
"Sudah? sudah berbincangnya?"
Suara dingin dari arah belakang membuat Lovi terkejut. Ia menoleh dan mendapati Devan yang mendekatinya lalu duduk di sampingnya dengan mengusir Netta menggunakan tatapan tajam.
"Devan? kenapa kamu di sini?" tanya Lovi setelah berdehem sebentar. Ia menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya.
"Tunggu apa lagi masih berdiri di sini? bisa Anda pergi sekarang?"
Fifdy langsung terperanjat begitu Devan mengusirnya. Mata lelaki itu terlihat menampilkan aura permusuhan membuat Ia sedikit meremang.
"Maaf, Tuan."
Fifdy langsung pergi begitu Lovi memberinya isyarat untuk segera berlalu.
"Dia hanya pelayan?"
Devan beralih pada Istrinya yang mengangguk santai. Lelaki itu mengusap kasar wajahnya.
"Bisa kita pergi sekarang?"
"Bahkan aku belum menikmati ini semua, Devan."
Mata Lovi berputar menunjukkan sepiring donat dan coklat hangat di depannya.
"Aku tidak peduli, Lovi."
"Hm? aku lapar,"
Perempuan itu masih menolak keinginan Devan. Lagipula apa yang membuat Devan seperti ini? kalau memang Ia sedang terburu-buru mengapa Ia harus berada di sini sekarang?
"Aku sudah mengatakan padamu agar tidak menjemputku,"
Lovi berusaha memperingati lelaki itu. Baru satu jam yang lalu Devan bertanya tentang keberadaannya. Setelah Lovi menjawab, Devan langsung ingin menjemputnya dan Lovi melarangnya. Karena Devan mengaku pekerjaannya sedang menumpuk, tapi di lain sisi Ia juga ingin membagi waktu dengan Istrinya.
"Kalau aku tidak ada di sini, maka kamu akan semakin bebas berbicara dengan dia,"
Devan mengucapkan kata dia dengan nada yang terdengar sinis. Lovi tidak menyadari itu karena Ia selalu berpikir positif.
"Cepat habiskan makanannya, Lovi. Netta, Serry tolong bawa semua paper bag itu ke dalam mobilku. Kalian pulang bersama supir sementara Istri dan anakku akan pulang bersamaku,"
__ADS_1
Netta dan Serry mengangguk patuh. Mereka segera bangkit untuk melaksanakan titah Devan. Namun Devan menginterupsi mereka.
"Habiskan dulu makanan kalian,"
Itu adalah satu dari sekian banyak bentuk perhatian Devan pada semua pelayannya. Ia akan marah bila para pelayannya lebih mementingkan pekerjaan daripada mengisi perut dengan makanan sementara dalam melaksanakan tugasnya, mereka butuh energi.
Devan tidak ingin hanya mengambil tenaga pelayannya tanpa memikirkan kesehatan mereka. Biar bagaimanapun mereka adalah manusia yang membutuhkan istirahat dan juga makanan.
"Baik, Tuan."
Diam-diam Lovi tersenyum. Setelah mengenal Devan lebih dalam, segala persepsinya mengenai Devan hampir semuanya salah. Ia kira, lelaki itu adalah manusia paling kejam yang suka menyakiti bahkan membunuh. Nyatanya, ucapan yang selama ini Lovi dengar memanglah benar. Ia hanya menilai dari luar. Sementara sisi terdalam lelaki itu baru dikenalinya sekarang.
"Cepat, Lov habiskan! kamu kenapa senyum begitu?!" seru Devan yang mulai kesal. Melihat senyum Lovi, rasa cemburu yang sedang berkobar perlahan menyurut.
"Kamu tidak suka melihat senyum manis ini?"
Lovi menggodanya. Oh sial*n! Devan tidak bisa menahan rasa senangnya. Perempuan di sampingnya ini selalu bisa mengalihkan dunianya.
"Akan aku habisi kamu di kamar nanti!" bisik Devan setelah berhasil mendekatkan bibirnya ke telinga Lovi.
"Aku sangat menantikan itu, Tuanku yang tersayang." balas Lovi dengan kerlingan di matanya yang cerah.
*********
Devan menarik pinggang istrinya agar lebih mendekat. Ia akan memeluk Lovi sepuas mungkin. Karena situasinya sedang mendukung. Kedua putra mereka tertidur lelap. Sepasang suami istri itu tidak akan membuang waktu dengan sia-sia.
"Dia mengaku sebagai temanku, tapi aku tidak mengingatnya." jawab Lovi yang semakin nyaman berada dalam lingkup hangat suaminya. Dengan posisi ini Ia bisa mendengar irama yang dihasilkan jantung Devan. Mengalun indah, hingga Lovi merasa terbuai dan semakin yakin kalau Devan masih sangat mencintainya sampai saat ini.
