
"Pa, sepertinya kami sudah selesai."
Devan buru-buru bangkit dari meja makan. Gerak tubuhnya mengundang tatapan aneh orang-orang di sana.
"Lov, ayo pergi sekarang."
Lovi yakin kalau Raihan tadi menyebut nama mantan kekasih Devan yang sudah lama tidak Ia lihat lagi keberadaannya di mansion ini. Apakah perempuan itu tidak lagi menjalin hubungan dengan suaminya? kalau memang benar, maka Ia sangat bahagia. Lovi tidak
pernah berani bertanya pada Devan mengenai Elea, karena hubungan mereka sudah lebih baik. Lovi tidak ingin menghancurkan semuanya.
Di sisi lain, sebenarnya Raihan sudah mengira kalau anaknya akan menunjukkan reaksi yang seperti itu. Ketika melihat sikap Devan yang panik, Raihan semakin yakin kalau lelaki itu belum jujur pada istrinya.
**************
"Jadi ini semua belum selesai? padahal kalau aku lihat, rumah ini sudah bisa ditempati,"
Lovi menelusuri ruangan demi ruangan yang ada di rumah baru mereka. Devan memutuskan untuk berpisah dengan kedua orangtuanya. Sudah saatnya Ia hidup mandiri. Lagi pula Adrian dan Andrean sudah sedikit besar. Tidak begitu sulit lagi dalam merawat mereka sehingga peran Rena tidak diperlukan lagi. Lovinya pun sudah kembali sehat, Devan yakin rumah tangga mereka akan menjadi lebih baik.
Langkahnya ini tentu saja mendapat penolakan keras dari Rena dan Raihan. Mereka tidak akan membiarkan putra sulung keluarga Adiwijaya keluar dari mansion dengan alasan 'ingin hidup mandiri'. Mereka akan merasa kesepian bila keluarga kecil Devan keluar dari tempat yang sudah membesarkan Devan.
Setelah berusaha lebih keras, akhirnya Devan memperoleh persetujuan. Dengan syarat, mereka harus rajin berkunjung ke mansion.
"Kamar anak kita belum maksimal,"
Devan memeluk pinggang Istrinya dari samping sembari mereka berjalan-jalan di sekitar taman yang seperti biasa akan menjadi tempat kesukaan Lovi.
"Wah aku suka sekali dengan bunga-bunganya," decak kagum tak henti Lovi tunjukkan. Ia benar-benar terpukau dengan Devan yang begitu mahir dalam menentukan semuanya. Berapakah uang yang habis untuk menyempurnakan ini semua? ah! kalau Ia bertanya lagi pada Devan, pasti Devan akan menjawab,
"Kenapa kamu bertanya? ingin mengganti uangku? tidak perlu, beri saja aku cinta!"
Devan si pengemis cinta mulai berani menunjukkan eksistensinya.
"Aku senang kalau kamu suka,"
Devan mengecup pipi Lovi hingga perempuan itu menoleh, bibirnya langsung disambut senang oleh Devan. Mereka bercium*n di taman rumah baru mereka. Ini akan menjadi kenangan yang manis!
__ADS_1
Adrian dan Kakaknya sedang tertidur dan di jaga oleh baby sitter mereka, Serry. Pelayan yang kini diangkat menjadi baby sitter utama Adrian dan Andrean pun sangat bahagia begitu Lovi mengajaknya untuk berlibur. Setelah ini, mereka akan menginap di bungalow milik Devan. Selain Serry, tentu saja masih ada beberapa wanita yang diutus Devan untuk menjadi pengasuh kedua anaknya, namun mereka semua akan bekerja setelah Devan dan keluarga kecilnya pindah ke rumah ini.
Lovi berjalan menghampiri bunga anggrek yang menjadi salah satu bunga favoritnya. Ia tersenyum lalu tangannya beralih menyentuh kelopak mawar yang keberadaannya tak jauh dari anggrek ungu tersebut.
"Sayang, jangan menyentuh itu!"
Devan yang datang tiba-tiba seperti itu malah membuat Lovi terluka. Tangannya tidak sengaja menyentuh duri mawar.
"Aku bilang juga apa?"
