
Begitu pesan yang disampaikan oleh Devan terakhir kali sebelum Ia meninggalkan rumah sakit.
Devan berjalan cepat keluar dari rumah sakit dan tidak sengaja menabrak seorang anak kecil yang tengah mendorong kursi roda yang diduduki oleh perempuan.
Devan segera meminta maaf pada anak kecil itu. Dan saat perempuan yang ada di atas kursi roda menoleh, mereka bertemu tatap.
"Lianne..."
"Dev..."
Devan kembali bertemu dengan mantan teman one night stand nya dulu yang bernama Lianne yang sempat juga bertemu dengannya saat Ia berlibur bersama keluarganya. Sekarang mereka dipertemukan lagi dengan kondisi Lianne yang Devan perhatikan berbeda sekali dengan pertemuan terakhir mereka. Saat ini Lianne sangat pucat, kantung matanya membesar dan hitam, Ia juga tidak bisa berjalan karena dibantu dengan kursi roda. Terlihat lebih parah saat ini daripada beberapa waktu lalu.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kamu sakit apa, Lianne?"
Devan penasaran karena waktu itu Ia bertanya, Lianne tidak menjawabnya dan malah menghindar padahal Devan sudah yakin ada yang aneh dari Lianne.
"Aku mengidap leukimia,"
Devan terdiam beberapa saat. Ia mengerjap lalu melihat tubuh Lianne dari atas sampai bawah. Tubuh itu, dulu tidak sekurus sekarang. Tidak juga terlihat lemah seperti sekarang.
"Semoga cepat sembuh, Lianne." Ujar Devan penuh prihatin dan spontan Ia mengusap kepala Lianne yang rambutnya sangat tipis bahkan hampir habis.
Devan beralih pada anak perempuan yang berada di balik kursi roda Lianne. Ia tersenyum pada anak itu.
"Siapa namamu?"
"Angel,"
Devan kembali menatap Lianne seraya bertanya, "Dia anakmu?"
"Iya,"
"Suamimu dimana? Aku belum mengenalnya,"
"Dia sudah pergi,"
Kening Devan mengerinyit. Kata 'pergi' mengandung beberapa arti. Pergi bekerja atau pergi ke suatu tempat, pergi meninggalkan Lianne karena bercerai, atau pergi meninggalkan Lianne karena harus menghadap sang kuasa.
"Kami berpisah setelah dia tahu aku memiliki penyakit ini,"
Devan menghela napas pelan. Kenapa masih ada saja laki-laki yang seperti itu? Meninggalkan anak dan istri yang sedang butuh dukungan untuk menghadapi penyakit.
"Alasannya hanya itu? Dia tidak sanggup membiayai pengobatanmu atau bagaimana?"
Devan terlalu sedih sekaligus penasaran dengan hidup Lianne yang sekarang. Hingga Ia lupa rapat akan segera dimulai.
"Dia memang sudah selingkuh sejak awal pernikahan kami. Tapi aku selalu berusaha untuk mempertahankan semuanya,"
Ia mendorong kursi roda Lianne menuju jajaran kursi agar Ia dan Angel bisa duduk, dan mereka tidak berbicara sambil berdiri.
"Sampai pada akhirnya dokter memvonis aku mengidap leukimia, semua pengorbanan ku untuk mempertahankan rumah tangga kami tak bisa aku lanjutkan karena aku sudah lelah dan dia juga semakin gencar meminta pisah,"
Hati Devan terasa nyeri mendengarnya padahal Lianne yang mengalami itu semua. Tak bisa dibayangkan sesulit apa menjadi Lianne. Ia pasti tidak bahagia dengan suaminya. Ia bertahan demi anaknya. Ditambah lagi dengan kehadiran penyakit itu, semuanya semakin menyulitkan Lianne. Ia harus membahagiakan anaknya seorang diri, juga harus memikirkan penyakitnya.
"Aku harus pergi sekarang, Lianne."
