My Cruel Husband

My Cruel Husband
Perkara tempat tidur


__ADS_3

"Makan dulu, berhenti main!"


"Kamu belum makan sejak tadi siang. Mommy suapi, ayo."


"Adrian..."


Beberapa menit usai berdebat, Lovi menghampiri anak keduanya yang masih berkutat dengan mobil dan robot mainan miliknya.


"Tidak, Adrian tidak nafsu makan,"


"Kenapa? karena masih merajuk dengan Daddy?"


Lovi berdecak mendengar suaminya yang menyahut. Bukannya menyelesaikan pekerjaan, malah membuat Adrian kesal lagi.


"Nanti sakit, Sayang. Makan bersama Mommy. Mommy juga belum selesai makan tadi,"


"Tidak mau! perutku masih penuh,"


"Penuh dengan apa? udara?"


"DADDY DIAM! BERISIK!" teriakan Adrian melengking, Ia tidak suka mendengar Devan yang menyahuti terus-menerus.


Sementara Devan yang masih membaca berkasnya di ruang tamu hanya bisa menghela napas pelan. "Baiklah, Daddy diam," ujarnya.


"Maafkan Auris, jangan marah lagi padanya,"


"Selalu seperti itu. Padahal Auris yang terkadang mengganggu lebih dulu, tapi aku yang dimarahi," Ia masih mencibir kesal. Ia menekan remot mainannya dengan gerak tidak santai, melampiaskan rasa tidak terima.


"Nanti rusak, Mommy tidak belikan lagi ya?"


"Bisa Aunty Vanilla yang belikan. Aku sudah lama tidak diajak ke salon. Nanti pasti dibelikan mainan karena aku menjadi temannya saat perawatan," Adrian menampilkan raut angkuhnya yang terlihat lucu di mata Lovi. Memang dia pikir Vanilla akan tetap membelikan kalau Ia sudah mengatakan 'Jangan'?


"Yang punya anak adalah Mommy dan Daddy. Kalau kami tidak izinkan, artinya Aunty tidak bisa berbuat apapun," ujar Lovi seraya tersenyum miring. Adrian berdecak kesal dan langsung bangkit untuk mencubit hidung Mommy-nya yang menyebalkan itu.

__ADS_1


Lovi segera menghindar. Ia berjalan cepat kembali ke ruang makan untuk menghabiskan makan malamnya. Rupanya Adrian mengikuti. Ia menarik ujung baju yang dikenakan Lovi sehingga membuat perempuan beranak tiga itu menoleh kesal.


Lovi segera menggenggam tangan Adrian untuk memasuki ruang makan. Ia mengambil piring milik anaknya itu.


"Suapi,"


"Iya, Mommy ambil dulu makanannya,"


"Di piring Mommy,"


Lovi gemas sendiri. Ia mengembalikan piring Adrian.


"Okay, anak tampan. Mommy laksanakan,"


"Jangan terlalu banyak,"


"Ini sedikit,"


"Tidak-tidak, itu banyak, Mommy. Sedikit saja udangnya,"


"Aku sedang diet jadi makannya sedikit saja,"


"Huh? apa?"


Lovi mulai menyuapi dan Adrian langsung mengunyahnya.


"Berat badanmu sudah ideal. Lagipula anak kecil tidak disarankan untuk diet. Mommy katakan pada Daddy ya?!" Lovi menatap Adrian tajam. Yang benar saja anak ini. Tahu apa dia tentang diet? dipikirnya itu bagus untuk anak seusia dia yang sedang dalam masa pertumbuhan?


"Perut Adrian sudah tidak bagus lagi, Mom."


"Kata siapa? kamu masih rajin olahraga. Sepak bola, lari pagi, main sepeda juga. Tidak boleh menahan nafsu makan seperti itu!"


"Boleh, Adrian yang membolehkannya,"

__ADS_1


"Adrian--"


Melihat sorot penuh peringatan dari sang Mommy, Adrian terkekeh. Suasana hatinya sudah kembali lagi. Bahkan sudah kembali jahil, membuat Lovi panik.


"Adrian tidak serius, Mom. Hanya kurang nafsu makan saja, bukan karena diet,"


"Benar?"


"Iya, jarang merasa lapar,"


"Ada apa dengan tubuhmu? biasanya selalu semangat kalau urusan makan. Apa lagi makanan yang manis-manis,"


"Oh, kalau itu berbeda, Mom."


******


"Dad, tidurnya di luar saja. Jangan di sini. Aku merasa sesak nanti," ujarnya beralasan padahal ranjang orangtuanya itu begitu luas. Ia hanya tidak ingin diganggu ketika bermanja dengan Lovi.


"Ini kamar Daddy. Kenapa jadi Daddy yang diusir?"


Lovi menata bantal yang akan digunakan untuk tidur. Setelah memiliki adik, Adrian tidak pernah lagi meminta untuk tidur di kamar orangtuanya. Sekarang, Ia menginginkan itu lagi. Tentunya menimbulkan perdebatan. Auristella tidak menerima kehadiran kakak keduanya di ranjang Mommy dan Daddy-nya.


"Kamu tidur di boks mu saja. Jangan di sini,"


"Hey, jangan mengusir begitu. Tidur sama-sama di sini. Kamu dan Auris sama saja," Lovi menengahi kedua anaknya. Auristella membalas tatapan tajam Adrian dengan mata mengerjap lucu.


Auristella dibaringkan dekat dengan Lovi. Sementara Adrian di samping Devan. Kedua anak kecil itu tidur di ditengah-tengah orangtuanya.


"Aku dekat Mommy,"


Saat Adrian akan bangkit menyingkirkan adiknya, tangan Devan menahan perut sang anak.


"Daddy sedang lelah dan sangat mengantuk. Jangan buat Daddy kesal. Sekarang, tidur!"

__ADS_1


---------


__ADS_2