
Adrian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia memejamkan mata merasakan sejuknya pendingin udara di dalam mobil Devan.
"Kenapa keringatan? melakukan apa tadi?"
"Bermain sepak bola,"
"Bukannya tidak ada jadwal untuk itu?"
"Daddy lama menjemputnya. Jadi aku dan Andrean bermain dulu,"
Devan menggeleng heran. Mereka lebih memilih untuk merasakan lelah daripada sabar menunggu di ruangan khusus yang sangat nyaman untuk anak-anak yang belum dijemput.
"Minum dulu,"
"Habis minumnya,"
"Ambil punya Daddy,"
Sebelum melajukan mobilnya Devan meraih tisu untuk menghapus jejak keringat di kening kedua anaknya.
Andrean meraih botol minum Devan terlebih dahulu, tetapi Adrian merebutnya. Ia seperti orang yang tidak minum satu minggu saja.
"Aku dulu--"
"Kakak mengalah pada adik, Begitu konsepnya, ingat kata Mommy?"
Andrean memutar bola matanya lalu membiarkan adiknya itu meneguk air minum. Setelah puas, Ia menyerahkannya pada Andrean.
Andrean segera berseru kesal, "Bagaimana rasa hausku bisa hilang kalau hanya satu tetes begini? kamu rakus!"
Ia menutup botol tersebut lalu bersandar di mobil dengan perasaan kesal luar biasa. Ia sedang kelelahan, haus, tapi malah dipancing untuk marah-marah.
"Adrian tidak boleh begitu! kamu tidak kasihan melihat kakakmu kehausan?!"
Adrian menggeleng polos. Devan berdecak kesal, sekaligus gemas. Ingin sekali menggigit pipi Adrian yang bulat itu sampai Adrian kesakitan dan jera. Tapi Ia masih punya hati dan otak.
"Nanti kita beli minum dulu ya? Andrean mau apa?"
"Aku tidak ditanya juga?"
"Untuk apa? perutmu sudah penuh dengan air, hati-hati meletus."
"Daddy, aku juga masih haus."
"Botol itu hampir penuh dan tersisa satu tetes saja setelah kamu minum, tapi kamu masih haus?"
"Botolnya--" Ia akan membantah tapi Devan menatapnya tajam.
"Itu botol besar, Adrian. Malah sangat besar untuk seusia kamu," ujar Devan dengan gemas.
"Ya sudah, biar tidak ribut lagi, besok Daddy bawa dispenser ke dalam mobil. Biar Andrean tidak kehabisan minum,"
__ADS_1
Saran yang terdengar tepat untuk mengatasi keributan yang didasari oleh air minum. Mungkin mulai besok, Devan akan meletakkan air minum sebanyak-banyaknya agar tidak ada lagi perdebatan karena masalah kecil seperti ini.
*******
Adrian dan Andrean tampak bingung melihat-lihat sekelilingnya. Mobil Devan berhenti tepat di depan rumah Lucas yang tertutup.
Adrian yang duduk di tengah menyentuh bahu Daddy-nya untuk bertanya, "Ini rumah siapa, Dad?"
"Kita belum pernah ke sini sepertinya,"
"Memang belum. Ini pertama kalinya,"
"Ayo, turun." Devan mengajak anaknya untuk keluar dari mobil. Andrean dan Adrian saling tatap sebentar sebelum suara Devan kembali menginterupsi.
"Ini rumah Grandpa Lucas,"
"Siapa dia?"
"Kakek kalian juga,"
"Huh?"
Belum sempat Devan menjawab lagi, Lucas membuka pintu rumahnya lalu mempersilahkan mereka untuk masuk. Devan menggenggam tangan kedua putranya yang masih kebingungan itu.
Devan mengisyaratkan kedua anaknya untuk memeluk Lucas. Walaupun terlihat masih ragu, tapi keduanya tetap melakukan apa yang disuruh oleh Devan. Lucas tersenyum haru, Ia mengusap bahu kedua cucunya dan mereka tidak menolak.
"Siapa namamu?"
"Aku, Andrean."
"Aku belum bisa membawa Auristella ke sini. Dia baru saja sembuh dari sakitnya. Aku pasti akan mempertemukan kalian tapi tidak sekarang,"
Lucas mengangguk tidak mempermasalahkan. Bertemu dengan Andrean dan Adrian saja Ia sudah bahagia sekali. Apalagi jika di lain kesempatan Ia bisa memeluk Auristella juga.
"Terima kasih sudah mau datang ke rumah Grandpa yang sangat kecil ini."
Mereka duduk dengan tenang. Seperti biasa, bila berada di tempat yang asing, mereka akan menatap suasananya. Walaupun kecil, Andrean dan Adrian merasa nyaman. Mereka tidak memandang rendah, justru rasanya ingin tinggal di sana untuk beberapa saat.
