
Devan membuka matanya ketika alarm berdering. Matanya menatap Lovi yang tidur bersandar di dadanya. Tidak biasanya Lovi belum bangun.
Ia menyingkirkan dengan pelan kepala Lovi dan meletakkannya di atas bantal. Ia mengecup bibir Lovi.
"Lov, Bangunlah. Ini sudah pagi," bisiknya di telinga Lovi. Tangannya menjelajahi wajah cantik Lovi pagi ini. Sekali lagi, Ia mengecup bibir itu.
Lovi hanya bergumam lalu membelakangi Devan. Devan tak ingin menyerah membangunkan Lovi namun suara Rena yang mengetuk pintu kamarnya berhasil membuat Devan mengalihkan perhatiannya.
"Devan, kenapa kamu belum turun?" seru Rena dari luar.
Devan langsung bangkit dari ranjang untuk membuka pintu. Rena menatapnya dari atas hingga bawah.
"Kamu baru bangun?" tanya Rena pada Putranya.
Hubungan mereka sudah kembali membaik. Tak ada lagi situasi canggung diantara Devan dan Rena. Devan tidak bisa menyalahi takdir. Mengetahui masa lalu Rena membuat Devan belajar, bahwa tidak semua manusia yang Ia anggap buruk selamanya menjadi buruk. Buktinya, Lovi bisa membuat hatinya luluh. Gadis yang dulu masuk kedalam daftar 'orang paling dibencinya' kini beralih menjadi sosok malaikat untuk Devan.
"Ya, maaf aku terlambat bangun," jawab Devan. Rena mengangguk maklum.
"Mama hanya khawatir pada kalian. Dan juga tidak biasanya Lovi belum bangun. Mama hanya takut bila ternyata Lovi kurang sehat,"
Mata Rena menelusuri kamar Putranya dari luar pintu. Walaupun sedikit terganggu dengan kehadiran Devan yang menjulang di hadapannya, namun Ia bisa melihat dengan jelas kalau di sana Lovi masih bergelung dalam selimut.
"Dia baik-baik saja. Hanya terlalu nyaman dalam tidurnya. Mungkin juga sedang ada aku di mimpinya,"
Rena tertawa mendengar guyonan Devan. Ia menepuk bahu putranya itu.
"Sekarang hari libur, Devan,"
Rena seolah menyindiri Devan. Khawatir Devan lupa hari karena terlalu sibuk bekerja. Sepertinya bagi lelaki itu, tidak ada hari libur dihidupnya.
"Ya, aku akan membawa Lovi ke suatu tempat," jawab Devan dengan senyum tipisnya. Rena mengerinyit tidak mengerti.
"Kemana?"
Devan melirik Rena seraya berdecak.
"Yang aku bawa hanya Lovi. Jadi Mama tidak perlu tahu," kata Devan terakhir kali sebelum Ia menutup pintu.
__ADS_1
Rena masih di depan pintunya dengan seruan khas Ibu-Ibu jika anaknya berbuat kesalahan.
"Dasar anak kurang ajar!"
Di dalam kamar, Devan tertawa kencang mendengar dengan jelas kalimat umpatan yang dikeluarkan oleh Mamanya.
Suara tawa yang cukup mengganggu, membuat kelopak Lovi terbuka perlahan. Devan menyadari hal itu. Ia langsung kembali ke atas ranjang dan menyentuh lengan Istrinya dengan lembut.
"Lov, segera bersiap! Kita akan pergi setelah sarapan,"
Devan membantu Lovi untuk bangun dari posisinya. Perubahan yang terjadi pada ukuran perutnya membuat Lovi semakin sulit dalam bergerak. Bahkan posisi tidurnya pun kian terbatas.
Lovi masih diam berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sedari tadi berkeliaran di alam mimpi. Perempuan itu masih terlihat sangat mengantuk. Sampai kepalanya ke bawah karena hampir tertidur lagi. Melihat hal itu, dengan sigap Devan menepuk lembut wajah Lovi.
"Ayolah, Sayang!"
Devan mulai bosan menunggu Istrinya yang lambat seperti itu. Bahkan sampai tidak sadar sudah memanggil Lovi dengan kata yang sangat manis. Sama halnya dengan Devan, Lovi pun tidak sadar bila Devan mengubah panggilannya dalam sekejap. Lovi sibuk terkantuk-kantuk.
