
Mereka menonton film yang ramah anak. Menceritakan perjuangan seorang anak yang tinggal di pedalaman dan sukses menjadi seorang dokter spesialis yang mendapat pendidikan dari universitas ternama di salah satu negara Eropa. Anak lelaki itu adalah seorang bungsu. Walaupun demikian, orangtuanya kurang mengutamakan dia, baik dalam hal pendidikan maupun kasih sayang. Di samping tidak ada biaya, dia juga merupakan anak yang nakal saat masih kecil. Kedua orangtuanya kerap membandingkan antara dia dengan kakak-kakaknya yang terbilang banyak itu. Keluarga mereka mencari biaya hidup dari hasil bertani. Namun dia yang diberi nama Yohanes itu berhasil membuktikan kalau semuanya bisa dirubah dengan kerja keras. Meskipun orangtuanya kurang mencurahkan kasih sayang, Yohanes tetap semangat menuntut ilmu. Justru Ia mencari uang untuk menambah biaya sekolahnya sendiri dengan menjadi supir pengangkut padi dari desa menuju kota.
Anak yang selama ini dianggap remeh, dinomor duakan, berubah menjadi yang terdepan setelah berhasil menyabet gelar dokter spesialis dengan nilai tertinggi. Justru, kakak-kakaknya yang selama ini dibiayai mati-matian, diberi perhatian penuh, malah tidak bisa membalas kebaikan kedua orangtuanya. Mereka tidak menggunakan kesempatan sebaik mungkin. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti jejak Ayah dan Ibu mereka sebagai petani.
Yohanes pulang ke tanah kelahirannya setelah tiga tahun mencari pengalaman bekerja di negara tempatnya menuntut ilmu. Kedua orangtuanya tentu merasa bersalah setelah menyadari kalau perilaku mereka dulu sedikit banyak melukai hati Yohanes. Namun Yohanes mengatakan kalau itu semua Ia anggap sebagai cambukan agar Ia bisa menjadi lebih baik.
"Orang seperti itu yang dicontoh," Lovi berbisik di telinga Adrian. Dengan menyaksikan kisah itu, seharusnya Andrean dan Adrian sudah mulai berpikir bagaimana caranya menjadi anak yang berguna, membanggakan, dan juga rendah hati walaupun jabatan dan pendidikan sudah tinggi.
Seperti Yohanes yang tetap menyayangi keluarganya. Serta tidak lupa untuk mengabdikan diri di tanah kelahirannya.
*****
Hari ini Lovi gagal mencoba salon spa yang tak jauh dari hotel. Sehingga memutuskan untuk menikmati private spa yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Masih ada waktu dua hari untuk mencoba Rafles spa yang jaraknya hanya satu sampai dua kilometer saja dari hotel. Dan lagi sayang juga bila Lovi melewatkan fasilitas spa yang tak kalah menakjubkan dari hotel yang mereka Tempati saat ini.
Menjelang malam mereka keluar dari bioskop. Film yang ditayangkan hampir dua jam namun semangat kedua anak kembar itu belum luntur juga. Mungkin karena sudah Istirahat tadi siang, sehingga rasa lelah belum menderanya. Berbeda dengan Lovi yang sedari tadi sudah merasa penat, ingin cepat-cepat melakukan treatment spa.
Adrian menjadi penonton saat Lovi mulai dipijat dengan lembut. Devan dan Andrean memutuskan untuk bermain game bersama. Hanya anak itu saja yang kurang kerjaan.
"Adrian juga mau, Mom."
__ADS_1
****
"Dad mau kemana?"
"Ambil orange juice, kamu mau?"
"Mau, terima kasih, Dad."
Devan melangkah menuju meja bar untuk mengambil gelas. Lalu mengeluarkan jus dari dalam lemari pendingin super besar yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
Adrian menghempas tubuhnya di sofa dengan wajah murung. Andrean yang merasakan hentakan keras di kepalanya yang tengah berbaring di atas sofa pun terkejut. Kepalanya sampai berputar rasanya.
"Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa ini?"
"Bukan milikmu, terserah aku mau tidur dimana,"
Devan meneguk sedikit jus yang sudah ada di gelasnya. Lalu dia beranjak untuk mendekati kedua anaknya.
"Sudah selesai melihat Mommy spa?"
__ADS_1
"Mommy belum selesai. Adrian tidak dibolehkan spa, Dad."
Adrian merengek dan menenggelamkan kepalanya di dada Devan setelah ayahnya itu duduk di sampingnya
"Nanti kita cari spa untuk anak-anak,"
Devan dan Andrean kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat terhenti tadi. Sementara Adrian hanya diam dengan kebosanan yang mulai melanda. Matanya berkeliling mencari sesuatu yang mungkin bisa Ia kerjakan. Kamar hotel sangat tertata rapi. Belum ada yang berhasil mencuri perhatiannya. Memainkan furnitur yang ada di tengah ruangan rasanya sudah terlalu biasa untuk Adrian. Bahkan kemarin Devan harus membayar ganti rugi ketika anak bungsunya itu berhasil memecahkan vas bunga karena dibawanya berlari di dalam kamar seolah itu adalah trofi penghargaan.
Ia mengangkat tinggi-tinggi vas bunga itu. Lalu Ia menunduk tanda penghormatan persis seperti orang yang baru mendapatkan penghargaan. Senyumnya mengembang ke depan seolah ada banyak kamera yang menyorotnya.
"Terima kasih atas dukungannya. Mommy, Daddy, tanpa kalian aku bukan apa-apa," katanya sebelum peristiwa naas itu terjadi. Usai mengatakan itu, Ia mulai berlarian dengan vas bunga yang menjadi kebanggaannya. Sesaat kemudian Ia menubruk guci. Beruntung guci tersebut tidak pecah juga.
Adrian menghela napas kasar lalu bersedekap dada. Ia membuang arah pandangnya dari meja yang seharusnya diisi dengan vas bunga yang dirusaknya kemarin.
"Seharusnya Adrian bawa sepeda saja ke sini. Supaya bisa main sepeda di dalam kamar,"
------
Gk bs bayangin kl Adrian lari²an bawa vas bungaš¤£š¤£ kek org apaan tau ya. Tak da akhlak ank ini wkwkwk
__ADS_1