My Cruel Husband

My Cruel Husband
Daddy akan datang


__ADS_3

Rena dan Raihan memasuki rumah sakit dimana kedua cucu mereka dirawat. Staf rumah sakit tampak menunduk segan guna menyambut mereka.


Berbeda dengan sang suami yang tampak menyeramkan dengan aura dinginnya, Rena justru terlihat memberikan senyumannya pada semua orang yang menyapanya di sana.


"Mereka melihatmu bagaikan hantu, Pa!"


Rena hanya memberi tahu pandangan orang-orang pada suaminya. Ketika tatapan mereka bertemu dengan Raihan, mereka semua seperti orang kaku yang dibekukan.


"Aku tidak peduli tentang mereka,"


"Aku tahu kamu begitu khawatir sekarang,"


"Tentu saja, Ma. Kedua cucuku sakit sampai harus dirawat di sini. Dan kita semua tidak ada yang tahu. Bahkan Devan sekalipun,"


Rena mengangguk dalam diam. Bukan hanya Raihan yang merasa terpukul. Ia pun merasa sedih ketika Andrean dan Adrian dikabarkan sakit oleh putra kandungnya yang justru tidak melakukan apapun ketika mendapat kabar tersebut.


Apa panggilan yang tepat untuk disematkan pada Devan?


"Aku akan memberi tahu semuanya pada Lovi. Agar dia semakin membenci Devan,"


"Maksudmu?" Raihan menoleh seketika. Rupanya Ia lupa dengan masa lalu yang pernah terjadi ditengah keluarga mereka. Hal itu membuat Rena tersenyum miring.


"Kau pikir aku lupa? kecelakaan yang dialami Lovi, siapa pelakunya? Elea bukan? lalu kenapa kalian masih bertahan dalam diam? menyembunyikan sesuatu dalam sebuah pernikahan bukanlah hal yang seharusnya dilakuan oleh sepasang suami istri. Devan sudah keterlaluan. Bisa-bisanya diam saja disaat orang yang mencelakai istrinya hidup bebas di luar sana,"


Rena berjalan seraya berbicara dengan tenang. Orang lain tidak perlu tahu permasalahan apa yang sedang dibahasnya.


Wanita itu menatap suaminya tajam. Biar bagaimanapun Raihan adalah remot kontrol yang masih mengendalikan Devan.


"Aku rasa bukan hanya Devan yang salah dalam hal ini. Kalau kau punya otak..." Ia menekan kalimatnya. Kemudian melanjutkan,


"Didik anakmu dengan baik. Jangan menjadi pecund*ng seperti ini. Meninggalkan anak dan istri tanpa perasaan bersalah, kira-kira aku harus memanggilnya apa?"


**************


"GRANDPA, CEPAT KE SINI!" teriakan nyaring langsung terdengar menyambut Raihan dan Rena yang baru saja memasuki ruang perawatan Andrean dan Adiknya.


Mata Rena beralih pada Lovi yang langsung mengangkat kepalanya dari tepi bangsal anak-anaknya, terbangun dari tidur. Rupanya perempuan itu terkejut mendengar suara anaknya yang bungsu.


"Grandpa membawa mainan,"


"YEAAAYY,"


Adrian langsung meraih kedua papper bag yang diserahkan oleh kakeknya. Matanya berbinar ketika menatap beberapa mainan barunya.


"Itu punyaku, Adrian!" dengan menggebu Andrean berusaha meraih papper bag miliknya.


Sebentar lagi akan terjadi perdebatan. Dan hanya Lovi yang berhak untuk memberi peringatan pada mereka. Khususnya Adrian yang terlihat seperti anak serakah.


Raihan melirik menantunya. Kalau Ia yang menegur, bisa-bisa kalimat tajamnya keluar.


"Kamu sudah punya, jadi kakak pun harus puny, Adrian! kembalikan millik kakak!"


Tanpa ada perlawanan Adrian melakukan titah Mommynya. Si bungsu itu menampilkan senyum terbaik pada sang kakak.


"Berhubung aku baik, jadi aku beri kamu itu,"


Andrean mendengus.


"Ini memang punyaku. Apanya yang baik?"

