baik namun nasib tak sebaik itu ketika berpihak padanya.
***********
Mana nih coment nya? dr kmrn sepi bae :(
plisss jgn minta aku untk ubah alur yaaa hehe. Krn aku udh pnya gambarannya sndri. kalo bosen boleh kok berenti baca story yg ini tp mampir ke story aku yg lain yaaa :p
__ADS_1