My Cruel Husband

My Cruel Husband
Menghabiskan waktu berdua di taman


__ADS_3

"Mommy mau mandi bersama Daddy?"


"Huh?"


Lovi terperangah mendengar pertanyaan Andrean. Ia mendehem sebentar sebelum menjawab.


"Daddy sakit, jadi harus Mommy bantu mandinya,"


"Oh iya, benar."


Andrean tersenyum tipis seraya menatap Devan dengan raut geli. "Daddy seperti anak kecil lagi ya,"


Anak itu langsung keluar dan Ia sempat mendengar Mommy-nya berseru, "Sarapan dulu."


"Iya, Mom."


Devan menggeleng melihat kepergian anaknya. Sekarang mereka berdua paling pintar meledeknya. Ah biarkan saja yang terpenting Ia bisa dimandikan oleh Lovi. Kapan lagi bisa dimanja sampai mandi saja dibantu. Devan tertawa dalam hati.


Lovi membantu suaminya berjalan ke kamar mandi padahal Devan sudah kuat berdiri. "Buka bajunya!" Titah Lovi yang mengundang senyum jahil Devan. "Tidak sabaran sekali. Kenapa buru-buru sih? Santai saja,"


Lovi hanya melirik suaminya, tidak membalas ucapan lelaki itu yang terkesan genit.


Lovi mengangkat shower lalu menunjukkannya pada Devan. "Mau langsung aku siram saja seperti tanaman? Tidak usah buka baju lah ya,"


"Jangan, Sayangku. Kamu aneh-aneh saja. Mandi ya harus buka baju,"


"Ya sudah, cepat. Tidak usah liar begitu matanya," ujar Lovi menyindir Devan yang menatap lapar tubuhnya padahal Lovi memakai baju dan celana panjang untuk bersantai di rumah yang modelnya seperti baju tidur.


Apapun yang dikenakan Lovi mampu memikat mata dan hati Devan. Sekalipun sederhana dan tertutup. Karena Lovi punya pesona sendiri yang hanya bisa dilihat dan dinikmati oleh suaminya meskipun menurut orang lain penampilannya terlalu sederhana.


*******


"Wow ada telur acak-acakan,"


"Scrambled egg," koreksi Andrean setelah mendengar sebutan Adrian untuk sarapan mereka pagi ini.


Rena dan Senata sudah menunggu di meja makan. Melihat tak ada kakeknya, Andrean bertanya, "Grandpa dimana?"


"Sudah berangkat, Sayang. Karena sebelum ke kantornya, Grandpa mau ke kantor Daddy kalian dulu,"


"Ngapain? Mau jadi Daddy?"


Mungkin maksud Adrian, Raihan mau menggantikan Devan bekerja karena hari ini Devan belum diizinkan oleh Lovi untuk bekerja.


"Mau memantau sebentar,"


"Oh, karena Daddy sakit ya, Grandma? Jadi Grandpa yang pantau pekerjaan?"


"Iya, Sayang."


"Lalu pekerjaan Daddy siapa yang menyelesaikannya?" Tanya Andrean dengan raut penasaran. Yang Ia tahu pekerjaan Devan setiap harinya sangat banyak, kalau sakit seperti ini, siapa yang menyelesaikannya? Atau ditimbun sampai Daddy-nya sembuh dan bisa mengerjakan itu semua? Huh kasihan sekali Daddy-nya itu.


"Dikerjakan oleh Dashinta dan Ferro. Oleh sebab itu Grandpa mau mengeceknya,"


Raihan harus memastikan roda perusahaan tetap berjalan lancar meskipun tanpa Devan. Ia harus melihat sendiri bagaimana keadaan di kantor setelah pekerjaan dilimpahkan pada orang-orang yang dipercaya Devan.


