
Lovi sudah di izinkan oleh dokter untuk menjalani perawatan di mansion. Namun beberapa hari ke depan akan ada pemeriksaan rutin yang harus di jalani Lovi dan kedua bayinya.
Devan ingin dokter selalu memantau perkembangan anaknya. Sebenarnya Devan belum mengizinkan Lovi keluar dari sana. Namun Lovi selalu adu mulut dengannya mengenai permasalah kecil itu. Yang akhirnya membuat Devan menyerah.
Pagi ini Devan akan kembali menekuni aktifitasnya di perusahaan. Hubungannya dengan Lovi yang kian mendingin membuatnya tidak nyaman berada di mansion. Lebih baik Ia bekerja untuk menghilangkan rasa stresnya.
"Devan,"
"Aku tidak ingin membahas hal itu lagi!" ucap Devan yang sibuk menata dasi di lehernya. Ia mengacuhkan Lovi yang duduk di tepi ranjang usai turun ke bawah menyiapkan sarapan untuk kedua putranya.
Devan menyisir surai hitam lebatnya seraya menatap cermin dimana bayangan Lovi juga terlihat.
"Tapi..."
"Aku tidak ingin membentakmu lagi, Lov. Tolong mengerti!"
Devan berbalik dan berkata dengan penuh peringatan.
"Semuanya perlu kejelasan, Devan. Aku tidak ingin sehidup dan semati bersamamu,"
Lovi yakin itu adalah kalimat paling kejam yang pernah dilontarkannya untuk Devan. Lovi menggigit lidahnya sendiri. Niat hati ingin menyakiti Devan, namun dirinya lebih merasakan itu.
Devan menatap Lovi lurus. Ia mencari segala kebenarannya. Ia mencari letak kebohongan yang mungkin saja baru Lovi lakukan. Devan yakin bukan itu yang diinginkan Lovi.
"Apa yang membuatmu tidak menginginkan hal itu?"
"Aku tidak bisa bersamamu," jawab Lovi dengan gelengan kepalanya. Ia menangis pilu.
"Apa alasannya?! Katakan padaku!!" teriakan Devan memenuhi sudut kamar. Matanya merah menatap penuh luka. Air matanya pun tak terbendung lagi. Hatinya teriris begitu Lovi mengeluarkan kalimat itu.
__ADS_1
"Kamu jahat, Devan!!"
Devan tidak terima dengan jawaban itu. Ia menginginkan alasan yang jelas. Dengan langkah pasti Ia mendekati Lovi dan berdiri menjulang di depannya.
"Aku sudah berusaha untuk merubahnya, Lovi. Kamu masih belum bisa menerimaku?"
Sepertinya perdebatan mereka akan berlangsung cukup panjang. Adrian dan Andrean dibawa oleh Rena untuk menikmati sinar mentari pagi yang baik untuk kesehatan mereka. Sementara Raihan sudah pergi sejak pagi buta.
"Apa tujuan kamu mempertahankan ini semua?" Lovi menantang Devan dengan dagunya yang terangkat. Ia harus mendengar jawaban Devan.
Devan menunduk untuk meraih dagu Istrinya. Devan menelisik satu persatu manik Lovi.
"Kalian kebahagiaanku," jawab Devan dengan tegas.
Lovi tersenyum masih dengan air matanya.
Devan menghempas wajah Lovi karena terlalu emosi. Bahkan rintihan Lovi saja di hiraukannya.
"Beraninya kamu menyebut nama perempuan lain dalam pembicaraan kita," geraman Devan terdengar mengerikan di telinga Lovi.
Lovi masih meringis seraya mengusap dagunya yang tadi terpelanting karena ulah suaminya.
"Kamu tidak akan bereaksi seperti itu kalau memang benar aku dan kedua anakku yang menjadi kebahagiaanmu,"
Lovi sudah menyangka kalau reaksi Devan akan seperti itu ketika nama Elea di sebutnya. Devan masih memiliki perasaan cinta untuk Elea.
"Aku tidak suka kamu mengingat Elea, Lov!"
"Apa yang salah? seharusnya kamu tidak berlebihan seperti ini, Devan!! Kecuali kalau kamu masih mengharapakan dia,"
__ADS_1
Lovi mengatakannya dengan acuh. Namun ada perasaan tidak rela yang membelenggunya.
"Kamu berbicara apa Lovi? Aku tidak lagi mengingat dia. Elea siapa?"
Lovi ingin tertawa rasanya. Mengapa Devan sangat pandai berpura-pura? Lovi masih ingat betul ucapan Raihan yang menginginkan Lovi untuk selalu mendampingi Devan. Karena Elea dan Devan kembali dekat akhir-akhir ini.
"Kamu pikir aku tidak tahu kalau kalian sempat beberapa kali bertemu? entah itu disengaja atau memang sudah kalian rencanakan, yang jelas aku muak dengan semua kebohonganmu," Lovi tidak main-main dengan ucapannya. Bosan dengan semua perilaku manis dan omong kosong yang ditunjukkan Devan padanya.
"Untuk apa aku mengatakannya padamu? itu tidak penting, Lovi!!"
"Semua hal kamu anggap tidak penting. Lalu apa yang menurutmu penting? dari pembicaraan ini saja aku sudah tahu kalau pernikahan pun tidak artinya bagimu,"
Lovi akan bangkit namun Devan menekan bahunya agar tetap duduk di tepi ranjang. Tatapan Devan yang tidak ingin di bantah membuat Lovi kembali mematuhinya.
"Elea bukan lagi bagian dari hidupku. Kami hanya berteman, Lov,"
"Ya, aku tahu setidaknya hubungan pertemanan jauh lebih baik untuk dilanjutkan daripada hubungan antara Tuan dan jalangnya,"
Hati Devan tertusuk penuh luka. Ia tidak bisa mendengar Lovi yang merendahkan dirinya sendiri. Dulu, perkataan itu sudah menjadi makanan sehari-hari yang harus Lovi telan. Devan selalu merendahkannya lewat perlakuan maupun perkataannya. Lovi tidak ada harganya di mata Devan.
"Tidak ada yang bisa dilanjutkan dari hubungan kami. Dia sudah menyakitimu, itu artinya tidak ada lagi tali pengikat diantara aku dan dia,"
Devan bahkan sudah mengucapkan sumpah pada dirinya sendiri. Sampai saat ini Ia belum bisa menerima kesalahan Elea yang lampau. Elea sudah menyakiti belahan jiwanya. Elea bukan lagi gadis Devan. Ia adalah orang asing dalam hidup Devan. Hanya Lovi, Adrian dan Andrean yang saat ini memenuhi pikiran Devan.
"Perdebatan kita selesai sampai di sini, Lovi. Kalau memang kamu perlu waktu untuk menerimaku, maka aku berikan. Dan kita tidak perlu berpisah,"
************
Wahaii pembacaku yg budiman trmksh ats dukungannya😅😅 jgn bozen yaww baca Devan&Lovi. Jgn bosen jg untk komen, like, dan vote.
__ADS_1