My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tiba-tiba rindu


__ADS_3

"Ma, jangan katakan apapun pada Devan. Dia akan khawatir. Berikan mereka waktu untuk berlibur,"


Raihan meraih ponsel dari tangan Istrinya. Beberapa saat setelah Ia membatalkan panggilan tersebut, Devan malah balik menghubunginya.


Raihan menjauh sedikit dari Rena untuk berbicara dengan putranya. Ia menghela napas sebentar seraya mengusap dahinya yang penuh keringat.


"Hallo, Ma? ada apa meneleponku?"


Raihan berdehem sebagai awal sebelum Ia membuka suara. Devan di seberang sana langsung mengerinyit.


"Pa... ada sesuatu yang terjadi?"


"Tidak. Tidak ada apapun. Kami di sini baik-baik saja,"


"Dad, Adrian mau bicara dengan Grandpa,"


Adrian merangkak naik ke atas pangkuan sang ayah. Lovi yang melihat itu menatapnya tajam. Perempuan itu menipiskan bibirnya lalu mengisyaratkan anak itu untuk diam.


"Tapi kenapa perasaanku mengatakan yang sebaliknya?"


Raihan membeku. Ia mengigit bibir dalamnya dengan kuat. Suara Devan yang terdengar tidak yakin membuat mulutnya sangat ingin berkata jujur.


"Tadi Mamamu tidak sengaja menghubungi. Maaf mengganggu waktu kalian,"


"ADRIAN MAU BICARA!" Teriakan Adrian masih bisa didengarnya sebelum Ia menutup panggilan. Devan menatap kosong ponselnya. Raihan memutuskan komunikasi secara sepihak.


Devan mendorong lembut tubuh anaknya dari atas pangkuan.


"Daddy, Adrian tadi ingin bicara. Kenapa dimatikan?! huh! Adrian juga mau menyapa Aunty Vanilla. Sudah lama dia tidak--"


Devan menghembuskan napasnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Adrian Yang seperti ini tingkahnya membuat Devan sangat ingin bertindak kasar. Di saat perasaannya tidak menentu, Devan yang memang bukan sosok penyabar akan semakin ganas.


***


Vanilla mengerjapkan manik indah berwarna birunya. Kening gadis itu mengerinyit saat tak ada setitik pun cahaya yang berhasil menembus ke dalam matanya.


Rena langsung menghampiri anak bungsunya lalu menekan tombol kecil di salah satu sisi bangsal untuk memanggil perawat agar segera memeriksa kondisi Vanilla saat ini.


"Sayang, apa yang kamu rasakan sekarang?" Rena menatap Vanilla yang wajahnya sudah menegang seperti sudah mengerti dengan ini semua walaupun Rena belum menjelaskan.


"Gelap, Ma. Ya aku rasakan sekarang adalah kegelapan," lirih, pelan, mengandung makna kehilangan arah. Karena cahaya yang menerangi tidak lagi menemani langkahnya.


Rena menangis terisak saat Vanilla mulai menyesali takdirnya. Gadis itu duduk lalu menarik rambutnya sendiri. Ia histeris, tidak bisa membayangkan betapa menyakitkannya hidup tanpa mata. Vanilla adalah gadis yang sangat memuja kesempurnaan. Ini adalah kekurangan yang paling sulit untuk Ia terima. Dari sekian banyak kekurangan yang dimiliki, Vanilla selalu berusaha untuk memperbaiki.


"Bagaimana dengan hidupku kedepannya? kalian tidak berusaha menyembuhkan aku?!"


"Sudah, Sayang. Tapi semuanya perlu waktu,"


Vanilla menjatuhkan semua benda yang ada di atas nakas. Baik vas bunga, segelas air putih, dan beberapa piring makanan yang disediakan pihak rumah sakit tergeletak mengenaskan di atas lantai.


Raihan masuk ke dalam ruangan. Mendengar kekacauan dari dalam, Ia yakin ini memang akan terjadi. Membuat anaknya lapang dada adalah hal yang paling mustahil untuk Ia lakukan.


"Vanilla, tenang dulu."


"BAGAIMANA AKU BISA TENANG?! AKU BUTA, AKU TIDAK BISA MELIHAT APAPUN! SEMUA ORANG AKAN MERENDAHKANKU. AKU TIDAK BISA SEPERTI INI,"


***

__ADS_1


Keluarga kecil Devan tengah menikmati suasana malam di alun-alun kidul menggunakan kereta hias.