Mereka berdua mengangguk. Dan mulai menyantap sarapan dengan tenang sembari menonton serial kartun yang biasanya tayang setiap pagi. Gunanya ada televisi di ruang makan agar saat makan bisa sesekali menonton. Terutama Adrean dan Adrian yang bila diiringi dengan kegiatan menonton, terkadang makanan nya malah cepat habis.


"Aduh bahaya ini,"


"Kenapa, Rena?"


"Mereka kalau sudah menonton tidak lirik kanan kiri lagi sama seperti saat bermain game,"


Senata terkekeh kecil mendengar ucapan Rena yang memang benar. "Devan harus mengangkut semua televisi ke dalam gudang,"


Kedua cucunya langsung menoleh cepat. Mereka menatap Rena dengan pandangan menuntut penjelasan dan dahi yang mengerinyit.


"Nanti jadi terlalu---"


"Kan tidak mengganggu waktu belajar, Grandma."


Andrean yang memang sangat suka menonton langsung mengajukan protes. Ia tetap belajar, makan, dan istirahat tepat waktu sekalipun suka menonton.


"Memang tidak mempengaruhi?"


"Tidak," jawab Andrean yakin.


"Grandma dengar ada yang nilai tes nya turun kemarin,"


"Memang iya? Siapa, Grandma? Aku?" Andrean panik seketika walaupun masih datar-datar saja. Tapi sorot matanya tak bisa bohong.


"Kalian berdua sama saja. Kira-kira karena apa itu? Kalau Adrian sepertinya karena terlau banyak bermain robot, kalau Andrean?"


"Bukan karena menonton, Grandma." Sama seperti adiknya, kalau Andrean berdebat pasti keras kepala mempertahankan opininya. Tapi cara mereka berbeda. Adrian tidak ada santainya sama sekali. Kalau Andrean bisa setenang itu dalam hal berdebat.


"Lalu karena apa? Grandma rasa karena televisi. Saat makan saja tidak bisa fokus karena menonton, berarti belajar juga bisa jadi seperti itu,"


Hasil tes yang baru mereka jalani beberapa hari lalu memang sudah keluar dan langsung sampai ke telinga orangtua. Dan seharusnya kemarin adalah waktunya Lovi mengambil hasil-hasil tes kedua anaknya namun karena Devan sakit, jadi terpaksa gagal.


Namun tadi malam Lovi meminta gambarannya saja pada Acha karena sepertinya hari ini Ia masih belum bisa pergi ke sekolah Andrean dan Adrian. Dapatlah kabar yang disebutkan Rena tadi.


"Sebelum tes, kita sempat berlibur dulu. Dan aku rasa waktu belajar nya kurang,"


"Biasanya kamu tidak seperti itu. Lagipula setelah berlibur masih ada waktu beberapa hari sebelum menjalani tes,"


Andrean terdiam membenarkan dalam hatinya. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa hasilnya menurun.


"Kalau Adrian juga menurun, Grandma?"


"Iya, kalian sama saja."


Begitu kata Lovi tadi. Sedikit membuat Lovi kecewa tapi Lovi mengerti kalau mempertahankan memang jauh lebih sulit daripada mencapainya. Prestasi memang ada naik dan turunnya tergantung pada sulit atau mudahnya memahami materi yang dipelajari dan semangat yang dimiliki.


*****


"Aku saja, Lov."


Lovi membasuh tubuh suaminya yang masih berbalut celana tidur. Devan baru saja membersihkan tubuhnya dengan sabun.


"Kenapa tidak sekalian saja celananya dibuka?"


"Kamu keluar dulu, aku tidak bisa kalau ada kamu di sini, Lov."


Mendengar ucapan suaminya, tawa Lovi meledak. Giliran diperkenankan, Devan malah mundur. Padahal sejak tadi seolah menantang Lovi.


"Jangan tertawa. Aku bukannya malu, tapi takut tidak bisa menahan diri,"


"Hmm ya sudah. Aku keluar sekarang?"


"Iya, punggungku sudah tidak ada sabun lagi 'kan?"