__ADS_1


Ada banyak mainan baru yang seharusnya lebih Ia perhatikan. Oleh karena itu Adrian tidak menjawab kakaknya. Ia mulai sibuk mengeluarkan satu persatu maianan pemberian Raihan.


"Ini kereta yang aku mau, Grandpa."


"Kau menyukainya?"


Adrian mengangguk antusias. Ia mengangkat tinggi-tinggi miniatur kereta yang lumayan besar itu.


"Waktu itu Daddy pernah janji akan membawa ini untukku setelah pulang bekerja,"


nadanya berubah murung. Senyum yang sejak tadi terbit perlahan sirna. Rena merasakan sengatan aneh di sudut hatinya. Lagi-lagi Devan membuang sia-sia kesempatan yang diberikan Tuhan. Dapat memiliki anak sepintar mereka benar-benar sesuatu yang patut untuk disyukuri.


"Grandma! bawa Daddy ke sini. Daddy takut pada Grandma, bukan?"


Rena mengerjap terkejut. Pikirannya yang sejak tadi berkeliaran entah kemana kini kembali lagi.


"Daddy akan datang. Tapi bukan sekarang,"


"Kapan?! Daddy kenapa jadi pembohong terus sih? kata Mommy, Daddy akan datang kalau aku tidak nakal. Sekarang aku tidak nakal lagi tapi Daddy belum juga datang,"


"Adrian! bicara yang baik!"


Lovi merasa tidak salah dalam mendidik anaknya dengan cara yang seperti ini. Bila mereka salah, maka sudah sepatutnya untuk ditegur. Adrian saat ini sedang berbicara dengan neneknya. Tidak seharusnya Ia menggunakan nada keras seperti tadi.


"Dikutuk Tuhan nanti kalau bicara kasar pada orangtua," Andrean memberi pengertian pada adiknya yang kini merajuk.


"Adrian tidur sekarang! kamu belum tidur sejak tadi,"


Wajah menggemaskan itu kian menekuk. Raihan diam-diam menahan senyumnya. Sepertinya jiwa pemberontak milik Devan sudah diwariskan pada si bungsu itu.


Lovi meletakkan mainan Adrian di atas nakas. Lalu meminta Adrian untuk segera berbaring. Perempuan itu juga menyelimuti anaknya.


"Kamu boleh melakukan apapun,"


Andrean bersorak senang mengindahkan adiknya yang masih merasa dongkol.


Lovi tidak bermaksud untuk membatasi waktu bermain anak-anaknya. Namun mereka sangat membutuhkan istirahat yang cukup.


"Dimana Serry? kamu bersama Serry, bukan?" tanya Rena pada Lovi. Sejak tadi ruangan itu hanya di isi oleh mereka. Dimana pelayan yang seharusnya selalu ada di samping Lovi?


"Sedang makan di luar, Ma. Sebentar lagi akan kembali,"


"Bisa kita bicara di luar, Lovi?"


suara dingin Raihan membuat Lovi menelan ludahnya kaku. Benar dugaannya sejak tadi. Kedatangan Raihan dan Rena pasti ada tujuannya. Apakah mereka berniat untuk membuat Lovi berubah pikiran?


"Setelah Serry datang ya, Pa? tidak ada yang menjaga mereka,"


Hanya selang beberapa detik, bunyi pintu terdengar hingga ketiganya menoleh. Serry tampak memasuki ruangan dengan canggung. Ia terkejut begitu Tuan dan Nyonya besarnya ada di dalam ruangan yang sama dengannya.


"Tolong jaga mereka sebentar, Serry."


"Baik, Tuan."


************


"Papa tidak menduga sebesar itu keberanianmu, Lovi."


Raihan duduk di kursi yang berada di luar ruang perawatan cucunya dengan tenang bersama Rena. Lovi baru saja keluar dan langsung menutup pintu ruangan anaknya.

