My Cruel Husband

My Cruel Husband
Ada kebakaran di pagi hari


__ADS_3

Devan mencapai puncak beberapa kali. Lovi sampai merasa kewalahan. Ia sudah ingin menghentikan, tapi Devan selalu mengatakan kurang.


"Hey, ingat ya di perutku ada anakmu. Jangan sampai dia merajuk karena Daddy nya membuat dia tersentak-sentak sejak tadi,"


"HAHAHAHAHA,"


Hap


"Hmmppp..." mulut dan hidung Devan ditutup oleh Lovi. Devan benar-benar mengganggu tidur Auristella. Kalau dia bangun, siapa yang dibuat begadang? pasti Lovi.


"Lepas, hah hah hah..."


Napas Devan tersengal-sengal. Ia menatap Lovi dengan tajam. Sebelumnya Ia sudah menyingkirkan tangan Lovi dari mulutnya.


"Lov, aku sedang kelelahan dan butuh oksigen banyak. Kamu malah menutup akses untuk aku bernapas,"


"Setelah kamu puas, kamu membuat kerusuhan,"


Mereka berdebat masih dengan tubuh yang saling menyatu. Lovi mendorong dada suaminya agar menyingkir. Devan segera melakukan apa yang diinginkan istrinya. Lagipula Ia juga sudah kelelahan. Apalagi Lovi yang seharusnya sudah beristirahat sejak tadi. Ini sudah hampir larut, tapi mereka masih bekerja keras di atas ranjang.


Devan mengangkat Lovi untuk mandi. Sudah menjadi kebiasaan mereka mandi tengah malam. Dan biasanya Devan masih saja mencari-cari kesempatan, seolah masih kurang. Padahal tubuhnya sudah lelah.


****


Sudah pagi, Lovi dan Devan masih belum bangun dari tidurnya. Kalau Devan yang seperti itu tidak heran. Tapi Lovi tidak biasanya terlambat bangun. Mungkin Ia terlalu kelelahan. Sampai Adrian yang membangunkan kedua orangtua nya.


Ia masuk ke dalam kamar Lovi dan Devan kemudian melompat ke tempat tidur. Ia menggerakkan lengan Mommy dan Daddy nya yang masih nyaman dalam tidur mereka.


"Mom, bangun. Aku mau sekolah, kenapa Mommy kesiangan?"


"Engghh," Lovi melenguh tapi belum juga membuka mata.


"Mom, ayo bangun. Aku sudah pakai seragam ini, Mom."


"Ya,"


Akhirnya Lovi membuka mata. Ia terdiam beberapa saat dengan posisi duduk, matanya menatap jam. Dan Ia terkejut karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. Ia benar-benar kesiangan ternyata.


Perempuan itu mengikat asal rambutnya kemudian beranjak turun dari tempat tidur. Sementara Adrian membangunkan Devan.


"DADDY KEBAKARAN KEBAKARAN. BANGUN! SELAMATKAN AURIS!"


"Hah? mana? mana?"


Devan duduk dengan mata yang tertutup. Ia mengulurkan tangannya ke depan, mencari-cari Auristella padahal Auristella terlelap di sampingnya.


"HAHAHAHAHA,"


Tawa Adrian meledak seketika hingga Auristella terbangun dan menangis. Adrian terpingkal-pingkal hingga berguling di ranjang. Karena tawa anak itu juga mata Devan terbuka sempurna.


Melihat anaknya yang begitu bahagia setelah mengerjainya, Devan mendengus kesal. Kalau Adrian bukan anaknya, sudah terkena maki-maki Devan pasti.

__ADS_1


Devan segera menggendong Auristella yang menangis tersedu. Ia terkejut karena suara keras Adrian. Padahal sedang nyaman dalam tidur.


"Sssttt tenang, Sayang. Berhenti menangis ya,"


Devan menimang Auristella yang masih menangis seraya menyandarkan pipinya di bahu Devan.


Adrian berbicara dengan Mommy nya yang sudah terjun ke dapur menggunakan handy talky.


"Mom, Daddy buat Auris menangis,"


Seketika Devan menatap anaknya dengan tajam. Rahang Devan mengeras. Sementara Adrian menjulurkan lidahnya.


"Devan!" panggil Lovi.


"Apa sih, Lov? bukan aku, tapi Adrian. Dia teriak-teriak mengatakan ada kebakaran. Lalu tertawa kencang hingga Auris menangis,"


"Mandi sekarang! kamu harus bekerja,"


"Auris menangis. Bagaimana aku mau mandi?"


Adrian memberikan handy talky pada Devan yang masih bicara dengan Lovi, sementara Adrian sudah keluar kamar, meninggalkan sisa kejahilannya yaitu Auristella yang masih menangis.


"Bawa Auris turun ke bawah, kamu harus mandi."


"Hmm... ya,"


Setelah mengembalikan handy talky di nakas, Devan segera keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah masih dengan Auristella digendongannya.