"Sudah bersih semua..." Lovi menggantung ucapannya lalu matanya beralih pada bagian bawah tubuh devan yang masih tertutup.


"Tinggal yang bawah,"


Devan segera meraih bibir istrinya yang sengaja menggodanya itu. Ia tahu betul sebesar apa nyali Lovi. Paling kalau Ia membuka celana di hadapan Lovi, maka secepat kilat Lovi akan kabur.


"Kamu tidak usah berlagak nakal begitu. Melihat aku membuka tali pinggang saja langsung gemetar,"


"Hih sembarangan!"


"Memang iya. Dan bukan hanya itu, kalau aku keluar dari kamar mandi bertelanjang dada kamu pasti mengalihkan pandangan,"


Gantian Devan yang menjahili istrinya. Lovi tidak bisa menahan rona merah di wajahnya. Ia segera keluar dan Devan terkekeh kencang di kamar mandi.


Sementara mereka berdua sibuk menertawakan kepolosan Lovi, kedua anak mereka sudah menunggu di dalam kamar untuk berpamitan.


"Mom, kenapa Daddy tertawa di kamar mandi?"


"Tidak, Sayang. Daddy baru saja bertemu dengan saudaranya,"


"Huh? Siapa?"

__ADS_1


"Kecoa, Daddy lagi senang-senangnya temu kangen dengan saudaranya itu,"


Adrian tak bisa menahan tawanya. Sementara Andrean menyahuti, "Sejak kapan ada kecoa di kamar mandi kita? Mommy mengarang cerita." Jelas-jelas tidak pernah ditemukan serangga di lingkungan tempat tinggal mereka.


"Kalian sudah mau berangkat?"


"Iya, Mom."


Lovi segera mencium pucuk kepala kedua anaknya. Mereka berdua mengecup pipi, dagu, dan kening Lovi.


"Hati-hati ya," pesan Lovi seraya mengusap kepala mereka. Lovi akan mengantar mereka ke mobil.


"Bekal dihabiskan seperti biasa ya,"


"Iya, Mom."


"Titip cium untuk Daddy ya. Kalau menunggu Daddy selesai mandi, nanti aku terlambat," Lovi mengangguk pada Adrian.


Sekali lagi Lovi mengusap kepala mereka. Setiap mereka meninggalkan mansion, Lovi memang berat sekali melepasnya. Terasa tidak rela jauh dari kedua anaknya yang berbeda karakter itu.


"Jadi anak yang membanggakan semua orang,"


"Okay. Bye, Mom,"


Pintu mobil tertutup dan roda mulai berputar meninggalkan pekarangan mansion.


Saat Lovi kembali lagi ke kamar, Devan sudah selesai mandi. "Kamu kemana sih?


Tadi katanya mau bantu aku mandi dan pakai baju,"


"Mengantar anak-anak ke bawah sebentar,"


"Oh mereka sudah berangkat? Kenapa tidak tunggu aku?"


"Mereka pikir kamu masih lama mandi nya,"


"Ya ampun, padahal aku mau lihat mereka berangkat,"


"Titip cium kata Adrian tadi,"


Devan terkekeh mendapat titipan itu. Sebenarnya tidak heran. Karena setiap mau berpisah anak itu memang selalu menitipkan sesuatu. Entah cium, peluk, rindu, dan masih banyak lagi.


"Kamu tidak kemanapun hari ini?"


"Tidak, aku bertemu guru mereka setelah kamu benar-benar sembuh,"


"Kenapa menemui guru? Adrian buat ulah lagi?"


"Tidak, kamu jangan begitu. Seolah anakmu paling nakal saja," Lovi tidak terima Devan bicara seperti itu seolah Adrian adalah anak yang paling nakal dan sudah menjadi hal biasa kalau Ia dipanggil Acha.


"Memang nakal, Lov."


"Tapi kalau dipanggil gurunya bukan berarti dia buat masalah," cibir Lovi hati keibuannya membela Adrian.