"Iya, terima kasih sudah mendengar keluh kesah ku,"
"Semoga ada keajaiban dari Tuhan untukmu. Jangan pernah menyerah, ada Angel yang selalu berharap Ibunya akan sembuh,"
**
Lovi baru sempat membuka ponselnya setelah berhasil membuat Auristella tidur. Sejak tadi sebenarnya Auristella sudah mengantuk dan kelelahan tapi Ia tidak mau berhenti mengajak Lovi bermain.
Bahkan kedua kakaknya yang baru belajar dengan tutor pun di ajaknya bermain tapi sayangnya mereka kelelahan jadi menolak sampai Auristella menangis.
Lovi baru saja mendapatkan pesan berupa gambar dari orang yang tidak dikenalnya. Begitu Ia buka, di dalam foto tersebut ada suaminya dan seorang perempuan yang duduk di kursi roda. Wajah Devan dan perempuan itu tidak terlalu jelas karena sepertinya diambil dari jarak yang jauh. Tapi Lovi ingat postur tubuh suaminya dan juga pakaian kerja yang dikenakan Devan ketika berangkat bekerja tadi pagi. Lelakinya memakai kemeja motif garis horizontal berwarna putih yang dominan disertai warna biru pada motif garisnya.
Devan terlihat meletakkan tangannya di kepala perempuan itu seraya tersenyum hangat.
Kening Lovi mengerinyit beberapa saat. Ia memperbesar gambar. Dan otaknya bertanya-tanya. Apa maksud orang itu mengirim gambar seperti ini?
Berharap bahwa Ia akan cemburu dan rumah tangganya dengan Devan diwarnai dengan keributan? Sayangnya itu tidak akan terjadi. Lovi sangat percaya pada suaminya. Melihat Devan dekat dengan perempuan, sudah menjadi hal biasa untuk Lovi. Karena pekerjaan Devan mengharuskan lelaki itu untuk banyak memiliki relasi dan tak jarang berjenis kelamin perempuan. Dilihat dari latar pengambilan foto, sepertinya itu di rumah sakit. Dan mungkin saja Devan sedang menjenguk relasi atau rekan kerjanya yang sedang sakit. Lovi terbiasa berpikir positif. Dan masalah perlakuan manis Devan yang tangannya nampak mengusap kepala perempuan itu, Lovi juga tidak merasa cemburu. Orang yang sedang sakit memang butuh dukungan luar biasa dan Devan sedang melakukan itu.
Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, tak ingin ambil pusing. Lalu memilih turun ke lantai bawah untuk makan siang. Sudah menjelang sore begini Ia belum makan karena Auristella menjadikannya teman bermain. Kedua kakaknya yang selesai belajar dengan tutor sempat diajaknya bermain tapi mereka menolak karena ingin tidur. Auristella sempat menangis karena kedua kakaknya malah tidur. Akhirnya Ia bermain bersama Lovi dengan mata merahnya karena tangis dan kantuk.
"Lovi, ini Mama bawakan untuk kamu. Tadi Mama ke restoran dan Mama tebak kamu sedang menginginkan ini,"
Lovi menatap udon dan ebiyaki yang ada di meja makan, sudah disiapkan Rena untuknya.
"Wow terima kasih, Ma."
Rena dan Senata sudah menunggu Lovi di meja makan sejak tadi. "Pasti lama karena menemani Auris tidur ya?"
"Iya, Ma. Sulit sekali Auris diajak tidur. Sebenarnya dia sudah mengantuk tapi belum mau selesai main,"
"MOMMY,"
Ketiga orang yang telah berada di meja makan kompak menoleh ke arah sumber datangnya suara.
Adrian berteriak memanggil Mommy nya seraya mencari dan ketika memasuki ruang makan, Ia melihat Mommy nya tersenyum seraya mengunyah makanan.
Adrian segera menghampiri dan merebahkan kepalanya di paha Lovi. Perempuan beranak tiga itu mengusap rambut lebatnya. Anak yang jahil ini ada saatnya ingin dimanja.
"Jangan di sana kepalanya, Adrian. Mommy sedang makan," tegur Senata.
"Iya, Sayang. Mommy sedang makan yang berkuah itu," sahut Rena.
"Biar aku sekalian mandi kuah, Grandma." Sahutannya membuat mereka terkekeh.
