
Vanilla meraih salah satu kemeja yang modelnya tidak begitu kaku. Bisa digunakan di setiap kesempatan.
"Ini bagus untukmu," ucapnya dengan riang. Vanilla menyelaraskan kemeja tersebut di tubuh Renald.
"Bagus, Joana?" Ia meminta pendapat Joana yang menjadi ekor Renald dan Vanilla sejak tadi. Joana nampak terkejut. Tidak menyangka kalau saat ini Vanilla menganggap kehadirannya.
"Eh, i--iya. Bagus, Van."
Deni mengikuti kemanapun mereka melangkah sesekali kalau hampir tertangkap basah, Ia akan mengalihkan perhatian pada baju-baju yang tergantung di sekitarnya. Deni terlihat santai dan seperti bukan seorang penguntit. Ia berjalan tanpa beban dengan kedua tangan di saku celana.
Keynie meraih beberapa kemeja dan meniliknya. Ia membayangkan bila Deni yang mengenakan pilihannya nanti.
"Deni, Lihat ini! pasti kamu semakin tampan kalau memakainya," Deni memutar bola matanya kesal. Suara Keynie sejak tadi berhasil membuat telinga orang terganggu. Tidak bisakah Ia berbicara pelan sehingga ketika Deni menjadi mata-mata, eksistensinya tetap aman tanpa diperhatikan oleh Vanilla.
Renald menoleh. Sementara Joana dan Vanilla masih bertukar pendapat. Renald menyentuh bahu Vanilla dengan singkat. Sehingga perempuan itu menatapnya.
"Lelaki itu kenapa mengikuti kita terus ya?" Alis Vanilla menukik seolah bertanya.
"Itu, lelaki yang sedang bersama Istrinya,"
Vanilla menoleh ke belakang untuk melihat arah yang ditunjuk oleh dagu Renald. Ia kembali menatap Renald lalu mengangkat bahunya tidak peduli.
"Yang ini bagus, Van."
Joana menyerahkan dua kemeja pada Vanilla. Ia tahu betul sedang terjadi perang dingin antara Vanilla dengan Deni, lelaki yang sering memperhatikan Vanilla dari jauh hanya untuk memastikan keadaan Vanilla tetap baik-baik saja sekalipun mabuk di dalam kelab. Oleh sebab itu, Joana ingin cepat-cepat keluar dari suasana yang aneh ini.
"Coba di fitting room. Aku tunggu. Cepat ya!"
"Tapi, Van..."
"Cepat, Renald. Jangan menolak lagi!" Titahnya dan mendorong pelan tubuh Renald agar segera menuju fitting room.
"Kak Deni kenapa mengikuti kita terus ya?" Joana membisikan kalimat itu ditelinga Vanilla setelah memastikan Renald pergi.
__ADS_1
"Ya, biar saja lah. Aku tidak peduli,"
"Itu kekasihnya? atau istrinya seperti kata Renald tadi?"
"Aku tidak tahu, Joana. Untuk apa aku mengetahui hal Tidak penting seperti itu? buang-buang waktu saja,"
Deni memberanikan diri mendekati Vanilla. Ia baru sadar kalau lelaki yang tak dikenalnya itu sudah tak ada lagi di dekat Vanilla.
"Vanilla, siapa lelaki itu?" tanpa tedeng aling-aling Ia bertanya. Seharusnya bukan kalimat itu yang diucapkan pertama kali setelah bertemu orang yang dikenal tanpa sengaja.
"Renald,"
Deni menarik tangan Vanilla karena perempuan itu ingin menjauh. Dalam satu kali sentakan Vanilla menubruk dada Deni. Keynie memicing saat Deni yang memunggunginya menghampiri perempuan yang sejak tadi juga sibuk memilih baju.
"Sedang apa mereka?" gumamnya bingung. Namun tidak berniat untuk menghampiri. Ia berpikir mungkin itu salah atau teman Deni. Tapi yang membuatnya berpikir lebih keras adalah, kenapa Deni baru menyapanya sekarang? bukankah sejak tadi Deni sudah melempar lirikan?