"Diam!" gerutu Lovi saat Devan terus-terusan mengecup pipinya.
"Aku tidak akan berhenti mengganggumu kalau kamu tidak bangun juga dalam hitungan ke tiga," dengan yakin Devan mengucapkannya. Lovi pasti akan mandi sebentar lagi. Biasanya, Bila sudah diancam seperti itu, Lovi akan mematuhi perkataannya.
"Dua, ...."
Belum ada pergerakan apapun dari Lovi. Bahkan suasana makin sunyi ketika Devan diam menunggu Istrinya. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar.
"Lov?"
Hal yang membuat Devan menggeleng pelan pagi ini adalah melihat Lovi yang kembali merebahkan tubuhnya tanpa peduli suaminya yang mulai kesal.
"Tiga!"
Tidak ada pilihan lain. Lelaki itu langsung mengangkat tubuh Lovi hingga Lovi terkejut bukan main. Ia di gendong dalam posisi kakinya melingkari pinggang Devan. Ia berteriak namun secepat kilat Devan meraih bibir Lovi.
Begitu sampai di kamar mandi, Devan meletakkan tubuh Lovi di dalam bath up. Raut wajah Lovi yang tidak bersahabat mengundang Devan untuk tersenyum menggoda.
"Aku tidak suka diganggu seperti tadi!" ucapnya dengan tegas.
__ADS_1
Devan mengangkat sebelah alisnya. Ia tak peduli dengan kalimat Istrinya. Wajar saja perempuan itu kesal. Karena Ia menggendongnya secara tiba-tiba ditambah lagi dengan keadaan yang masih mengantuk. Tentu saja membuat Lovi sangat terkejut.
Devan ingin melepas semua yang membalut tubuhnya. Ia juga akan melakukannya pada Lovi namun saat akan mendekatinya, perempuan itu kembali berteriak dengan tangan yang berusaha mempertahankan pakaian tidurnya.
"Aku tidak mau kamu membuka bajuku!"
"Ya sudah kalau mau membukanya sendiri," jawab Devan dengan acuh. Ia tidak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting mereka bisa mandi bersama pagi ini.
"Aku tidak mau mandi. Aku ingin kembali tidur,"
Devan menatap Istrinya tidak percaya. Sebenarnya apa yang membuat Istrinya itu malas bangun di hari ini?
"Ini sudah siang, Lov. Kamu yakin akan tidur lagi?" ucap Devan lembut. Menghadapi wanita hamil memang tidak mudah seperti dalam bayangannya.
"Memangnya jam berapa?"
Melihat keraguan di mata Istrinya, Devan langsung membuat karangan terbaik.
"Yang jelas sudah siang,"
"Jam berapa?" paksa Lovi.
"Jam sepuluh,"
Padahal tadi seingatnya jarum jam masih ada di angka delapan. Tapi demi melancarkan niatnya, Devan harus berbohong.
"Artinya aku sudah sangat kesiangan ya?"
Lovi mengusap tengkuknya dengan wajah seperti orang kehilangan arah. Devan menahan senyumnya.
Ia masuk ke dalam bath up untuk bergabung bersama Istrinya. Lovi malah berdiri seolah menghindari Devan yang ada di belakang tubuhnya dalam bath up itu. Jujur saja hal tersebur membuat Devan geram. Entah apa lagi yang akan dilakukan perempuan itu.
"Aku akan membuka baju,"
Setelah mendengar kalimat tersebut, Devan merasa angin segar menerpa tubuhnya. Ia menghela napas lega sekaligus bersorak senang di dalam hatinya. Ia akan mandi bersama dengan Lovi di pagi yang cerah ini.
Lovi tidak benar-benar polos karena Ia terlalu risih bila harus melepas semuanya namun Devan mengerti. Sejenak Lovi mengerinyit menatap bath up yang masih kosong belum ada air sama sekali. Devan tidak ingat kalau belum mengisi bath up. Lelaki itu terlalu bersemangat.
__ADS_1
"Di dalam bath up kering seperti ini kita akan mandi?"
**************