My Cruel Husband

My Cruel Husband
Akan ada teman baru di rumah


__ADS_3

Adrian mencari sepatu sesuai kehendaknya dengan semangat menggebu. Auristella yang berada dalam gendongan Devan juga ikut menatap satu persatu sepatu di sana.


Auristella menunjuk sebuah sepatu yang mana itu untuk anak laki-laki. "Itu bukan untuk perempuan, Auris."


"Dia mau itu?" tanya Lovi pada Devan. Sejak tadi Lovi menyemangati Andrean yang terlihat malas sekali memilih.


"Sepertinya iya. Itu buat anak laki-laki, Sayang."


"Kamu bawa ke bagian sepatu anak perempuan saja, Devan."


Devan melakukan apa yang dikatakan oleh sang istri. Ia mengajak Auristella memilih sepatunya.


Tapi Auristella tetap menunjuk ke belakang, dimana sepatu yang dia ingin tadi berada. Devan menghela napas berusaha sabar. "Itu untuk anak laki-laki, Auris. Kamu laki-laki atau perempuan?"


"Aaaaaa," rengek anak itu. Devan berdecak pelan kemudian melanjutkan langkahnya. Auristella berontak dalam gendongannya. Pilihannya ditentang hingga Ia merasa kesal.


"Dengarkan Daddy ya, jangan sulit kalau diberi tahu orangtua. Kamu perempuan, masa pakai sepatu laki-laki? apa tidak salah?"


*****


Richard kembali ke mansion karena ternyata Jane tidak pulang lagi ke rumah mereka. Rupanya Jane masih merajuk padanya.


"Jane dimana?" tanya Richard pada maid. Mansion nampak sepi, entah dimana para penghuni nya.


"Nona Jane belum datang, Tuan."


Richard mengangguk kemudian Ia naik ke lantai atas, dimana kamar Jane berada. Ia menggeram kesal dalam hati.


"Dimana dia? aku kira pulang ke sini,"


Richard memilih untuk mandi, mengguyur tubuhnya dengan air agar pikirannya tenang. Barangkali Jane memang sedang ada pekerjaan yang belum selesai.


*****


"Ayah, tinggal di rumah kami ya?"


"Iya, Ayah. Kami sudah kembali ke rumah, tidak tinggal di mansion lagi,"


Sementara ketiga anak mereka bermain bersama pengasuh masing-masing di pekarangan rumah Lucas yang kecil itu, Lovi dan Devan bicara serius dengan Lucas.


"Ayah dan Mama tidak berpisah. Kenapa harus tinggal berbeda tempat? semuanya bisa diperbaiki,"


Lovi belum pernah membicarakan perihal ini pada ayahnya. Lucas dan Senata tidak pernah resmi berpisah, mereka masih suami istri. Lucas menjual Lovi kemudian pergi entah kemana, sementara Senata sibuk dengan kehidupannya sendiri. Mereka hanya berpisah sebatas itu saja.


"Aku ingin memiliki orangtua yang utuh. Aku sudah memaafkan Mama yang juga pernah melakukan hal tidak baik padaku. Dan sekarang, aku sudah memaafkan ayah juga. Bisakah kita bersama lagi?"

__ADS_1


Lucas terpaku di tempatnya duduk saat ini. Ia menatap Lovi yang berujar dengan permohonan. Sementara Devan diam, Ia tahu porsi nya.


"Anak-anak ku juga menginginkan kehadiran Ayah di rumah kami. Ayah tidak mau menuruti keinginan mereka?"


Mata Lovi berkaca. Ia teringat dengan sikapnya sendiri beberapa waktu lalu. Ia begitu membenci Lucas. Tapi lama-lama, benci itu terhapus dengan sempurna. Sebenci apapun Ia pada Lucas, tetap saja darah Lucas mengalir dalam tubuhnya. Ia tidak bisa benar-benar membenci ayah yang sudah berkorban untuk hidupnya.


"Aku memaafkan ayah, sungguh."


"Di mansion, Grandma dan Grandpa ketiga anakku lengkap. Dan mereka juga ingin di rumah mereka, ada Grandma dan Grandpa yang lengkap juga." lanjut Lovi.


Mereka terbiasa bertemu dengan kakek dan neneknya di mansion. Sehingga ketika pindah ke rumah, Andrean dan Adrian selalu mengatakan,


"Andai saja ada Grandpa Lucas di sini, pasti ada yang menemaniku bermain sepeda, seperti saat di mansion aku ditemani oleh Grandpa Rai."


