My Cruel Husband

My Cruel Husband
Penjaga Mommy


__ADS_3

Lovi belum bisa tidur padahal sudah tengah malam seperti ini. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar dan menikmati camilan di ruang makan.


Malam-malam seperti ini, terkadang Lovi merasa lapar. Ketika Lovi memasuki ruang makan, Ia melihat Senata yang tengah menyendiri dengan segelas air minum di depannya.


Lovi menghampiri Senata yang duduk seraya menatap kosong ke depan. Ketika Lovi mengusap bahunya, Senata tersentak. Ia tersenyum dan menyuruh Lovi untuk duduk di sampingnya.


"Kenapa belum tidur?"


"Sulit tidur, Ma. Mungkin karena lapar juga," Lovi terkekeh kecil lalu beranjak ke tempat khusus menyimpan banyak camilan.


Ia mengambil beberapa, lalu setelah itu kembali duduk, mulai menikmatinya satu persatu. "Mama juga belum tidur. Kenapa, Ma?"


"Lovi, ayah sakit."


"Kenapa membahas ayah, Ma? yang aku tanyakan tadi bukan itu,"


"Mama ingin bicara serius dengan kamu. Ini waktu yang tepat, mengingat anak-anakmu sudah tidur..."


Lovi bergeming dan tetap sibuk menyantap. Ia mendengarkan tetapi tidak terlalu fokus. Setiap ayahnya disebut, Lovi merasa kesal tiba-tiba. Sisi jahatnya masih menguasai.


"Kamu tidak bisa memaafkan ayah? Mama saja kamu maafkan. Itu tidak berlaku untuk ayah?"


"Ayah juga orangtuamu. Mama juga pernah melakukan kesalahan tapi Mama mendapatkan maaf itu. Kenapa ayah tidak?"


"Ma... aku belum--belum bisa. Aku perlu waktu. Saat memaafkan mama pun seperti itu. Aku sedang mencobanya bahkan sebelum Ayah, Mama, dan Devan meminta."


"Mama sudah mendengar semua tentang ayah setelah menjalani hukuman. Kondisinya memprihatinkan. Anak-anakmu bahkan menemuinya. Andrean bercerita banyak pada Mama. Dia sangat berharap bisa membawa ayah untuk tinggal bersamanya,"


Lovi mengangguk, Ia teringat percakapan kemarin malam. Andrean memang terlihat sungguh-sungguh dengan keinginannya agar Lucas tinggal bersama mereka setelah tidak lagi di mansion.


"Dia sudah mengatakan itu padaku. Tapi aku belum bisa menjawab,"


Rencana untuk kembali ke rumah mereka belum dibicarakan lagi. Keluarga kecil Devan sudah bisa kembali beradaptasi dengan suasana mansion yang sempat mereka tinggali beberapa bulan karena Devan memutuskan untuk membawa keluarga kecilnya menetap di hunian pribadi.


Ketika Auristella dilahirkan dan Ia harus dirawat beberapa hari di rumah sakit karena penyakit yang dideritanya, Devan sangat membutuhkan peran Rena, Vanilla, Jane, dan Raihan untuk menemani kedua anaknya. Akhirnya Devan memutuskan untuk menetap di mansion lagi sampai waktu yang memang tidak ditentukan.


Ternyata sampai Auristella berusia delapan bulan, mereka belum juga bisa meninggalkan mansion. Sudah terlalu nyaman. Tetapi setiap ada waktu luang, Lovi ataupun Devan selalu menyempatkan diri untuk melihat kondisi kediaman mereka.


*****


"Lovi, anakmu menangis. Tolong diamkan, telingaku sakit,"


Teriakan Devan terdengar keras. Lovi yang sedang berada di walk in closet segera berlari masuk ke kamar lalu menghampiri Auristella yang menangis karena bonekanya diambil oleh Adrian.


"Apa lagi, Adrian? Astaga, Mommy sedang menata baju. Sehari saja tidak mengganggu Auris memang sulit sekali ya? hmm?"


"Adrian hanya ingin pegang. Dia saja yang berlebihan. Sedikit-sedikit menangis,"


Andrean memasuki kamar dengan langkah panik setelah mendengar Daddy-nya meneriaki Lovi. Andrean paling tidak suka Devan seperti itu. Mendengar kata yang menurutnya kurang lembut saja, Ia akan protes. Apalagi bila teriak seperti tadi.


