My Cruel Husband

My Cruel Husband
Rencana para Grandma


__ADS_3

"Kamu sih bekerja segala. Suamimu punya perusahaan dimana-mana,"


Ucapan Desira membuat wanita bermulut pedas itu mengerjap. Ia berjalan ke arah wastafel untuk menyibukkan diri, berdandan tentu saja.


"Suaminya punya perusahaan banyak kok istrinya malah jadi cleaning service? Tidak salah?"


"Hei nyonya! Teman saya ini memang bukan tipe perempuan yang hobi menghabiskan uang suami. Lovi ingin mencari uang sendiri, mencari pengalaman, memangnya salah? Mungkin dia bosan hidupnya selalu dicukupi oleh suaminya,"


Lovi tersinggung karena hal lain. Ia tersenyum hangat pada wanita yang kini menatapnya melalui cermin.


"Pekerjaan apapun tidak pantas dianggap rendah. Apa yang salah dari cleaning service? Itu lebih baik daripada Anda, yang hanya bisa menyakiti hati orang lain menggunakan mulut,"


Kesal, diam, mengetatkan rahangnya. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh wanita berpenampilan high class namun berperilaku memalukan itu.


"Memang siapa sih suaminya? barang kali saya kenal. Karena suami saya juga punya saham dimana-mana," rupanya Ia belum puas merendahkan Lovi. Seraya menekan kalimat terakhirnya guna mengucapkan hal yang tak jauh berbeda dengan Desira tadi, Ia menatap tajam Lovi.


"Siapa nama suamimu, Lovi? Aku ingin mengucapnya saja sungkan,"


Lovi menggeleng pelan. Mengisyaratkan Desira untuk tidak meladeni. Apa yang harus Ia katakan? Menyebutkan nama lengkap Devan? Lelaki itu bukan suaminya. Seandainya peristiwa ini terjadi pada waktu Lovi masih bersama Devan, Lovi pun enggan untuk meninggikan nama suaminya.


"Devan Vidyatmaka, Nyonya kenal?"


Matanya membulat. Ia memicing ke arah Desira yang kini tersenyum puas. Puas melihat reaksinya setelah menindas sesama manusia.


"Devan bukannya sudah bercerai?"


Desira diam beberapa saat. Ia mengetahui kabar itu. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan apapun dari berita tersebut. Ingin bertanya pada Lovi rasanya segan. Dan lagi, beritanya sudah tenggelam seolah para media yang menyebarkan berita itu dibungkam oleh seseorang.


"Anda sendiri mengatakan kalau Lovi ini hamil. Bagaimana mungkin mereka bercerai?"


***

__ADS_1


Lovi menarik tangan Desira hingga sampai di ujung lorong rumah sakit bagian belakang.


"Tidak perlu meladeni orang seperti itu, Des. Aku baik-baik saja,"


Desira bersedekap dada. Ia menatap Lovi dengan kesal. Baik-baik saja katanya? Wajahnya semakin pucat setelah diserang dengan berbagai macam perkataan tajam apakah tidak menyakitkan untuk Lovi?


"Kamu hamil--"


"Aku tidak hamil. Aku tidak sempat sarapan tadi. Mual itu datang mungkin karena perutku yang kosong,"


***


"Hallo, Senata. Apa kau berada di rumah?"


"Ya, Aku di rumah. Ada apa Nyonya?"


"Jangan panggil aku Nyonya. Kita sama-sama menjadi Grandma sekarang,"


Senata yang sedang membereskan isi lemari kedua cucunya pun tersenyum kecil. Tidak menyangka Rena akan menghubunginya tiba-tiba. Darimana Wanita itu tau nomor ponselnya? ah! keluarga mereka bisa mendapatkan segalanya dengan mudah. Senata melupakan fakta itu.


Senata membulatkan matanya. Andrean dan Adrian akan berulang tahun? Ia baru mengetahuinya sekarang. Karena Devan dan Lovi pun tidak mengatakan apapun. Bahkan terlihat melupakan hari bahagia itu.


