
"Rasanya aku ingin bermain dulu,"
"Aduh, Tuan kecil ini kalau tidak ada Grandma banyak maunya,"
Bito menggumam seraya mengusap pelipisnya. Gawat kalau sampai mereka berakhir di wahana bermain dulu, tidak langsung sampai di mansion.
"Jangan macam-macam. Kita dibiasakan untuk langsung pulang setelah sekolah,"
"Bito, lagipula kenapa Grandma tidak menjemput?"
"Tadi, Nona Auris demam. Langsung dibawa ke rumah sakit. Jadi aku sendiri yang menjemput kalian,"
"Ya, Tuhan. Auris sakit?"
"Ya, mungkin karena terlalu rindu dengan Mommy dan Daddy-nya,"
Adrina yang sedari tadi menjadi pendengarpun ikut berbicara, "Parah sekali sakitnya?"
"Tidak, semoga sampai pulang nanti baik-baik saja,"
"Aku selalu tidak tega kalau melihat anak bayi sakit,"
"Iya, kita saja yang sudah besar terkadang tidak kuat. Apa lagi bayi seperti Auris,"" Revin menimpali kalimat Adrina.
Mendengar adiknya sakit, Adrian tidak lagi memikirkan bermain. Ia khawatir apalagi saat mengingat tidak ada Lovi dan Devan di samping adiknya.
__ADS_1
*******
Devan keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang jauh lebih segar. Sebelum bergabung dengan Lovi di ranjang, Ia mengenakan pakaiannya terlebih dahulu di walk in closet.
"Melihat apa, Lov?"
"Hmm? tidak, aku hanya penasaran dengan isinya,"
"Jangan, nanti kamu sakit kepala,"
Devan naik ke atas ranjang. Aroma yang begitu menenangkan langsung singgah di hidung Lovi.
Devan meraih iPad yang ada di tangan istrinya lalu meletakkan benda tersebut di nakas. Di sana banyak pekerjaannya. Lovi belum tentu mengerti.
"Mama telepon,"
"Angkat," Devan meminta istrinya saja yang mengangkat. Ia memilih untuk bergelung di dalam selimut seraya memeluk erat pinggang istrinya. Hanya ini yang bisa Ia lakukan untuk menghilangkan rasa penat setelah seharian bekerja.
"Hallo, Ma?"
"Lovi, Mama hanya ingin memberi tahu, Auris sakit..."
"Astaga," Lovi yang sebelumnya berbaring sontak terbangun, lilitan tangan Devan di pinggangnya sampai terlepas.
"Sakit apa, Ma?"
__ADS_1
"Demam. Auris harus dirawat, Lovi."
Mata Lovi berkaca. Ia menggigit bibir bawahnya cemas. Detak jantung Lovi tidak beraturan lagi. Otaknya sudah memikirkan segala kemungkinan yang saat ini tengah dirasakan oleh sang putri.
Auris sakit, lalu tidak ada orangtua yang menemani. Kasihan sekali anaknya. Tidak terasa, air mata Lovi jatuh juga.
"Lov, ada apa?" Devan ikut panik melihat istrinya yang sudah menangis.
"Auris dirawat di rumah sakit. Kita pulang sekarang ya, Devan? aku benar-benar khawatir,"
*********
"Orangtuanya sudah dihubungi, Nyonya?"
"Sudah, Dokter. Tapi yang terjadi pada cucu saya tidak--"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Auris sudah ditangani semoga cepat pulih. Saya hanya menyarankan agar orangtuanya datang ke sini, mendampingi dia."
Rena dan Senata bingung akan berbicara apa lagi. Mereka tidak tahu hal apa yang dilakukan Lovi dan Devan setelah mendengar kabar mengenai Auristella. Entah memutuskan untuk pulang atau tetap pada rencana awal karena panggilan tadi berakhir secara sepihak.
Semoga saja Devan dan Lovi tahu hal terbaik yang seharusnya mereka lakukan. Rena dan Senata hanya bisa berdoa serta mendampingi cucu perempuannya. Ini untuk pertama kalinya Auristella sakit sampai harus mendapat perawatan di rumah sakit.
Suhu tubuh Auristella belum normal. Ketika dibawa ke rumah sakit, Auristella tidak terlalu demam. Saat ini justru sebaliknya. Hal itulah yang membuat Rena dan Senata khawatir luar biasa.
-----------
__ADS_1