"Iya-iya, maaf."


"Dia sudah semakin jarang buat masalah. Malah setelah naik kelas sejak beberapa bulan lalu, aku tidak pernah lagi dipanggil pihak sekolah karena kenakalannya. Yang benar-benar sering itu saat awal sekolah. Kalau sekarang, mungkin karena sudah mau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, jadi sedikit banyak mempengaruhi sikapnya juga,"


Devan mengangguk membenarkan, "Karena sudah semakin dewasa jadi kalau buat ulah terus di sekolah, mungkin dia malu ya, Lov?"


Devan melepas handuk yang melingkar dipinggang dan Lovi hampir berteriak. Tapi ternyata Devan sudah mengenakan celana. Beruntung Ia bisa menahan suara kencangnya.


"Semua penghuni mansion masih sering dijadikan teman ribut. Tapi kalau di sekolah paling hanya Adrina saja," Lovi yang paling tahu anaknya. Di mansion, Adrian masih suka cari masalah terutama dengan kakak dan adiknya. Tapi kalau di sekolah, Adrina lah yang jadi lawannya untuk beradu mulut.


Lovi mengoleskan aromatheraphy oil di perut suaminya. Setelah Itu ia segera membantu Devan untuk mengenakan penutup bagian atas tubuhnya.


"Semoga tidak datang lagi penyakitnya," pinta Lovi pada Tuhan saat Ia mengoleskan benda cair itu di perut Devan. Devan terseyum dibuatnya.


***


Adrina turun dari mobilnya bersama sang ayah. Kebetulan, mobil Andrean dan Adrian juga baru saja mendarat.


"Itu Adrian, Dad."


"Benarkah?"


"ANDREAN MINUM KAMU TERTINGGAL," Adrian memanggil kakaknya yang sudah keluar lebih dulu. Botol minum Andrean jatuh dari bagian samping tasnya.


Andrean segera menghampiri mobil lagi untuk mengambil botol minumnya seraya mencibir, "Perhitungan sekali tidak mau membawa botol minumku,"


"Malas," jawab adrian singkat. Ia segera menutup pintu di bagian kiri mobil lalu meninggalkan kakaknya yang tengah memasukkan botol minum ke dalam tasnya.


Melihat ada Adrina dan Jino, Adrian mempercepat langkahnya. "Hallo, Uncle."


"Hai, pagi..."


"Sepertinya tidak diantar Daddy,"


"Iya, Daddy sakit."


"Sakit apa?"


"Perutnya sakit. Kemarin pulang bekerja langsung dibawa ke rumah sakit, yang aku tahu."


"Astaga, semoga lekas pulih."


"Iya, terima kasih, Uncle."


Dalam otaknya, Jino sedang mengingat-ingat jadwalnya hari ini. Sepertinya tidak padat. Dan meskipun padat, Ia akan tetap datang menjenguk Devan.


"Hai, Andrean."


"Hai, Uncle." Andrean menyapa dengan senyumnya yang sangat tipis. Adrian sedari tadi diam karena Ia tidak disapa juga oleh kedua anak kembar itu.


"AKU MASUK DULU. BYE!"


Melihat Adrina berseru dengan wajah sebalnya dan langsung melenggang masuk ke dalam sekolah, Jino dan kakak beradik itu menatap bingung.


"Dia merasa tidak diacuhkan," ujar Jino seraya tertawa kecil.


"Okay, aku sapa Adrina dulu kalau begitu. Bye, Uncle. Hati-hati di jalan ya,"


Adrian berlari menyusul Adrina. Jino yang melihatnya menggeleng pelan. Segitu tidak maunya Adrian melihat sahabatnya kesal karena tidak disapa.


"Aku masuk juga, Uncle." ujar Andrean seraya menunduk singkat sebelum masuk ke dalam. Jino sempat mengusap kepala Andrean juga.