"Aku berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan cucuku yang perempuan. Dan---Ibunya juga,"
Devan bisa menangkap kesedihan di akhir kalimat Lucas. Lucas merindukan putrinya. Tapi entah kapan Devan bisa mencairkan emosi sang istri.
"Kakek baru habis sakit?" tanya Adrian yang perlahan tidak canggung lagi.
"Hmm... maksudku Grandpa." Ia mengoreksi panggilannya tadi yang salah. Adrian belum terbiasa. Yang selama ini Ia tahu adalah Grandpa-nya hanya satu, yaitu Raihan.
"Ya, sekarang sudah sembuh."
Andrean mengusap punggung tangan Lucas yang dibalut dengan kain kassa berwarna putih dan plester.
"Lain kali datang ke rumah Adrian ya? kita main di sana. Sekarang Adrian tidak membawa mainan sama sekali,"
__ADS_1
"Dad, kapan kita akan kembali ke rumah? ajak Grandpa jangan lupa,"
"Grandpa Lucas tinggal di rumah Adrian saja. Biar lebih dekat dengan Adrian. Rumah ini terlalu jauh. Kalau Adrian ingin main bersama bagaimana?"
Lucas tidak bisa berkata apapun. Begitu juga dengan Devan. Ia tidak menyangka bahwa akan seperti ini reaksi Adrian ketika bertemu dengan kakeknya yang lain.
Di awal mungkin terlihat dingin, tetapi selang beberapa menit sudah berani mengambil keputusan yaitu mengajak Lucas untuk tinggal bersamanya.
"Saat kita di mansion ada Grandpa Rai yang menjadi teman main, kalau di rumah ada Grandpa Lucas. Jadi lengkap," Andrean menambahkan.
Devan mengusap kepala anaknya. "Bujuk terus Grandpa Lucas," Ia mendukung keinginan Adrian dan Andrean.
"Berapa usia kalian?"
"Hampir lima tahun. Saat ulang tahun nanti, Grandpa datang ya?"
"Kapan?"
"Hmm... kapan ya, Dad?"
"Lupa dengan tanggal lahir sendiri?"
Adrian berbisik pada Lucas. Entah apa tujuannya. Padahal itu pertanyaan mudah tapi menjawabnya dibuat rumit.
"Grandpa pasti datang. Doakan Grandpa selalu sehat ya?"
"Mulai sekarang nama Grandpa akan aku sebut dalam doaku,"
Kalimat Andrean berhasil membuat hati siapapun yang mendengarnya tersentuh.
"Jangan terlalu sering mengganggu adik. Kasihan, dia masih kecil."
"Tidak lagi, Grandpa. Karena Auris baru saja sembuh,"
"Oh jadi masih ada keinginan untuk membuat adik menangis ya?" sahut Devan yang tidak terima.
"Kalau sudah sehat benar, Adrian tidak bisa menjamin,"
Pertemuan mereka yang hanya beberapa menit itu terasa menyenangkan. Selain banyak berbincang mengenai topik-topik yang ringan bersama kedua cucunya, Lucas juga selalu menasihati mereka. Terutama Adrian yang sudah Ia hafal betul sifatnya walaupun baru kali ini bertemu. Di dengar dari cerita-cerita Andrean dan Adrian sendiri, Cucu keduanya ini adalah anak yang suka menciptakan keributan, tidak bisa diam tetapi bisa menghibur orang dengan tingkah konyolnya walaupun terkadang menyebalkan.
*********
Selama dalam perjalanan menuju mansion, Adrian tidak henti membicarakan Lucas. Waktu pertemuan mereka hanya singkat. Lucas lebih banyak mengajak mereka berbincang. Saat Adrian meminta diantar ke taman yang tidak jauh dari rumah Lucas untuk bermain di sana, Devan melarang karena Lucas baru saja sehat.
"Andrean meminta Grandpa untuk tinggal di rumah kita karena rumah Grandpa terlalu kecil, Daddy. Walaupun nyaman, tapi Andrean tidak tega. Grandpa tinggal sendiri di rumah yang kecil itu lalu harus menjadi supir pribadi juga untuk mencari uang,"
"Nanti kita bicarakan lagi dengan Grandpa. Semoga Grandpa mau. Jangan lupa bujuk Mommy,"
"Mommy tidak setuju? kenapa Mommy jahat?" tanya Adrian yang tiba-tiba saja tidak senang dengan kalimat Devan yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Lovi tidak akan setuju sehingga harus dibujuk juga.
"Bukan jahat, rayu Mommy supaya ikut membujuk Grandpa. Kalau hanya kita bertiga, mungkin Grandpa tidak akan mau,"
__ADS_1
-------