My Cruel Husband

My Cruel Husband
Di sini bersamamu


__ADS_3

"Devan, aku boleh ikut ke rumah sakit?"


Lovi mengeluarkan suaranya setelah sekian lama terdiam. Bahkan selama di pesawat pun tidak ada sepatah kata pun yang dikeluarkannya. Lovi terlalu takut memancing kemarahan Devan lagi. Sehingga Ia memilih untuk tidur selama di perjalanan.


Devan berjalan dengan cepat karena supir yang menjemputnya sudah berada di luar bandara.


"Tidak, kalian pulang. Aku ke rumah sakit sendiri,"


"Tapi aku--"


Devan menghentikan langkahnya dan menatap Lovi dengan tajam. Perempuan itu langsung menutup mulutnya dan menunduk.


"Aku akan pulang bersama anak-anak. Kamu hati-hati ya,"


Tidak ada lagi yang harus diperdebatkan. Lovi tahu kalau Devan masih kesal terhadapnya. Oleh sebab itu Ia tahu diri. Mungkin sekarang Devan ingin menghindarinya. Itu lebih baik. Daripada Devan membentaknya seperti beberapa waktu lalu.


***


Devan sampai di rumah sakit. Langkah kakinya benar-benar cepat. Dentum di dadanya langsung tidak karuan saat menginjak lantai putih itu. Membayangkan adiknya yang terluka parah, Devan merasa tidak berguna sebagai kakak.


Devan akan melihat kondisi adiknya seorang diri. Ia tidak mengizinkan anak dan Istrinya untuk ikut karena Devan terlalu khawatir. Wajah Lovi sangat pucat tadi. Kedua anaknya pun terlihat begitu mengantuk. Akan lebih baik mereka di rumah. Sementara Devan di sini entah sampai kapan.


Devan masuk ke dalam ruangan adiknya. Aroma obat-obatan begitu menusuk indera penciuman Devan. Matanya memanas saat melihat Vanilla yang tertidur dengan beberapa perban di tubuhnya.


Rena dan Raihan juga tidur dengan posisi duduk. Melihat pemandangan ini hati Devan teriris. Seharusnya Ia berada di sini sejak kejadian itu. Seharusnya Ia menemani Raihan menghadapi ini semua. Sebagai laki-laki, Devan tahu betul seberat apa beban yang sedang ditanggung ayahnya itu. Melihat anak terluka adalah cobaan terberat bagi orangtua. Devan sudah merasakannya.


Seharusnya Devan menjadi orang pertama yang memeluk adiknya saat mata biru itu terbuka. Nyatanya, Ia sibuk berlibur sementara Vanilla dalam kondisi hampir mati.


"Vanilla, maafkan aku." Devan meraup udara sebanyak mungkin. Ia menengadahkan kepalanya untuk menghela napas dan mengusir kesedihan yang sejak tadi menggerayangi hatinya.


Vanilla mengerjap saat merasakan kepalanya diusap dengan lembut. Ia membuka mata dan seperti biasa, tatapan itu akan kosong.


"Devan, ini kamu?"

__ADS_1


Devan menggigit bibir bawahnya dengan keras. Apa lagi ini? kenapa Vanilla bertanya hal yang seharusnya sudah Ia ketahui? apakah ada sesuatu yang Ia lewatkan lagi kali ini?


"Iya, Ini aku." Devan berbisik sebelum mengecup kening adiknya dengan lembut. Ia mengerinyit saat air mata Vanilla turun dari sudut matanya, membasahi wajah cantik yang kini banyak luka.


"Aku buta, Devan. Aku tidak bisa melihatmu sekarang,"


Devan membeku seraya menahan deru napasnya. Beberapa detik kemudian Ia menggeleng tidak percaya. Bagaimana bisa? takdir Tuhan semenyakitkan ini untuk adiknya?


Devan ingin berteriak marah pada kenyataan ini. Namun Ia tidak kuasa melakukannya. Siapa yang harus Ia salahkan di sini? Tuhan? bagaimana mungkin? Justru seharusnya Ia bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati pada Vanilla. Gadis itu tidak meninggalkan siapapun saat ini. Hanya penglihatan yang hilang dari Vanilla.


"Kamu tidak perlu menangis," Vanilla mencari-cari wajah kakaknya. Devan segera meraih tangan adik kecilnya lalu meletakkannya di wajah. Agar Vanilla tahu bahwa Ia tidak menangis walaupun sebelumnya Devan sudah mengusap air mata menyedihkan itu dari wajah tampannya.


"Aku tidak menangis, kalau kamu kuat. Aku di sini bersamamu. Aku akan membantumu melihat lagi, Vanilla."


*****


Suasana hati Deni saat ini benar-benar kacau. Selain karena hari pernikahannya dipercepat, Deni juga merasa bingung karena tidak ada satupun dari keluarga Devan yang menampilkan batang hidung mereka.


Ini hari pernikahannya namun rasa sedih justru lebih mendominasi. Seharusnya Ia bahagia saat melepas masa lajang. Namun yang dirasakan Deni justru sebaliknya. Ia merasa kosong, dan tidak tahu harus bagaimana.