"Kasihan Andrean dan Adrian. Orangtuanya terlalu sibuk dengan hati. Sampai lupa kalau tiga hari lagi mereka ulang tahun,"


***


Devan berada di sebuah restoran bersama dengan dua orang petinggi di Vidyatmaka Corp miliknya.


Mereka akan makan siang di sana seraya membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kerja sama mereka.


"Divisiku sudah melakukan sidak. Tapi sampai saat ini belum ada yang ingin mengaku,"

__ADS_1


"Aku pun begitu. Sampai-sampai aku dibuat yakin kalau memang tidak ada penjahat diantara mereka semua,"


Devan menghela napas pelan. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ini terlihat janggal. Devan sudah berulang kali mengalami kebocoran nominal. Seolah ada orang dalam yang memberi tahu kompetitornya untuk memberikan penawaran lebih tinggi dari Devan dalam memenangkan tender.


"Siapa pengkhianat sebenarnya?"


Tangan Devan mengepal kuat. Rahangnya pun mengeras dengan mata penuh emosi.


Ia tidak suka pengkhianatan. Sulit untuk dimaafkan. Bahkan itu juga berlaku untuk Raihan beberapa tahun silam. Dimana Devan sangat membenci Papanya yang lebih memilih wanita ****** daripada Rena yang telah memberikannya kebahagiaan.


Devan meneguk lemon jus di mejanya. Sampai kemudian bahunya ditepuk oleh seseorang.


"Wow kebetulan yang menyenangkan,"


Devan menoleh dan mengerinyit bingung. Ia melihat Rena dan Senata yang kini berdiri di sampingnya.


"Apa yang Mama lakukan di sini?"


"Memangnya kami tidak boleh berkunjung ke sini? Grandma seperti kami juga ingin merasakan yang namanya hangout," Rena terkekeh di samping Senata.


Ia makin mengerinyit dalam. Aneh saja dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba. Ia melirik kedua bawahannya untuk sedikit bergeser mempersilakan mereka untuk mengambil bangku lain agar tempat mereka saat ini bisa diambil alih oleh kedua wanita itu.


"Tumben sekali kalian berdua pergi seperti ini," mata Devan memicing ke arah Senata dan Rena hingga mau tidak mau membuat mereka gugup.


Keduanya memilih untuk bungkam soal ulang tahun Andrean dan Adrian. Mereka berharap Lovi dan Devan mengingat hari itu berhubung penyelenggaraannya masih beberapa hari lagi. Mungkin mereka tidak lupa, tapi belum sempat untuk membahasnya. Devan terbiasa merayakan ulang tahun anaknya secara besar-besaran. Karena hal itu merupakan salah satu bentuk kasih sayang Devan pada mereka. Dan Lovi pun terbiasa mempersiapkan semuanya dengan baik. Bahkan sebulan sebelumnya segala konsumsi, hadiah, hingga tempat diadakannya acara pun sudah berhasil dipersiapkan sebaik mungkin oleh Lovi.


Ulang tahun yang ke empat ini mereka malah tidak menunjukkan reaksi apapun padahal tinggal menghitung hari saja. Rena sebenarnya kesal begitupun Senata. Namun mereka bisa apa? tidak bisa disalahkan juga karena memang Devan dan Lovi belum pulih hatinya pasca perceraian.


Mereka akan menunggu Devan dan Lovi mengingat hari ulang tahun anaknya tiga hari lagi. Kalau tidak, maka terpaksa Andrean dan Adrian merayakannya hanya bersama Rena dan Senata. Biarkan saja orangtua mereka lupa. Yang terpenting Andrean dan Adrian harus tetap bahagia walaupun kondisi Orangtuanya tidak bisa lagi bersama.


"Kami ingin pulang dan memasak kue. Tapi sebelum itu, kami akan menjemput Andrean dan Adrian. Selamat bekerja, Devan."

__ADS_1


-----


Ini panjang yak ep ny jd gataw deh nnti bs up lg atau ga. Hehe


__ADS_2