"Daddy, kenapa marah-marah? Auris menangis bukan salah Mommy,"


"Sudah, diam!" Titah Devan yang kembali fokus dengan laptopnya. Sekarang Andrean tahu kenapa Devan marah. Ia sedang fokus bekerja dan kedua adiknya mengganggu.


"Kalau bekerja itu di ruang kerja, Dad, bukan di kamar. Supaya telinga Daddy tetap sehat, lebih baik di ruang kerja saja,"


"Adrian, keluar dari sini! tidak usah berdekatan lagi dengan Auris kalau hanya mengganggu,"

__ADS_1


suasana hati Andrean berubah. Ia merasa kesal dengan sikap Devan. Kalau tidak bisa menenangkan Adrian dan Auristella, kenapa harus seperti itu pada Lovi? tidak bisakah bicara yang baik?


Andrean menarik lengan adik keduanya agar keluar dari kamar. Auristella merengek tidak ingin ditinggalkan. Andrean tidak peduli. Biarkan saja kedua adiknya itu berjauhan. Setiap dekat selalu saja membuat keributan. Tapi ketika jauh malah merasa kehilangan.


Lovi membawa anaknya ke walk in closet agar di kamar, Ia tidak mengganggu Devan. Sembari menunggu Lovi menata pakaian, Auristella berdiri dan sesekali akan terjatuh ketika ingin mengayunkan pakaian yang sudah digantung.


Lovi tidak melarang. Ia membebaskan Auristella untuk melakukan apapun yang Ia suka asalkan tidak mengganggu kegiatan Lovi.


"LOVI, VITAMIN AKU DIMANA?" Devan kembali berteriak. Lovi mengatur napas guna menahan dirinya yang ingin sekali menimpali Devan dengan teriakan juga.


Dilihatnya Lovi sedang sibuk, dan biasanya bila ada yang dibutuhkan selalu meminta bantuan menggunakan kalimat dan nada yang baik. Sekarang malah seperti itu. Entah apa yang membuat emosi Devan membara.


"Apa lagi, Devan?"


Devan sedang mengeluarkan isi dari nakas sampai berantakan. Lovi yang melihat itu mengerang kesal dalam hati.


"Biasanya aku letakkan di sana. Kamu juga tahu,"


"Tapi sekarang tidak ada. Dimana? cari!"


Pintu kamar terbuka. Andrean datang dengan wajah datarnya. Ia menoleh ke belakang, memastikan Adrian tidak mengikutinya.


"Kenapa berteriak lagi, Daddy? bicara yang baik memang sulit ya?"


"Andrean, diam! lebih baik keluar!"


"Tidak, Daddy memarahi Mommy. Bagaimana aku bisa diam saja?"


"Andrean..." Lovi memanggil nama anaknya dengan pelan lalu mengisyaratkan Andrean untuk keluar.


Devan menjelajahi kamarnya yang luas untuk mencari benda yang dicarinya. "Cari vitamin aku! jangan diam saja,"


"Aku bantu, Mom."


Andrean tidak mau keluar dari kamar. Ia malah membuka satu persatu laci yang ada di kamar orangtuanya untuk membantu Lovi yang dimarahi tanpa sebab itu.


Andrean tidak melihat adik bungsunya di kamar. Sehingga sembari mencari, Ia mendatangi closet. Di sana Ia melihat Auristella tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Beruntung sekali Auristella tidak terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya yang sedang memanas.


"Auris, kamu memainkan kotak obat Daddy tidak? di sana ada vitamin Daddy,"


Auristella kerap menyentuh barang-barang yang bukan miliknya. Dimainkan lalu setelah itu diletakkan sembarangan, tidak peduli pemiliknya akan sepanik apa mencari bahkan ada yang sampai marah-marah, seperti Devan saat ini.


"No," gumam anak itu seraya menggelengkan kepala.


"Yang benar?"


BRAKKK


"DIMANA, LOVI?! AKU BELUM MINUM VITAMIN HARI INI,"


"Astaga," Andrean tersentak, Ia segera berjalan cepat meninggalkan Auristella untuk menghampiri Lovi. Kalau sampai Devan menyakiti Mommy-nya, maka tidak ada maaf untuk Devan.