Adrian bangkit dan menyandarkan pipinya di lengan yang Ia letakkan di atas meja. "Mau makan tidak?" Tanya Lovi seraya mengusap lengan sang anak yang menjadi tumpuan kepalanya.
"Daddy belum pulang?" Tanya Adrian seraya menatap Lovi.
"Belum, mungkin ada pekerjaan yang belum selesai,"
"Aku mau makan bersama Daddy nanti,"
"Daddy sudah Mommy bekali makan siang. Kalau kamu belum makan siang 'kan?"
"Sudah, sebelum Mommy datang dari butik tadi,"
"Oh begitu. Tadi, bagaimana belajarnya?"
"Ya begitulah,"
"Mommy tidak menerima jawaban seperti itu," nada Lovi terdengar tegas. Membuat Adrian cepat menjawab, "Semua yang kurang aku pahami, aku tanyakan pada Uncle Fredy. Setelah itu aku diajarkan sampai mengerti. Aku juga diberikan soal yang persis seperti tes kemarin dan aku bisa mengerjakannya,"
***
Gana mengirimkan foto yang didapatnya dari rumah sakit tadi kepada Arnold.
Arnold langsung menelponnya. Seraya Ia melajukan mobilnya, Ia mengangkat telepon dari Arnold.
Arnold tertawa keras sebagai pembuka, "Darimana kau dapat foto itu, Boss?" Kata Arnold dengan tawa yang belum usai.
"Aku baru saja ke rumah sakit dan menemukan mereka. Tanganku jahil saja,"
"Akan aku kirimkan ke istrinya,"
"Wow kau berhasil menemukan nomor ponsel istri si bedebah itu?"
"Mudah, walaupun dijaga sekuat apapun privasi nya, tapi Arnold tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia mau. Aku ini pantang menyerah, Gana."
Gana terkekeh mendengar Arnold yang bicara seperti itu. "Iya, oleh sebab itu aku yakin memberikanmu bantuan. Karena kau bisa diandalkan,"
"Pada ujungnya aku dimanfaatkan," cibir Arnold yang mengundang decak Gana. "Aku 'kan sudah membantumu,"
__ADS_1
"Iya, tapi seingatku dalam perjanjian di awal, kita bekerja sama untuk membalaskan dendam pada orang yang sama. Tapi kenapa selalu aku yang bekerja keras bersama orang-orang suruhanku?"
"Ah kau terlalu banyak menuntut,"
klik
Arnold menggeram dan melempar ponselnya ke atas meja. "Sabar, Arnold. Tunggu sampai kau bisa berdiri sendiri, barulah kau bisa berontak. Sekarang belum saatnya," desisnya dengan kedua tangan yang mengepal. Gana juga memiliki rasa kesal yang besar terhadap Devan sama seperti dirinya. Gana membenci Devan karena perusahan senjata api dan obat-obatan terlarang milik Devan yang dulu begitu jaya pernah menolak kerja sama dengan perusahaan miliknya yang masih berdiri sampai sekarang. Berbeda dari Devan, Gana memilih bertahan menjalani perusaahan yang bergerak untuk melakukan kejahatan itu. Ia masih nyaman bermain kucing-kucingan dengan seluruh negara yang menjadi targetnya untuk mengedarkan senjata api secara gelap dan obat-obatan terlarang. Tidak seperti Devan yang sudah tidak mau lagi sibuk bersembunyi dan menipu.
***
Semua kostum yang akan digunakan oleh keluarga inti pada saat ulang tahun Andrean dan Adrian sudah siap. Lovi akan membawanya ke mansion tetapi sebelum pulang, Ia sempatkan waktu untuk mencari kue tart yang akan diberikan pada mereka di tengah malam nanti.
"Terima kasih,"
Lovi keluar dari toko kue dengan perasaan berbunga. Besok adalah hari ulang tahun kedua anaknya. Dan malam nanti, Ia akan memberikan kue tersebut sebagai awal dari kejutan yang sudah disiapkan olehnya dan Devan.
