My Cruel Husband

My Cruel Husband
Ingat adik


__ADS_3

Hari ini Andrean dan Adrian ikut Devan bekerja. Sementara Auristella mulai menjalani sekolah bayi ditemani oleh Lovi.


Setelah mereka pulang sekolah, Devan langsung membawa kedua putranya ke kantor.


"Sebelum pulang nanti, kita beli mainan dulu ya, Dad?"


"Huh? sudah mau lagi minta sesuatu pada Daddy? kemarin kamu kesal," ujar Devan menggoda anak keduanya.


Andrean sedang mengerjakan tugas yang tadi diberikan oleh gurunya seraya mengajarkan materi yang tidak dipahami oleh adiknya.


"Ini aku paham, tapi yang ini---"


"Paham? lalu kenapa tadi tidak bisa mengerjakan contoh soal yang aku berikan?"


"Malas,"


Devan melirik kedua anaknya yang tengah berdebat. Dilihatnya Andrean mengulurkan buku pada Adrian.


"Kalau paham, kerjakan! tidak boleh malas. Beli mainan kamu tidak pernah malas,"


Dengan bibir tertekuk Adrian mengerjakan dua soal yang diberikan sang kakak. "Tugasku saja belum dikerjakan, sekarang malah disuruh kerjakan yang lain,"


"Coba kerjakan soal yang aku berikan, kalau sudah benar-benar mengerti pasti tidak kesulitan untuk mengerjakan tugas sekolah,"


"Aku buktikan sekarang,"

__ADS_1


Adrian mulai berkutat dengan buku tugasnya. Ia membaca soal dari Andrean dengan teliti. Lalu berpikir untuk menjawabnya dengan benar.


"Ayo yang benar jawabnya. Nanti Daddy belikan mainan yang banyak,"


Devan menyemangati anaknya. Terbukti berhasil karena Adrian langsung duduk tegap padahal tadi mengerjakannya dengan posisi malas-malasan.


Mainan, cokelat atau makanan manis yang lain akan selalu menjadi daya tarik untuk anak yang gagal menjadi bungsu itu.


******


"Kalau boneka dimana?"


Devan dan Andrean sontak menoleh saat Adrian bertanya seperti itu. Mereka baru saja sampai di pusat belanja mainan dan hal pertama yang Ia tanyakan pada pelayan di tempat tersebut adalah mengenai letak boneka.


"Kamu baik-baik saja?" Devan jadi takut sendiri. Ia meletakkan punggung tangan di kening Adrian. Sepertinya semua normal. Ia takut terjadi sesuatu pada anaknya.


"Kamu laki-laki tidak boleh memiliki boneka apalagi memainkannya,"


pelayan toko menatap mereka bergantian. Aneh juga mendengar Adrian menginginkan boneka padahal dia anak laki-laki.


"Boneka untuk Auris,"


Mulut Devan dan Andrean membulat seraya mengangguk. Senyum Devan tersungging, tangan kokohnya mengusap kepala Adrian.


"Tidak biasanya kamu perhatian seperti ini. Kenapa tiba-tiba ingat Auris?" tanya sang ayah.

__ADS_1


"Aku pernah mengotori bonekanya. Sebenarnya sudah aku cuci, tapi aku masih merasa bersalah,"


*******


Dalam perjalanan pulang, Auristella sudah tertidur. Sehingga begitu sampai di kamar, Lovi tidak perlu lagi menimangnya agar tidur siang.


Seraya menunggu anaknya bangun tidur, Lovi melanjutkan kegiatannya kemarin, yaitu memasukkan pakaian yang sudah terlipat ke dalam lemari.


Risiko bila sudah memiliki anak adalah seperti itu. Sesibuk apapun seorang Ibu, bila anak sudah merengek pasti kesibukan itu akan segera ditinggalkan.


Selain pakaian, Lovi juga mengembalikan mainan anak kedua dan ketiganya yang berkumpul di atas meja rias miliknya. Entah sejak kapan benda itu berubah fungsi. Padahal boks khusus mainan sudah disiapkan bahkan banyak sekali.


"Lovi, sedang apa? makan siang dulu,"


Lovi menoleh saat pintu kamar dibuka. Rena berdiri dan menimbulkan kepalanya di celah pintu yang terbuka sedikit.


"Aku nanti saja makannya, Ma."


"Benar? setelah pulang dari menemani Auris sekolah memang tidak lapar?"


"Tadi aku sudah makan salad buah yang dibawa,"


"Oh, okay."


Lovi menoleh pada anaknya yang melenguh dalam tidur. Rupanya hanya berbalik badan kemudian terlelap lagi dengan mulut mungilnya yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Jangan bangun dulu ya, Sayang? pekerjaan Mommy belum selesai sementara kakak kalian dan Daddy tidak lama lagi akan pulang,"


----------


__ADS_2