My Cruel Husband

My Cruel Husband
Deni kehilangan


__ADS_3

"Woaah Auris belum ulang tahun saja sudah banyak kadonya ya,"


Setelah pulang dari sekolah bayi, saatnya Auristella membuka kado-kado dari semua saudaranya tadi malam. Ternyata mereka semua memberi kado karena saat Auristella sakit belum sempat menjenguk. Pemberian itu sebagai permintaan maaf pada Auristella.


"Auris senang?"


Anak bungsu itu mengangguk dengan senyumannya. Ia dibantu oleh Lovi dan kedua neneknya untuk membuka semua kado.


"Lebih banyak mainan. Tapi ada juga yang baju,"


Adiknya sibuk membuka kado, kedua kakaknya baru saja diantar pulang oleh Devan. Devan mengeluarkan suara klaksonnya sebelum meninggalkan Andrean dan Adrian menuju kantor lagi.


Adrian berlari memasuki mansion dengan tas yang tersampir di punggungnya. Benar-benar menggemaskan. Sementara Andrean dengan langkah tenang, seperti biasa.


"Auris buka kado jangan di depanku seharusnya. Aku jadi ingin diberikan kado juga,"


Lovi mengangkat alisnya bingung. Datang-datang langsung mengajukan protes. Padahal Auristella tidak melakukan apapun. Perkara buka kado saja harus ada tempat khususnya.


"Adiknya harus buka kado dimana? kamar mandi?"


"Ide bagus!"


Lovi berdecak. Auristella masih sibuk dengan semua barang-barang yang baru menjadi miliknya. Tidak peduli kakak keduanya mencak-mencak karena ingin juga diberikan kado.


"Ganti seragam-nya. Kalau mau, ini masih ada kado yang belum dibuka, kamu bisa bantu Auris untuk membukanya,"


Biar adil dan tidak ada lagi rasa cemburu di hati Adrian, Lovi menawarkan pilihan yang menurutnya paling aman. Sepertinya Auristella juga tidak mempermasalahkan siapapun yang menyentuh kadonya. Terbukti Ia mau dibantu oleh kedua neneknya dan Lovi. Tidak seperti Adrian dulu yang setiap diberikan kado pasti melarang orang lain untuk membukanya. Hanya Ia saja yang boleh.


"Auris dapat itu karena dia baru habis sakit. Seharusnya tidak perlu cemburu. Kalau kamu ulang tahun juga pasti dapat kado, bahkan lebih banyak."


Adrian mengalihakan wajah tidak mau mendengar nasihat kakaknya. Lalu Ia berlari masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju.


"Mom, hati-hati. Kalau dua kurcaci jahil itu berdekatan pasti ada saja keributan." Andrean memberi peringatan yang terdengar lucu di telinga Mommy-nya. Tapi ada benarnya juga.


******


Devan kedatangan sahabatnya yang sepertinya sudah cukup lama tidak bertemu dengan dirinya. Deni datang bersama Keynie. Mereka baru saja dari rumah sakit setelah Keynie menjalani pemeriksaan rutin usai melakukan kuretase dua Minggu yang lalu. Keynie dinyatakan mengandung tapi sayang, janinnya harus pergi sebelum berhasil dilahirkan ke dunia karena kelalaian Ibunya. Keynie terjatuh di kamar mandi.


"Tapi kondisimu sudah lebih baik? jangan terlalu dipikirkan, Key. Masih banyak waktu untuk memiliki anak," ujar Devan menenangkan.


Saat mendengar kabar tersebut, Devan juga merasa sedih. Devan benar-benar terkejut. Ia turut mendoakan agar pasangan itu kembali dianugrahi malaikat kecil.


Rupanya Deni datang ke sini karena butuh dukungan darinya. Devan bisa melihat kesedihan yang luar biasa dari raut Deni. Sahabatnya itu terlihat begitu kehilangan.


"Kamu tidak di samping Key waktu kejadian itu?" tanya Devan.


"Tidak, aku sedang bekerja. Dia terjatuh saat sendiri di rumah,"


"Astaga, tidak terbayang sakitnya seperti apa. Sudah mendapat pelajaran seperti ini, berubahlah, Deni. Jangan lagi mendewakan pekerjaan,"


"Ck! sebelum bicara, coba berkaca dulu." cibir Deni yang tidak terima ketika dianggap mengutamakan pekerjaan. Sebenarnya memang seperti itu kenyataan nya. Tetapi sulit sekali untuk mengakui.