Semua guru dan teman-teman sekolah mereka sudah mendapatkan undangan tertulis dari Lovi bukan lagi sekedar ucapan dari mulut Adrian.
Sampai di mobil, Ia segera menelpon Devan. "Hallo, Devan."
"Iya, Lov? kamu sudah selesai ambil baju? sekarang sudah pulang 'kan?"
"Iya, aku dalam perjalanan pulang,"
"Okay, hati-hati ya. Semua sudah kamu pastikan?"
"Sudah, tadi aku sudah lihat tempat, konsumsi dan lain-lainnya."
"Kadomu sudah siap?"
"Sudah, setelah party besok, kita ajak mereka berkuda,"
"Pasti mereka senang. Selama ini mereka berkuda dengan kuda kita berdua. Sekarang punya masing-masing, paspor kudanya ada, namanya juga ada, harga pun tidak main-main. Baik sekali istriku ini,"
Berhubung kedua anaknya belum memiliki kuda, selama ini kalau berkuda selalu menggunakan kuda miliknya dan Devan, maka Lovi putuskan untuk memberikan mereka kuda dari kedua negara yang berbeda, disertai dengan paspor dan namanya.
"Hadiah mu juga tidak main-main. Masing-masing dapat mobil. Aish pengusaha satu ini benar-benar tidak sembarangan memberi hadiah ulang tahun,"
Tawa Devan meledak. Sampai Ferro yang berada di hadapannya mengerinyit bingung. Ia dan Ferro sedang membicarakan masalah pekerjaan dan Lovi tiba-tiba saja menelpon.
"Tidak boleh sembarangan. Untuk anakku harus yang spesial,"
"Okay, aku tutup ya."
"Iya, My love. Bye,"
****
Adrian dan Auristella tengah bermain hulk bersama. Hari ini Adrian sedang baik hati sehingga ia membiarkan adiknya meminjam remote hulk dan menjalankannya sesuka hati.
"Jangan menabrak dinding, Auris. Harganya tidak murah itu. Kalau dia sakit karena dinding, bagaimana?"
Auristella sedang sibuk menekan remote. Ketika Adrian mengarahkannya, Ia marah. Ia tidak mau diatur. Auristella hanya ingin dirinya saja yang menekan-nekan tombol di remote.
"Aku beri tahu, jangan menabrak dinding. Kasihan, hulk bisa terluka,"
"Mana bisa terluka? memang dia manusia?"
Andrean mencibir adiknya. Adrian sibuk sekali dengan hulk. Sementara dirinya sedang bermain teka teki dengan Serry.
"Kamu mau ikut main hulk ya makanya cerewet sekai? sini, main." Mulutnya yang suka membuat orang kesal kembali beraksi. Andrean tidak begitu menyukai permainan seperti itu. Entah dibagian mana yang membuat Adrian sangat menyukai robot berjalan. Andrean lebih suka mainan yang penuh misteri hingga Ia harus bekerja keras memecahkan misteri tersebut. Seperti puzzle, teka teki, dan lain-lain.
Lovi keluar dari mobil dan Ia bersyukur kedua anaknya tidak ada di pekarangan mansion hingga maid bisa membawa masuk cake yang dibelinya ke dalam mansion tanpa dilihat oleh mereka. Karena biasanya setiap Lovi membawa sesuatu ke mansion setelah pergi keluar, pasti Adrian bertanya 'Apa yang Mommy bawa itu?' 'Adrian boleh lihat?'
"Kedua anakku dimana?"
"Di kamarnya, Nona."
"Oh sedang bermain kah?"
"Okay, tolong dibawa ke dalam ya. Aku masuk dulu," kata Lovi seraya menunjuk cake serta kostum bertema robot milik para perempuan di keluarga Vidyatmaka. Karena milik Andrean, Adrian, Raihan, dan Devan sudah siap dan tersimpan di walk in closet dari jauh hari.
"Baik, Nona."
Lovi segera ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara ketiga anaknya belum menyadari kedatangan Lovi.
"Mommy kemana ya? lama sekali perginya,"
"Iya, Mommy jadi sering pergi sekarang. Apa sih yang dilakukan di luar?"
