
"Kalian baik-baik saja? maaf, tadi tidak bisa menemanimu,"
Lovi belum masuk ke dalam ruangan Vanilla, suaminya sudah menyambut. Lovi tersenyum dan menggenggam tangan Devan untuk menghampiri Vanilla yang tengah disuapi makan oleh Rena.
Lovi meletakkan parsel buah di nakas sebelah bangsal. Lalu tersenyum pada Rena yang menatapnya.
"Bukannya diam saja di rumah. Kenapa datang ke rumah sakit?"
"Periksa kandungan tadi, Ma."
Vanilla yang mendengar suara Lovi langsung tersentak. Ia berdehem untuk mengalihkan perhatian semua yang di sana.
"Kondisi Vanilla sudah lebih baik, Lovi. Kamu tidak perlu khawatir."
Lovi meraih tangan Vanilla yang membuat gadis itu tersentak. Sementara Devan memilih untuk keluar menghampiri Raihan yang tengah menikmati kopi di cafetaria.
Lovi sudah tahu kondisi Vanilla yang buta. Devan sudah menjelaskannya sebelum Ia pergi tadi. Sehingga melihat kesedihan yang sangat pekat di mata gadis itu tidaklah heran. Karena bukan hanya tangan dan kakinya yang terluka.
"Lovi, maafkan aku. Selama ini aku sudah menyakitimu terlalu dalam,"
Lovi segera memeluk Vanilla. Dan gadis itu tak bisa lagi menahan Isak tangisnya. Mengingat betapa banyaknya kesalahan yang Ia lakukan terhadap Lovi, Vanilla sadar kalau Tuhan sudah memberinya teguran. Vanilla membenarkan semua yang terjadi padanya. Tuhan hanya berlaku adil pada setiap ciptaannya. Tidak selamanya kehidupan Vanilla berjalan dengan mulus.
"Aku sudah melupakan semuanya. Kamu adalah orang baik, Vanilla. Karena tidak ada yang jahat di dunia ini. Mereka hanya perlu waktu untuk memperbaiki diri.
Rena tersenyum penuh haru melihat kehangatan putri dan menantunya itu. Tidak menyangka kalau kehidupannya akan diisi dengan orang-orang yang berbeda karakter namun bisa saling melengkapi.
****
"Besok adalah jadwal untuk Riyon memeriksaku,"
"Periksa! jangan macam-macam lagi kamu. Tidak sampai dua bulan lagi Lovi melahirkan. Jangan sampai penyakitmu itu kambuh saat kalian sudah memiliki anak,"
"Memangnya kenapa?"
Raihan mendorong kepala putranya dengan kesal. Pertanyaannya polos namun berhasil membuatnya ingin marah-marah.
__ADS_1
"Maksudku, penyakitku kambuh tidak akan menyakiti anakku,"
Raihan mendecih saat Devan mengatakan itu. Memang korban bisa dipilih-pilih. Penyakit itu bisa saja datang pada saat Devan dengan siapapun, dimanapun, dan kapanpun.
"Kamu terlalu percaya diri. Hati-hati dengan penyakitmu itu,"
"Sudah hampir sembuh, Pa. Tenang saja,"
Masih rajin mengonsumsi obat bukan?"
"Of course, Tidak mungkin aku melewatkannya. Karena aku harus sembuh, jadi untuk kali ini aku akan patuh dengan dokter,"
"Riyon memperlakukanmu dengan baik?"
"Dokterku itu bahkan sering menjadi teman curhatku,"
Devan meneguk caramel macchiato miliknya. Sesekali tangannya bergulir di atas layar ponsel untuk kembali memastikan waktu pertemuannya dengan Riyon.
"Papa hanya bertemu sekali dengannya. Anak itu Kedengaran baik rupanya,"
Lovi tersenyum begitu suaminya nampak terkejut dan mengerjap. Ia duduk di samping Devan dan menyeruput minuman suaminya.
"Kalian sedang membicarakan apa?"
"Devan, Papa kembali ke ruangan Vanilla."
Devan memaki Raihan dalam hati. Sial! kenapa Ia ditinggal? Devan takut Istrinya masih berusaha mengulik apa yang tadi mereka bicarakan.
"Tidak membicarakan apapun,"
Lovi mengangguk-anggukan kepalanya. Tak lama Lovi mendekatkan wajahnya pada Devan untuk menatap mata suaminya lebih dekat. Setelah itu posisinya kembali normal. Selama itu berlangsung, jantung Devan berdetak kacau. Ia panik sekarang.
"Kamu bohong!"
"Benar, Lov. Aku tidak mungkin berbohong!" selanya begitu cepat sehingga membuat Lovi semakin yakin kalau suaminya itu tengah menyembunyikan sesuatu. Ciri-ciri Devan kalau lagi berbohong ya seperti itu. Menyanggah tanpa berpikir dulu. Seolah tidak ada waktu untuk melakukannya
__ADS_1
"Kalau kamu bohong, kita pisah lagi. Mau?"
Devan mengerjap beberapa kali saat kalimat itu meluncur dengan lancar tanpa hambatan. Ia menatap Lovi dengan rahang mengeras. Apa maksudnya? ini untuk pertama kalinya Lovi mengatakan hal itu. Bahkan di pernikahan pertama mereka saja dimana Devan sangat-sangat brengsek sebagai laki-laki, Lovi tidak sampai mengatakan perpisahan dengan ringan tanpa beban.
Tawa Lovi meledak saat melihat wajah suaminya yang terlihat menanggapi serius. Padahal Lovi hanya ingin menguji kejujurannya. Dan saat ini Ia bisa menilai.
"Aku yakin kamu berbohong!" tukasnya singkat. Dan memilih untuk kembali menyeruput minuman suaminya. Devan tidak terima ketika perempuan ini malah terlihat biasa saja setelah hampir membuat jantung Devan berirama kencang.
Devan menarik dagu istrinya untuk memberi pelajaran pada Lovi melalui tatapan.
"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Jangan pernah membahas perpisahan bagaimana pun keadaannya!"
Lovi berdecak malas. Ia melepas tangan Devan dari dagunya lalu menatap ke arah lain.
Suasana Cafetaria tidak begitu ramai. Sehingga tidak masalah membahas masalah kecil seperti ini.
"Kalau kamu tidak berbohong, Tidak mungkin ekspresimu panik seperti tadi,"
Devan menatap Istrinya dengan pandangan protes. Siapa yang panik? memang terlihat sekali? atau Lovi hanya sedang menjebaknya?
Kening Devan yang berkerut tanda berpikir membuat Lovi akhirnya menghela napas kasar.
"Ya sudah kalau tidak mau jujur,"
"Lalu setelahnya kita berpisah?"
Lovi terbahak. Ya Tuhan, Suaminya sangat polos atau terlampau bodoh? dia tidak bisa membedakan kalimat guyon dan serius?
Devan menahan napas kesal. Kenapa jadi Dia yang ketakutan seperti ini? sementara Lovi bisa tertawa dengan mudah.
"Iya, kalau kebohonganmu benar-benar penting untuk aku tahu,"
--------
Aku up pagi setelah seqyan lama gk up pagi wkwkk. KLIK LIKE, BERI VOTE SEIKHLASNYA, KETIK KOMEN, KLIK BINTANG 5, DAN FOLLOW AKYU JG BOLEEE ;). TERIMA KASIH MANTEMAN
__ADS_1