
"Aunty Jo! Adrian marah sekarang!" Adrian mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, tidak terima Devan diperlakukan kejam oleh Joanna.
Rena terkekeh geli menyaksikan keributan itu. Kehangatan yang terjadi terlihat begitu natural. Ini sudah sangat Ia rindukan.
Devan membawa tubuh anaknya ke dalam pangkuan. Adrian sibuk bergelut dengan orang dewasa sementara Andrean sedang menonton televisi di ruang keluarga. Kayla yang sudah selesai menganggu Ibunya pun sudah masuk ke dalam menyusul kakaknya Jemmy yang juga menonton bersama Andrean.
"Aunty tidak peduli. Daddymu yang membuat Aunty naik darah,"
Adrian menatap Jo penuh dengan aura permusuhan. Devan meraup wajah anaknya.
"Kenapa Adrian marah?"
"Aunty Jo jahat pada Daddy,"
Jhon mendekati Jo Lalu berbisik pada Istrinya itu.
"Kasihan Devan tidak punya Istri jadi biarkan saja Adrian membela dia,"
Rena menunduk untuk meraih telinga keponakannya. Yang dibicarakan itu adalah anaknya. Jhon pikir Rena tidak tahu?
"Coba ulangi kalimatmu, kalau perlu katakan langsung pada Devan. Sudah bisa dipastikan perusahaanmu taruhannya,"
Jhon mendengus kasar saat Ia kedapatan membicarakan Devan. Kenapa Rena harus memiliki telinga yang tajam? Padahal usianya tak lagi muda.
Masalah perusahaan tentu saja Rena berbohong. Mana mungkin Devan sekejam itu pada sepupu yang sudah bersamanya sejak lama. Ketika kecil mereka sering berbagi tempat tidur, kamar mandi, makanan, bahkan perempuan. Saat keduanya sama-sama menjadi bajing*n kerap sekali Jhon menyewa perempuan yang kadang kala sudah berurusan dengan Devan terlebih dahulu di atas ranjang. Sulit mengakui kalau Ia selalu kalah cepat dengan Devan.
"Memang dia bicara apa, Ma?" Devan penasaran juga dengan ucapan Jhon. Kalau terlampau kurang ajar, akan dia siapkan pemakaman untuk Jhon setelahnya.
"Daddy, kata Mommy party sudah selesai?"
__ADS_1
Lovi rupanya lebih tahu daripada Devan si kepala keluarga pemilik rumah itu. Huh! Mereka sepertinya tidak menganggap Devan. Devan tidak tahu apapun mengenai party yang akan berlangsung nanti.
"Mulainya saja belum. Ribut terus," cetus Zio. Pemanggang sudah disiapkannya. Sementara Jhon sedang menyalakan musik dari audio yang dibawanya tadi.
"Belum, kenapa?"
Devan menurunkan Adrian dari pahanya lalu menghampiri si sulung itu.
"Grandma Sena turun lagi karena Mommy mau makan sama Daddy. Mommy tidak mau disuapi Grandma katanya,"
Senyum miring hadir di wajah Devan. Lovi sudah merindukannya atau bagaimana? Padahal belum lama Ia meninggalkan Lovi. Atau ini adalah permintaan si jabang bayi?
"Mommy yang mengatakannya?"
"Andrean tadi ikut Grandma ke kamar Mommy sebentar. Jadi Andrean tahu Mommy mau apa,"
Suara pura-pura batuk langsung terdengar bersahutan. Zio, Jhon, Jo, Dallina sibuk meledek lelaki yang sedang senyum layaknya orang gila itu.
Adrian mengejar Devan yang baru saja meninggalkan taman. Kaki kecilnya berusaha mengikuti langkah ayahnya.
"Yhaa ditinggal. Kasihan,"
Adrian menoleh ke belakang saat Zio berseru kencang. Ia jelas tahu kalau kalimat itu ditujukan untuknya.
Adrian menjulurkan lidahnya lalu berbalik untuk menggoyangkan pinggulnya, membalas ejekan Zio.
"Adrian...Adrian, entah akan seperti apa kamu saat sudah besar nanti," Neneknya saja sudah hampir kewalahan melihat Adrian yang seperti itu.
***
__ADS_1
Senata duduk di meja makan menatap kosong makanan Lovi. Tidak bisa disalahkan, Lovi hanya menuruti keinginan bayinya. Senata tidak bersedih sama sekali.
"Ma..."
Senata menoleh saat Devan menghampirinya. Ia tersenyum lalu menyerahkan satu mangkuk bubur di tangan Devan.
"Lovi mau makan disuapi kamu,"
Devan mengangguk lalu Ia menelisik wajah Senata.
"Apa yang Mama pikirkan?"
Senata menggerakan kepalanya seraya tersenyum.
"Tidak ada. Lovi belum makan, kamu sudah ditunggunya,"
Mengetahui fakta itu akhirnya Devan naik masih diikuti oleh dua ekornya. Adrian melompati dua tangga sekaligus dan Devan marah.
"Kamu mau jatuh lagi?"
Adrian menggeleng polos lalu Ia mulai melangkah normal. Ia takut kalau Devan sudah mengeluarkan suara tajamnya.
"Mommy, hello!"
Adrkan langsung melompat ke atas ranjang Lovi begitu sampai di kamar Lovi. Devan menutup pintu kamar Lovi setelah kedua anaknya masuk.
"Kamu mau makan sama aku?"
Senyum Devan terlihat menyebalkan untuk Lovi yang terlalu gengsi dalam mengatakan keinginannya secara langsung. Kalau bukan Andrean dan Senata yang jujur pada Devan, sudah dipastikan perempuan itu tidak makan.
__ADS_1
-----
Vote & komen bole bagii? maakasih bwt yg gk pelit sm pan-pan & lop-lop💙😚