"Tuan kecil yang posesif," Lovi menghampiri mereka semua secara diam-diam dan tentunya mereka terkejut. Auristella melonjak senang dan Ia segera mengulurkan tangan, meminta digendong.
"Mommy kemana?"
"Pergi,"
"Iya, aku tahu. Tapi kemana?"
Adrian yang sagat gemas bertanya karena Lovi pura-pura tidak mengerti maksudnya.
"Ah kamu terlalu penasaran. Mommy tidak mau beri tahu,"
Adrian menatap Mommy nya dengan sorot dingin. Melihat itu, Lovi terkekeh geli. Anaknya benar-benar ingin tahu sekali kegiatan Lovi di luar sana. Posesif kalau sudah melihat Mommy nya sibuk dengan ponsel dan pergi terlalu lama. Melihat Lovi senyum-senyum seraya menatap ponsel juga akan menjadi masalah untuknya padahal Lovi sedang melihat sesuatu yang lucu.
"Besok ulang tahun ku, Mom. Kado ku sudah siap belum?"
Tangan Adrian menengadah dan itu membuat Lovi tersenyum geli. "Mommy tidak punya kado. Maaf, Sayang."
Adrkan berdecak seraya bersedekap dada. "Tidak mungkin! Mommy dan Daddy pasti ada kado untukku,"
"Jangan terlalu menginginkan hadiah. Yang terpenting Mommy dan Daddy sehat, itu sudah menjadi hadiah untuk kita seharusnya,"
Pola pikir Andrean yang lebih dewasa, memang sulit diterima Adrian. Adiknya itu seperti anak seusia mereka pada umumnya. Setiap ulang tahun pasti berharap hadiah dari kedua orangtua nya. Tetapi baginya Lovi dan Devan sehat saja itu sudah lebih dari hadiah.
"Serius Mommy tidak punya hadiah untuk aku?"
Lovi menggeleng pelan dan memasang raut sesedih mungkin agar anaknya percaya bahwa Ia tidak punya kado. Lovi sedang mengerjai kedua anaknya.
Adrian menghembuskan napas pelan. Ia segera memeluk Lovi. Lovi kira Ia menangis tapi ternyata tidak. Setelah pelukan terlepas, Adrian malah tersenyum padanya.
"Ya sudah, tidak apa. Mommy masih bisa aku peluk saja, aku sudah senang,"
Lovi merasa tersentuh. Ia memeluk Adrian dan Ia mengusap kepalanya. Tak menyangka Adrian akan berbesar hati setelah dinasihati oleh sang kakak.
****
"Wow, ini undangan apa, Boss? pernikahan kedua?"
Devan melakukan ancang-ancang ingin melempari Dashinta dengan setumpuk berkas namun tidak jadi karena Ia masih waras. Dashinta tertawa kencang dan langsung memohon ampun.
"Kedua anakku ulang tahun besok. Datang, jangan lupa!"
"Siap! kira-kira saya bawa kado apa, Boss?"
Ferro memperhatikan undangan yang baru saja diberikan Devan. Kemudian Ia juga bertanya hal yang sama seperti Dashinta.
"Tidak perlu kado. Datang saja supaya ikut merasakan kebahagiaan saat party,"
"Terima kasih, Boss atas undangannya. Tapi omong-omong saya jadi dipecat tidak?"
Ferro menahan tawa saat Dashinta bertanya begitu. Sedang membahas ulang tahun, dia malah membawa-bawa masalah itu lagi. Seharusnya dia menilai sendiri apakah ada tanda-tanda Devan akan memecatnya?
"Kamu mau dipecat?"
"Tidak, Boss. Kalau ditanya, ya tentu saja Saya jawab tidak,"
"Itu juga jawaban saya,"
__ADS_1
Dashinta kelepasan memukul meja Devan hingga Ferro dan Devan terkejut. Ia terlalu terkejut, bahagia, dan tidak menyangka dengan kalimat yang baru saja didengarnya.
"BENAR, BOSS?!"
"Dashinta, ingat 'kan yang di hadapanmu siapa?" Ferro menyindir Dashinta yang tingkahnya bar-bar sekali. Ia memukul meja di hadapan pemilik perusahaan ini. Berani sekali dia melakukannya. Ferro menggeleng takjub.