*******


Devan sarapan di taman disuapi oleh istrinya. Ia benar-benar menggunakan waktu saat ini untuk memanjakan diri pada istrinya.


"Sudah, Lov. Perutku penuh sekali rasanya,"


"Memang sudah habis,"


Devan terkekeh saat Lovi menunjuk mangkuk kosong yang tadinya berisi bubur berbahan dasar kentang. "Makanya aku katakan perutku sudah penuh karena semua isi mangkuk sudah pindah ke perutku,"


"Minum dulu,"


Lovi mengangsurkan segelas air minum untuk suaminya yang langsung diteguk isinya oleh Devan.


"Masih kurang, Lov. Aku mau lagi,"


"Jangan berlebihan, secukupnya saja. Perutmu masih menyesuaikan,"


Saat Lovi akan bangkit untuk membersihkan alat-alat makan suaminya, Devan menahan.


"Kamu seperti pelayan saja. Habis melayani Tuan makan, lalu pergi."


Lovi mendengkus seraya memukul paha suaminya. Devan segera memanggil maid untuk mengembalikan troli yang dibawa Lovi tadi untuk membawa mangkuk buburnya, gelas, dan piring buah.


"Oh iya, aku mau tanya,"


"Tanya apa?"

__ADS_1


"Kamu tidak benar-benar mau memecat Dashinta 'kan? sebaiknya jangan, Devan. Dia sangat baik,"


"Aku akan memastikan semuanya dulu,"


"Memang kamu belum bisa percaya?"


"Percaya, aku memang tidak mau memecat Dashinta. Tapi aku harus pastikan,"


"Kalau begitu caranya, kamu belum percaya pada Dashinta,"


"Lov..."


"Seharusnya semalam langsung dijawab saja bahwa dia tidak akan dipecat. Kamu malah---"


"Aku yakin bukan dia yang melakukannya. Tapi aku mau lebih yakin lagi. Kamu mengerti maksud aku 'kan? lagipula, aku sengaja menggantung nasibnya untuk membuat dia panik saja,"


Lovi mendorong bahu suaminya dengan wajah jengkel. Semalam Dashinta dikerjai oleh suaminya.


"Kamu tahu siapa yang melakukannya?"


"Ferro sudah memberi tahu melalui pesan. Tapi aku harus lihat dulu secara langsung rekaman yang menampilkan orang yang tega mengkhianati aku itu,"


"Kenapa kamu merasa dikhianati?"


Devan duduk berhadapan dengan istrinya. Dengan satu tangannya Ia menggenggam tangan Lovi dan tangannya yang lain mengusap wajah Lovi.


"Aku selalu mengutamakan mereka, Lov. Aku menyayangi mereka, menganggap mereka semua seperti keluarga. Tapi diracuni seperti kemarin membuat aku benar-benar sakit hati. Sebenarnya aku sudah beberapa kali mengalami hal serupa. Tapi entah kenapa aku masih saja tidak bisa menerima. Aku paling benci ditusuk dari belakang seperti itu. Kalau memang tidak suka, seharusnya tidak bekerja denganku. Carilah perusahaan lain yang dia suka pemimpinnya,"


"Semakin tinggi seseorang, semakin banyak yang tidak suka bahkan di dekat kita sekalipun ada saja yang membenci kita,"


"Iya, bahkan sahabat sekalipun bisa berkhianat," ujar Devan mulai kembali teringat pada masa-masa kelamnya dulu yang sedikit banyak merubah dia menjadi seperti ini.


"Kamu pernah dikhianati oleh sahabat?"


"Pernah," jawab Devan dengan singkat dan itu mengundang rasa penasaran Lovi. Perempuan itu nampak mengangkat kedua kakinya ke atas kursi taman lalu dilipatnya. Ia menatap Devan dengan fokus, ingin mendengar cerita masa lalu Devan.


Devan yang melihat istrinya antusias seperti itu tak bisa menahan tawanya. "Mau dengar?"