"Uh sayang, kenapa menangis?"


"Kenapa dia menangis? mencari Lovi?"


"Tidak, dia kaget karena Adrian tertawa kencang sekali sampai dia bangun,"


"Astaga, anak itu. Tega sekali sih dengan adiknya,"


Devan menghampiri Lovi dan Auristella semakin menangis kencang, seolah mengadu pada Mommy nya yang sedang berkutat dengan masakan.


"Ini Auris. Kamu gendong, aku mandi."


"Bagaimana aku menggendong? kamu tidak lihat aku sedang apa? ambil kursinya biar dia bisa menunggu aku memasak,"


Devan sudah kena sembur omelan Lovi pagi-pagi begini. Devan berdecak pelan kemudian meminta bantuan pada maid untuk mengambil kursi Auristella.


Kalau sudah kesiangan seperti sekarang, Lovi jadi panik. Hingga siapapun yang berbuat kesalahan, pasti kena omelan nya. Tidak terkecuali Devan.


Devan meletakkan Auristella di kursinya kemudian memasang pengaman agar anak itu baik-baik saja. Kemudian Ia beranjak keluar dari dapur untuk bergegas mandi.


Lovi mendekati anaknya yang duduk di depan pintu masuk dapur, tidak dekat dengan alat-alat masak. Kemudian Ia mengecup kening anaknya sebentar.


"Jangan menangis ya. Mommy masak sebentar,"

__ADS_1


Dengan napasnya yang tersengal, Auristella mengangguk patuh. Lovi mengusap-usap dada anaknya agar tenang.


*****


Usai memakai sepatu, Andrean dan Adrian sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Lovi meletakkan tas kedua anaknya di mobil Devan.


"Sayang sekali uang Daddy habis untuk beli mobil kami berdua. Pada akhirnya kalau pergi dan pulang sekolah selalu dengan mobil Daddy," ujar Adrian yang diangguki oleh Andrean sebagai persetujuan.


"Belajar yang benar. Sebentar lagi lulus lalu masuk primary school (sekolah dasar),"


"Ya, Mom." jawab mereka kompak. Setelah mengecup kepala kedua anaknya, Lovi bergegas menjauh dari mobil Devan. Mereka harus segera berangkat karena waktu terus berjalan. Bisa-bisa kedua anaknya tidak boleh masuk nanti. Sebenarnya mereka bisa saja pergi lebih dulu bersama supir tadi. Tapi karena mereka hanya ingin pergi bersama Devan dan sarapan dengan masakan Lovi yang pagi ini bangun terlalu lambat, akhirnya terpaksa mereka berangkat lebih lama dari biasanya.


Lovi mendekati Auristella yang lahap menikmati cookies miliknya di meja makan bersama Rena dan Senata.


"Saatnya kamu mandi,"


Auristella mengangkat tangannya yang memegang cookies, menunjukkan kalau Ia masih makan.


"Oh iya, mandi nya nanti kalau begitu. Lanjut dulu makan nya," ucap Lovi seraya tersenyum. Seraya menunggu sang anak menghabiskan cookies, Lovi meneguk susu hamil miliknya yang tidak lagi hangat.


"Terlalu sibuk mengurus anak dan suami, selalu lupa memikirkan diri sendiri. Jangan seperti itu terus, Lov." ujar Rena yang sangat perhatian pada menantu nya. Sebenarnya Lovi selalu ingin minum susu hamil dalam keadaan hangat, tapi karena harus menjadi istri dan ibu yang baik, maka terkadang Ia lupa dengan diri sendiri.


*****


Bandy, orang yang sering membuat makanan atau minuman untuk Devan selama di kantor, memasuki ruangan Devan seraya membawa secangkir kopi untuk Devan.


"Bagaimana kabar Ibumu? sudah benar-benar sehat?"


"Sudah, Tuan. Tapi pengobatannya terus berlanjut,"


Meskipun Bandy pernah berbuat jahat padanya, Devan tetap peduli. Bandy mengikuti perintah Arnold karena butuh uang untuk mengobati Ibunya yang sakit parah.


"Saya permisi, Tuan."


"Ya, terima kasih."


Saat Devan sedang sibuk bekerja, ada telepon masuk dari petugas rumah sakit tempat dimana Lianne, mantan teman ONS Devan, mendapat perawatan.


"Tuan, Nona Lianne meninggal dunia,"


 ---------


Hellooo akyu datang. Selamat pagi semuanyaaa. Semoga hari kalian menyenangkan yaa. Terima kasih sudah membaca dan memberi dukungan. Ku sayang kalian❤️🤗


Aku ada novel baru nih. Barangkali kalian minat buat mampir wkwk.



Nillaku jg mau aku usahain up tiap hari. Jgn lupa mampir ke sini yaaa👇


__ADS_1


Kita jalin pertemanan di IG Kuyy 🤪



__ADS_2