"Ini gara-gara kamu! aku kaget begitu kamu datang tiba-tiba sambil marah,"
"oh benarkah? maaf, Sayang. Aku tidak tahu akan jadi seperti ini,"
"Harus diobati!"
Devan merangkum bahu istrinya untuk membawa perempuan itu masuk ke dalam, mengobati lukanya yang Devan lihat cukup dalam.
"Tidak, ini tidak sakit."
"Devan, geli! jangan di hisap begitu!"
"Darahnya perlu dikeluarkan, Lov."
"Tapi..."
Devan mengangkat kepalanya dengan mulut yang masih bekerja. Ia mengisyartkan Lovi untuk diam.
Jantung Lovi dibuat berdegup kencang. Ini bukan untuk pertama kalinya mereka merajut kemesraan, tapi entah mengapa rasanya masih sama. Ia tidak bisa menghentikan detak aneh yang selalu hadir ketika Devan melakukan hal manis padanya.
Devan mengeluarkan darah Lovi yang ada di mulutnya, setelah itu menatap Lovi dengan dalam.
"Besok aku suruh mereka untuk membuang mawar sialan itu!" Ucap Devan. Ia langsung melirik tajam ke arah Lovi yang terlihat ingin membantah ucapannya.
Benar saja perkiraan Devan. Kini Lovi merengek dengan manjanya.
__ADS_1
"Aku suka dengan bunga-bunga itu. Jangan di buang, Devan. Aku akan marah padamu kalau besok bunga itu tidak ada lagi di sini,"
biasanya ancaman itu selalu berhasil. Namun sepertinya kali ini Devan tidak takut dengan ancaman Alona. Terlihat dengan adanya perubahan di raut wajahnya. Ia tersenyum miring.
"Aku lebih baik menghadapi kamu yang marah-marah. Daripada harus melihat kamu terluka. Aku tidak bisa, Lov!"
Lovi menggigit bibir bawahnya untuk menahan teriakan kesal.
Sialan! dia gagal membuat Devan berubah pikiran. Apakah Ia harus melakukannya dengan lembut?
Sepertinya, Iya. Dia harus membujuk Devan dengan cara yang lebih lembut agar lelaki itu bisa menuruti keinginannya.
Lovi meletakkan kedua tangannya di leher Devan sebagai permulaan. Ia mengamati raut wajah Devan yang masih datar. Tidak ada ekspresi mendamba di wajahnya yang biasa Ia tunjukkan ketika Lovi mulai agresif.
Lovi mulai berani mengusap dada bidang suaminya. Demi bunga mawar! Ia harus melakukan ini pada Devan.
Ketika jari telunjuk Lovi bermain di lehernya, Devan menggeram. Devan berusaha menahan gejolak yang meledak-ledak dalam dirinya. Ia tahu niat istrinya ini. Benar-benar licik! tapi Ia suka.
"Lovi! jangan, sayang!" Devan melarang Lovi yang ingin mengecup lehernya. Posisi perempuan pendek itu benar-benar membuat Devan tersenyum geli. Lovi terlalu niat sampai harus berjinjit untuk menggodanya di titik terlemah seorang Devan. Yaitu leher dan dada.
"Kenapa? kamu tidak suka?"
"Aku suka. Yang aku tidak suka adalah niat kamu. Jangan melarang aku untuk membabat habis bunga sialan itu. Dia sudah melukai kamu, Lov. Aku tidak terima,"
Lovi mendengus keras. Ia sedih karena ternyata Devan sudah berdiri kokoh diatas keputusannya.
"Stop! jangan goda aku lagi. Kita bisa melakukannya setelah sampai bungalow nanti. Mengerti sayang?"
Tangan Devan menangkap jemari istrinya yang masih sibuk bergerilya. Ia menatap gemas perempuan yang memasang wajah memohon itu.
"Kamu juga menyakiti aku dulu. Tapi Tuhan tidak mengusir kamu dari hidupku bukan? lantas kenapa bunga itu kamu usir? dia tidak melakukan kesalahan yang lebih besar daripada kamu, Devan!"
*********
seperti janji aku maren, aku bkl up kl idenya lancaaarrrr. Kl enggk lancar yaudh mohon bersabar wkwkwk. Gut nait gayys. Tencuuu oll
__ADS_1