"Mau lah, aku sudah siap menjadi pendengar. Berhubung Auris masih tidur, jadi aku bisa mendengarkan kamu dengan serius,"


"Sewaktu aku kuliah aku pernah dijebak oleh sahabatku sendiri,"


"Benar?"


"Iya, dia menyimpan obat-obatan terlarang di dalam tasku sampai akhirnya pihak kampus mengeluarkan aku dan semua temanku menjauh,"


Lovi mengerjap beberapa kali. Tidak menyangka kalau Devan pernah mengalami hal itu. Selama menikah, Devan memang hampir tidak pernah bercerita tentang masa lalunya. Yang Lovi tahu, Devan, Vanilla, dan Rena sempat ditelantarkan oleh Raihan karena Raihan berselingkuh dengan wanita bayaran itulah sebabnya Devan benci sekali dengannya pada waktu itu karena Ia tak jauh beda dengan wanita yang pernah menyakiti Devan di masa lalu. Wanita itu merebut segalanya dari tangan Devan. Perhatian, kasih sayang, dan tentunya harta. Beruntung tidak sampai terkuras habis, Raihan segera menyadari kesalahannya.


Hanya itu saja yang dia tahu. Selebihnya Devan tidak bercerita. Suaminya seperti memang sengaja menutup akses dan tidak mau mengingat-ingat semuanya.


"Aku sempat dipenjara, Lov."


"Astaga, benarkah?"


"Iya, tidak lama. Tapi cukup membuat aku tertekan. Aku dibuat malu oleh dia, dan dihukum atas kesalahan yang tidak aku lakukan,"


Sementara kedua orangtuanya sibuk berbincang di taman, Auristella sudah bangun dari tidurnya. Auristella tidak menangis. Ia malah sibuk bermain sendiri di boks nya.


Maid yang sedang membersihkan lantai di depan kamar Devan membuka sedikit pintu kamar karena mendengar suara Auristella bermain. Ia membulatkan matanya melihat anak itu memegang tepi boks tidurnya, tidak melakukan apapun. Hanya duduk lalu berdiri lagi dengan mainan di tangannya. Lalu dia melempar-lempari beberapa mainan juga.


"Nona kecil sudah bangun,"


Berhubung Ia sedang bersih-bersih, Ia tidak bisa menyentuh Auristella. Jadi dia memanggil Rena di kamarnya yang jaraknya sedikit jauh dari kamar Devan itu.


"Nyonya..."


"Nyonya, Nona Auris sudah bangun,"


"Oh, iya. Aku akan melihatnya,"


Rena tengah menyiapkan baju untuknya pergi hari ini. Tanpa menunggu waktu lama, Ia keluar dari kamar untuk menghampiri Auristella yang berada di kamar putranya.


"Dimana perawatnya?"


"Akan saya panggil, Nyonya."


"Jangan, katakan saja padanya tolong siapkan perlengkapan mandi Auris. Lovi sedang menyuapi Devan di taman, biar Aku yang memandikan Auris,"


Begitu Ia tiba di kamar Devan, anak itu sudah ancang-ancang ingin keluar dari boks walaupun belum bisa berdiri sepenuhnya. Ia masih memerlukan sesuatu untuk berpegangan tapi nyalinya benar-benar membuat khawatir


"Hey, mau kemana? kabur? tidak bisa, cantik."


Rena segera mengangkat cucu perempuan nya itu lalu membawanya keluar. Perawat Auristella yang bernama Nay itu juga baru saja keluar dari kamar milik Auristella.


"Sudah siap, Nyonya."


"Terima kasih, Nay."


