
"Sudah selesai berenangnya. Sekarang mandi lalu siap-siap makan malam,"
Lovi sengaja masak lebih cepat dari biasanya karena berniat untuk menemani ketiga anaknya berenang sore ini.
Devan memasuki mansion dan suasana tidak seramai biasanya. Setelah menyapa Senata Ia menjelajahi mansion dengan matanya yang tajam.
"Anak-anak dimana, Ma?"
"Berenang dengan Lovi,"
"Oh, di kolam renang?"
"Iya, Devan. Tidak mungkin berenang di dalam akuarium 'kan?"
Devan terkekeh mendengar jawaban Senata. Kemudian Ia berjalan ke sisi samping mansion dimana kolam renang berada.
"Ayo, cepat naik! mandi sekarang!"
Adrian malah melintasi kolam renang lagi dengan semangat, belum mematuhi ucapan Lovi.
Devan melihat istrinya yang sedang menggendong Auristella memberi titah pada Adrian yang masih menikmati kegiatannya. Sementara Andrean sudah naik ke tepi kolam dan duduk sebentar untuk beristirahat.
Saat sudah diujung, Adrian kebetulan bertemu tatap dengannya. Devan menggerakkan telunjuknya sebagai isyarat agar anak itu mendekat.
"Mau lihat Daddy marah?"
"No, tapi tunggu dulu,"
Adrian belum mau meninggalkan kolam renang, rasanya berat sekali. Lovi dan Devan sudah geram. Beberapa detik kemudian akhirnya Adrian mendekati Devan dan Lovi seraya menjulurkan tangannya pada Lovi, minta dibantu untuk keluar.
Lovi menggeleng, takut anaknya menjahili. "Andrean bisa naik sendiri. Kamu tidak bisa?"
Akhirnya Devan yang menurunkan tangannya. Tetapi hal tak terduga yang dilakukan Adrian adalah, Ia menjadikan tangan Devan seolah-olah mendorongnya sehingga Ia kembali tercebur dalam kolam renang. Auristella yang melihat itu menangis histeris. Ia mengira Daddy-nya jahat karena telah membuat kakak keduanya terjatuh.
Devan berdecak malas menanggapi drama anaknya itu. Ia menatap Auristella yang bersiap untuk menyerangnya dengan kedua tangan kecilnya.
"Bukan Daddy yang membuat Adrian jatuh. Dia sengaja menjatuhkan diri supaya bisa berenang lagi," Andrean menunjuk Adrian yang tanpa rasa bersalah malah kembali berenang.
Auristella menggeleng dan berontak dalam gendongan Lovi. Perempuan beranak tiga itu menghela napas, berusaha sabar. Adrian telah membuat Auristella kesal dengan ayahnya sendiri.
"Auris, jangan seperti itu. Kasihan Mommy," tegur Andrean pada adiknya. Ingin digendong oleh Devan Ia semakin marah tetapi dalam gendongan Lovi Ia berontak.
"ADRIAN!" Andrean berteriak memanggil adiknya. Setelah sampai di ujung kolam, Adrian mengangkat kepalanya dan menatap Andrean.
"Naik sekarang!" serunya dengan tegas. Sore-sore seperti ini Adrian memancing emosinya keluar.
Auristella sampai menangis karena membelanya. Adrian telah membuat adiknya salah paham.
"Jelaskan pada Auris kalau bukan Daddy yang membuat kamu terjatuh ke dalam kolam tadi,"
"Daddy yang melakukannya,"
Devan membulatkan mata, lalu menggertakkan giginya kesal. Sudah salah, tidak mau mengaku. Malah Ia yang dijadikan pihak bersalah.
__ADS_1
"Adrian cepat jelaskan! lalu bujuk Auris agar tidak marah lagi!"
"Sudah sangat sore ini,"
Akhirnya anak itu keluar dari kolam renang. Lalu memeluk Auristella yang masih terisak. Ia mengusap punggung adiknya dengan lembut, membujuk agar berhenti menangis.
"Auris, tadi Aku yang menceburkan diri. Bukan Daddy, jadi jangan marah pada Daddy,"
Adrian menghapus jejak air mata Auristella. Lalu mengecup kening adiknya itu. Sebesar itukah rasa sayang Auristella padanya?sampai rela napasnya terengah karena menangis demi membelanya.
"Sudah, jangan menangis lagi."
"Ayo, aku gendong."
"Tidak, Mau kamu apakan adikmu?"
"Astaga, aku mau menggendong saja tidak boleh, Mom?"
"Tidak, kamu masih kecil," tukas Andrean sebelum masuk terlebih dahulu.
Devan mengulurkan tangan ingin menggendongnya, tetapi Auristella mengalihkan wajah ke samping. Ia belum sepenuhnya mengerti bahwa yang Ia lihat tadi tidaklah benar. Bukan Devan yang menjatuhkan Adrian, melainkan kakaknya sendiri yang melakukan itu karena memang belum mau menyelesaikan kegiatan renangnya.
"Kenapa lagi si cantik ini? wajahnya sampai merah. Habis menangis ya?"
"Iya, Grandma. Setelah menyalahkan Daddy malah menangis," jawab Devan seraya melirik Auristella.