"Tidak akan berubah kalau belum ada kesadaran dari diri sendiri. Aku juga mengutamakan pekerjaan tapi---"


"Kamu lupa, Lovi pernah keguguran sebelum Ia mengandung Auris?" tanya Deni dengan nada sinis. Suasana hatinya sedang buruk, Ia tidak perlu dinasihati karena sejak kejadian itu Ia sudah banyak menelan nasihat terutama dari orangtuanya. Yang Ia butuhkan adalah dukungan dari Devan sampai akhirnya Ia bisa tertawa lagi, tidak murung seperti ini.


Devan menepuk keningnya, lalu terkekeh. Sekarang ia harus mencairkan suasana, tidak boleh memancing Deni.


"Kehilangan yang aku alami itu disebabkan oleh kebodohan yang aku lakukan. Aku berbicara seperti itu agar kau tidak menjadi bodoh lagi untuk yang kedua kalinya. Pada intinya, jangan seperti aku."

__ADS_1


Deni tahu niat baik sahabatnya. Devan tidak menduga kalau ternyata Deni melakukan apa yang pernah Ia lakukan dulu. Lebih mementingkan pekerjaan, sampai lupa dengan kewajiban menjaga istri yang tengah mengandung.


Devan menepuk bahu Deni yang menunduk. Keynie sudah kembali dari toilet. "Kita makan siang bersama bagaimana?"


"Ini bukan siang lagi. Tapi sudah sore. Kenapa kau belum makan? Nanti sakit, lalu bagaimana dengan Lovi dan anak-anakmu? meminta aku untuk tidak bodoh, diri sendiri lebih bodoh lagi,"


*******


Auris senang sekali bila dipakaikan dress-dress seperti seorang putri. Ketika Ia mendapatkan itu dari salah satu sepupunya, Auristella bersorak senang. Ia langsung ingin memakainya. Auristella memang seperti itu bila memiliki barang baru yang begitu disukainya.


"Pakai baju Cinderella, sampai kapanpun tidak akan menjadi Cinderella. Buat apa, Auris?" Adrian meledek adiknya yang sedang dibantu Lovi untuk baru saja selesai mengenakan dress panjang berwarna biru muda itu.


"Biar saja. Mulut mu tidak usah komentar. Auris pakai bajunya sendiri, bukan punya kamu,"


Adrian menekuk wajahnya. Lalu menenggelamkan diri di atas ranjang. Memperhatikan Auristella yang sudah tampil semakin cantik.


"Cantik sekali cucuku. Akan menjadi primadona nanti,"


Auristella menyatukan kedua telapak tangannya lalu menunduk, Ia tahu sikap tubuh ketika mengucapkan kata 'terima kasih'. Rena dan Senata memekik gemas melihat tingkah Auristella.


Adrian menggeleng pelan melihat nenek-neneknya yang riuh. Adrian melirik sang kakak yang berbaring seraya membaca buku dongeng milik Auristella.


Andrean tampak tidak tertarik dengan situasi di sekitarnya. Ia tetap fokus dengan buku dongeng itu. Membaca adalah salah satu kegiatan yang paling disukai oleh Andrean selain olahraga dan menonton. Baik membaca untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Andrean kerap membacakan dongeng untuk adiknya sebelum tidur siang. Kalau malam, urusan Devan dan Lovi.


"Caranya supaya tidak bosan membaca bagaimana?" Adrian penasaran dengan cara kakaknya yang bisa bertahan membaca buku sampai berjam-jam. Sampai terkadang Lovi menyuruhnya untuk istirahat sebentar. Lovi khawatir dengan anaknya yang terlalu rajin itu. Di sekolah sudah banyak belajar lalu di rumah pun seperti itu kalau tidak bermain.


"Aku tidak punya cara khusus. Tergantung masing-masing orang. Tapi kalau aku, hanya menikmati apa yang aku baca."


********


"Titip salam rindu untuk ketiga keponakanku ya? aku belum bisa datang ke sana,"


"Iya, mereka juga tidak berharap kamu datang."


"Bayar dulu makanannya,"


"Ck! apa gunanya ada Boss besar di sini? bayarlah!"


Deni meninggalkan Devan yang mencibir. Sedih tapi makan banyak tetap berjalan dengan lancar. Huh! Deni si perut besar tidak akan pernah hilang kebiasaanya.


Setelah mengisi perut dan berhasil membuat sahabatnya sedikit melupakan kesedihan, Devan kembali ke kantornya.