__ADS_1


"Mama tau betapa sulitnya mengurus dua anak tanpa adanya suami. Dan kamu bisa melakukan itu,"


"Kamu tidak memberi tau pada kami mengenai kondisi mereka. Itu adalah hal yang salah, Lovi. Sebesar apapun masalahmu dengan Devan, tidak seharusnya kamu memutus komunikasi dengan kami,"


Lovi menunduk dalam. Ternyata keputusannya untuk menjauh adalah hal yang salah menurut mereka. Lantas apa yang harus dia lakukan di saat tidak ada satu orangpun yang bertanya mengenai kondisi Andrean dn Adrian. Mereka yang seolah tutup telinga membuat Lovi yakin kalau kedua anaknya tidaklah penting bagi kedua sosok sosialita di hadapannya saat ini.


Suasana hening beberapa saat. Sampai akhirnya Rena menyelami topik pembicaraan lain.


"Mengenai perceraian... Devan sudah menceritakan semuanya pada Mama,"


Rena menghela napas sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.


"Kamu yakin, Lovi?" tanya Rena dengan pelan. Biar bagaimanapun perceraian yang di alami oleh anaknya adalah hal paling pahit yang harus Ia terima. Setelah proses perceraian usai, Ia yakin akan kembali melihat sosok Devan yang hancur.


"Yakin, Ma. Aku berusaha baik-baik saja saat Devan akhir-akhir ini selalu pulang malam. Setelah itu bersikap aneh padaku, seolah aku memiliki kesalahan yang sangat besar sampai-sampai ingin mengajakku berbicara saja dia enggan,"


Suara Lovi bergetar. Lovi sendiri tidak mengerti dengan ujung pangkal permasalahan yang menimpa rumah tangganya.


"Sampai pada malam itu Devan meninggalkan rumah. Tak lama, Andrean dan Adrian sakit hingga kejang. Kondisi itu yang membuat aku semakin membenci Devan. Aku membutuhkannya, tapi dia tidak melakukan apapun. Sampai kemarin pun, dia masih bersikap layaknya bajing*n. Deni datang ke sini untuk mengetahui kabar aku dan anak-anakku. Itu semua permintaan Devan,"


Raihan dan Istrinya hanya bisa diam mendengarkan keluh kesah yang dialami Lovi beberapa hari ini.


"Dia tidak tau kalau anaknya setiap saat bertanya mengenai kehadirannya. Setiap malam, Adrian selalu berharap esok pagi bisa menemukan Devan yang tertidur di sampingnya,"


FLASBACK ON


"Aku sudah tidak nakal lagi, Mommy. Tapi kenapa Daddy belum juga datang?"


Lovi tersenyum berusaha menutupi kesedihannya. Ia mengusap lembut kepala anak bungsunya.


"Teruslah seperti itu, maka Daddy akan datang,"


"Mommy dan Daddy selalu kompak berbohong,"


Adrian berbaring menunggungi Lovi. Hal itu semakin membuat Lovi merasa sakit. Ini semua bukan keinginannya.


"Semoga besok pagi aku bisa melihat Daddy tidur di sampingku,"


FLASHBACK OFF


"Kami mendukung apapun keputusanmu," ucap Rena setelah Ia memeluk Lovi dengan hangat.


"Devan memang harus diberi pelajaran,"


Raihan sebagai lelaki, sebenarnya merasa egonya terluka ketika Rena berbicara seperti itu. Ia merasa bukan hanya Devan yang salah di sini. Kalau saja Lovi dan Devan tidak keras dengan pendirian masing-masing, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Akhir dari pernikahan mereka pun akan bahagia.


Setelah cerai, lalu apa lagi? mengurus anak bersama-sama? apakah bisa?


Mereka tidak bisa lagi mendeklarasikan diri sebagai 'kita'. Devan dan Lovi harus berakhir menjadi 'aku' dan 'kamu' yang pernah bersatu atas kehendak Tuhan.


Pernikahan mereka hanya ditakdirkan sampai mempunyai dua anak. Tidak bisa lebih dari itu.


Andrean dan Adrian akan menjadi korban keegoisan orangtua setelah ini.


"Lakukan apapun yang menurutmu baik, Lovi. Karena Mama pun membenci Devan yang seperti itu,"


*********


Mon maap yaa aku br up. Akutu sakit gengss

__ADS_1


:( makanya ilang dr peredaran wp sm noveltoon wkwk. Gk tau nih kpn up lg. Trgantung dukungan kelean :)


__ADS_2