My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kedatangan Deni


__ADS_3

Seperti biasanya, Saat di kantor Devan tidak sempat melakukan hal lain yang menurutnya tidak penting. Waktunya dihabiskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang selalu menghampirinya.


Pintu terbuka dan Devan yakin kalau yang masuk ke ruangannya sekarang adalah sahabat gilanya yang bernama Deni. Karena tidak ada orang selain Deni yang berani masuk ke ruangan Devan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Bisa tidak menggangguku?" Devan menatap tajam Deni. Hingga Deni tertawa karena berhasil membuat Devan kesal padanya.


"Aku hanya ingin bermain ke mansionmu,"


"Untuk apa? Membuat kacau?"


Deni berdecak lalu duduk di sofa seraya mengangkat sebelah kakinya lalu menumpu pada kaki yang lain layaknya seorang atasan yang membuat Devan semakin jengkel dengan sikap semena-mena yang dimilikinya.


"Cepatlah selesaikan pekerjaanmu! Aku tidak sabar untuk bertemu dengan Nona manis,"


Devan yang sedang bergelut dengan laptopnya pun menoleh. Ia merasa ada yang aneh dari ucapan Deni.


"Nona manis? Siapa maksudmu ?"


"Tentu saja Lovi,"


Devan mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum miring.


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Nada bicara Devan benar-bebar tidak bersahabat kali ini. Dengan bibir yang menipis seperti menahan gejolak di dalam tubuhnya.


"Keep calm, Dude. Kenapa kau terlihat emosi seperti itu? Bukankah dia tidak ada artinya dimatamu?" Ujar Deni seraya tertawa mengejek. Ia senang melihat reaksi yang di tunjukkan Devan kali ini.

__ADS_1


"Memang. Tapi aku membelinya untuk aku miliki. Dan itu artinya, Tidak ada satu orangpun yang boleh menyentuhnya," Jelas Devan dengan suara tegasnya.


Deni semakin tertawa melihat Devan yang lebih memilih menghentikan pekerjaannya dan berdebat dengannya demi melindungi perempuan itu. Ya, Deni anggap yang dilakukan Devan sekarang adalah bentuk perlindungannya untuk Lovi tanpa disadari oleh Devan. Devan masih terbelenggu dengan gengsi dan emosinya sendiri.


"Aku tidak ingin menyentuhnya. Hanya berkenalan, kau tenang saja."


***********


Saat pekerja di mansion itu mendekati Devan dan Deni yang baru tiba di mansion, Deni langsung berujar.


"Aku ingin yang menyiapkan minum untukku adalah Lovi," Tentu saja pekerja yang bernama Desy itu terkejut. Wanita tua itu menatap Devan yang diam dengan wajah datarnya seperti biasa. Desy tidak bisa melakukan itu bila Tuannya tidak menginginkan. Apalagi yang ia ketahui Lovi adalah istri Devan.


"Lakukan apa yang dia katakan," Perintah Devan dan Desy langsung menggangguk patuh kemudian berbalik meninggalkan keduanya untuk memanggil Lovi.


Lovi yang sedang memotong wortel menoleh saat Desy menghampirinya dengan sedikit tergopoh.


Lovi bingung dengan apa yang dikatakan Desy. Devan sangat membatasinya untuk bertemu para tamu baik rekan kerja maupun kerabat dekat. Karena Devan tidak ingin Lovi mempermalukannya.


"Kenapa aku?"


"Saya tidak tahu, Nona. Saya hanya menyampaikan Perintah Tuan Devan," Ucap Desy dengan perasaan tidak nyaman. Sebenarnya itu adalah tugasnya tapi jika Devan yang berucap mau tidak mau ia harus melaksanakannya. Desy pun bingung kenapa Devan menyuruh istrinya yang melakukan itu sementara di mansion ini banyak pekerja yang bisa di andalkan.


"Baiklah aku akan menyiapkannya. Terimakasih, Desy..."


'Karena Kau, dia tidak harus mengatakannya langsung padaku. Itu akan membuatku takut lagi,' Lanjut Lovi di dalam hatinya. Bila Devan yang memerintahkannya secara langsung bisa dipastikan ia akan mendengar bentakan Devan lagi.

__ADS_1


Setelah membuatkan dua gelas jus mangga, Lovi meletakkannya di atas nampan cantik yang sudah disiapkannya. Lalu membawanya ke ruang tamu dimana Devan dan Tamu yang bernama Deni itu berada.


Saat mendengar suara Devan yang sedang berbincang membuat Lovi tiba-tiba gemetar karena sebentar lagi dia harus bertemu dengan lelaki yang sangat di bencinya itu. Padahal selama di mansion dia berhasil menghindari pertemuannya dengan Devan.


Begitu dia berada di hadapan kedua lelaki tampan itu, pembicaraan mereka pun terhenti dan keduanya menatap Lovi yang sedang menyajikan minuman di atas meja.


"Kamu terlihat berbeda dari pertama kali kita bertemu, Lovi." Lovi terkejut saat Deni berbicara dengannya. Ia hendak bangkit untuk segera bebas dari keadaan canggung ini dan tidak berniat untuk membalas perkataan Deni karena ia juga tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Lovi terlalu takut untuk melakukan sesuatu di hadapan Devan.


Deni menghalanginya dengan kembali berbicara.


"Aku datang ke pesta pernikahanmu. Apa kamu lupa?"


Lovi berdiri dengan tangan memeluk nampan dan kepala menunduk. Devan hanya memperhatikan interaksi keduanya tanpa ikut bergabung.


"Kamu ternyata sombong. Tidak bisa menjawab pertanyaanku?" Ujar Deni dengan sedikit candaannya.


Lovi mengangkat wajahnya lalu melirik Devan yang masih diam dengan ekspresi tak terbaca.


"Ya, Aku ingat."Jawab Lovi dengan Pelan.


"Kamu terlihat semakin menggemaskan bila ketakutan seperti itu,"


Lovi tidak menanggapi. Ia meninggalkan keduanya dengan langkah tergesa. Tidak terbayangkan oleh Lovi bila Devan kembali mengamuk hanya karena Lovi sedikit berkomunikasi dengan lelaki lain. Kejadian di pesta yang berlangsung tempo hari saja masih membekas dalam ingatan Lovi. Seperti yang selalu dikatakan oleh lelaki itu, Lovi harus tahu diri. Ia sudah dimiliki oleh Devan.


*********

__ADS_1


Wihh Deni cari mslh nihh wkwkw. gimana ni?lanjut gk? like, commentnya dl dungsss. makasii yaaa hehe


__ADS_2