"Hallo, Ferro?"


"Ada satu berkas yang belum ditanda tangani oleh Tuan. Lupa atau bagaimana?"


"Oh iyakah? mungkin aku tidak melihatnya. Aku akan sampai sebentar lagi,"


********


Adrian dan Andrean sedang berenang. Sudah lama mereka tidak melakukan olahraga di dalam air itu.


Adrian dan kakaknya berenang dengan gesit sementara Auristella hanya berdiri di tepinya bersama Lovi. Auristella sangat senang ketika merasakan dinginnya air, bahkan Ia sampai melompat-lompat.


"Kalian lomba, Mommy dan Auris jadi juri. Bagaimana?"


"Okay, aku siap!" suara Adrian terdengar penuh semangat.


"Aku juga. Hitung, Mom."

__ADS_1


Lovi menatap Auristella, "Kita hitung, Auris. Kita lihat siapa yang paling hebat bersenang.


"Satu..."


Adrian dan Andrean mengenakan kembali kacamata renang yang sempat mereka letakkan di atas kepala.


"Dua..."


Belum juga mulai, Auristella sudah riuh. Ia memekik seolah gemas dengan Lovi yang belum juga menyelesaikan hitungannya.


"Ayo, bantu Mommy untuk berhitung."


Auristella menggeleng, tidak bisa membantu Lovi karena Ia belum mampu berhitung. Ia hanya bisa menjadi juri yang menyaksikan saja tanpa ikut berhitung.


"Tiga!"


Adrian dan Andrean langsung masuk ke dalam air lalu mulai timbul tenggelam, berusaha mencapai ujung kolam.


Auristella tampak tegang. Memperhatikan kedua kakaknya yang sedang bertanding, sama-sama berjuang untuk menjadi pemenang.


Lovi berseru kencang, "WOAAHH GO GO GO!" Ia mengangkat tangan Auristella agar anak perempuannya itu juga ikut menyemangati jangan hanya memasang raut tegang seperti ini.


"Semangat kakak-kakakku!" ujar Lovi seolah menjadi Auristella. "Auris dukung siapa?"


Auristella menatap Lovi lalu kedua kakaknya yang masih bergelung dalam air.


"Ad," jawabnya. Entah sejak kapan Auristella memiliki panggilan sendiri untuk Adrian.


Yang jelas, Lovi baru menyadarinya tadi malam.


Saat ia bertanya pada Auristella, "Siapa yang menghabiskan teh hangat Mommy, Auris?"


Yang terlihat hanya ada Auristella dan Adrian yang tengah menonton televisi seraya berbaring di dekat Auristella. Tidak mungkin anak bungsunya itu yang membuat cangkir Lovi kosong.


Auristella menunjuk Adrian setelah Mommy-nya bertanya seperti itu.


"Ad," kata Auristella.


"AKU MENANG!"


Andrean berseru keras setelah keluar dari kolam. Andrean mengusap wajahnya seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi.


Selang beberapa detik, kepala Adrian timbul dari permukaan air. Napasnya tersengal dan Ia tampak biasa saja ketika dikalahkan.


"Sekali-sekali kalah,"


"Huh? memang selama ini aku sering kalah?


"Iya, aku selalu menjadi pemenang. Tapi sekarang aku mengalah," Agar tidak terlalu malu karena kalah, Adrian menggunakan seribu satu alasan.


Lovi memanggil kedua putranya untuk mendekat. Lovi akan menyerukan nama pemenangnya. "Andrean yang menjadi pemenang," Lovi mengangkat tubuh Auristella tinggi-tinggi hingga Ia terkekeh geli.


"Ad kalah, Auris. Payah sekali dia,"


Auristella menggeleng dan meletakkan telunjuknya di bibir Lovi. Lovi tidak boleh mengatakan kalau kakak kalah karena tidak hebat.


"Adrian lihat Auris. Dia mendukung kamu tapi kamu masih saja suka jahil," ujar Lovi agar Adrian membuka matanya lebar-lebar. Auristella mendukung Adrian di perlombaan sederhana ini sekalipun mereka jarang sekali akrab.


"Lain kali jadi pendukung aku saja, Auris. Yang selama ini membela kamu adalah aku," ujar Andrean seraya mengerlingkan matanya pada sang adik.

__ADS_1


"Tidak boleh! Auris sudah diresmikan menjadi pendukung aku setiap ada perlombaan apapun itu,"


-----


__ADS_2