Devan baru saja memukul meja rias setelah tidak menemukan kotak kecil yang menyimpan berbagai vitaminnya.


"Daddy--"


"Andrean jangan ikut campur! ini urusan orangtua,"

__ADS_1


"Tapi Daddy menyakiti hati Mommy. Jangan seperti itu, Daddy. Bukan Mommy yang salah,"


"Lalu siapa yang salah? Daddy? selama ini, yang menyimpan kotak obat Daddy adalah Mommy,"


"Tapi sudah aku letakkan di tempat biasa. Benar, Devan. Aku tidak mungkin lupa,"


"Mungkin Daddy yang salah ingat," sela Andrean yang sudah terlalu kesal dengan perilaku Devan yang tidak biasanya marah seperti ini.


"Daddy kalau lelah jangan jadikan orang lain pelampiasan. Istirahat, supaya pikiran Daddy tenang,"


"Kamu jangan mengatur!"


Andrean menggeleng tak habis pikir. Ia menggusar rambutnya bingung. Kalau diladeni akan semakin menjadi, tetapi kalau dibiarkan, Devan bisa semakin melukai hati Mommy-nya.


"Biasanya selelah apapun Daddy, tidak pernah sampai marah seperti ini, di depan Andrean pula. Daddy ada masalah? bicarakan saja, Dad."


Devan keluar dari kamar setelah sebelumnya membanting pintu. Lovi tersenyum pada Andrean, berusaha menenangkan putra sulungnya yang terlihat begitu khawatir. "Andrean keluar saja. Mommy tidak apa di sini,"


"Tidak, Andrean mau jaga Mommy."


"Kamu lebih baik istirahat. Besok harus bangun pagi untuk sekolah,"


"Mom--"


"Mommy juga hampir selesai menata baju. Ayo, kamu istirahat. Daddy hanya kelelahan," Lovi masih berpikir positif. Devan memang sering bad mood karena terlalu penat dengan pekerjaan tetapi menurutnya inilah yang paling parah, sampai membentak di depan Andrean.


Setelah memeluk Andrean, Lovi kembali menyuruh anaknya itu untuk tidur. Ia mengusap wajah Andrean yang masih belum tenang.


"Selamat tidur,"


******


Devan memasuki kamar kedua putranya. Di sana tidak ada Adrian. Hanya Andrean yang sedang sibuk belajar. Padahal ini sudah malam.


"Andrean..."


merasa dipanggil, Ia menoleh. Tetapi setelah melihat sosok Devan lah yang masuk ke dalam kamarnya, Andrean kembali fokus pada kegiatannya.


Devan mengusap bahu putranya lalu ikut menatap buku yang sedang dibaca Andrean. "Kenapa Daddy datang ke sini? belum selesai marahnya?"


"Maafkan Daddy tadi membentak Mommy di hadapan kamu. Daddy tidak memiliki maksud apapun,"


"Daddy keterlaluan,"


"Iya,"


"Lalu kenapa Daddy lakukan?"


"Besok hari ulang tahun pernikahan Daddy dan Mommy. Daddy ingin perayaan tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Mommy tidak tahu apa yang sudah Daddy rencanakan untuk besok. Sebelum hari bahagia itu tiba, Daddy ingin membuat Mommy kesal dan sedih dulu,"


Andrean berdecak lalu bangkit. Ia menatap Devan dengan kening berkerut marah. "Harus seperti itu caranya membuat kejutan?" desisnya tidak terima. Mengingat ekspresi sedih Lovi, Andrean sangat khawatir.


"Maaf, besok Daddy akan meminta maaf pada Mommy."


"Kenapa harus besok? Daddy berbuat kesalahan sekarang,"


"Nanti Mommy curiga. Sudah, kamu tenang saja. Daddy akan masuk lagi ke kamar lalu bersikap biasa saja. Daddy tidak akan melanjutkan yang tadi," senyum Devan yang jahil membuat Andrean mendengus.

__ADS_1


"Kalau sampai Daddy berani mengulangi yang tadi, Andrean akan marah besar. Tidak boleh ada yang menyakiti Mommy, termasuk Daddy,"


__ADS_2