
Jane pulang ke mansion dengan wajah terlipat. Ia diantar oleh teman lelakinya, bukan Richard. Mereka baru saja pulang dari kelab pukul sepuluh malam, dan masih ada Raihan yang belum tidur.
"Pulang bersama siapa, Jane?"
Raihan yang sudah menganggap Jane seperti anaknya sendiri, selalu bertanya seperti itu setiap Jane pulang.
"Dical,"
"Siapa dia? biasanya kamu pulang dengan Richard,"
"Dia tidak tahu aku ke kelab. Sengaja aku tidak mau dijemputnya,"
"Kalau dilarang buat kebaikan kenapa harus tidak menurut sih? dia mungkin tidak suka kalau kamu terlalu sering ke sana,"
"Aku sudah jarang. Tadi aku suntuk, jadi lebih baik menghibur diri di kelab dengan teman-temanku,"
"Suntuk karena apa? kamu dan Richard baik-baik saja bukan?"
"Kami sering bertengkar," Jane mengakui.
Raihan melihat gerak gerik keponakannya itu yang akan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
"Aku mau menikah,"
"Huh? menikah dengan siapa?" Raihan terperangah. Jane baru saja mengakui kalau Ia kerap bertengkar dengan kekasihnya, Richard. Tetapi sekarang mengatakan ingin menikah.
"Richard, siapa lagi?"
"Tapi kalian---"
"Aku rasa kami sering bertengkar akhir-akhir ini karena memutuskan untuk menikah. Tapi aku sudah yakin, Uncle."
"Sejak kapan kalian membicarakan perihal ini? maksudku, kalian yakin untuk menikah,"
"Sejak beberapa bulan lalu sebenarnya Richard sudah meminta aku menjadi istrinya. Tapi aku masih ragu,"
"Sekarang sudah tidak ragu?"
"Tidak, semakin kami sering bertengkar, aku malah semakin yakin,"
Jane melangkah begitu saja meninggalkan pamannya itu. Ia terlihat begitu penat, jadi belum bicara serius dengan Raihan padahal Raihan menantikan itu. Agar Raihan bisa mengatakannya juga pada orangtua Jane yang begitu jarang komunikasi dengan anak mereka.
*******
__ADS_1
"Dad!"
"Mom!"
Auristella berteriak memanggil orangtuanya yang sedang berkumpul di ruang keluarga membicarakan rencana liburan bersama keluarga besar yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
Andrean baru saja terjatuh terantuk meja di luar ruang bermain karena Ia berlari ingin mengambil mobil-mobilannya di kamar.
Lovi segera menghampiri anaknya dengan perasaan khawatir. Dilihatnya Auristella tengah memangku kepala Andrean yang meringis kesakitan dengan posisi berbaring seraya memegang kakinya yang terasa sangat sakit.
Perawatnya sudah membantu Andrean bangkit tetapi Andrean kesulitan. "Kenapa, Andrean?"
"Jatuh, Nona." jawab Netta.
Lovi memperhatikan Auristella mengusap kepala kakak sulungnya yang tak henti mengatakan sakit. "Astaga, ada-ada saja anakku ini. Ayo bangun, prince tidak boleh lemah,"
Lovi meminta Auristella menyingkir yang langsung dituruti anak itu. Devan yang penasaran dengan apa yang terjadi pun ikut menghampiri. Ia mengerinyit saat melihat Andrean dipeluk Lovi.
"Apa yang terjadi, Lov?"
"Andrean jatuh,"
"Jatuh? jatuh sendiri? atau dengan Auris?"
"Jatuh sendiri, Tuan. Tidak sengaja menabrak meja itu saat berlari mau masuk ke kamar,"
"Oh, jadi karena meja ini?" Devan mendekati benda mati yang dianggap bersalah itu. Lalu Ia memukul meja tersebut namun tak kencang.
"Berani sekali dia macam-macam dengan anak Daddy ya," geramnya memarahi meja. Auristella yang melihat itu terkekeh geli. Lucu sekali saat Daddy-nya marah-marah pada meja yang sebenarnya tidak bersalah. Salah manusia-nya saja yang teledor sampai-sampai menabrak padahal keberadaannya tidak mengganggu.
"Berdarah atau memar?" tanya Devan saat Lovi memeriksa kaki Andrean.
"Hanya merah saja. Semoga tidak memar nanti,"
"Makanya lain kali hati-hati. Tidak perlu berlari, kamu tidak sedang lomba. Untuk apa masuk kamar saja harus berlari?"
Devan mengacak pelan rambut anak sulungnya. "Daddy ambil mobil-mobilannya ya? di kamar 'kan?"
Andrean mengangguk dan Devan langsung pergi menuju kamar. Sampai di kamar, Ia menemukan Adrian tengah bergelut dengan robotnya.
"Ternyata robotnya ada remote?"
Adrian menoleh terkejut saat mendengar suara Devan yang baru saja masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Iya, Dad."
"Jangan sembarangan meletakkan remote-nya. Ingat ada Auris yang bisa kapan saja mengganggu mainan kamu,"
"Dia tidak mungkin menyentuh robotku ini. Dia takut,"
"Memang dengan remote Auris takut?"
"Tidak,"
"Makanya simpan baik-baik. Remote televisi saja sering dia mainkan lalu terselip entah kemana,"
"Iya, Daddy."
"Yang biasa dimainkan Andrean yang mana?"
Devan menunjuk beberapa mobil-mobilan milik Andrean, Ia bertanya pada Adrian yang pasti sangat tahu.
"Yang itu," jawab Adrian seraya menunjuk mobil berwarna merah muda.
"Sepertinya ini bukan milik Andrean,"
"Memang bukan. Itu punya Auris tapi entah kenapa malah di letakkan di sana,"
"Huh? sejak kapan Auris bermain mobil-mobilan? dan sejak kapan juga Andrean suka memainkan mobil-mobilan berwarna merah muda. Daddy tidak pernah melihatnya memainkan ini,"
Adrian mulai jahil, membuat Devan bingung. Sebenarnya bukan itu yang sering dipakai Andrean melainkan yang berwarna biru muda.
"Saat Aku, Auris, Andrean, dan Mommy pergi ke mall, aku dan Andrean beli mobil-mobilan. Lalu Auris juga tidak mau kalah. Mommy sudah melarang tapi Auris menangis,"
Cerita dari anaknya membuat Devan menggeleng pelan. Auristella dengan segala tingkah random- nya. Dimana-mana anak perempuan hanya suka bermain boneka. Ternyata Auristella berbeda. Selain Ia menyukai mainan anak perempuan, Ia juga suka mobil-mobilan.
"Jadi yang mana?"
"Merah muda itu, Dad. Percaya padaku,"
Alis Devan mengangkat, Ia memicing ke arah Adrian yang berusaha menahan senyum. "Kamu membohongi Daddy ya?"
"Iya,"
"Errghh," geram Devan seraya mendorong robot Adrian sampai bergoyang.
Adrian berteriak heboh saat Daddy-nya melakukan itu. Devan segera berlari menghindari Adrian yang mengejarnya seraya marah-marah.
__ADS_1
Adrian paling tidak mau kalau robot kesayangannya itu disentuh-sentuh. "Daddy tidak boleh main-main dengan robotku ya! dia bisa jalan sendiri untuk membalas Daddy. Mau lihat?"