"Ada apa?" tanya Rena.
"Adrian menjatuhkan dirinya sendiri ke kolam tapi Auris mengira aku yang melakukannya. "
Adrian dan Andrean lomba berlari menuju kamar mereka untuk mandi. Melihat tubuh keduanya yang masih basah lalu berlari kencang, tentu saja membuat mereka semua khawatir.
"Andrean, beri contoh yang baik. Adikmu kalau dituruti akan semakin aneh lagi tingkahnya," Devan berseru agar kedua anaknya mendengar dan menghentikan langkah. Devan tahu betul siapa yang mempunyai ide lebih dulu untuk membuat lomba lari.
"Auris mandi dengan Grandma ya?"
Auristella menerima uluran tangan Rena. Lovi juga harus segera membasuh tubuhnya agar tidak semakin kedinginan mengingat hari akan gelap.
********
Jane keluar dari dalam mobil kekasihnya dengan wajah murung. Lagi-lagi mereka bertengkar karena kurangnya komunikasi. Richard menjemputnya terlambat hampir dua jam.
Sebelumnya Jane sudah menghubungi sekretaris Richard karena ponsel Richard sendiri tidak bisa dihubungi. Ia minta dijemput pukul tiga sore. Yang membuat Jane kesal adalah Richard terlambat menjemput bukan karena sibuk melainkan karena ketiduran.
Richard minta dimengerti karena Ia sangat lelah beberapa hari ini. Sementara Jane terkadang sangat egois, tidak bisa sedikitpun menerima kesalahan orang.
Adrian berlari ke arah pintu untuk melihat mobil yang baru saja memasuki pekarangan mansion. Ia kira Devan. Ternyata Jane dan Richard.
"Kamu pulang saja. Untuk apa masuk ke dalam?"
"Biasanya kamu selalu suruh aku lama-lama berada di sini. Sekarang---"
"AUNTY, YEAYYY AUNTY PULANG,"
__ADS_1
Adrian memeluk Jane. Ia mengerinyit saat Jane menyingkirkan lingkaran tangannya dengan lembut. Lalu Ia masuk meninggalkan Adrian yang kebingungan.
Terlihat sekali Adrian sedih. Tidak biasanya Jane menolak pelukannya. Richard membawa anak itu dalam gendongan lalu mereka mengikuti Jane masuk ke dalam.
"Adrian buat salah ya, Uncle Ri?"
"Tidak, Aunty sedang kelelahan."
"Huh! biasanya tidak seperti itu. Sampai tidak mau dipeluk Adrian. Aunty jahat sekali,"
Richard tidak tahu harus menanggapi curahan hati Adrian seperti apa. Richard juga menyalahi sikap Jane yang menjadikan orang lain sebagai pelampiasan. Yang salah hanya Ia, seharusnya tidak perlu kesal dengan orang lain.
"Ada apa dengan kamu, Jane? wajahmu tidak cantik lagi nanti," goda Rena yang tak diacuhkan. Jane masuk ke dalam kamarnya. Rena menatap Richard seolah bertanya.
"Terlambat menjemput lagi. Lalu dia marah,"
"Oh, karena masalah itu. Ya sudah, biarkan saja. Nanti juga baik sendiri,"
"Jangan, Grandma. Kasihan Aunty kalau tidak ada yang membujuk," Richard menahan tawa. Anak dalam gendongannya ini sangat konyol. Ia kira Adrian kasihan pada Jane karena Jane terlambat dijemput olehnya.
"Tadi tidak mau dipeluk aku. Aku kira karena aku belum mandi. Ternyata kata Uncle Ri karena kelelahan, dan juga terlambat dijemput ya, Uncle?"
"Jadi kamu belum mandi?"
Adrian menggeleng atas pertanyaan Richard. Ia tersenyum lebar memperlihatkan gigi-gigi kecilnya.
"Belum, tapi tetap harum 'kan?"
"Tidak seperti biasanya."
"Maksud Uncle?"
"Ya--- aroma keringatmu cukup mengganggu," Richard hanya menggoda, tapi Adrian menganggapnya serius.
"Aku tidak mandi dua tahun juga tetap harum, Uncle."
Richard terkekeh geli mendengar Adrian yang tak pernah absen memuji diri sendiri. Adrian akan selalu memuji diri sendiri di setiap harinya. Kalau tidak melakukan itu, terasa ada yang kurang.
"Iya-iya, kamu harum." Richard mengalah, takut keponakan dari kekasihnya itu merajuk kalau Ia lanjutkan guyon yang tadi.
"Iya, tentu saja!"
"Ayo makan dulu, Ri."
"Iya, Ma."
Adrian turun dari gendongan Richard lalu anak itu membawa Richard ke ruang makan.
"Aku baru selesai bermain sepak bola, Uncle. Nanti mau temani aku bermain lagi?
"Sudah cukup. Hari ini sudah selesai bermainnya. Besok lagi," tukas Richard yang tidak ingin dirinya pulang-pulang penuh dengan keringat karena harus meladeni ajakan Adrian.
"Kenapa tidak makan?"
__ADS_1
"Adrian mandi dulu. Nanti Uncle harus ikut aku bermain sesuatu. Bukan sepak bola!"