Lovi yang mendengarnya selalu merasa bersalah. Ia pikir, karena dirinya Lucas tidak ingin tinggal bersama ketiga cucunya. Sebenarnya Lovi sudah memaafkan sejak lama, tapi ego nya masih tinggi sekali. Ia berusaha untuk tidak peduli, tapi tetap saja keinginan untuk memiliki orangtua yang utuh tetap dirasakan oleh Lovi.


"Iya, Ayah mau."


Mata Devan dan Lovi langsung bersinar senang. Senyum Lovi terbit begitu mendengar ucapan ayahnya.


"Ayah serius mau tinggal bersama keluarga kecilku?"


"Iya, Lovi."


"Mama mu---"


"Ayah perlu waktu untuk membereskan semuanya. Terima kasih sudah mau menerima ayah,"


"Ayah, aku senang sekali bisa tinggal bersama Ayah lagi,"


"Tinggal di rumah kami, semua pekerjaan ayah dihentikan." lugas Devan yang membuat Lucas langsung menatapnya.


"Iya, Ayah. Kondisi kesehatan Ayah sudah mengkhawatirkan jangan dipaksa untuk bekerja," jelas Devan.


Lucas kembali memikirkan niat nya itu. Apakah pantas Ia berhenti bekerja setelah tinggal bersama anak dan menantunya?


"Papa dan Mama ku bekerja untuk mengisi waktu mereka saja, Ayah. Lagipula kondisi mereka baik-baik saja, oleh sebab itu aku biarkan mereka bekerja tujuannya agar ada kegiatan bukan untuk mencari uang. Ayah jangan pikirkan apapun,"


Jauh sebelum menikah Devan sudah bertanggung jawab pada orangtuanya meskipun mereka masih mampu untuk membiayai hidup. Devan sempat menentang keputusan mereka yang ingin tetap bekerja di usia yang sudah senja. Tapi alasan mereka agar tidak bosan saja, bukan semata-semata mencari uang. Dan kali ini Devan akan memperlakukan Lucas dan Senata sama seperti kedua orangtuanya.


"Nanti kalau Ayah mau, Ayah boleh mengisi waktu luang juga, bisa ikut turun tangan di butikku. Oh ya, aku juga baru membuka kafe---"


"Nanti Ayah tidak ada waktu istirahat, Lovi." ucap Devan.


"Kalau ayah mau, tadi aku mengatakan begitu 'kan?"

__ADS_1


"Kehamilanku semakin besar. Ayah dan Mama saja yang mengurus kafe itu, kebetulan baru dibuka bersamaan dengan restoran milik Mama Rena. Aku hanya ingin mengurus butik, itu saja sudah cukup menyita waktuku, Ayah."


Lucas mengangguk antusias. Ia memang kurang nyaman bila hanya berdiam diri. Selama masih bisa, kenapa waktu yang ada tidak digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat? salah satunya bekerja. Prinsipnya sama seperti Raihan.


"Ya sudah, kami pulang dulu, Ayah."


"Iya, hati-hati,"


Mereka beranjak ke pekarangan untuk memanggil Adrian, Andrean, dan adik perempuan mereka untuk mengajak pulang.


"Ada berita menyenangkan," ujar Devan pada anak-anaknya.


"Apa, Dad?"


"Grandpa Lucas mau tinggal di rumah kalian,"


"WOAH YANG BENAR, GRANDPA?"


"Itu benar, Grandpa?"


Kedua anak kembar Devan bertanya kompak, hanya saja nada bicara mereka berbeda. Adrian kencang sekali sampai telinga terasa sakit, sementara Andrean datar saja.


"Iya, tapi belum bisa sekarang."


"Yahh kenapa tidak sekarang saja? Grandpa ikut kami langsung,"


"Tidak bisa,"


"Harus membereskan barang-barang dulu, Adrian." Devan membantu Lucas memberi penjelasan pada Adrian.


"Okay, tapi Grandpa janji ya? kalau janji, tidak boleh ingkar."


"Iya, janji."


"Secepatnya, Grandpa." tambah Andrean yang langsung diangguki oleh Lucas.


Akhirnya keinginan mereka untuk tinggal bersama Lucas terwujud. Saat di mansion, ada Raihan yang menemani mereka dan di rumah, ada Lucas yang akan menjadi teman untuk mereka juga.


 


Hollaaa selamat siang semuaaa. Masih semangat beraktifitas? jgn lupa makan siang yaaa.


Udh baca lapak aku yg lain? yg dua ini lhoo👇


__ADS_1



__ADS_2