"Iya, Nyonya. Pakaiannya sudah disiapkan Nona Lovi ternyata. Saya hanya menyiapkan perlengkapan yang lainnya saja,"


"Oh begitu. Baiklah,"


Lovi menyiapkan tanggung-tanggung begitu pasti karena suaminya sudah memanggil sehingga Ia hanya sempat menyiapkan pakaian untuk Auristella saja. Dan sekarang entah sedang apa mereka berdua. Apakah Devan masih makan di taman atau mereka sedang melakukan hal lain berdua. Rena memaklumi, karena jarang sekali Devan meliburkan diri seperti hari ini. Ia menggunakan kesempatan yang ada untuk bersama-sama terus dengan Lovi.


"Jangan ada drama sebelum mandi ya, Sayang. Jadilah anak baik, okay?"


Seraya melepas pakaian Auristella, Rena mengajaknya bicara dan sesekali bercanda agar anak itu tidak ada kesempatan untuk menagis pagi ini. Biasanya setiap mau mandi ada saja yang membuat dia menangis.


Nay sudah menyiapkan mainan juga untuk Auristella. Agar saat disabuni badan mungilnya, Ia tidak menangis.


"Coba Grandma lihat giginya sudah ada berapa?"


Rena membuka mulut kecil Auristella dan anak itu mengalihkan wajahnya ke samping. Ia tidak mau dihitung jumlah giginya. Akhirnya Rena tidak melakukannya.


"Pegang sikat gigi nya,"


Baru diberi titah begitu, Auristella langsung memasukkan sikat ke dalam mulutnya. Ia tahu gunanya benda tersebut.


"Pintar," pujinya pada sang cucu.


"terbalik, Sayang."


Rena terkekeh saat yang digunakan oleh Auristella untuk menyikat adalah bagian punggung sikat gigi, bukan bulu-bulu sikatnya.


"Pelan-pelan menyikatnya,"


Anak itu mengangguk seperti sudah mengerti instruksi dari neneknya. Rena terkekeh gemas dan Ia mencium singkat pipi cucunya.


Rena memberikan segelas air minum yang telah disiapkan Nay untuk Auristella berkumur.


Auristella menyemburkan airnya. Melihat itu, Rena tersenyum. "Usiamu berapa sih? pintar sekali. Oh iya, hari ini genap sepuluh bulan ya?"


Usai Auristella membersihkan giginya, Rena memijat lembut kepala cucunya yang berambut cokelat itu. Auristella memainkan busa-busa dari shampo.


"Benar tidak? Jawab, Grandma. Usiamu sudah sepuluh bulan kan?"


Auristella menggeleng dan mengangguk. Dia bingung sendiri. Rena selalu dibuat tertawa bila sedang bersama anak ini. Tingkahnya ada-ada saja.


"Coba nanti tanya Mommy ya. Mommy ingat tidak kamu lahir kapan. Jangan-jangan lupa ya," Rena menggoda Auristella. Tidak ada reaksi apapun dari anak itu karena dia sibuk membaluri mainannya dengan busa.


"Tidak mungkin lupa lah. Mommy 'kan sayang Auris. Kalau Auris sayang Mommy?"


Rena menyabuni tubuh mungil cucunya dan Ia semakin dibuat kesenangan. Pertanyaan Neneknya kian tidak diacuhkan.


"Kalau sudah bertemu air dan busa, pasti begini," Rena mencibir. Auristella menoleh ke arahnya, mungkin merasa dibicarakan dan Ia tahu kalau Rena sebal.


Rena kira Auristella akan memberikan ciuman karena biasanya bila Ia tahu orang sedang kesal padanya, Auristella akan memberi orang itu ciuman sebagai permintaan maaf.


Ternyata kali ini tidak. Auristella malah menggunakan tangannya yang penuh busa untuk mengusap wajah Rena. Nenek tiga cucu itu tak sempat mengelak. Melihat wajah neneknya terdapat busa, Auristella terkekeh geli.


Dengan wajah datarnya, Rena menggumam, "Benar-benar adiknya Adrian. Sama saja jahilnya."


 

__ADS_1


UDAH MAMPIR DI LAPAK VANILLA? AKU UDH UP JG DI SANA. SILAHKAN DICEK :)



__ADS_2