"Aku terlalu terkejut saat Mamaku mempercepat ini semua,"


"Aku juga tidak menyangka. Orangtua kita sama-sama aneh,"


Deni tidak tertawa seperti Keynie. Karena apa yang dilakukan Mamanya juga Mama Keynie bukanlah sesuatu yang patut untuk disambut dengan suka cita.


"Terima saja, mungkin ini yang terbaik untuk kita menurut mereka,"


Deni menghela napas pelan. Ia duduk di salah satu kursi dan Keynie mengikutinya. Tamu yang datang mulai sedikit tidak seramai tadi. Konsep pernikahan mereka adalah garden party sehingga kehangatan antara pengantin dengan kerabatnya pun begitu terasa karena mereka semua berbaur menjadi satu. Menghabiskan waktu untuk berbincang, tertawa, yang intinya berbagi kebahagiaan.


"Dimana sahabatmu itu, Niele? Katamu pasti datang?"


Denie tidak bisa menjawab Veronica, Mamanya. Sudah beberapa kali Ia bertanya hal yang sama. Karena Veronica juga sangat mengenal baik Devan. Sempat bertemu beberapa kali bila Devan main ke rumah Deni sewaktu masih sendiri. Terakhir kali Devan datang ke rumah Deni saat Ia dalam proses cerai dengan Lovi. Dimana Devan sedang membutuhkan teman untuk berbagi cerita.

__ADS_1


*****


Lovi keluar dari kamar mandi dengan perasaan cemas. Ia baru saja buang air dan langsung menemukan bercak darah di celananya. Tidak banyak, namun berhasil membuat Lovi berpikir keras.


"Apa aku terlalu lelah? atau karena aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku lakukan? tapi apa?"


"Mom, Daddy sedang kemana sebenarnya?"


Adrian sudah bangun dari tidurnya. Wajahnya sudah lebih cerah daripada tadi. Lelah yang dirasakannya selama perjalanan dari Jogja ke Bali lalu dari Bali ke Manhattan sudah mulai hilang.


Ia sudah bertanya dua kali mengenai hal ini pada Lovi dan Ibunya itu bingung ingin menjawab apa. Kalau Lovi mengatakan Vanilla terluka, pasti reaksi Adrian akan lebih daripada yang Ia duga.


Adrian bertanya seperti itu karena Devan tidak mengatakan apapun sebelum pergi tadi. Ayahnya tidak pamit, bahkan tidak juga menyematkan kecupan di kening seperti biasa. Apakah 'urusan' yang dikatakan Lovi tadi benar-benar membuat Devan sibuk?


"Mommy sudah menjawabnya, Sayang."


"Ya, tapi urusan apa? pekerjaan?"


"Iya, pekerjaan."


Adrian mengerucutkan bibirnya. Padahal sebelumnya sesibuk apapun Devan, Adrian maupun Andrean tidak pernah lepas dari perhatiannya. Sekecil apapun hal yang membuat anaknya bahagia pasti akan Devan lakukan walaupun pekerjaan menuntutnya untuk fokus.


"Semalam, Daddy kenapa ya, Mom? tiba-tiba marah. Padahal Adrian tidak nakal, Mom."


Lovi tersenyum lalu menghampiri anaknya yang tidur di atas ranjang Ia dan Devan. Lovi duduk di samping Adrian, mengusap kepala anaknya dengan lembut. Ia juga melakukan hal yang sama pada Andrean yang belum bangun dari tidur.


"Kamu memang tidak nakal. Daddy hanya kelelahan saja. Makanya seperti itu. Kalau Daddy sedang kelelahan, Adrian jangan membuat masalah ya."


"Tidak, Adrian tidak pernah cari masalah. Adrian anak baik,"


Lovi mencibir, "Tidak pernah cari masalah? yang benar saja! gegar otaknya sudah sembuh, sekarang lupa ingatan atau bagaimana?" Lovi menggeleng saat benaknya berbicara demikian. Ya Tuhan, Ia sudah terlalu kesal karena Adrian mengelak oleh sebab itu Ia jadi berbicara aneh.


"Setelah itu Daddy tidak minta maaf pada Adrian. Padahal jantung Adrian itu hampir lompat, Mom karena suara Daddy benar-benar keras. 'Kan tidak lucu kalau jantung anak tampan seperti Adrian lompat dari tempatnya. Gawat kalau Adrian tidak bisa merasa degup jatuh cinta nanti,"

__ADS_1


-------


HELAWWW SELAMAT SIANG MANTEMANQUW. UDH MAKAN? JGN SAMPAI LUPA YA! DOI AJA GK DILUPAIN MASA MAKAN DILUPAIN AWOKWOK CANDA GENGS ;) AKU SELALU MENANTIKAN DUKUNGAN KALIAN SEMUAA. TERIMA KASIH UNTK YG GK PELIT VOMMENT. KALIAN TERBAEEKK!!!🤗


__ADS_2