Seharusnya mereka sudah turun sejak tadi dari kendaraan yang menarik itu. Namun Adrian selalu punya cara agar keinginannya dipenuhi.


"Ayo turun. Sudah tujuh kali putaran,"


"Adrian masih mau satu putaran lagi,"


"Sejak tadi kamu mengatakan itu,"


"Janji, ini yang terakhir kali,"


Fino terkekeh melihat Devan yang sudah putus asa. Tidak menyangka kalau lelaki itu bisa lelah juga menghadapi anaknya.


"Ini sudah malam, Sayang."


"Tapi sekali lagi tidak masalah, Mommy. Daddy saja mengizinkan. Ya, Dad?"


"Sekali lagi," ujar Devan pada lelaki tua yang sejak tadi menemani perjalanan mereka dengan mengendarai kereta hias. Devan tahu anaknya itu sangat tertarik dengan penampilan dan sensasi yang ditawarkan kereta hias ini. Lampu warna-warni yang ada di tiap bagian kereta kecil itu berhasil membuat siapapun takjub. Terasa sangat tepat untuk melengkapi temaramnya suasana Kota Jogja.


Lovi menggenggam tangan Devan hingga lelaki itu menatapnya. Lovi tahu suasana hati suaminya sedang tidak baik. Beberapa kali Lovi melihatnya melamun. Namun ketika ditegur Ia seolah baik-baik saja.


"Kamu masih memikirkan firasatmu tadi ya?"


Devan mengangguk jujur. Entah mengapa Devan sulit melupakan panggilan Mamanya tadi. Seperti ada sesuatu yang membuat Devan terusik. Tidak biasanya Ia seperti ini. Sesering apapun Rena menghubungi lalu Devan tidak menjawabnya, tidak sampai meninggalkan perasaan bersalah sebanyak ini. Sejak tadi Ia merasa ada penyesalan. Namun tidak tahu untuk apa.


Mungkin bila Devan cepat mengangkat panggilan pertama dari sang Mama, Devan akan mendapat jawaban yang berbeda dari Raihan.


****


Lovi langsung membereskan buah tangan yang sudah dibelinya tadi di Malioboro sebelum pergi ke Alun-alun begitu sampai di dalam kamar hotel.


"Devan, tolong ambil goodie bag yang itu,"


Devan yang sedang menggulir layar datar iPad-nya pun melakukan apa yang dikatakan istrinya. Lovi terlihat berkutat dengan tumpukan buah tangan. Devan tidak masalah sama sekali dengan hal itu. Ia senang saat melihat Lovi yang begitu tidak sabar untuk mempersembahkan buah tangan pada keluarganya seperti kedua orangtua Devan, Senata, Vanilla dan juga para sepupu Devan.


"Kalau sudah lelah dilanjut besok saja,"


"Sebentar lagi selesai,"


Padahal Devan tahu masih banyak makanan ringan khas Jogja yang belum masuk ke dalam koper. Pakaian-pakaian batik pun masih berada di dalam paper bag dari distro tempat mereka membeli yang artinya Lovi masih perlu memindahkannya ke dalam koper khusus pakaian.


"Ayo lawan aku!"


"Nanti merengek kalau aku serang. Huh payah!"


Adrian ambil ancang-ancang ingin melempar Ipad-nya ke wajah Andrean. Namun si sulung langsung bertolak pinggang, memasang raut datarnya tapi dengan mata melotot tajam.


"Apa? berani? aku lawan, tapi setelahnya jangan bersembunyi di belakang Daddy,"


Inilah yang membuat Lovi tidak lelah dan bosan meskipun Ia sibuk. Karena ada pengisi suasana di dalam kamar. Walaupun terkadang kesal juga karena pertengkaran mereka yang membuat telinganya panas.


"Sudah jangan bertengkar. Ini sudah malam. Lebih baik kalian tidur,"


"Besok ke Bali?"


Devan berdecak sebelum menjawab," Sudah berapa kali kamu bertanya hal yang sama? telingamu mau Daddy tiup ya?"