Ia menyadarinya. Namun tidak ingin bertanya atau protes. Keynie yang akan menikah ini sudah bukan lagi sosok perempuan cemburuan dan posesif. Ia sadar kalau Tidak semua urusan Deni harus Ia ketahui.
Vanilla melepaskan pelukan Deni dengan paksa. Hal itu membuat Deni tersenyum geli. Dia bisa melihat wajah Vanilla yang kesal. Yang tadinya Deni tidak ingin mengganggu, sekarang malah lebih dari kata mengganggu menurut Vanilla.
Kalau Renald melihat bisa gawat. Hubungannya dengan Renald saja belum ada kepastian. Kalau pemandangan ini sampai pada mata lelaki itu bisa-bisa keraguan semakin meraja Lela di hatinya dan Vanilla akan terus dibuat menunggu.
"Kamu tidak bisa menjaga hati pasanganmu? Seharusnya kamu di sana bersama dia. Kenapa---"
"Karena aku ingin,"
Renald keluar dari fitting room dan melihat Vanilla tengah berbicara dengan lelaki yang sedari tadi sudah memunculkan rasa penasarannya. Tadi Vanilla seolah Tidak tahu menahu dengan kehadiran lelaki itu. Kenapa sekarang mereka terlihat akrab?
"Pergi dari sini. Kamu tidak usah lagi menggangguku. Aku sudah bosan, Deni. Kamu mengerti dengan ucapanku? bisa menjauhiku mulai saat ini?"
Renald berjalan untuk menghampiri dan senyum di wajah Deni hilang seketika. Sementara Vanilla belum menyadari kedatangan Renald.
"Vanilla, dia siapa?"
__ADS_1
"Jadi Vanilla, apa kamu bisa hadir di pernikahanku nanti?" Deni memutus kontak mata Renald pada Vanilla.
Itu adalah kalimat yang paling tepat untuk menyelamatkan harga diri Deni. Tidak perlu Vanilla jujur mengenai siapa dirinya. Akan terdengar menyakitkan.
****
"Kamu yang bawa mobilnya!"
Vanilla melempar kunci mobil pada Renald yang langsung ditangkap dengan sigap oleh lelaki itu.
"Aku harus pulang, Van."
"Tidak, antar aku dulu,"
Akhirnya Renald menghembuskan napas pasrah. Ia mengangguk setuju lalu membuka pintu kemudi.
"Aku antar kamu kemana? rumah yang pernah menjadi alamat saat aku mengantar pizza untukmu atau--"
"Mansion orangtuaku,"
"Okay, Tuan putri,"
Setelahnya Renald melajukan mobil dengan kecepatan normal. Suasana di dalam mobil hanya diisi dengan keheningan. Tidak ada musik sedikitpun. Sehingga membuat Joana yang ada di kursi tengah membuang wajah ke luar jendela, bosan. Mungkin Vanilla sudah terbiasa dengan situasi ini. Karena memang kesunyian adalah teman terbaiknya di beberapa kondisi. Seperti saat ini, Ia perlu keadaan yang tenang untuk mengingat kembali ucapan Deni tadi dan juga berusaha untuk berpikir realistis. Ini adalah keinginannya. Ia harus siap untuk kehilangan sosok kakak selain Devan. Vanilla mulai nyaman dengan kepedulian Deni. Ia akan kehilangan satu pelidung dalam radar kehidupannya. Karena siapapun pasti tahu, kalau seorang Istri lebih penting dari apapun. Apalagi Ia hanya sebatas adik dari sahabatnya.
Renald tidak fokus menyetir karena Ia melihat Vanilla yang menatap kosong ke depan. Penasaran apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Namun sayang, sebelum sepatah kata keluar dari mulutnya, Renald melakukan kesalahan.
BRAKK
Peristiwa ini pun akan menyebabkan Vanilla kehilangan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Bukan hanya Deni. Di detik ini, hidupnya terasa kurang lengkap karena beberapa hal yang berperan penting dalam membentuk kebahagiaannya terenggut secara bersamaan.
--------
BAIKLAH VOMMENT JGN LUPAAA. TENCUU ZHEYENGKUH😘💙
__ADS_1