"Masa lalu memang tidak seharusnya kamu ingat, Lov. Itu semua menyakitkan,"
Setiap kali membahas itu, Devan kembali merasakan sakitnya. Sekeras apapun Lovi meminta Devan untuk melupakan perangai kejamnya dulu, Devan tidak akan bisa. Sampai saat ini, Ia tak henti mengutuk dirinya sendiri.
"Karena itu semua, aku bisa memeluk kamu sekarang,"
"Jalan pertemuan kita terlalu menyakitkan untukmu,"
Devan mengatakannya seraya mengecup puncak kepala Lovi. Dalam hati Ia meminta pada Tuhan agar rumah tangganya selalu diberikan kehangatan.
"Jangan membahas itu lagi! aku tidak menyukainya," Lovi bergumam dengan pandangan kosong. Ketika melihat Devan yang menyedihkan seperti ini, Ia akan merasakan hal yang sama. Lelaki itu tidak perlu menyesalinya lagi. Semuanya sudah berubah. Itu hanya masa lalu yang sudah seharusnya mereka tinggalkan.
__ADS_1
"Kembali ke topik pembicaraan kita tadi, jadi kamu tidak kenal sama sekali dengan dia?"
"Tidak, Devan. Tapi aku rasa dia tidak berbohong. Mungkin dulu kami memang berteman. Tapi karena kecelakaan yang menimpaku, semuanya jadi aku lupakan,"
Semenjak Ia bertemu dengan Fifdy, Ia langsung berpikir seperti itu. Lovi masih ingat betapa parahnya Luka yang Ia alami sampai harus melewati masa kritis beberapa bulan. Ia yakin kalau separuh ingatannya mungkin saja hilang tanpa Ia sadari.
Yang membuat Lovi bersyukur, Ia tidak melupakan suami dan anak-anaknya. Apa yang akan mereka rasakan bila Lovi sampai mengalami hal itu? Devan pasti semakin terpukul. Penantiannya selama beberapa bulan akan semakin menyedihkan dengan keadaan Lovi yang lupa ingatan.
"Kamu tidak melupakan apapun, Lov." bantah Devan.
Devan sudah memastikan kondisi Istrinya pada dokter terbaik. Beberapa dokter yang menangani Lovi pun mengatakan hal yang sama. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Lovi. Ingatan perempuan itu juga baik-baik saja.
"Tapi aku percaya padanya,"
Devan melepas pelukan mereka lalu menatap tajam Istrinya. Telinganya terasa panas mendengar itu. Kalimat Istrinya terdengar menggelikan. Kenapa Lovi bisa percaya? padahal banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Devan yakin kalau lelaki bernama Fifdy itu hanya orang jahat yang berniat melukai Istrinya.
"Hanya aku yang boleh kamu percaya. Aku tidak suka dengan ucapanmu, Lovi! Janganlah kamu menyebut lelaki lain lagi dalam pembicaraan kita,"
"Kamu yang membahasnya lebih dulu. Aku hanya menanggapi!" tanpa sadar lovi mengeluarkan suaranya yang lumayan tinggi.
"Aku tidak suka! perlu aku ingatkan kalau kamu adalah Istriku? tidak seharusnya kamu percaya dengan lelaki lain,"
"Tapi, Devan---" Lovi ingin kembali menyanggah suaminya.
"LOVI, CUKUP!"
"Fifdy orang baik!"
"Kamu memuji dia, Lov?" tanya Devan tidak habis pikir. Lelaki itu sampai bangkit dari posisi berbaringnya. Pembicaraan ini lumayan serius. Devan akan membuat istrinya jera dengan apa yang Ia lakukan sejak tadi. Lovi kembali menyebut nama lelaki itu bahkan memujinya hingga membuat emosi Devan mencuat.
Devan menarik tangan Istrinya agar mereka sejajar. Dalam pembicaraan ini, Ia tidak akan membiarkan Lovi menanggapinya dengan santai.
"Akan aku bunuh dia kalau kamu masih mendekatinya,"
"SIAPA YANG MENDEKATI DIA, DEVAN? KAMU GILA?! AKU JUGA TAU DIRI!"
Sekarang Lovi membentaknya. Lovi berucap dengan nada yang keras hanya untuk membela lelaki sial*n itu?
"Penilaianku dulu ternyata benar ya? kamu memang jal*ng murahan!"
__ADS_1
*********
Mngkn kedepannya jdwl up akan aku umumin di grup ya? spy grup aku ada isiny gt🤣🤣 kpn lg up nya? spam komen bole :) aku tnggu kata 'lanjut Thor' dr kelean yakk!!! trmksh bwt semuanya yg msh menunggu... Msh pd sabar kan? kaykny ini msh lama ending nya krn br msk awl konflik lg wkwkwk. Bwt yg nunggu kejamnya Lovi, tetap setia nunggu yaa.