__ADS_1


"Jangan, Daddy sayang. Nanti kalau telinga Adrian terbang bagaimana? melayang-layang di udara seperti helaian kertas yang dibuang karena mengandung kenangan buruk,"


"Mulai lagi melanturnya. Kamu lebih baik pingsan saja, Adrian. Biar aku tidak sakit kepala mendengar omonganmu,"


Adrian memukul lengan kakaknya menggunakan iPad. Andrean merangkak ke atas ranjang lalu menarik kaki adiknya. Ia membalas apa yang dilakukan Adrian. Namun kali ini lebih kencang.


Adrian merengek saat iPad kakaknya mendarat mulus di lengan juga jemari kakinya. Terasa sakit namun Ia tidak ingin membalas lagi. Takut Andrean berbuat lebih nanti.


"Dad, Ambil iPad Andrean! Biar dia tidak punya lagi. Biar dia main dengan batu bata. Untuk apa punya iPad tapi digunakan untuk menyakiti orang,"


Andrean menggeram dan melayangkan tangannya lagi untuk memiting mulut adiknya yang hobi memanas-manasi itu.


"Sebelum bicara begitu coba berkaca. Tadi iPadmu juga digunakan untuk memukulku! apa bedanya?!"


"Ya beda, Daddy tidak akan mengambil iPadku sekalipun aku memukulmu dengan ini," Adrian mengangkat ipadnya seraya menjulurkan lidah. Ia menggoyang benda tipis itu di hadapan Andrean yang menatapnya datar.


"Kata siapa? Daddy akan menyita benda itu kalau kalian masih bertengkar. Tidur sekarang!"


Bila raja sudah memberikan titah dengan tegas dan arogan maka tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mematuhi.


Cepat-cepat Adrian dan Andrean meletakkan iPad mereka di atas nakas lalu beranjak ke ranjang masing-masing untuk berbaring.


Lovi menatap Devan yang kini fokus menguliti kedua anaknya dengan tatapan tajam memastikan mereka tidak bertingkah lagi.


"Kamu juga tidur. Matamu terlihat lelah,"


Devan menggeleng. Ia memilih untuk duduk di sebelah Lovi yang meluruskan kakinya di atas lantai marmer mahal milik hotel.


"Aku bantu ya?"


"Tidak-tidak," Lovi menahan tangan Devan yang akan meraih paper bag berisi dress santai milik Rena.


" Kamu tidak bisa melakukannya,"


"Bisa, Sayang."


"Tapi aku tidak mau kamu bantu. Lebih baik kamu tidur juga. Supaya pikiranmu lebih tenang,"


"Tidur, Daddy. Jangan nakal kalau di beri tahu,"


Astaga


Devan kira Ia sudah tidur dengan tenang. Rupanya masih menguping pembicaraan Ia dan Lovi.


"Oh kamu melawan Daddy ya? kenapa belum tidur?"


Lovi menahan Devan yang ingin menghampiri Adrian. Lovi menggeleng namun Devan tetap melanjutkan keinginannya. Ia tidak akan melakukan apapun. Hanya ingin menghampiri calon aktor yang pintar dalam bermain peran itu. Tadi Devan melihat Kedua anaknya sudah memejamkan mata. Namun rupanya Adrian hanya berpura-pura tidur. Mendengar orangtuanya berbicara, Ia membuka mata lagi.


"Tidur! Daddy tidak mau kamu banyak bicara lagi,"


Adrian menghela napas lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap langit-langit kamar. Berbeda dengan Andrean yang sebenarnya sudah menahan rasa kantuk sejak tadi, Adrian justru sebaliknya. Waktu tidur Andrean memang sudah terlewatkan sebenarnya. Namun karena harus meladeni sang adik, Ia terpaksa belum masuk ke alam mimpi.


Devan menunggu apa yang lagi yang akan dilakukan anak itu. Beberapa detik Adrian masih diam menatap ke atas.


"Adrian tidak bisa tidur. Rindu Aunty Vanilla. Kalau Aunty di rumah kita dan Adrian sulit tidur, pasti Aunty mau menemani Adrian sampai tidur,"


-------

__ADS_1


HELAWWW selamat malam Rabu semuanyaaa. INI MAYAN PANZAANGG EP NYA 1.400 KATA LEBIH. Jgn lupa dukungannya yaa. Klik like, ketik komen, beri vote seikhlasnya, lalu tekan bintang 5 jg deh, oh iya 'Follow'nya jgn lupa ditekan jg. Hehehe


__ADS_2