My Cruel Husband

My Cruel Husband
Penanganan epistaksis yang benar


__ADS_3

"ANDREAN, ADRIAN DADDY DATANG!"


"Devan, ini rumah bukan hutan!"


Suara sahut-sahutan yang diciptakan Lovi dan Devan langsung memecah kepanikan. Keduanya tampak memasuki rumah dan begitu sampai di ruang keluarga, mereka mengerinyit. Semuanya juga tampak mendekati Andrean.


"Ada apa, Ma?"


"Andrean epistaksis,"


"Oh ya ampun,"


Lovi segera mendekati anaknya. Wajah khawatir sangat tergambar jelas. Namun Ia berusaha tetap tenang. Devan mengekori mantan istrinya.


Lovi menarik pelan lengan Andrean agar bangkit.


"Jangan berbaring. Darahnya masuk lagi nanti," ujarnya. Senata membiarkan Lovi merawat anaknya. Ia tidak tahu kalau dalam kondisi seperti ini justru berbaring kurang dianjurkan.


"Lovi saja yang kompres, Ma." Seraya mengompres, Lovi menekan cuping hidung Andrean atau bagian lunak dari hidung anaknya namun Andrean menepis tak suka.


"Diam, Mommy tekan dulu sebentar. Kamu bernapas melalui mulut ya," tegasnya yang mau tidak mau dipatuhi Andrean.


Devan menyaksikan Lovi yang tampak sigap dalam menangani anaknya yang sedang epistaksis atau mimisan. Ia melakukannya dengan tangkas dan tidak kaku sama sekali.


Senata dan Rena hanya bisa memperhatikan. Mereka tidak pernah dihadapkan pada situasi seperti ini.


Andrean ingin tidur karena Ia lemas. Tapi Lovi melarangnya dengan lembut.


"Tegakkan badanmu, Andrean. Jangan berbaring dulu. Sabar ya,"


"Andrean mengantuk," keluhnya dengan mata yang memang sudah layu.


Lovi duduk di belakang putra sulungnya. Agar anaknya itu tidak bisa bersentuhan dengan sofa yang empuk dan menggodanya untuk segera tidur itu.


Andrean terbatuk dan mual. Sepertinya ketika berbaring tadi darah sempat masuk ke dalam tenggorokannya.

__ADS_1


"Maafkan Grandma ya sudah melalukan hal yang salah. Dia pernah seperti ini sebelumnya, Lovi?"


"Pernah waktu usianya dua tahun kalau tidak salah,"


"Kapan, Lov? aku tidak tahu," Devan menyahuti dengan tampang seperti orang bodoh.


"Waktu kami ikut dengan kamu ke Belanda, perjalanan bisnis. Andrean kedinginan lalu epistaksis seperti ini,"


Udara kering yang sering disebabkan oleh iklim dingin membuat membran hidung menjadi kering. Bagian dalam hidung yang kering menjadi lebih rentan terhadap perdarahan.


Bahu Devan merosot. Ia tidak tahu apa-apa mengenai itu. Lagi-lagi karena kesibukannya dengan dunia luar. Ia sampai tidak tahu hal apa saja yang pernah dialami anaknya.


"Bawa ke rumah sakit saja, Lov."


Lovi tidak mengindahkan mulut Devan yang cerewet. Ia tahu kalau lelaki itu hanya bisa melihat tanpa membantu. Memang apa yang diketahui Devan dalam mengurus anak? Ia hanya pandai memanjakan anaknya dengan uang. Sementara kalau mereka sakit, dia panik sendiri.


Flashback ON


"Kenapa jadi batuk begini?"


Pada malam hari usai Devan bekerja, Ia membelikan anaknya berbagai macam permen, coklat, dan es krim. Lovi tidak mengetahuinya dan Devan meminta anaknya untuk makan di ruang olahraganya saja karena Lovi jarang masuk ke sana.


Ia menemani anaknya tidur. setelah itu berjalan ke dapur. Rasanya Ia ingin sekali membuka lemari pendingin yang biasa digunakan untuk menyimpan makanan anak-anaknya.


"Kenapa ke dapur, Lov? Mereka sudah tidur?"


Lovi berjengkit kaget saat bahunya ditepuk Devan dari belakang. Ia gagal melangkahkan kakinya ke sudut dapur dimana lemari pendingin itu berada.


Devan mencuci tangannya di wastafel. Sementara Lovi masih memperhatikan punggung suaminya.


"Kamu habis makan apa? Kok mulutnya meringis terus?"


"Menghabiskan es krim Andrean tadi,"


Mulut bodoh itu malah jujur sendiri. Yang membuat Devan terlihat sangat tidak punya otak, kenapa makanan itu malah diletakkannya di lemari pendingin yang ada di dapur? jelas-jelas lemari pendingin itu bisa dibuka oleh Lovi kapanpun.

__ADS_1


Sejak saat itu Lovi memperingati suaminya dengan tegas. Matanya sampai membulat begitu melihat isi lemari pendingin. Tanpa pikir panjang Lovi meminta seluruh pelayannya untuk menghabisi es krim, permen, dan juga coklat milik anak-anaknya karena kalau sampai mereka menemukan itu lagi, maka sudah dipastikan sakitnya tidak akan sembuh.


"Maaf Lov. Aku tidak tega saat mereka merengek meminta makanan-makanan itu,"


"Sekarang mereka sakit, Devan."


"Aku harus apa? Tadi aku sudah mengatakan padamu untuk membawa mereka ke rumah sakit tapi kamu menolak,"


"Kamu apa-apa ke rumah sakit. Adrian jatuh saja mau di bawa ke sana. Padahal bisa ditangani sendiri selama tidak parah,"


Flashback Off


Hampir lima belas menit Lovi menekan pelan hidung anaknya, Ia melepasnya kemudian memeriksa kondisi hidung Andrean.


"Sudah berhenti darahnya. Tanganmu jangan masuk dulu ke hidung,"


Adrian tiba-tiba saja terkekeh. Lalu menutup mulutnya saat Devan memicing padanya.


"Mommy tahu saja Andrean suka mengupil,"


Andrean meraih bantal sofa yang ada di belakang tubuhnya lalu dilemparkannya ke wajah sang adik. Sudah bisa melawan artinya sudah sembuh dan kantuknya hilang. Adrian memang bisa memicu orang menjadi semangat lagi. Semangat untuk baku hantam.


"Kamu yang suka mengupil. Lalu tidak cuci tangan. Hih jorok!" Andrean menatap adiknya dengan raut mengejek. Lidahnya menjulur agar Adrian panas.


Semua yang ada di sana menyaksikan pertengkaran itu. Sampai kapanpun kehidupan kedua kakak beradik itu memang akan dihiasi dengan pertengkaran.


Adrian berlari kecil menghampiri Devan untuk mencari pembelaan. Ia menatap ayahnya dengan puppy eyes persis seperti Lovi kalau sudah manja.


"Makanya mulut itu jangan dipakai buat julid aja. Tahu julid, kamu?"


Devan terkekeh melihat anaknya yang menggeleng polos. Ia menepuk puncak kepala Adrian.


"Daddy juga tidak tahu. Itu kata Aunty Vanilla,"


Rena menghela napas seraya memaki dalam hati "Dasar sinting! dia bukan anakku sepertinya,"

__ADS_1


-----


Uwuww apa itu julid? kasi tau Devan sm Adrian dong manteman😂😂**bsk ada yg pesta ultah nih, ada kejutan jg wwkwk. Aku up lg bsk yaaa. SEE YOU GENGSS💙💙**


__ADS_2