"Maaf-maaf, Boss. Saya tidak bermaksud membuat Boss terkejut," ujar Dashinta seraya menagkupkan kedua tangannya di hadapan Devan.
"Aku juga terkejut, beruntung penyakit jantungku tidak kambuh," Imbuh Ferro yang mengundang tawa Dashinta.
"Iya, maaf, Ferro. Aku sangat bahagia mendengar jawaban Boss. Jadi sampai kelepasan memukul meja,"
Dashinta kembali menatap Devan dan bertanya meyakinkan, "Boss, saya tidak dipecat? benar, Boss?"
"Iya! Astaga, cerewet sekali kamu,"
Dashinta masih speechles karena Ia tidak menyangka Devan tidak benar-benar memecatnya. Ia masih menjadi bagian dari perusahaan Devan.
"Kalian bisa keluar. Aku memanggil hanya untuk menyampaikan undangan dari Lovi,"
"Ucapkan terima kasih pada Nona yang telah memberikan undangan untukku,"
"Iya, aku sampaikan nanti."
***
Devan sedang menjelajahi ponsel sang istri setelah mandi. Sementara Lovi tengah mengisi perutnya di bawah bersama ketiga anaknya.
"Lovi, Devan tidak makan?"
"Masih kenyang katanya, Ma. Tadi makan siang sudah menjelang sore,"
"Kebiasaan yang buruk," cibir Raihan. Devan terlalu sibuk bekerja sampai sering lupa dengan kesehatannya sendiri. Sebenarnya dulu, Ia juga begitu. Tapi setelah tua dan kerap sakit, Ia jadi lebih memperhatikan kesehatannya. Ambisius dalam hal bekerja masih ada, tapi tidak sebesar Devan.
"Sekarang dia dimana? tidur?"
"Sepertinya iya, Pa."
"Mom, Adrian mau itu lagi,"
Lovi segera meraih lobster yang ada di hadapannya. Lovi memang memasak seafood untuk makan malam ini atas permintaan Adrian.
Ia tidak ingin melihat anaknya kesulitan membuka kulit lobster, oleh sebab itu Ia harus membukanya. "Mommy saja yang buka,"
"Adrian saja,"
"Nanti kamu teruka. Itu tajam. Tadi 'kan Mommy memang mau membukanya sebelum dimasak, tapi kamu tidak mau,"
"Kan lebih terlihat bagus kalau masih ada kulitnya,"
"Untuk apa terlihat bagus kalau bisa melukai kamu?"
"Berikan pada Adrian, Mom. Adrian mau membukanya sendiri,"
"Jangan, Adrian. Nanti kamu teruka, Daddy bisa marah." kata Rena menegur cucunya yang keras kepala itu.
"Aku mau mengupas sendiri. Tadi 'kan sudah dikupasi oleh Mommy," rengek Adrian.
"Tidak boleh! Mommy lagi yang kupas.
Akhirnya Adrian diam tak memaksa lagi. Auristella memperhatikan dari tadi di tengah kesibukannya mengunyah.
"Auris mau?" tanya sang kakak sulung. Auristella menatap Andrean dan diam. "Dia mau lobster sepertinya, Mom."
"Okay, sebentar ya. Mommy bantu Adrian dulu. Andrean mau tambah juga lobsternya? biar Mommy lepaskan kulitnya lagi,"
"Tidak, Mom. Sudah cukup,"
Auristella merengek pada Andrean saat makanan nya yang super halus itu habis dan piringnya kosong.
"Masih lapar?"
Auristella hanya menjawab dengan rengekan manja. Sepertinya porsi makan kali ini kurang.
"Berat badanmu semakin bertambah, Auris."
"Tidak apa, yang penting sehat." sahut Raihan atas ucapan Lovi yang menggoda anak perempuannya.
Lovi segera meminta bantuan pada maid agar mengambilkan makanan Auristella yang ada di dalam alat penghangat di dapur. Tapi saat melihat Nay meraih piringnya dan ingin dibawa ke dapur, Auristella menangis.
Ia menggeleng kencang seraya menunjuk piringnya. Akhirnya Nay mengembalikan piring ke hadapan anak itu. Entah apa maksud Auristella, semuanya dibuat bingung.
"Kamu mau menambah 'kan?" tanya Lovi memastikan. Ia mengangguk masih dengan tangis.
"Ya sudah, biarkan Nay yang mengambilnya,"
Saat Nay akan mengambil lagi piring miliknya, Auristella semakin kencang menangis.
"Auris, kamu mau apa, Sayang? Katanya mau tambah makanan, giliran piringnya dibawa, kamu marah,"
"Ambil dengan piring lain saja, Nay." titah Rena pada Nay yang langsung dipatuhi olehnya.
"Baik, Nyonya."
Auristella diangkat oleh Lovi dari baby chair nya lalu diusap-usap punggungnya. Adrian melirik adiknya dengan sinis. Karena Auristella menangis, Lovi jadi menunda mengupas lobster nya. Padahal Ia sudah menginginkan lobster itu.
"Aku buka sendiri saja lobsternya,"
"Grandma yang buka."
Senata cepat-cepat mengambil lobster yang kulitnya sudah dibuka setengah oleh Lovi. Ia melanjutkannya untuk segera diberikan pada Adrian yang tidak sabaran itu.
Nay datang lagi membawa makanan Auristella menggunakan piring yang lain. "Ini makanannya. Mau makan di piring ini atau piring Auris yang tadi?" tanya Lovi.
Auristella melonjak-lonjak dengan tangisnya yang semakin keras. "Auris!" bentak Adrian pada adiknya yang sedang bertingkah itu.
"Hey, jangan begitu. Adikmu takut dibentak-bentak,"
"Dia berisik!" Adrian berseru kesal saat Mommy nya membela Auristella. Senata sudah selesai melepas kulit lobster, dan Adrian dengan cepat melahapnya. Auristella memancing amarah singa yang sedang kelaparan. Singa nya tentu saja Adrian.
"Auris mau apa? coba katakan pada Mommy, jangan menangis,"
Auristella memeluk Lovi dengan napas tersengal. Lovi mengusap kepalanya dengan lembut.
Lovi mendekati telinganya ke bibir Auristella, "Bisiki Mommy, Auristella mau nya bagaimana?"
Auristella menunjuk piringnya dan Lovi mengangguk, "Piringnya mau di apakan?" tanya Lovi seraya mengangkat piring Auristella yang kosong.
Kemudian dia menunjuk Andrean. Lovi mengerinyit sesaat berusaha memahami keinginan anaknya.
"Oh mau disuapi Andrean lagi seperti tadi?"
Sang kakak langsung tanggap untuk menuruti adiknya. Saat Andrean bersiap menyuapinya, Auristella menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri seraya menggeleng. Ia menolak lagi. Auristella mengambil piringnya yang kosong dari tangan Lovi lalu diberikannya pada Andrean.
"Oh, dia mau kamu yang mengambil makanan nya, Andrean. Dia tidak mau makanan yang diambil Nay tadi," Raihan lebih cepat memahami keinginan sang cucu. Lovi menghembuskan napas seraya menggeleng.
"Benar-benar membingungkan sekali anak ini. Tinggal berikan pringnya pada Andrean sejak tadi. Kenapa harus menangis segala?" gumam Lovi ditengah rasa kesal yang sebenarnya sudah ada sejak tadi tapi berusaha Ia pendam.
Akhirnya saat melihat Andrean bangkit dengan membawa piring kosong Auristella untuk mengambil makanan Auristella di dalam alat penghangat, Auristella langsung berhenti menangis.
Dengan gemas Lovi mengecup pipi anaknya itu setelah ia menghapus jejak air mata nya di sana. Benar-benar berlinang air mata hanya karena menginginkan Andrean lah yang mengambil makanan nya, bukan Nay. Makanan yang diambil Nay tadi akhirnya tak diacuhkan oleh Auristella.
---------
Singgah guyss di lapak Nillaku. Makasih yaaa
__ADS_1